NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Rahman Affandi duduk termenung di depan brankas besinya yang terbuka.
Ia menatap tumpukan uang tunainya yang sedikit berkurang setelah pengeluaran gila-gilaan kemarin.
"Satu juta empat ratus ribu," gumam Rahman sambil mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari cara mendapatkan uang tambahan."
Otak bisnisnya yang selama ini tertidur mulai berputar mencari peluang di sekitar kontrakannya.
Ia ingat bahwa beberapa penyewa sering mencuci baju sendiri di sumur belakang yang berlumut.
"Mungkin aku bisa sewakan mesin cuci bekas dan memungut biaya sepuluh ribu per kilo?"
"Itu ide brilian, aku bisa balik modal dalam dua bulan!" Rahman tersenyum licik menemukan pencerahan.
Namun sebelum ia sempat merencanakan bisnis barunya, suara keributan terdengar dari halaman samping.
Suara teriakan bernada tinggi khas perempuan dan balasan nada marah dari seorang pria.
"Ini jemuranku, Mas Budi!"
"Kenapa kamu malah menaruh celana jeans tebalmu tepat di atas kemeja putihku?" teriak Maya kesal.
"Ya namanya juga tali jemurannya penuh, Maya!"
"Lagi pula kemejamu sudah kering, kenapa tidak diangkat dari tadi pagi?" balas Budi tak mau kalah.
"Kering dari mana? Ini masih basah gara-gara celanamu menutupi sinar matahari!"
"Kamu itu egois sekali sih jadi orang!" sungut Maya sambil menarik paksa celana jeans Budi.
Bruk.
Celana basah dan berat itu jatuh ke tanah berdebu, membuat Budi langsung naik pitam.
"Heh! Itu celana seragam kerjaku, kamu sengaja menjatuhkannya ya?!"
Budi melangkah maju dengan wajah memerah menahan marah.
Maya yang sedikit ketakutan justru bersikap defensif dan mengangkat dagunya menantang.
"Kalau iya kenapa? Salah sendiri menumpang jemuran orang lain!"
Keduanya mulai beradu mulut dengan suara yang semakin keras, mengundang perhatian penyewa lain.
Rina yang sedang menyuapi Dimas hanya bisa menonton dari jauh, tidak berani melerai.
Dimas, mahasiswa baru yang polos, malah bingung harus berbuat apa melihat tetangga barunya bertengkar.
Di dalam kamarnya, Rahman menghela napas panjang mendengar keributan itu.
"Dasar anak-anak muda, masalah sepele saja dibesar-besarkan."
"Biarkan saja mereka bertengkar sampai lelah sendiri, bukan urusanku."
Rahman baru saja akan menutup brankasnya ketika suara berdenging itu muncul.
Ting!
[Peringatan Sistem: Lingkungan sosial yang tidak harmonis dapat mengurangi tingkat kebahagiaan penyewa.]
[Misi Sampingan: Selesaikan pertengkaran antara Maya dan Budi secara damai.]
[Syarat: Tidak boleh menggunakan kekerasan fisik atau ancaman pengusiran.]
[Hadiah: Tambahan umur 2 hari dan voucher diskon 50 persen di Toko Elektronik Jaya.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 2 hari dan sariawan akut selama seminggu.]
Rahman langsung memegang mulutnya refleks, membayangkan sariawan akut yang menyiksa.
Tapi matanya langsung tertuju pada tulisan voucher diskon 50 persen di toko elektronik.
"Diskon setengah harga?"
"Ini pucuk dicinta ulam tiba, aku bisa beli mesin cuci bekas dengan harga sangat murah!"
Rahman langsung melompat dari kursinya dengan semangat menggebu.
Ia mengunci brankasnya cepat-cepat dan berjalan setengah berlari menuju halaman samping.
Pertengkaran Maya dan Budi semakin memanas, mereka hampir saling lempar cucian basah.
"Hentikan keributan ini sekarang juga!" bentak Rahman dengan suara baritonnya yang berat.
Maya dan Budi langsung terdiam dan menoleh ke arah bapak kos mereka.
Keduanya tampak sama-sama kesal dan merasa paling benar.
"Pak Rahman, lihat kelakuan anak kuliahan ini!"
"Dia sengaja menjatuhkan seragam kerjaku ke tanah kotor," adu Budi sambil menunjuk celananya.
