Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10
Arumi dan Ayu melangkah santai menyusuri trotoar menuju kawasan Car Free Day (CFD) Sudirman-Thamrin. Karena jarak dari kontrakan mereka terbilang cukup dekat, mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja sekaligus menghitung langkah olahraga pagi.
Suasana pagi itu benar-benar menyegarkan. Jalanan ibu kota yang biasanya bising dan dipenuhi kepulan asap knalpot hitam, kini bersih melompong. Udara terasa jauh lebih sejuk dan bersih. Arumi menatap takjub pemandangan di sekelilingnya, ribuan warga tumpah ruah ke jalanan, ada yang berlari santai, bersepeda, hingga para pedagang kaki lima yang mulai menata dagangan kuliner mereka di sepanjang pinggir jalan.
"Wah... ternyata seperti ini rasanya menikmati area CFD. Selama ini aku cuma bisa melihat pemandangan ini dari layar ponsel saat masih di kampung," ujar Arumi takjub sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghirup udara pagi dalam-dalam.
Ayu menoleh dengan dahi berkerut heran. "Memangnya kamu sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke Jakarta sebelum pindah ke sini, Rum?"
Arumi menggelengkan kepalanya pelan sambil menyunggingkan senyum malu. "Belum pernah, Mbak Ayu. Ini pertama kalinya."
"Ya ampun, Arumi! Kamu itu sebenarnya datang dari planet mana sih?" seloroh Ayu dramatis.
"Dari Planet Pluto, Mbak Ayu!" jawab Arumi asal, lalu tertawa cekikikan.
Ayu pun terbahak mendengar jawaban kocak tetangganya itu. Keduanya terus berjalan sembari bercanda tawa tanpa menyadari bahwa dari arah berlawanan, tiga buah sepeda lipat sedang melaju santai mendekati posisi mereka.
"Kak... bukankah itu Bu Arumi, ya?" tanya Azzura tiba-tiba, memperlambat kayuhan sepedanya.
Mendengar nama Arumi disebut oleh putrinya, detak jantung Zaky seketika berdesir hebat. Pria itu langsung menghentikan sepedanya dan menoleh ke segala arah mencari sosok yang paling ia rindukan. Begitu pula dengan Azzam yang ikut memicingkan matanya penasaran.
"Mana, Ra? Aku tidak melihat Bu Arumi," sahut Azzam celingukan.
"Itu loh, Kak! Di samping wanita yang rambutnya dicat pirang!" tunjuk Azzura ke arah Ayu yang berjalan di sebelah Arumi.
Sebelum Azzam sempat melihat, mata tajam Zaky sudah lebih dulu menemukan sosok wanita berhijab anggun yang tengah tertawa lepas itu. Detik itu juga, Zaky terpaku di atas sepedanya. Senyum tipis yang tulus terukir di wajah tegasnya.
'Arumi... Kau yang dulu dan sekarang masih sama-sama cantik. Bahkan sekarang, kau terlihat jauh lebih dewasa dan menawan. Aku tidak menyangka akhirnya kau bisa mewujudkan cita-citamu yang mulia menjadi seorang pendidik. Dan yang lebih tak kusangka... takdir justru memilihmu untuk menjadi wali kelas anak-anakku,' batin Zaky penuh haru, terus memandangi Arumi dari kejauhan.
"Eh, iya! Itu beneran Bu Arumi, Ra!" seru Azzam yang akhirnya melihat sang guru.
"Kita samperin, yuk!" ajak Azzura bersemangat.
Tanpa memperdulikan sang ayah yang masih melamun di belakang, si kembar langsung menuntun sepeda mereka dengan cepat memotong kerumunan warga untuk menghampiri sang wali kelas.
"Bu... Bu Arumi!" panggil Azzura riang.
Arumi yang tengah asyik bercanda dengan Ayu seketika menghentikan langkahnya. Suara yang sangat familiar itu membuatnya refleks menoleh. Begitu pandangannya menangkap sosok Azzam dan Azzura yang melambai ke arahnya, Arumi terkejut setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku.
"Rum, siapa dua remaja tampan dan cantik itu?" bisik Ayu menyenggol lengan Arumi, matanya berbinar kagum melihat visual si kembar yang tampak berkelas.
"Me... mereka muridku di kelas, Mbak Yu," jawab Arumi sedikit gugup. Pikirannya mendadak kacau. Jika ada si kembar di sini, itu berarti...
