Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Rere mengajak Dera naik motor berkeliling Jakarta setelah beristirahat sebentar di kosan Rere. Angin kota yang panas dan berdebu langsung menerpa wajah mereka begitu motor mulai melaju meninggalkan kosan Rere. Dengan helm hitamnya yang sudah usang, sesekali menoleh sedikit ke belakang sambil memberikan isyarat tangan, seolah ingin memastikan temannya masih nyaman di belakang.
“Pegang pinggangku aja, Der. Jangan malu-malu,” teriak Rere di sela deru mesin motor. “Jakarta itu jalannya gila-gilaan. Kalau kamu goyah, nanti kita berdua jatuh bareng.”
Dera hanya mengangguk pelan, meskipun Rere tidak bisa melihatnya. Kedua tangannya erat-erat memegang pinggang temannya. Koper besar yang kemarin dibawanya dari stasiun sudah di taruh kamar, diganti dengan tas kecil berisi dompet, ponsel, dan sebotol air mineral. Rambutnya yang diikat seadanya ikut beterbangan, sesekali menutupi matanya.
Jakarta siang itu masih ramai luar biasa. Mobil-mobil berjajar panjang di setiap perempatan, klakson saling bersahutan tanpa henti, dan motor-motor lain berseliweran seperti tak mengenal aturan. Gedung-gedung tinggi menjulang di kiri-kanan, memantulkan sinar matahari pagi yang menyilaukan. Ada billboard besar yang menampilkan wajah artis terkenal, ada pula spanduk iklan promo diskon yang berkibar di tiang lampu.
Rere mulai menjelaskan sambil sesekali mengurangi kecepatan.
“Itu di depan, Monas. Kalau malam kelihatan lebih bagus karena lampunya. Tapi siang begini ya cuma kelihatan tiangnya aja. Nanti kalau kamu sudah betah, aku ajak naik ke puncaknya.”
Dera menatap ke arah yang ditunjuk Rere. Monumen itu tampak kecil di kejauhan, dikelilingi lalu lintas yang padat. Di benaknya sempat terlintas Bandung yang lebih tenang, dengan udara sejuk dan gunung-gunung yang selalu menyapa di kejauhan. Bandung yang dulu ia anggap rumah. Bandung yang sekarang hanya menyisakan luka.
“Jakarta ramai banget ya, Re. Lebih ramai dari Bandung,” seru Dera dengan suara yang terbawa angin. Kata-katanya hampir tenggelam di antara deru mesin dan klakson. Dera tinggal di kampungnya, bukan di pusat kota.
Rere tertawa kecil, suaranya terdengar jelas meski angin kencang.
“Iya, Der. Kamu harus betah tinggal di sini. Awal-awal emang bikin pusing. Tapi lama-lama biasa. Nanti kamu bahkan bisa benci kalau harus balik ke kota sepi.”
Dera menghela napas panjang. “Iya, Re. Semoga aku betah.”
Kata semoga itu keluar pelan, hampir seperti doa. Di dalam hatinya, Dera masih belum yakin. Setiap kali motor berhenti di lampu merah, pikirannya kembali melayang ke permasalahannya dengan keluarganya.
Rere seolah merasakan gelisah di belakangnya. Ia mempercepat motor melewati kawasan Thamrin, lalu belok ke arah Sudirman.
“Lihat, Der. Ini jalan protokol. Kalau pagi dan sore macetnya bisa bikin kamu nangis. Tapi kalau malam, kelihatan cantik banget. Lampu-lampu gedungnya menyala semua. Nanti aku ajak kamu keliling malam-malam.”
Dera mengangguk lagi. Matanya menatap deretan gedung perkantoran yang menjulang. Orang-orang berpakaian rapi berjalan cepat di trotoar, sepertinya baru selesai makan siang. Dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupan tenang di Bandung.
Setelah sekitar empat puluh menit berkeliling, Rere memperlambat motor di dekat sebuah kawasan yang lebih ramai pejalan kaki.
“Kita mau makan di mana?” tanya Dera, suaranya sedikit serak karena terlalu lama melawan angin.
Rere menoleh sebentar, senyum nakalnya sudah terlihat dari samping.“Kita ke kafe aja ya, sekalian cuci mata. Di sini banyak cowok tampan.”