"Dia yang salah, Pak!"
"Tali jemuranku ditimpa begitu saja padahal bajuku belum kering," Maya balas mengadu.
Rahman menatap jemuran kawat yang sudah berkarat dan melengkung karena beban berlebih.
Fasilitas jemuran di kontrakannya memang sangat minim, hanya ada tiga baris kawat untuk enam kamar.
Biasanya, Rahman akan menyuruh mereka patungan beli kawat baru jika mau jemuran yang lebih panjang.
Tapi ingat dengan syarat misi, ia harus menahan sifat pelitnya kali ini.
"Kalian ini sudah dewasa tapi kelakuan seperti anak TK berebut mainan."
"Masalah jemuran saja ribut sampai urat leher mau putus," tegur Rahman santai.
Ia berjalan mendekati celana Budi yang jatuh dan memungutnya dengan dua jari.
"Budi, kamu cuci ulang celana ini, air sumur di belakang masih gratis kan?"
Lalu ia beralih pada Maya.
"Dan kamu Maya, angkat kemejamu dan angin-anginkan di teras kamarmu sampai kering."
"Tapi Pak..." Maya hendak protes.
"Tidak ada tapi-tapian."
"Mulai besok, aku akan membuat jadwal piket menjemur pakaian."
"Kamar genap jemur hari Senin, Rabu, Jumat. Kamar ganjil hari Selasa, Kamis, Sabtu."
"Hari Minggu bebas bagi siapa saja yang cepat bangun pagi," putus Rahman tegas.
Budi dan Maya saling pandang, merasa solusi itu sedikit aneh tapi cukup adil.
"Tapi Pak, seragam kerja saya ini harus dicuci setiap hari," keluh Budi.
"Lalu aku juga sering pakai baju ini buat kuliah, masa harus nunggu jadwal menjemur?" protes Maya.
Rahman tersenyum miring, senyum khas seorang pedagang yang melihat mangsanya masuk perangkap.
Inilah saat yang tepat untuk melancarkan rencana bisnis mesin cucinya.
"Kalau kalian merasa jadwal jemur itu merepotkan..."
"Aku punya solusi yang jauh lebih praktis dan modern untuk kalian."
Rahman merendahkan suaranya, membuat gaya bicaranya terdengar sedikit misterius.
Maya dan Budi menatap Rahman penasaran.
"Solusi apa, Pak?" tanya Budi.
"Mulai lusa, aku akan menyediakan fasilitas mesin cuci plus pengering di ruang belakang."
"Kalian tidak perlu lagi berebut jemuran atau capek-capek mengucek baju."
"Baju kalian keluar dari mesin sudah dalam keadaan setengah kering, tinggal diangin-anginkan sedikit," jelas Rahman mempromosikan idenya.
Mata Maya langsung berbinar mendengarnya.
"Wah, bapak serius mau belikan mesin cuci untuk fasilitas kontrakan?"
"Bapak kesambet malaikat dari mana ini?" celetuk Maya lupa diri.
Rahman langsung memelototi Maya.
"Enak saja fasilitas gratis!"
"Ini adalah bisnis, anak muda. Bisnis layanan cuci mandiri."
"Setiap kali kalian memakai mesin cuci itu, kalian harus membayar sepuluh ribu rupiah sekali giling!" tegas Rahman mengoreksi.
Budi dan Maya mendadak lemas mendengarnya.
Harapan mereka untuk mendapat fasilitas mewah gratis pupus sudah.
Pak Rahman tetaplah Pak Rahman yang perhitungan.
"Tapi sepuluh ribu sekali cuci itu lumayan mahal loh, Pak," tawar Budi.
"Lebih mahal mana dengan kalian bertengkar setiap hari dan membuang-buang waktu mencuci manual?"
"Lagi pula, sepuluh ribu itu sudah termasuk biaya air dan listrik."
"Sabun cuci bawa sendiri tentu saja," ucap Rahman bersikeras.
Maya berpikir sejenak.
Sepuluh ribu memang lumayan, tapi menghemat waktu cucinya yang berharga rasanya cukup sepadan.
Apalagi mesin pengering akan sangat membantu di musim hujan nanti.
"Baiklah, Pak, saya setuju."
"Asal mesin cucinya benar-benar bagus dan bersih," kata Maya akhirnya mengalah.
"Saya juga setuju deh, Pak."
