Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AYAH DITANGKAP
Veronica yang memiliki penyakit infeksi paru paru dan gagal ginjal, harus mendapatkan perawatan serta penanganan yang tepat.
Setiap 1 bulan sekali, ia harus kontrol dan semua biaya berobatnya dari Gina, putrinya.
Abraham diam diam sudah membantu biaya ibu mertuanya tanpa harus ketahuan mencolok dalam membantu.
Dokter yang menangani Veronica sudah di lobby oleh Abraham untuk memberikan potongan biaya 50% kepada Gina tanpa diketahui.
Sisanya dibayar oleh Abraham diam diam.
Namun memang penyakit Veronica ini terbilang infeksi angkut ditambah sejak menikah dengan Philip seorang perokok, dirinya tidak bisa menghindari asap rokok yang memperparah keadaannya.
Eh ternyata Philip tidak sadar sadar. Tetap merokok dan judi.
Hingga Abraham geram dan membuat skenario kebangkrutan ayah mertuanya sendiri dengan melibatkan sang istri sekalian mengetes kesetiaan wanita itu padanya.
Kembali lagi kearah percakapan Veronica dan Abraham sambil menunggu Gina datang.
"Maafkan ibu ya, Ham. Memang awal kamu dan Gina bersama, ibu sempat menolak. Karena tau sendiri keadaan keluarga Gina yang seperti ini, punya ibu sakit sakitan dan ayah tukang judi mabuk lagi. Ibu cuma tidak mau Gina semakin menderita jika salah memilih suami" ujar Veronica.
"Tapi setelah 1 tahun kalian menikah, ibu sadar jika kamu juga tanggung jawab. Ibu tau kalau kamu memberikan semua gajimu kepada Gina setiap bulan. Ibu juga tau jika kamu selalu berusaha memenuhi kebutuhan Gina" lanjutnya.
uhuuk...uhuuuk..
"Tapi...ibu juga tau hubungan kalian tidak baik setelah keguguran waktu itu" ucap Veronica.
Abraham berusaha menyembunyikan perasaannya terkait kejadian yang baginya menyayat hati.
"Aku tau Gina sangat bekerja keras, Bu. Untuk keluarga kami maupun memenuhi bakti sebagai anak. Aku tidak bisa memaksa untuk kami mencoba memiliki anak jika Gina tidak bisa menahan diri dan lebih memperhatikan kondisi tubuhnya. Sungguh, kehilangan calon anak kami waktu itu benar benar membuatku tak berdaya sebagai suami" curahan hati seorang Abraham.
"Memang anak ibu itu keras kepala karena hidupnya sudah sangat keras sejak kecil. Setelah berhasil berkuliah di Stanford dan mendapatkan pekerjaan, ayahnya sudah menagih banyak uang kepadanya untuk balas budi" ujar Veronica.
"Itulah, Bu. Sepertinya ayah tidak segera bertobat meninggalkan kebiasaan buruknya" sahut Abraham.
Uhuuuk...uhuk..
Veronica terbatuk lagi.
"Mungkin ketika ibu tiada, dia baru sadar dalam kesendirian" ujarnya.
Abraham memegang kedua lengan sang ibu mertua.
"Ibu akan segera sembuh. Bulan depan jadwal operasi transplantasi ginjal untuk ibu, sehingga berlahan kondisi ibu akan membaik" ucapnya.
"Semoga ibu kuat sampai bulan depan" sahut wanita berusia 57 dengan tubuh kurusnya.
Ceklek.
Pintu rumah terbuka. Gina masuk sambil membawa paper back.
Abraham dan Veronica melihat kedatangannya.
"Halo ibu...maaf ya menunggu sarapannya" sapa Gina sambil memeluk ibunya setelah menaruh paperbagnya di meja.
"Halo sayaang...gapapa..ini ibu ditemani Abraham ngobrol" sahut Veronica.
Gina hanya memberi senyum canggung kepada suaminya.
Abraham diam saja dan melihat pergerakan istrinya yang seolah olah menghindar.
"Apakah kamu merasa bersalah telah berselingkuh dariku, Gina? Seharusnya jika kamu masih mencintaiku, kamu akan jujur padaku apa yang telah ayahmu perbuat" batinnya.
Gina menyiapkan sarapan untuk ibunya dan sang suami lalu dirinya sendiri.
Ketiganya pun menikmati sandwich dan salad.
Setelah selesai sarapan, Gina membantu ibunya meminum obat hingga beberapa saat kemudian Veronica mengantuk lalu tertidur di kamarnya.
Gina menemani sang ibu sampai tidur baru keluar kamar dan menghampiri Abraham yang ada di depan tv.
Tanpa suara, Gina duduk disampingnya.
"Ibumu bilang kamu tidur disini tadi malam, tapi aku tidak percaya karena tidak melihat barang2 mu disini" celetuk Abraham.
"Terserah kamu berfikir apa. Aku capek. Ingin duduk disampingmu saja saat ini sudah sangat tidak nyaman jika kamu selalu menyerangku" sahut Gina.
Abraham menoleh kesamping, menatap sang istri yang terlihat sangat lelah.