"Kalian ke sini hanya berdua saja?" tanya Arumi ramah, mencoba mengontrol detak jantungnya yang mulai tak beraturan.
Sebelum Azzura sempat menjawab, sesosok pria tegap dengan setelan olahraga mahal perlahan muncul dari balik punggung si kembar. Pria itu tersenyum lembut ke arah Arumi, memperlihatkan lesung pipinya yang menawan, senyuman legendaris yang dulu sempat membuat Arumi jatuh hati setengah mati.
"Tidak, Bu Arumi. Mereka datang bersama saya," jawab Zaky dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, namun tetap formal. Ia bersikap seolah-olah mereka adalah guru dan orang tua murid yang baru saling mengenal, demi menjaga perasaan dan menyembunyikan masa lalu mereka di hadapan putra-putrinya.
Ayu yang berdiri di sebelah Arumi langsung membeku. Matanya melebar tanpa berkedip menatap ketampanan nyata Zaky yang begitu gagah dengan peluh tipis di pelipisnya.
"Duh, Rum... Gue serasa bermimpi bertemu pangeran tampan di sini! Siapa sih dia? Gantengnya enggak ada obat!" bisik Ayu histeris setengah berbisik sembari menyiku-nyiku lengannya Arumi berulang kali.
Mendengar bisikan genit dari tetangganya, Arumi hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dalam hati.
'Duh, Mbak Ayu... kalau kamu tahu siapa pria ini sebenarnya, kamu pasti tidak akan menyiku lenganku sampai mau patah seperti ini,' batin Arumi menjerit pasrah.
"Bu Arumi, terima kasih banyak ya untuk bento dan kue brownies nya kemarin. Rasanya enak banget!" ucap Azzura tiba-tiba dengan nada suaranya yang tulus. Remaja perempuan itu menatap Arumi dengan binar mata yang mulai melunak. Perlahan, rasa dendam di hatinya mencair setelah melihat betapa sabar dan tulusnya sang wali kelas menghadapi mereka.
"Iya, Bu. Makasih, ya," timpal Azzam singkat. Meski masih gengsi dan mempertahankan gengsinya, nada bicaranya jauh lebih sopan ketimbang di sekolah.
Azzura maju selangkah, menatap gurunya penuh harap. "Bu, lain waktu... boleh tidak ajari kami membuat bento dan brownies seenak kemarin?"
Arumi tersenyum hangat, hatinya sedikit tersentuh melihat perubahan sikap anak-anak ini. "Boleh, Azzura. Lain waktu kalau ada waktu senggang, Ibu ajari kamu, ya," jawab Arumi lembut. Namun, sepanjang berbicara, ia sama sekali tidak berani mengalihkan pandangannya ke arah Zaky yang berdiri tepat di samping si kembar.
Melihat keakraban putri kandungnya dengan Arumi, dada Zaky berdesir hebat. Kehangatan yang terpancar dari interaksi itu membuat Zaky semakin yakin bahwa peluangnya untuk mendekati Arumi dan menyatukan wanita itu ke dalam keluarganya sangatlah besar.
"Terima kasih banyak, Bu Arumi, karena sudah begitu perhatian dan baik pada anak-anak saya," potong Zaky dengan suaranya yang terdengar sangat berwibawa. "Sebagai balasan atas kebaikan Ibu, bagaimana kalau pagi ini saya traktir sarapan? Sekalian bersama temannya Bu Arumi juga," ajaknya sembari melemparkan senyum ramah ke arah Ayu.
Ayu yang ditatap seperti itu langsung tersipu malu, wajahnya memerah.
"Iya, Bu, ikut saja bersama kami. Iya kan, Ra? Kebetulan perut kita juga sudah mulai lapar nih setelah kayuh sepeda dari tadi," ajak Azzam, ikut membujuk.
Sebenarnya, ada maksud terselubung di balik sikap manis Azzam. Ia sengaja mencari aman di depan ayahnya. Azzam takut jika mereka berpisah sekarang, Zaky akan langsung membahas dan mengintrogasi soal kebohongan kasus lem di sekolah kemarin. Lagipula, semenjak sang ayah mulai mau meluangkan waktu dan bersikap dekat dengannya sejak kemarin sore, rasa kesal dan pemberontakan di dalam diri Azzam perlahan-lahan mulai mengikis.
Mendengar ajakan kompak itu, Arumi mendadak gugup. "Duh, maaf sekali... P...Pak Zaky. Tapi saya dan Mbak Ayu belum lapar," tolak Arumi halus, lidahnya sempat kelu saat harus memanggil nama pria itu dengan embel-embel formal.
