**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26 - SILINDER KUNINGAN DAN EMPAT NAMA HITAM
Matahari Mediterania perlahan bergeser ke barat, menumpahkan semburat jingga kemerahan ke dinding batu abu-abu Kastel Valois. Cahaya senja itu merayap melalui celah jendela kaca patri, menciptakan bayangan panjang yang membelah lantai perpustakaan kuno di lantai dua.Arthur Valois telah kembali terlelap di kamar medis privatnya. Bukan tidur koma akibat racun polonium yang merusak sumsum tulang, melainkan tidur pemulihan yang tenang di bawah pengawasan ketat tim dokter forensik asal Swiss. Enam ahli medis dan sepuluh operator tempur Valois Maritime Defense bersenjata lengkap menyegel area lantai tiga tanpa celah sedikit pun. Tidak ada yang bisa masuk atau keluar tanpa izin mutlak dari pemilik sah takhta baru ini. Aku melangkah keluar dari kamar medis tersebut, menutup pintu kayu ek berbalut peredam suara itu rapat-rapat tanpa menimbulkan derit sedikit pun.Lorong sayap barat kastel terasa temaram dan sunyi. Di ujung lorong, pintu ganda menuju balkon batu terbuka lebar, membiarkan angin laut Liguria yang asin dan dingin bertiup liar, menyapu karpet merah tebal dan menerbangkan beberapa helai rambut di dekat pelipisku.Di tepi balkon yang menghadap langsung ke jurang karang dengan deburan ombak berbusa putih di bawah sana, berdiri Adrian Varell.Jas arang gelapnya telah ditanggalkan. Kemeja hitam bergaris tenun sutra membungkus punggungnya yang tegap dan bidang dengan sempurna. Angin laut menerbangkan helai rambut hitamnya yang sedikit berantakan. Di tangan kanannya, cerutu Kuba menyala merah redup, mengepulkan asap putih tipis yang langsung buyar diempas angin senja Mediterania.Langkah sepatuku mendarat tanpa suara di atas lantai balkon yang dingin.Adrian tidak menoleh, namun kepekaan seorang predator membuat gerak-geriknya selalu selaras dengan keberadaanku. Suara baritonnya yang berat mengalun rendah, menembus deru ombak di bawah tebing. "Dia mengenalimu.
Itu bukan sebuah pertanyaan. Melainkan sebuah pengakuan mutlak dari seorang pria yang mengamati setiap detik kebangkitan sang patriark dari ambang pintu kamar medis tadi pagi.
"Darah tidak pernah salah mengenali asalnya, Adrian," sahutku pelan, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di sampingnya, memandangi hamparan laut lepas yang mulai menggelap.
Aku menyandarkan kedua lenganku ke pagar balkon batu yang dingin. Di bawah sana, tiga mil laut dari garis pantai Nice, siluet dua kapal fregat tempur Jeanne d'Arc dan Lafayette mengapung anggun di atas permukaan air laut yang mulai kehitaman. Meriam otomatis di haluan kapal-kapal perang itu mengarah ke laut lepas, bagai anjing penjaga setia yang siap merobek siapa pun yang berani mendekati wilayah kedaulatan baru kami.
Adrian menghembuskan sisa asap cerutunya ke udara dingin, lalu mematikan ujung apinya pada asbak batu di langkan balkon. Ia membalikkan tubuhnya perlahan, memangkas jarak di antara kami hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkanku dari terpaan angin laut yang membekukan.
Aroma tembakau dingin, garam laut, dan wangi maskulin yang menguar dari tubuhnya seketika memenuhi ruang udara di antara kami, menciptakan zona privat yang terisolasi dari dunia luar.
Sepasang mata hitam kelam Adrian menatapku lurus. Tatapan itu menelanjangi sisa ketegangan yang masih melekat di garis bahuku setelah konfrontasi panjang hari ini. Perlahan, jemarinya yang hangat dan berurat kokoh terulur menyentuh sisi wajahku, mengusap tulang pipiku dengan sentuhan penuh kendali yang secara ajaib mampu meredakan badai di dalam kepalaku.
"Babak pembersihan di Eropa sudah selesai, Nadia," bisik Adrian rendah, suaranya parau dan sarat akan gravitasi gelap yang berbahaya. "Julian dan Marcus telah diserahkan ke fasilitas penahanan militer Marseille. Seluruh armada tanker Valois berada di bawah komando mutlak jemarimu. Lalu sekarang... apa langkah berikutnya dalam peta pikiranmu?"
Aku mendongak, membalas tatapan matanya tanpa gentar sedikit pun. Di dalam manik matanya yang kelam, aku melihat bayanganku sendiri—seorang wanita yang tidak lagi menyisakan keraguan di dalam hatinya.
