Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#18
Malam merambat pelan menyelimuti kompleks Universitas California. Angin gugur yang berembus dingin menerpa dedaunan pohon mapel di pelataran asrama, menciptakan suara gesekan halus yang senyap.
Di dalam kamar nomor 104, suasana terasa begitu mencekam.
Cinderella berdiri di dekat jendela kaca yang tertutup rapat, menatap pantulan bayangannya sendiri.
Dua hari terakhir ini, hidupnya yang harusnya tenang dan terfokus untuk menyusun strategi peruntuhan keluarga Huntington benar-benar dibuat berantakan oleh aksi gila Draxler Lutolf Ashford.
Mulai dari rombongan sirkus troli sarapan, rayuan konyol di depan umum, hingga sepeda ganda yang memalu-malukan—segalanya mendistorsi fokus dan ketenangan mentalnya.
Cinderella mengepalkan tangannya rapat-rapat. Emosi dan rasa jengkel yang tertahan sejak lama kini mencapai puncaknya.
Cukup, batinnya dingin.
Pria itu harus dihentikan malam ini juga.
Ia telah bertekad.
Malam ini, ia akan meremukkan seluruh harapan, ego, dan perasaan Draxler dengan kebenaran yang paling mengerikan.
Ia akan melontarkan penolakan yang begitu kejam hingga pewaris dinasti Ashford itu tidak punya pilihan lain selain berbalik, membencinya, dan melupakannya selamanya.
Cinderella harus kembali ke jalurnya: membalas dendam pada Jonah, Siena, dan Samuel Huntington—Ayahnya.
Cinderella meraih mantel hitam tipisnya, menyampirkannya di bahu, lalu melangkah keluar dari kamar.
Prilly yang sedang membaca buku di meja belajar hanya sempat menatapnya cemas tanpa berani bertanya.
Langkah kaki Cinderella membawanya menuju taman belakang asrama yang sepi.
Di sana, di bawah naungan pohon mapel yang rindang dan pendar remang lampu taman, sebuah bayangan tinggi tegap sudah berdiri menunggunya.
Draxler Lutolf Ashford.
Pria itu mengenakan kaus polos hitam dan jaket kasual.
Saat mendengar suara derak langkah kaki di atas rumput kering, Draxler berbalik cepat. Ukiran senyum manis—senyum yang dua hari terakhir ini selalu dipaksakannya untuk terlihat ramah dan konyol—langsung terbit di wajah tampannya.
"Ember..." panggil Draxler dengan suara rendah yang hangat. Ia melangkah mendekat, membawa sebuah kotak beludru kecil di tangannya.
"Aku tahu ini sudah malam, tapi aku sengaja menunggumu di sini. Aku mau—"
"Tutup mulutmu, Draxler," potong Cinderella dengan nada suara yang teramat sangat dingin, membekukan kalimat Draxler di udara.
Draxler tertegun.
Senyum di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan dahi yang berkerut tipis melihat betapa tajamnya manik mata bundar di hadapannya.
"Ada apa, Ember?" tanya Draxler pelan, mencoba mempertahankan nada bicaranya yang lembut. "Kau marah soal kejutan tadi siang di kafetaria? Maaf kalau—"
"Aku bilang tutup mulutmu!" gertak Cinderella, kini melangkah satu tapak maju, menatap lurus ke dalam mata Draxler dengan kebencian dan keheningan yang mematikan.
"Aku sudah muak dengan seluruh panggung sirkus konyolmu dua hari ini, Mr. Ashford. Aku ke sini bukan untuk mendengar omong kosong barumu. Aku ke sini untuk mengakhiri kegilaanmu."
Atmosfer di taman belakang itu mendadak membeku. Rintik angin malam terasa makin menyengat kulit.
Draxler menelan ludahnya susah payah. "Mengakhiri... apa maksudmu?"
Cinderella menyunggingkan senyum sinis yang teramat pahit dan kejam. Senyum pimpinan eksekutif yang tak punya rasa iba.
"Kau ingin tahu kenapa aku menolakmu begitu keras? Kau ingin tahu kenapa aku sama sekali tidak terkesan dengan seluruh aksi konyolmu?"
Cinderella maju lagi, mengikis jarak hingga suara bisikannya terdengar bagaikan racun yang menusuk tepat di telinga Draxler.
"Demi Tuhan, Draxler... aku tidak pernah mencintaimu. Tidak pernah sekalipun."
Deg.
Jantung Draxler berdenyut nyeri secara mendadak. Manik matanya melebar sepersekian detik.
"Perasaan mengejar-ngejarmu selama enam bulan pertama di kampus?" lanjut Cinderella dengan terkekeh dingin.