"Ih, Rum! Rezeki itu jangan pernah ditolak, tahu. Kebetulan kami berdua memang belum sarapan dari rumah, Pak Zaky!" sambar Ayu cepat sembari menyenggol pelan lengan Arumi dan memelototinya, memberi kode 'jangan sok jual mahal'.
Arumi hanya bisa menghembuskan napas panjang, memasrahkan nasibnya pada keegoisan sahabat pirangnya itu. Sementara Zaky, di dalam hatinya, ia bersorak bahagia. Senyum tipisnya kian mengembang. Kali ini, ia berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menyerah atau mundur lagi untuk mengejar cinta Arumi.
Mereka berlima akhirnya berjalan beriringan menuju salah satu deretan pedagang kaki lima di pinggir area CFD. Sungguh pemandangan yang kontras, dimana seorang CEO konglomerat bersama dua anak elitenya sama sekali tidak keberatan harus makan di warung tenda pinggir jalan seperti ini. Tujuan mereka adalah sebuah tenda kuliner Soto Betawi yang aromanya begitu menggugah selera. Arumi tahu betul, makanan berkuah santan gurih ini adalah makanan favorit Zaky sejak zaman mereka masih bersama dulu.
"Silakan duduk," ujar Zaky setelah memesan lima porsi.
Mereka pun duduk di kursi plastik yang mengelilingi meja kayu panjang. Zaky dengan sengaja mengambil posisi duduk tepat di samping Arumi. Sementara Ayu, tanpa menyia-nyiakan kesempatan, langsung menyeruduk duduk di sisi lain Zaky. Alhasil, Zaky kini duduk diapit oleh dua wanita, dimana Arumi di sisi kanannya yang terus menundukkan kepalanya, dan Ayu di sisi kirinya yang terus curi-curi pandang.
Di seberang meja, Azzam dan Azzura duduk berdampingan. Kedua pasang mata remaja kembar itu menatap tajam dan tidak suka ke arah Ayu yang dinilai terlalu genit dan agresif menempel pada ayah mereka.
Tak lama kemudian, lima mangkuk Soto Betawi hangat yang ngebul mengepulkan uap gurih disajikan di atas meja. Suasana hening sesaat saat mereka bersiap menyantap hidangan.
Ayu yang ingin menunjukkan perhatiannya, dengan sok tahu meraih sepotong jeruk nipis di atas pisin kecil. "Pak Zaky, biar sotonya makin segar, saya perasin jeruk ya..."
"Mbak Yu, jangan tuangkan jeruk itu!"
Kalimat Ayu terputus seketika oleh teguran refleks dari Arumi. Arumi bahkan sempat menahan pergelangan tangan Ayu sebelum air jeruk itu sempat menetes ke mangkuk soto milik Zaky.
"Pak Zaky tidak suka makan soto pakai perasan jer... uk," lanjut Arumi pelan, suaranya mendadak mencicit di akhir kalimat saat ia tersadar akan ketelanjuran tindakannya.
Seketika, suasana di meja makan itu membeku. Ayu, Azzam, dan Azzura melongo bergantian, terkejut setengah mati. Bagaimana bisa seorang guru baru yang baru mengajar beberapa hari tahu secara detail tentang selera makan pribadi dari orang tua muridnya yang terkenal menutup diri?
Berbeda dengan ketiga orang yang syok, Zaky justru terpaku dengan senyuman yang merekah lebar. Matanya berbinar cerah, menatap wajah Arumi yang kini memerah karena salah tingkah. Dada Zaky membuncah oleh rasa hangat yang luar biasa.
'Rupanya kamu masih mengingat hal sekecil ini, Rum... Aku yakin, di balik dinding es yang kau bangun, kau masih memiliki rasa yang sama terhadapku. Kali ini, aku bersumpah akan melakukan apa pun untuk membuatmu kembali menjadi milikku selamanya,' ucap Zaky penuh keyakinan di dalam batinnya, tak lepas memandangi wajah cinta pertamanya itu.
Bersambung...
sekarang si tinggal terserah lu
masih mau ga berjuang
Arumi mah udah pasrah Ama takdir
toh...gw juga bisa kok selama ini tanpa lu
dasar nenek lampir
Arumi lawan jgn diam aj, cabein aj mulut kotor Bu Maya klu ga berani suruh othor yg maju duluan ntar aku bantuin doa dari jauh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