"Teka-teki terakhir, Adrian," kataku dengan suara yang tenang namun beracun. "Siapa oligarki di Jakarta yang mendanai pasokan polonium itu sembilan belas tahun lalu bersama Julian sebelum ibu saya dibakar?"
Adrian menyipitkan matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin. "Sembilan Teratai dan keluarga lokal di Jakarta seperti Arkana atau Marvia hanyalah bidak pion di papan catur kelas bawah. Di atas mereka, ada empat sosok pemegang kendali perbankan, militer, dan energi nasional yang mengatur pergerakan dari balik layar ibu kota."
"Dan dokumen asli yang memuat nama-nama mereka tersimpan di brankas tersembunyi kastel ini," sahutku tajam, menegaskan fakta yang baru saja kuungkap dari arsip pribadi Arthur Valois.
Adrian menatapku lekat-lekat selama beberapa detik. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, yang ada hanyalah kilatan ambisi dan rasa hormat yang semakin mendalam terhadap wanita yang berdiri di sisinya. Tangannya beralih merapikan kerah mantel kasmir abu-abuku dengan gerakan protektif yang tegas.
"Kalau begitu, mari kita buka silinder itu malam ini," bisik Adrian tenang.
Dua jam kemudian, di dalam ruang kerja pribadi patriark yang terletak di lantai bawah tanah kastel—sebuah ruangan kedap suara yang dilengkapi sistem pertahanan sirkulasi udara mandiri—keheningan malam terasa begitu pekat.
Di atas meja kayu ek tua berukir lambang klan, sebuah silinder logam kuningan tua peninggalan Arthur Valois terletak membisu di bawah temaram lampu meja antikberwarna hijau. Sebuah segel timah berukir lambang Garuda lama era pra-kemerdekaan merekat utuh di penutupnya, menandakan bahwa dokumen rahasia tingkat tinggi itu belum pernah tersentuh oleh tangan asing selama hampir dua dekade.
Aku mengenakan sepasang sarung tangan putih khusus, lalu perlahan memecahkan segel timah tersebut di hadapan Adrian dan Bastian yang berdiri siaga di samping meja.
Bunyi klik logam yang berkarat terdengar nyaring di dalam ruangan yang sunyi.
Dari dalam silinder kuningan itu, aku menarik keluar selembar perkamen tua yang menguning di bagian pinggirnya. Kertas linen tebal itu memuat stempel basah resmi Kementerian Keuangan masa lalu, serta daftar tanda tangan asli dari empat petinggi oligarki yang mengendalikan sistem finansial di Jakarta.
Mataku menyapu setiap baris nama dan catatan transaksi keuangan yang tertera di atas kertas tersebut dengan kepala dingin. Dendam masa lalu yang selama ini membara di dalam dadaku kini akhirnya memiliki wujud nyata—bukan lagi sekadar bayangan musuh tanpa wajah di kegelapan, melainkan nama-nama besar yang saat ini duduk sangat nyaman di kursi kekuasaan tertinggi ibu kota, merasa diri mereka kebal hukum dan tak tersentuh.
"Empat nama ini..." bisikku pelan, memecah keheningan ruangan. Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat dingin, tidak menyentuh mata sama sekali. "...adalah benteng pertahanan terakhir yang harus kita runtuhkan sebelum seluruh lembar masa lalu benar-benar bersih."
Adrian melangkah mendekat, meletakkan sebelah tangannya di atas tepi meja kayu ek, mencondongkan tubuhnya ke arahku. Tatapannya begitu tajam, memancarkan dukungan mutlak tanpa keraguan sedikit pun terhadap apa pun keputusan yang akan kuambil.
"Mereka mengira kekuasaan mereka di Jakarta aman dari jangkauan hukum internasional, Nadia," ucap Adrian dengan suara bariton yang berwibawa dan menenangkan. "Tapi mereka lupa bahwa singa yang terluka dan bangkit kembali dari abu tidak pernah melupakan jalan pulang ke sarangnya."
Aku melipat perkamen tua itu perlahan, lalu memasukkannya kembali ke dalam silinder kuningan sebelum menyerahkannya kepada Bastian untuk diamankan di dalam koper diplomatik berenkripsi kuantum.
Setelah itu, aku mendongak, menatap mata kelam Adrian dengan keyakinan baja yang membeku di dalam nadiku.
"Pesan penerbangan privat kita kembali ke Jakarta besok pagi, Bastian," titahku tegas, memecah malam di Kastel Valois dengan perintah penyerangan balik. "Kita akhiri permainan tingkat tinggi ini langsung di tanah air."
Babak Ketiga: Tabir Masa Lalu & Rahasia Darah resmi berlanjut ke fase paling berbahaya. Perburuan terhadap para petinggi oligarki yang bersembunyi di balik kemegahan gedung-gedung pencakar langit Jakarta kini resmi dimulai.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang akan bisa melarikan diri.