Plak!
Tangan Dera dengan cepat menepuk lengan Rere, meski tidak terlalu keras. “Kamu ini bisa serius sedikit tidak?!”
Rere langsung tertawa lepas, suaranya nyaring bahkan di tengah bising kota. “Aduh, sakit, Der! Aku cuma bercanda! Tapi beneran lho, di Jakarta cowoknya banyak yang ganteng. Apalagi yang kerja di gedung-gedung itu. Kamu tinggal pilih.”
Dera ikut tertawa, meski tertawanya masih sedikit dipaksakan. Ada rasa ringan di dadanya. Rere memang selalu seperti itu, bisa membuat suasana menjadi lebih seru hanya dengan satu kalimat konyol.
Mereka akhirnya berhenti di depan sebuah kafe kecil yang terletak di pojok jalan. Tempatnya tidak terlalu mewah, tapi bersih, dengan jendela kaca besar yang memamerkan deretan kursi kayu di dalam. Bau kopi dan roti bakar langsung menyambut begitu mereka turun dari motor.
Rere melepas helmnya, mengacak-acak rambutnya yang basah oleh keringat. “Ayo masuk. Aku traktir dulu hari ini. Nanti kalau kamu sudah kerja, giliran kamu yang bayar.”
Dera tersenyum tipis. “Makasih, Re.”
Sambil berjalan menuju pintu kafe, Dera sempat menoleh ke jalanan yang masih padat di belakangnya. Jakarta memang ramai, bising, dan panas. Tapi setidaknya, di kota ini, dia tidak akan melihat orang-orang yang telah menyakitinya.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menyusul Rere masuk ke dalam kafe. Suara tawa temannya masih terdengar, bercampur dengan denting sendok dan obrolan pengunjung lain. Untuk saat ini, itu cukup. Dera membiarkan dirinya sedikit tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vivian duduk di teras rumah, menatap jalan kosong di depan. Senyum tipis terulas di bibirnya. Akhirnya adiknya pergi. Dera yang selalu menjadi bayangan mengganggu kini telah meninggalkan Rumah. Vivian merasa menang.
Sejak kecil, rasa iri itu sudah menggerogoti hatinya. Dera selalu selangkah lebih maju. Nilai sekolah lebih bagus, teman-teman lebih banyak, tapi untungnya orang tuanya selalu berpihak padanya daripada ke adik bungsunya itu. Ketika Dera bertunangan dengan Galih, Vivian merasa dadanya terbakar. Mengapa bukan dirinya? Mengapa Dera yang selalu mendapatkan segala yang baik?
“Sekarang kau sudah pergi,” gumam Vivian pelan. “Akhirnya aku bisa bernapas lega.”
Ia bangkit dan berjalan menuju garasi. Di sana, motor Dera masih terparkir rapi. Warna hitamnya masih mengkilap, seolah menunggu pemiliknya pulang. Dera tidak menjualnya. Keputusan yang membuat Vivian tertawa kecil.
“Baguslah motornya tidak dijual,” ujarnya sambil menepuk jok motor itu. “Sekarang ini milikku.”
Ia mengambil kunci yang masih tergantung di dinding. Dengan gerakan tenang, Vivian menaiki motor tersebut. Mesin menyala dengan mudah. Suara deru yang familiar membuatnya semakin puas. Dulu Dera selalu menggunakan motor ini untuk pergi ke kampus, ke tempat kerja, bahkan untuk bertemu Galih. Sekarang, Vivian yang akan mengendarainya.
Di dalam hati, ia membayangkan wajah Dera yang mungkin sedang menangis di Jakarta. Bayangan itu justru membuat senyumnya semakin lebar. Biar saja adiknya menderita di kota besar itu. Di sini, di rumah yang dulu penuh dengan perbandingan, Vivian akhirnya menjadi yang utama.
Ia mempercepat laju motor, melewati jalanan yang dulu sering dilalui Dera. Kali ini, tidak ada yang mengikutinya dari belakang. Tidak ada lagi bayangan adik yang selalu lebih unggul. Hanya dirinya, motor yang baru saja ia klaim, dan rasa kemenangan yang hangat di dada. Vivian tertawa pelan. Kali ini, ia yang menang.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa