Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGGEREBEKAN PERDANA
Ruang bawah tanah itu terasa seperti makam beton yang dingin setelah kepergian Elena. Hanya ada suara dengungan kipas pendingin server yang terus berputar konstan, seolah menjadi detak jantung buatan bagi ruangan tersebut. Leo duduk sendirian di atas kursi plastik, menatap kosong ke arah genangan darahnya sendiri yang sudah mulai mengering di atas meja operasi baja.
Rasa sakit di pundak kanannya berdenyut seirama dengan detak jantungnya. Obat antibiotik yang ia telan tadi belum memberikan efek apa-apa selain rasa pahit di tenggorokan.
Leo menggeser posisinya perlahan, mencoba merilekskan otot-otot punggungnya yang tegang. Ia menunduk, melirik ke kolong meja baja tempat Elena menunjuk keberadaan brankas kecil tadi. Dengan sisa tenaga di tangan kirinya, Leo membungkuk dan menarik sebuah kotak logam seukuran kotak sepatu dari bawah sana. Kotak itu tidak dikunci.
Saat ia membuka tutupnya, kilapan logam hitam dari sepucuk pistol Sig Sauer P226 menyambutnya. Di sebelahnya terdapat dua magasin cadangan yang terisi penuh.
Leo meraih gagang pistol itu dengan tangan kirinya. Besi dingin itu terasa familiar di telapak tangannya. Sebagai pria kidal yang dilatih menembak dengan kedua tangan sejak remaja oleh ayahnya, menggunakan tangan kiri bukanlah masalah besar. Masalah utamanya adalah hentakan peluru nanti pasti akan menarik otot dada dan bahu kanannya yang baru saja dijahit kasar.
Ia menekan tombol pelepas magasin, memastikan isinya penuh, lalu memasukkannya kembali hingga terdengar bunyi klik yang mantap. Ia menarik *slide* pistol ke belakang untuk memasukkan peluru pertama ke dalam kamar peluru.
"Setidaknya aku tidak akan mati tanpa perlawanan," gumam Leo sendirian. Ia meletakkan pistol itu di pangkuannya, bersandar ke tembok, dan memejamkan mata sejenak untuk menghemat energi.
Setengah jam berlalu dengan lambat. Leo baru saja hampir terlelap ketika insting bertahannya mendadak berteriak.
Brak!
Suara hantaman keras terdengar teredam dari lantai atas, tepat di area pabrik pengalengan ikan yang terbengkalai. Suara itu bukan langkah kaki ringan seorang gadis peretas. Itu adalah suara dobrakan pintu besi yang ditendang paksa.
Mata Leo langsung terbuka lebar. Rasa kantuknya menguap seketika, digantikan oleh aliran adrenalin yang memompa deras ke seluruh pembuluh darahnya. Ia mencengkeram erat Sig Sauer di pangkuannya dan memaksakan diri untuk berdiri. Kaki kirinya yang terluka terasa ngilu, tapi ia mengabaikannya.
Langkah-langkah kaki bersepatu bot terdengar berat dan terburu-buru di atas langit-langit beton. Tidak hanya satu atau dua orang, tapi setidaknya ada setengah lusin orang yang sedang menyisir lantai atas.
"Sisir area ini! Bos bilang sinyal ponsel gadis itu terakhir terlacak di sekitar pabrik ini," teriak suara seorang pria dari atas sana.
Leo mengenali suara itu. Itu suara Bruno, salah satu kepala regu algojo Marco yang terkenal kejam dan tidak banyak mikir. Sialan, batin Leo. Mereka pasti melacak jejak digital Elena atau menemukan rekaman CCTV di sekitar pelabuhan tua. Phantom mungkin hebat menyembunyikan diri di dunia maya, tapi jejak fisik di dunia nyata adalah cerita yang berbeda.
Debu putih berjatuhan dari langit-langit saat langkah-langkah kaki itu semakin mendekati area tangga yang menuju ke ruang bawah tanah.
Leo tahu ia harus bergerak cepat. Ia berjalan pincang menuju panel listrik utama di dinding dekat deretan server. Ia menarik tuas sakelar lampu utama ke bawah. Seketika, lampu bohlam redup di tengah ruangan mati. Ruang bawah tanah itu kini hanya diterangi oleh kedipan lampu LED biru dan hijau dari mesin-mesin server serta layar monitor yang memancarkan cahaya pucat. Suasananya berubah menjadi labirin gelap yang menyeramkan.