"Kenapa kamu tidak meminta cerai dariku jika kamu sudah lelah?" tanyanya.
Gina masih menatap depan dan enggan menoleh kearah suaminya.
"Karena aku tidak mau cerai. Untuk apa aku menceraikan mu jika dulu aku setuju untuk menikahimu?" ujar Gina.
"Tapi situasinya sudah berbeda. Kita sudah tidak bisa seperti sebelumnya. Kita bekerja di tempat yang sama, tidur di ranjang yang sama, tinggal di apartemen yang sama namun, sehari mungkin hanya beberapa kalimat yang terucap" sahut Abraham.
Barulah Gina menoleh setelah suaminya menceritakan kondisi mereka.
"Yang bikin berbeda itu kamu, Abraham. Kamu membuatku seolah olah kesalahan dari hubungan kita hanya karena aku. Aku tau sikapmu berubah saat kehilangan calon bayi kita. Aku..aku juga sangat terpuruk sampai sekarang pun aku sangat menyesal" ungkapan hati Gina.
"Tapi...sikapmu membuatku semakin terpuruk..aku semakin bingung..aku menikah untuk apa jika aku diperlakukan seperti ini? Aku hanya ingin membangun keluarga yang bahagia..tapi kamu..kamu malah merusak semuanya" lanjutnya dengan mata yang sudah berurai air mata.
Abraham terdiam.
Melihat istrinya menangis, membuatnya ikut merasakan sakit yang mendalam.
"Berhentilah bekerja dan kita akan memulai semuanya kembali" ujar pria itu.
Ekspresi Gina yang tadinya sangat sedih kini berubah datar dan tajam.
"Lagi...berkali kali kamu memintaku untuk berhenti bekerja dengan kamu hanya sebagai supir? Hahahhaa Abraham Abraham...gajimu itu hanya separuh dari gajiku, bagaimana bisa kamu memintaku berhenti bekerja?" serangnya.
Abraham berdiri.
"Oke. Aku hanya supir. Lebih baik kamu mencari pria kaya raya yang bisa memberikanmu puluhan kali gaji yang kamu terima sekarang sebagai pengacara agar kamu mau berhenti bekerja" sarkasmenya.
"Kamu menyuruhku berselingkuh hah?" ucap Gina.
"Oh dia mulai membahas selingkuh" batin Abraham.
"Jika kamu bisa menemukan pria seperti itu, selingkuh lah. Aku tidak peduli. Sekarang yang aku perdulikan hanya diriku sendiri. Punya istri gak bisa diatur" sahutnya yang terucap.
"Kamu menantang ku, Abraham? Kamu menyuruh istrimu selingkuh? Atau jangan jangan kamu sudah selingkuh dengan wanita lain mangkanya sikapmu begitu buruk kepadaku? Sampai minta cerai segala" serang Gina.
Belum juga Abraham membalas, suara bel rumah berbunyi.
Abraham memilih membuka pintu. Gina pun mengikuti dibelakangnya karena ia sangat menunggu kedatangan sang ayah biadab.
Ceklek.
Pintunya Abraham buka. Ternyata 2 polisi yang datang.
Gina mengerutkan kening berfikir kenapa ada polisi datang pagi2 di rumah orang tuanya. Apakah ayahnya melakukan hal buruk lainnya.
"Selamat pagi, apakah benar rumah ini rumah dari Philip Hamber?" tanya salah satu polisi.
"Pagi, benar. Ada apa ya?" tanya balik Abraham.
Polisi memberikan 1 lembar surat untuk dibaca Abraham.
"Tersangka kekerasan dan judi illegal" 1 kalimat yang di cetak tebal dikertas itu.
"Kami menginformasikan bahwa Philip Hamber menjadi tersangka kekerasan di casino terselubung dan salah satu pemilik casino tersebut" jelas polisi.
Gina pun bisa mendengarkan penjelasan dari polisi.
"Untuk kedatangan kami kesini dan pemberian surat penahanan, kami juga memberikan kesempatan untuk keluarga tersangka membantu proses banding jika diinginkan keringanan hukuman" ucap polisi.
"Tidak usah diringankan, Pak Polisi. Lakukan sesuai hukum saja. Ayah saya memang sangat brengsek. Bermain judi dan ..." sela Gina yang berhenti saat mengungkapkan aibnya telah dijual sang ayah saat sudah bersuami.
"Kalau boleh tau siapa anda?" tanya polisi.
"Saya putrinya" jawab Gina.
"Dan pria ini suami saya" lanjutnya sambil memegang tangan Abraham.
"Oh begitu, baik. Akan kami sampaikan laporan yang didapatkan disini. Terima kasih atas kerjasamanya" sahut polisi.
Lalu kedua polisi itu kembali masuk mobil dinas dan meninggalkan rumah orang tua Gina.
"Kamu beneran biarin ayahmu dipenjara?" tanya Abraham memancing respon sang istri.
"Aku tidak peduli dengan pria tua bangka itu" jawab Gina penuh kemarahan lalu dia memilih masuk kedalam rumah lagi.
Abraham tersenyum menyeringai sambil melihat punggung sang istri menjauh.
lanjut thor