Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 — Permainan yang Tidak Memiliki Bidak
Gu Chen menatap nama yang tertulis di tengah papan raksasa itu. Tidak ada garis pembatas, tidak ada bidak, bahkan tidak ada tanda yang menunjukkan siapa pemainnya. Hanya namanya sendiri, berdiri sendirian di ruang kosong yang seolah menunggu sesuatu.
“Jadi, aku ini bidakmu?” tanya Gu Chen kepada pria berjubah putih.
“Bukan.”
“Pemainmu?”
“Juga bukan.”
Gu Chen menghela napas. “Kau tahu, orang-orang yang suka berbicara dengan teka-teki biasanya memiliki dua kemungkinan. Mereka terlalu bodoh untuk menjelaskan sesuatu dengan benar, atau terlalu takut mengatakan kebenaran.”
Pria itu tersenyum tipis. “Kau masih suka menggunakan kata-kata untuk menyembunyikan ketakutanmu.”
“Dan kau masih suka menganggap dirimu mengenalku.”
“Karena aku mengenalmu sebelum kau memiliki nama.”
Gu Yuan melangkah maju. “Cukup. Kau tidak berhak berada di sini.”
Pria berjubah putih itu akhirnya meliriknya. “Kau mengatakan hal yang sama tiga ribu tahun lalu. Lalu kau memberiku sesuatu yang seharusnya tidak pernah kau berikan.”
“Aku tidak memberimu apa pun.”
“Benarkah?”
Pria itu mengangkat tangan. Sebuah gambar muncul di udara: seorang anak kecil berambut hitam terbaring di ruangan putih. Tubuhnya tidak bergerak, sementara Gu Yuan muda berdiri di sampingnya, kedua tangannya berlumuran cahaya hitam.
Di belakang mereka terdapat meja batu dengan tiga benda: lonceng hitam, mangkuk kosong, dan sebuah botol berisi nama yang tak terbaca.
Gu Yuan mendadak pucat.
Gu Chen memperhatikan perubahan ekspresi ayahnya. “Kau pernah melihat kejadian itu?”
“Jangan dengarkan dia.”
“Pertanyaanku sederhana.”
Gu Yuan menatapnya. “Aku pernah berada di ruangan itu. Namun, ingatanku tentang apa yang terjadi di sana tidak lengkap.”
Pria berjubah putih tertawa pendek. “Kau selalu pandai mengubah pengakuan menjadi alasan.”
Ia menjentikkan jarinya.
Gambar itu berubah. Anak kecil di atas meja batu membuka mata. Bukan mata hitam seperti milik Gu Chen, melainkan mata keperakan yang dipenuhi garis-garis tipis menyerupai retakan kaca.
Anak itu memandang Gu Yuan.
Lalu ia berkata, “Ayah, jangan biarkan aku hidup kembali.”
Gambar tersebut menghilang.
Gu Chen tidak langsung berbicara. Ada sesuatu dalam kalimat terakhir itu yang terasa lebih mengerikan daripada ancaman mana pun. Bukan karena seorang anak meminta agar dirinya tidak dihidupkan kembali, melainkan karena Gu Yuan tampak mengetahui mengapa permintaan itu pernah diucapkan.
“Apa yang kau lakukan kepadanya?” tanya Gu Chen.
Gu Yuan mengepalkan tangannya. “Aku mencoba menyelamatkannya.”
“Dari siapa?”
“Dari dirinya sendiri.”
Jawaban itu membuat Lin Yue menoleh tajam.
Namun, sebelum Gu Chen sempat bertanya lebih jauh, pria berjubah putih mengangkat telunjuknya. Seluruh lorong mendadak membeku. Debu berhenti di udara, cahaya tidak lagi bergerak, bahkan napas Bai terdengar seolah tertahan di dalam dadanya.
Hanya Gu Chen yang masih bisa bergerak.
“Selamat datang di luar permainan,” kata pria itu. “Di sini, waktu bukan sesuatu yang bisa dihentikan. Ia hanya sesuatu yang belum diizinkan untuk berjalan.”
Gu Chen memandang tangan kirinya. Lonceng hitam masih berada di sana, tetapi retakan pada permukaannya telah berubah. Garis-garisnya membentuk pola yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ia mencoba menggunakan Pemutus Benang.
Tidak ada respons.
Pria berjubah putih menggeleng. “Kemampuan itu memutus hubungan antara dua hal yang sudah terhubung. Namun, kau sedang berdiri di tempat yang menentukan apakah hubungan itu pernah ada.”
“Jadi, kau membuatku tidak berdaya?”