"Itu hanya rasa gabutku! Aku hanya sedang bosan dan ingin bermain-main mendekati seorang pria tampan. Dan kenapa harus kau? Sederhana, Draxler... karena kau memiliki nama besar Ashford di belakang namamu! Kau punya uang, kau punya status, dan kau punya fasilitas yang bisa aku manfaatkan untuk mengangkat derajatku dari kemiskinan!"
Setiap kata yang meluncur dari bibir Cinderella bagaikan bilah sembilu yang menguliti harga diri Draxler tanpa ampun.
Draxler membeku di tempatnya.
Senyum konyol, keberanian menurunkan gengsi, dan gaya yang ia bangun dengan susah payah selama dua hari terakhir mendadak hancur berkeping-keping.
Manik matanya yang biasanya tajam dan percaya diri kini perlahan memerah, berkaca-kaca menahan hantaman rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sepanjang 19 tahun hidupnya.
Prinsip hidupnya selama ini... larangan sang Mommy... segalanya berputar liar di dalam otaknya.
Glow Ashford selalu mewanti-wanti seluruh putra kembarnya untuk menjaga hati mereka, tidak pernah berpacaran main-main, dan hanya menyerahkan perasaan pada wanita yang tepat.
Bertahun-tahun Draxler memegang janji itu dengan teguh. Ia membangun benteng es yang dingin, menolak ratusan wanita, dan menjaga dirinya dari godaan dunia malam demi mematuhi ajaran ibunya bahwa jatuh cinta dan berpacaran sembarangan sama sekali tidak ada untungnya.
Namun demi gadis bernama Marcella Ember Vitiello ini... Draxler telah melepaskan seluruh benteng pertahanannya. Ia merobohkan harga dirinya sendiri, membuang sikap dingin yang diagungkan seluruh kampus, bertingkah konyol seperti pengganggu jalanan, dan mengabaikan nasihat ibunya hanya demi mendapatkan satu tatapan mata hangat dari gadis yang baru beberapa hari ini ia sadari keberadaannya secara utuh.
Dan sekarang... gadis itu berdiri di depannya, mengatakan bahwa seluruh perjuangan dan penurunan harga dirinya hanyalah balasan atas sebuah rasa 'gabut' dan obsesi harta.
"Kau... berbohong..." suara Draxler terdengar sangat parau, gemetar menahan getaran di tenggorokannya.
Matanya yang memerah menatap dalam-dalam ke manik mata Cinderella.
"Aku tidak berbohong, Draxler," potong Cinderella tanpa kedipan. "Atau kau mau mendengar kebenaran yang lebih masuk akal lagi? Kau sendiri... kau pasti hanya penasaran padaku, kan?"
Draxler tersentak.
"Apa?"
Cinderella menyilangkan tangannya di dada, melontarkan ucapan yang sebenarnya berasal dari sudut terdalam ingatan luka raga Ember—suara sesak dari keputusasaan gadis asli pemilik tubuh ini.
"Kau hanya penasaran padaku!" desis Cinderella dengan mata yang mendadak berkilau oleh emosi asing.
"Kau penasaran bagaimana seorang gadis pekerja bar remang-remang yang dicap murahan oleh seluruh kampus tiba-tiba berhenti mengejarmu! Rasa penasaran dan ego priamu terusik karena barang yang biasanya bertekuk lutut di bawah kakimu tiba-tiba mengabaikanmu! Kau datang berlagak mengejarku hanya untuk membuktikan bahwa kau bisa menaklukkanku kembali. Dan setelah rasa penasaranmu itu usai... setelah kau mendapatkan apa yang kau mau... kau pasti akan meninggalkanku begitu saja di lumpur!"
Suara jeritan sesak milik Ember bergema di taman sepi itu, memotong keheningan malam.
"KAU SALAH! DEMI TUHAN, AKU MENCINTAIMU!"
Teriakan melengking dan penuh keputusasaan itu meledak dari tenggorokan Draxler.
Pria tinggi tegap itu maju selangkah, melempar kotak beludru di tangannya ke atas rumput hingga terlempar jauh.
Kedua tangannya yang bergetar hebat langsung mencengkeram kedua bahu Cinderella dengan erat namun tidak menyakiti.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes menyusuri pipi tampan Draxler.
"Kau salah, Ember! Demi Tuhan, kau salah!" bentak Draxler dengan suara serak yang patah-patah, dadanya naik turun oleh napas yang memburu dan tangisan yang tertahan.
"Aku tidak peduli dengan pekerjaan-mu! Aku tidak peduli dengan desas-desus sampah di kampus! Aku tidak sedang bersandiwara atau penasaran padamu! Aku menjatuhkan harga diriku, aku mempermalukan diriku di depan seluruh kampus... karena aku sungguh-sungguh mencintaimu! Aku mencintaimu sampai rasanya mau gila!"