"Daripada ribut begini terus tiap pagi," timpal Budi sambil memungut celananya yang kotor.
Ting!
[Misi Sampingan Selesai.]
[Pertengkaran berhasil dilerai dan solusi baru diterima oleh kedua belah pihak.]
[Sistem mencatat: Pengguna memiliki bakat terpendam sebagai negosiator ulung dan rentenir.]
[Hadiah: Tambahan umur 2 hari dan voucher diskon 50 persen telah ditambahkan.]
Rahman mengabaikan ejekan sistem di dalam kurung itu.
Yang terpenting, masalah selesai dan ia mendapatkan izin tidak tertulis dari para penyewanya untuk memulai bisnis baru.
"Bagus, sekarang bubar dan kembali ke urusan masing-masing."
"Aku harus pergi sebentar untuk mengurus bisnis baruku ini," ucap Rahman sambil menepuk tangannya mengusir mereka.
Budi kembali ke sumur belakang dengan wajah tertekuk, sementara Maya masuk ke kamar membawa kemejanya.
Dimas, mahasiswa baru itu, menatap Rahman dengan pandangan kagum dari kejauhan.
"Pak Rahman hebat sekali, tegas tapi solutif," batin Dimas polos.
Tanpa membuang waktu, Rahman langsung berjalan menuju Toko Elektronik Jaya di pasar kecamatan.
Ia sudah tidak sabar menggunakan voucher diskonnya.
Setibanya di toko, ia langsung dilayani oleh pramuniaga berseragam rapi.
"Ada yang bisa dibantu, Bapak?"
"Aku mau cari mesin cuci dua tabung paling besar yang kalian punya."
"Berapa harganya?" tanya Rahman langsung.
"Kebetulan kita ada promo merek S, kapasitas 10 kilo, harganya dua juta rupiah, Pak."
"Ini sudah paling murah dan awet mesinnya," jelas pramuniaga itu.
Rahman mengeluarkan ponsel tuanya dan melihat notifikasi voucher dari sistem.
Ia menunjukkannya kepada pramuniaga tersebut.
"Aku punya voucher ini, harganya jadi satu juta kan?"
Pramuniaga itu mengecek kode vouchernya di komputer dan mengangguk takjub.
"Benar sekali, Pak."
"Voucher VIP ini memotong harga tepat lima puluh persen."
"Totalnya jadi satu juta rupiah, mau dikirim ke mana barangnya?"
Rahman membayar dengan uang tunai sambil tersenyum lebar.
Satu juta rupiah untuk investasi bisnis yang akan menghasilkan uang setiap hari?
Ini adalah pengeluaran yang sangat menguntungkan.
"Kirim ke Kos Putra Putri Melati hari ini juga."
"Pastikan instalasi pipanya kalian yang pasang," pesan Rahman.
Siang itu, sebuah mesin cuci baru mendarat di ruang belakang kontrakan Rahman.
Para penyewa berkerumun melihat benda putih mengkilap itu dengan antusias.
Rahman menempelkan kertas karton di dinding atas mesin cuci dengan tulisan tebal:
ATURAN MAIN: SEKALI GILING Rp 10.000. BAYAR DI MUKA KE PAK RAHMAN.
YANG KETAHUAN MENCURI AIR ATAU SABUN TETANGGA, DENDA Rp 50.000.
Melihat tulisan itu, para penyewa hanya bisa tersenyum masam.
"Baru juga senang lihat fasilitas baru, eh langsung ditagih bayaran," keluh Rina pelan.
Tapi di balik keluhan itu, lingkungan kos terasa jauh lebih hidup.
Pertengkaran soal jemuran tidak pernah terjadi lagi sejak hari itu.
Mesin cuci itu menjadi tempat berkumpul baru bagi para penyewa sambil menunggu cucian mereka selesai giling.
Bahkan Siti, si penjual warung yang suka bergosip, kadang ikut numpang mencuci di sana.
Tentu saja, ia tetap harus membayar sepuluh ribu kepada sang tuan tanah yang kikir.
Sore harinya, Rahman duduk di teras sambil menghitung uang koin sepuluh ribuan di tangannya.
"Satu, dua, tiga... ah, lumayan juga pemasukannya hari ini."
"Ternyata sistem ini tidak sepenuhnya buruk, asalkan aku tahu cara memanfaatkannya."
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...