“Tidak. Aku hanya mengembalikanmu ke keadaan semula.”
Gu Chen tersenyum miring. “Kalau ini keadaan semulaku, kenapa kau terlihat begitu khawatir?”
Untuk pertama kalinya, senyum pria itu menghilang.
Hanya sesaat, tetapi Gu Chen melihatnya.
Ketakutan.
Bukan ketakutan terhadap kekuatan Gu Chen, melainkan terhadap sesuatu yang tersembunyi di balik keberadaan pemuda itu sendiri.
Gu Chen segera memahami satu hal: pria ini mungkin mampu mengendalikan tempat tersebut, tetapi ia tidak sepenuhnya memahami apa yang sedang berdiri di hadapannya.
Dan itu berarti pria tersebut bisa membuat kesalahan.
“Siapa namamu?” tanya Gu Chen.
“Nama tidak penting di sini.”
“Berarti kau takut menyebutkannya.”
“Aku tidak memiliki nama yang bisa kau pahami.”
“Jawaban yang panjang untuk mengatakan tidak.”
Pria berjubah putih mengangkat tangannya lagi. Kali ini, papan raksasa di belakangnya bergetar. Ruang kosong di tengah papan mulai berubah, membentuk bayangan seorang anak berambut putih.
Anak yang sama dengan yang sebelumnya menyerahkan potongan papan hitam kepada Gu Chen.
“Dia bukan bagian dari permainan,” kata pria itu. “Dia adalah kesalahan yang seharusnya sudah selesai sejak lama.”
Gu Chen menggenggam potongan papan di sakunya.
“Kalau dia kesalahan, kenapa kau masih berusaha menghapusnya?”
“Karena kesalahan yang dibiarkan hidup akan terus menghasilkan kesalahan baru.”
“Menarik. Sepertinya seseorang pernah mengatakan hal serupa tentang diriku.”
Pria berjubah putih tidak menjawab.
Gu Chen melirik papan raksasa di belakangnya. Nama Gu Chen masih tertulis di tengah ruang kosong, tetapi sekarang ada sesuatu yang berubah. Sebuah titik hitam muncul di bawah namanya, kecil dan nyaris tak terlihat.
Ia teringat semua pesan yang pernah diterimanya. Bidak yang seharusnya mati. Pemain yang kehilangan hak mengamati. Identitas yang tidak dapat dihapus. Catatan yang selalu berusaha menentukan siapa dirinya.
Selama ini ia mengira dirinya sedang berusaha keluar dari permainan.
Namun, bagaimana jika permainan itu sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai bidak?
Bagaimana jika papan tersebut justru dibangun untuk menahan sesuatu di dalam dirinya?
“Gu Yuan,” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari papan. “Apa yang sebenarnya kau masukkan ke dalam diriku?”
Keheningan menyelimuti ruangan.
Gu Yuan tidak menjawab cukup cepat.
Dan keterlambatan itu menjadi jawaban tersendiri.
Pria berjubah putih menghela napas, seolah akhirnya mendengar pertanyaan yang telah lama ditunggunya.
“Bukan sesuatu yang dimasukkan ke dalam dirimu,” katanya. “Melainkan sesuatu yang tidak pernah berhasil dikeluarkan darimu.”
Titik hitam di papan membesar.
Lonceng di tangan Gu Chen berbunyi sekali, tetapi suaranya tidak merambat ke mana pun. Getarannya justru membuat papan raksasa itu retak dari bagian tengah.
Pria berjubah putih segera menurunkan tangannya.
Wajahnya berubah serius.
“Jangan bergerak.”
Gu Chen menatapnya. “Sekarang kau yang memberiku perintah?”
“Gu Chen, dengarkan aku. Apa pun yang kau lihat setelah ini, jangan mengakuinya sebagai dirimu.”
Retakan pada papan semakin lebar. Dari dalamnya muncul cahaya putih yang sama dengan cahaya dari ruangan tempat Gu Chen pernah melihat identitas pertamanya. Namun, kali ini cahaya itu tidak memperlihatkan sosok berambut putih atau anak kecil tanpa wajah.
Seseorang berdiri di dalamnya.
Sosok tinggi berjubah hitam, dengan lonceng yang tergantung di pinggangnya.
Wajahnya tertutup topeng polos.
Sosok itu mengangkat tangan dan mengetuk permukaan papan dari sisi seberang.
Tok.
Tok.
Tok.
Tiga ketukan.
Gu Yuan terhuyung mundur.
Bai, yang seharusnya membeku bersama yang lain, tiba-tiba menggerakkan jarinya. Darah mengalir dari hidungnya, tetapi ia tetap mengangkat kepala dan menatap retakan itu dengan mata terbelalak.