Leo bergerak cepat ke balik pilar beton tebal yang mengapit rak server ketiga, sekitar sepuluh meter dari anak tangga turun. Ia menempelkan punggungnya ke beton dingin, mengangkat pistolnya sebatas dada, dan menahan napas.
Klotak!
Pintu baja pelindung tangga di atas ditarik paksa hingga terbuka. Cahaya dari tiga senter taktis langsung menyorot turun, membelah kegelapan ruang bawah tanah seperti pedang cahaya.
"Ruang bawah tanah! Ada tangga ke bawah!" teriak salah satu anak buah Bruno.
"Hati-hati. Turun pelan-pelan. Kalau kalian melihat Phantom, tembak kakinya saja. Bos butuh dia hidup-hidup untuk meretas sandi keamanan Valenti," perintah Bruno dari belakang.
Langkah sepatu bot mulai menuruni tangga beton. Satu, dua, tiga, empat orang. Leo menghitung dari bayangan yang tercetak di dinding. Mereka turun dengan formasi rapat, senjata laras panjang terangkat, menyapu setiap sudut ruangan dengan senter.
"Sial, tempat apa ini? Banyak sekali komputer," gumam salah satu algojo saat kakinya menyentuh lantai dasar. Senter pria itu menyorot ke arah meja baja di tengah ruangan, tepat ke arah genangan darah Leo yang belum dibersihkan.
"Hei! Ada darah di sini. Masih segar," pria itu berseru, melangkah maju mendekati meja.
"Menyebar! Dia pasti masih di dalam sini!" bentak Bruno yang baru saja turun menyusul anak buahnya.
Leo mengatur napasnya. Ia menunggu pria pertama itu masuk lebih dalam, melewati rak server pertama dan kedua, memisahkan diri dari kelompoknya. Jaraknya kini hanya lima meter dari posisi Leo bersembunyi.
Saat pria itu menoleh ke arah berlawanan, Leo melangkah keluar dari balik pilar. Tanpa ragu sebentar pun, ia membidik dada samping pria itu dan menarik pelatuknya dua kali.
Dor! Dor!
Suara tembakan pistol sembilan milimeter meledak memekakkan telinga di ruang bawah tanah yang tertutup itu. Pria pertama tersentak keras, darah menyembur dari rusuknya. Ia menjatuhkan senapannya dan ambruk ke lantai tanpa sempat berteriak.
"Di sana! Di balik server!" raung Bruno seraya mengarahkan senapan serbunya ke arah pilar tempat Leo kembali bersembunyi.
Baku tembak pecah dengan brutal. Rentetan peluru tajam menghantam rak-rak server. Bunga api memercik terang di tengah kegelapan saat logam beradu dengan peluru. Kaca monitor hancur berantakan, serpihan plastik beterbangan ke segala arah. Asap berbau ozon dan kabel terbakar mulai memenuhi udara sumpek basement tersebut.
Leo merendahkan tubuhnya. Pundaknya menjerit kesakitan akibat hentakan pistol tadi. Darah segar kembali merembes membasahi perban di balik kemejanya yang sudah hancur. Ia mengertakkan gigi, merayap pindah ke lorong server berikutnya agar tidak terjebak di satu titik.
"Tembakan itu... itu bukan Phantom! Itu pistol semi-otomatis!" teriak salah satu algojo yang berlindung di balik meja baja.
"Lempar *flashbang*! Bikin dia buta!" perintah Bruno.
Sebuah tabung silinder kecil menggelinding di lantai beton, berhenti hanya dua meter dari ujung rak tempat Leo bersembunyi.
Leo membelalakkan matanya. Ia langsung membalikkan badan, menutup kedua matanya rapat-rapat, dan menutup telinganya dengan lengan kiri.
BAM!
Ledakan cahaya putih yang sangat menyilaukan dan suara melengking tajam merobek ruangan. Meski sudah menutup mata, Leo tetap merasakan pening luar biasa yang menghantam kepalanya. Telinganya berdenging keras, membuat suara-suara di sekitarnya terdengar seperti di dalam air.
"Maju! Habisi dia!" samar-samar Leo mendengar teriakan Bruno.
Leo memaksa dirinya menoleh. Pandangannya masih dipenuhi bintik-bintik putih. Ia melihat dua siluet manusia bergerak maju dari sisi kiri dan kanan lorong server, mencoba menjepitnya.
Dengan insting murni dan sisa pandangan yang kabur, Leo menjulurkan tangannya dari balik rak dan menembak membabi buta ke arah siluet di sebelah kanan.
Dor! Dor! Dor!
