Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam dan Penyelamatan Instan
Di dunia ini, ada beberapa hal yang lebih menakutkan bagi Elena daripada menghadapi dewan direksi yang sedang marah atau membaca laporan kuartal yang merugi. Salah satunya adalah makan malam berdua bersama kedua orang tuanya, Arman dan Puspasari.
Pukul tujuh malam tepat, Elena melangkah masuk ke dalam Le Mirabeau, sebuah restoran fine dining bergaya Prancis di kawasan Senopati yang pencahayaannya dibuat remang-remang eksklusif. Maya sudah mereservasi meja privat di sudut ruangan, jauh dari tatapan mata pengunjung lain.
Di meja tersebut, Arman dan Puspasari sudah duduk menunggu. Arman, seorang pria paruh baya yang masih terlihat karismatik dengan kemeja polo mahalnya, tersenyum menyambut putrinya. Sementara Puspasari, wanita sosialita dengan riasan sempurna dan perhiasan berlian yang melingkar di lehernya, menatap Elena dengan tatapan mengkritik.
“Tumben kamu tidak telat. Biasanya dokumen perusahaan lebih menarik daripada ibumu,” sindir Puspasari bahkan sebelum Elena sempat menarik kursinya.
“Malam, Ma, Pa,” sapa Elena datar, mengabaikan sindiran itu dan duduk di hadapan mereka. “Jalanan cukup lancar.”
Pramusaji segera datang menuangkan anggur dan menyajikan appetizer. Arman berdeham pelan, mencoba mencairkan suasana. “Bagaimana kantormu, El? Papa dengar ada masalah sedikit dengan vendor logistik?”
“Sudah beres, Pa. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jawab Elena sambil memotong asparagusnya dengan anggun.
Puspasari meletakkan garpunya. Tatapannya menajam. “Papa ini selalu saja membahas pekerjaan. Kita di sini bukan untuk rapat pemegang saham. Mama mengajak kalian makan malam untuk membahas hal yang lebih penting.”
Elena diam-diam menghela napas panjang. Ini dia, batinnya lelah.
“Usiamu dua puluh delapan tahun, Elena,” Puspasari memulai pidatonya yang sudah dihafal Elena di luar kepala. “Teman-teman arisan Mama sudah sibuk memamerkan cucu, sementara putri Mama satu-satunya masih sibuk berpelukan dengan laptop setiap malam. Sampai kapan kamu mau begini?”
“Ma, aku sedang membesarkan perusahaan. Ini bukan hal kecil,” balas Elena tenang.
“Perusahaan bisa dijalankan oleh orang bayaran! Tapi keluarga? Kamu butuh pendamping! Kemarin Mama bertemu dengan Tante Sisca, putranya baru saja kembali dari London setelah menyelesaikan S2. Anaknya sopan, direktur bank, tampan—”
“Aku tidak tertarik, Ma.”
“Lalu kamu tertarik dengan siapa?! Jangan bilang kamu mau melajang seumur hidup! Kamu mau jadi Ratu Es sungguhan yang mati sendirian di kantor berselimut kertas laporan?!” Suara Puspasari sedikit meninggi, membuat Arman harus mengusap punggung istrinya untuk menenangkan.
Elena merasakan kepalanya mulai berdenyut. Rentetan omelan ibunya terdengar seperti kaset kusut yang terus berputar. Dia benci situasi ini. Dia benci ditekan. Dia benci dihakimi seolah seluruh pencapaian kariernya tidak ada harganya hanya karena dia belum memiliki cincin kawin di jari manisnya.
Dalam kepenatan itu, tiba-tiba Elena teringat pada satu hal. Atau lebih tepatnya, satu orang.
Di bawah meja, di atas pangkuannya, tangan Elena meraih ponselnya. Layarnya masih gelap. Tidak ada notifikasi.
Di mana anak magang bodoh itu? rutuk Elena dalam hati. Bukannya aku sudah menyuruhnya mengirim pesan? Beraninya dia melupakan perintah CEO.
Sementara itu, di sebuah kamar apartemen kecil yang jauh dari kata mewah, Andrian sedang duduk bersila di atas karpet lantai. Di depannya terdapat meja lipat kayu yang di atasnya tersaji sebuah mahakarya akhir bulan: semangkuk mi instan kuah rasa soto ayam dengan tambahan satu butir telur yang kuningnya setengah matang.
Andrian memegang ponselnya di tangan kiri, menatap layar ruang obrolannya dengan Elena sambil menggigit ujung sumpit.
“Gue harus chat apa ya?” gumam Andrian frustrasi. “Kalau gue chat sok asik, nanti dibilang nggak sopan. Kalau gue chat formal, nanti gue disuruh ngepel lobi. Hidup ini kenapa serba salah, sih.”
Andrian melirik jam di ponselnya. Pukul 19.15. Ratu Es itu bilang dia sedang makan malam keluarga yang membosankan. Kalau bosnya sedang makan, logika Andrian, membahas makanan adalah pilihan paling aman.
Dengan hati-hati, membuang jauh-jauh bayangan wajah menakutkan CEO-nya di ruang rapat tadi siang, Andrian mulai mengetik dengan gaya aslinya.
Di Le Mirabeau, Puspasari masih menceramahi Elena tentang betapa pentingnya memiliki suami yang setara dalam hal bisnis. Elena hanya mengaduk-aduk truffle pasta-nya tanpa selera.