“Tidak mungkin,” bisiknya.
Lin Yue perlahan menoleh kepadanya. “Kau bisa bergerak?”
“Aku tidak tahu bagaimana.”
Bai memaksakan diri berdiri. Matanya tertuju pada sosok bertopeng di dalam retakan.
“Aku pernah melihatnya.”
Gu Chen menoleh. “Kapan?”
Bai menelan ludah.
“Pada hari namaku dihapus.”
Sosok bertopeng itu mengetuk papan sekali lagi.
Tok.
Kali ini, topengnya retak.
Dari baliknya terdengar suara Gu Chen sendiri.
“Jangan biarkan mereka memilih siapa di antara kita yang harus hidup.”
Papan raksasa itu pecah.
Segala sesuatu kembali bergerak sekaligus. Lin Yue terjatuh ketika lantai bergetar, Bai segera menariknya, dan Gu Yuan menerjang ke arah Gu Chen. Pria berjubah putih mundur dengan wajah yang tak lagi bisa menyembunyikan kepanikannya.
Namun, pecahan papan tidak jatuh.
Setiap kepingan berhenti di udara, lalu berubah menjadi tulisan-tulisan hitam yang mengitari Gu Chen.
\[PEMBATASAN OTORITAS DIBATALKAN.\]
\[PENGAMATAN TIDAK BERLAKU.\]
\[SUBJEK TIDAK LAGI BERADA DI DALAM PAPAN.\]
Sebuah pesan terakhir muncul, jauh lebih kecil daripada yang lain.
\[PINTU ASAL TELAH TERBUKA.\]
Gu Chen merasakan sesuatu di dalam dadanya bergerak. Bukan kekuatan baru, bukan pula ingatan yang kembali. Lebih menyerupai sebuah pintu yang selama ini terkunci dari kedua sisi, dan kini seseorang di baliknya baru saja memutar gagang pintu.
Ia menatap pria berjubah putih.
“Sekarang jelaskan. Apa yang ada di dalam diriku?”
Pria itu terdiam cukup lama.
Kemudian, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia menjawab, “Sebuah keputusan yang belum pernah selesai dibuat.”
“Keputusan siapa?”
Pria itu menatap sosok bertopeng yang kini berdiri di balik retakan. “Keputusanmu.”
Gu Chen memandang sosok itu.
Sosok bertopeng mengangkat tangan, kemudian menunjuk Gu Yuan.
Lalu ia menunjuk Bai.
Terakhir, ia menunjuk Gu Chen sendiri.
Sebuah tulisan muncul di permukaan topengnya.
TIGA ORANG AKAN MENGINGAT.
DUA ORANG AKAN BERBOHONG.
DAN SATU ORANG AKAN MATI SEBELUM MENGETAHUI SIAPA DIRINYA.
Topeng itu kembali tertutup rapat.
Sosok tersebut melangkah mundur ke dalam retakan dan menghilang.
Papan raksasa lenyap bersamanya.
Untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara.
Kemudian Gu Chen merasakan sesuatu di sakunya. Potongan papan hitam yang diberikan anak kecil tadi telah berubah. Ukiran mata yang dicoret kini terbuka, dan di bawahnya terdapat tulisan yang sebelumnya tidak ada.
PEMILIK ASLI: BELUM DILAHIRKAN.
Gu Chen mengangkat kepalanya perlahan.
Di seberang ruangan, Gu Yuan menatap tulisan itu dengan ekspresi yang membuat Gu Chen memahami satu hal.
Ayahnya bukan sekadar mengetahui tentang papan tersebut.
Ia pernah membantu menciptakannya.
Dan jika tulisan itu benar, maka seseorang yang belum dilahirkan sudah memiliki hak atas sesuatu yang bahkan belum dipahami Gu Chen.
Seseorang yang mungkin tidak akan pernah membiarkannya mengetahui seluruh kebenaran.
Gu Chen memasukkan potongan papan itu kembali ke sakunya.
“Baiklah,” gumamnya. “Kalau kalian semua ingin berbohong kepadaku, setidaknya pastikan kebohongan kalian tidak saling bertentangan.”
Ia menatap Gu Yuan, Bai, lalu pria berjubah putih.
“Karena aku mulai bosan menjadi satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak tahu apa-apa.”
Jauh di tempat yang tidak tercatat dalam sejarah, sebuah lonceng berbunyi.
Dan untuk pertama kalinya sejak sembilan papan diciptakan, tidak ada seorang pun yang mengetahui siapa yang telah membunyikannya.