Cinderella terpaku.
Ia menatap lekat-lekat pada wajah Draxler yang berada hanya beberapa sentimeter di depan wajahnya.
Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang pewaris Ashford yang begitu perkasa dan dingin... menangis dan memohon di depannya dengan ketelanjangan emosi yang tak tertandingi.
Dan pada detik itu juga... sebuah keanehan yang luar biasa terjadi di dalam tubuh raga ini.
Naluri dan memori emosional milik raga asli Ember—gadis yang selama berbulan-bulan mendambakan kasih sayang tulus dari pemuda ini—mendadak berontak hebat di dalam kesadaran Cinderella.
Otak dan logika dingin milik Cinderella Huntington yang biasanya berkuasa penuh, mendadak kalah telak oleh luapan kehangatan dan getaran hebat dari hati raga Ember yang melonjak maju.
Tanpa mampu dicegah oleh kesadaran analitis Cinderella, hatinya berdegup sangat kencang.
Naluri tubuh ini menginginkan pria di depannya.
"Draxler..." bisik Cinderella, suaranya mendadak bergetar halus, kehilangan seluruh nada dinginnya.
Draxler menatap bibir tipis yang baru saja menyebut namanya.
Rasa sakit, penyesalan, dan cinta yang membakar di dadanya mencapai titik kulminasi. Tanpa menunggu balasan kata-kata lagi, Draxler menundukkan kepalanya dan menyapu bibir Cinderella dengan sebuah ciuman yang panas dan intens.
Mmph!
Cinderella terkesiap.
Namun bukannya mendorong pria itu seperti yang dirancangkan logikanya, jemari tangan Cinderella justru bergerak sendiri secara refleks—meremas jaket di dada Draxler, menahan tubuh pria itu agar makin rapat berhimpitan padanya.
Ciuman itu berlangsung panas di bawah pendar remang lampu taman.
Sebuah ciuman yang sarat akan keputusasaan, pembuktian, dan kerinduan terendam dari dua jiwa yang sama-sama terluka.
Draxler memperdalam ciumannya, melingkarkan kedua lengan tegapnya di pinggang Cinderella, menempelkan tubuh mereka rapat tanpa celah seolah takut gadis itu akan menguap menjadi udara jika ia melepaskannya.
Hawa panas menjalar cepat di antara mereka di tengah dinginnya angin malam.
Setelah beberapa menit yang menghentikan waktu, Draxler melepaskan ciumannya perlahan, menyisakan jarak beberapa sentimeter dengan dahi mereka yang saling menempel.
Napas mereka berdua memburu keras, beradu di udara dingin.
Draxler menatap mata bundar Cinderella dengan sorot mata yang penuh dengan permohonan. "Tolong... jangan pernah katakan kau tidak mencintaiku lagi..." bisiknya parau.
Cinderella menatap pemuda di hadapannya. Jiwa dingin Cinderella Huntington kini kembali mengambil alih kesadarannya, menekan dorongan emosional Ember sebelumnya.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk ukiran senyum tantangan yang dingin namun sarat akan provokasi gila.
"Kau ingin membuktikan bahwa cintamu itu nyata, Mr. Ashford?" tanya Cinderella dengan suara serak yang memikat.
Draxler menelan ludahnya.
"Aku akan melakukan apa saja."
Cinderella mencongakkan dagunya, menatap lurus ke dalam manik mata Draxler yang masih basah oleh air mata.
"Tidur denganku malam ini," tantang Cinderella lantang tanpa keraguan sedikit pun.
"Buktikan padaku. Dan aku bertaruh... setelah kau tidur denganku dan mendapatkan tubuhku, esok pagi rasa penasaranmu akan usai, dan kau akan pergi meninggalkanku seperti pria-pria lainnya."
Ujian kejam itu dilontarkan Cinderella sebagai pertahanan terakhirnya untuk membuktikan bahwa semua pria pada akhirnya sama seperti Jonah—pria yang hanya menginginkan fisik dan harta.
Namun, Draxler tidak mundur satu milimeter pun.
Draxler menatap mata Cinderella dengan keteguhan mutlak yang tak tergoyahkan. Ia mengepalkan tangannya di pinggang Cinderella, menarik gadis itu makin rapat ke dalam pelukannya.
"Aku tidak akan pernah pergi, Ember," jawab Draxler dengan suara rendah yang mantap, jujur, dan bergetar oleh ketulusan yang murni.
"Kau boleh mengujiku seribu kali, kau boleh mengambil seluruh hidupku... tapi aku bersumpah demi namaku, aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Draxler kembali menyapu bibir Cinderella dalam ciuman yang makin dalam dan penuh kepemilikan, siap membuktikan seluruh ucapannya.