Bzzzt.
Ponsel di pangkuan Elena bergetar.
Elena menundukkan pandangannya sedikit.
> Andrian: Len. Lu lagi makan apa? Jangan bilang lu lagi makan makanan Prancis yang porsinya segede kuku jempol tapi harganya bisa buat bayar kosan gue sebulan.
Melihat nama pengirim dan isi pesan yang sangat tidak tahu aturan itu, sudut bibir Elena tanpa sadar tertarik ke atas.
> Elena: Saya sedang makan truffle pasta dan wagyu beef. Dan ya, harganya mungkin bisa untuk membayar uang sewa kosmu tiga bulan.
Di seberang sana, Andrian melotot membaca balasan itu.
> Andrian: Gila. Kasta kita emang beda jauh, Len. Kalau gue jadi lu, itu wagyu gue pajang di pigura saking mahalnya, nggak tega gue telen.
> Elena: Lalu kamu sendiri sedang makan apa, Tuan Pekerja Keras?
> Andrian: Makanan dewa penyelamat anak kos. Indomie kuah soto pakai telur setengah matang. Tapi tadi ada tragedi.
Elena mengerutkan keningnya halus. Tragedi?
> Elena: Tragedi apa? Kompormu meledak?
> Andrian: Bukan. Pas gue mau buka bungkus minyak bumbunya, robeknya nggak beraturan, terus tumpah ke tangan gue. Jadi sekarang gue lagi makan mi sambil nyium aroma minyak soto di tangan gue sendiri padahal gue udah mandi pakai sabun wangi. Tragis banget kan hidup gue?
Di tengah restoran bintang lima yang sunyi dan elegan itu, Elena tidak bisa lagi menahan diri. Sebuah tawa kecil, jernih, dan lepas meluncur begitu saja dari bibirnya.
Suara tawa itu begitu tiba-tiba hingga Puspasari langsung menghentikan kalimatnya. Arman yang sedang memotong dagingnya pun ikut terdiam. Kedua orang tua itu menatap putri mereka dengan tatapan syok seolah mereka baru saja melihat alien.
Elena sudah bertahun-tahun tidak pernah tertawa seperti itu di tengah makan malam keluarga. Biasanya wajah putrinya itu kaku, defensif, atau paling banter hanya tersenyum sopan yang dipaksakan. Tapi kali ini, Elena tertawa sambil menatap layar ponselnya. Matanya yang biasanya dingin terlihat berbinar hangat.
“Elena?” panggil Puspasari ragu-ragu. “Apa ada yang lucu dari ucapan Mama?”
Elena segera tersadar. Dia berdeham pelan, segera merapikan kembali ekspresinya menjadi tenang, menyembunyikan ponselnya kembali di bawah meja.
“Tidak, Ma. Maaf. Hanya... ada rekan yang mengirimkan pesan konyol,” jawab Elena beralasan.
Puspasari menyipitkan mata, insting keibuannya langsung mendeteksi sesuatu. “Rekan? Rekan kerja? Sejak kapan kamu punya rekan kerja yang bisa membuatmu tertawa sampai mengabaikan omelan ibumu? Laki-laki?”
Elena mengambil gelas anggurnya, menyesapnya perlahan untuk menutupi senyum yang masih tersisa di sudut bibirnya. “Bukan siapa-siapa yang penting, Ma. Hanya... seseorang yang punya masalah dengan minyak bumbu mi instan.”
Puspasari dan Arman saling pandang, sama sekali tidak memahami apa maksud ucapan absurd putri mereka.
Di bawah meja, Elena kembali mengetik.
> Elena: Bersihkan tanganmu, Andrian. Baunya bisa menempel sampai besok pagi, dan saya tidak mau ada karyawan magang yang bau minyak soto berkeliaran di lantai lima belas.
Balasan Andrian masuk secepat kilat.
> Andrian: Siap, Bu CEO! Eh, sorry, maksudnya Siap, Elena! Btw, omelan keluarga lu udah selesai belum? Kalau udah, sana fokus makan daging sultan lu. Sayang kalau dingin.
Elena membaca pesan itu. Hatinya, yang sedari tadi terasa sesak dan penat akibat tekanan sang ibu, perlahan terasa ringan. Percakapan ini begitu sederhana, begitu tidak penting, namun sangat efektif menjadi tempat pelariannya.
> Elena: Sudah jauh lebih baik. Terima kasih.
Andrian di kamarnya menatap balasan itu cukup lama. "Terima kasih," gumam Andrian membaca pesan Elena. Dia bisa merasakan ada kelegaan dari ketikan singkat itu. Entah tekanan seperti apa yang sedang dihadapi wanita itu, Andrian tiba-tiba merasa simpati.
Menjadi orang nomor satu yang kaya raya ternyata tidak menjamin kebahagiaan setiap saat. Terkadang, mereka hanya butuh obrolan tidak berbobot untuk tetap waras.
Andrian tersenyum.
> Andrian: Anytime, Len. Kalau bosan lagi, panggil aja. Jasa hiburan anak magang ini buka 24 jam buat lu. (Tapi jangan potong gaji gue ya).
Malam itu, sisa makan malam keluarga Puspasari berjalan cukup damai. Karena untuk pertama kalinya, pikiran Elena tidak berada di meja itu, melainkan memikirkan seorang pemuda ceroboh yang sedang mencuci tangannya dari bau mi instan.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