Satu tembakannya mengenai lutut algojo tersebut. Pria itu menjerit keras dan jatuh tersungkur, senjatanya menyalak liar mengenai langit-langit beton.
Namun, algojo di sebelah kiri berhasil mendekat. Pria itu menendang rak server dengan keras hingga server itu bergeser dan menabrak tubuh Leo.
"Ukh!" erang Leo saat logam berat itu menghantam rusuknya. Ia terjatuh telentang ke lantai, senjatanya terlepas dari genggaman dan terlempar sejauh dua meter.
Algojo itu berdiri menjulang di atas Leo, menodongkan laras senapan tepat ke wajah pangeran mafia tersebut. Senter dari senjata itu menyilaukan mata Leo.
"Astaga... Bruno! Ini Leo Valenti! Target sayembara ada di sini!" teriak algojo itu kegirangan, merasa ia baru saja memenangkan lotere sepuluh juta dolar.
"Jangan tembak kepalanya! Kita butuh wajahnya untuk bukti!" balas Bruno yang sedang berlari mendekat.
Leo menatap laras senapan mematikan di depan wajahnya. Ia tidak punya senjata. Tangan kanannya tidak bisa digunakan untuk memukul. Kematian terasa begitu dekat, sedekat ujung laras yang kini menempel di dahinya.
Namun, sebelum algojo itu sempat menarik pelatuknya, sebuah suara letusan kecil namun mematikan terdengar dari arah tangga.
Pfut!
Itu suara tembakan yang memakai peredam.
Mata algojo yang menodong Leo mendadak terbelalak kosong. Sebuah lubang kecil muncul di pelipis kanannya, menyemburkan cipratan darah merah gelap ke lantai beton. Tubuh besar pria itu ambruk menimpa rak server dengan suara gedebuk yang berat.
Bruno dan satu anak buahnya yang tersisa langsung memutar tubuh mereka ke arah tangga, menembakkan senjata mereka secara panik ke dalam kegelapan.
"Siapa itu?! Keluar kau!" teriak Bruno panik.
Dari balik bayangan di puncak tangga, sesosok tubuh ramping dengan jaket kulit hitam bergerak secepat kilat. Elena melompat turun melewati tiga anak tangga terakhir, berguling sempurna di lantai beton, dan langsung melepaskan dua tembakan beruntun dari Glock 26 yang sudah dipasangi peredam suara.
Pfut! Pfut!
Anak buah Bruno yang berdiri di dekat meja operasi terjengkang ke belakang dengan dua peluru bersarang telak di dadanya.
Bruno yang kini tinggal sendirian menyadari ia kalah posisi. Ia menembakkan sisa pelurunya secara acak ke arah Elena untuk menahan pergerakan gadis itu, lalu berbalik dan berlari mundur ke arah lorong sempit yang mengarah ke pintu pembuangan air di belakang basement.
"Bajingan! Marco akan tahu kalian di sini!" teriak Bruno sebelum menghilang di balik kegelapan lorong.
Elena mendecih kesal. Ia bangkit berdiri, menendang senapan yang jatuh di dekat kakinya agar menjauh, lalu berjalan cepat menghampiri Leo yang masih terkapar di lantai di antara pecahan server. Tangan kirinya menjinjing sebuah tas ransel hitam besar berisi suplai medis yang baru saja ia beli.
"Kau benar-benar magnet masalah, Pangeran," gerutu Elena seraya mengulurkan tangannya untuk membantu Leo berdiri. "Aku baru pergi satu jam dan kau sudah merombak ulang interior ruang kerjaku dengan peluru."
Leo menyambut uluran tangan Elena, menarik tubuhnya bangun dengan ringisan kesakitan.
"Kau yang bilang tempat ini aman," balas Leo dengan napas tersengal. "Mereka melacak sinyalmu, bukan sinyalku."
"Itu tidak penting sekarang," Elena menatap tajam ke arah lorong gelap tempat Bruno melarikan diri. "Pria besar tadi kabur. Dia pasti memanggil bala bantuan yang ada di luar. Pabrik ini sudah dikepung."
"Lalu apa rencanamu sekarang, Phantom?" Leo memungut senjatanya dari lantai, memeriksa sisa peluru di dalam magasin. "Kita tidak bisa bertahan di sini melawan puluhan orang."
"Kita tidak akan bertahan. Kita akan lari lewat lorong pembuangan air lama di belakang sana," Elena membuka ritsleting ranselnya dan mengeluarkan dua buah granat asap. "Lorong itu sempit dan penuh tikus, tapi itu satu-satunya jalan keluar sebelum tempat ini diratakan dengan tanah."
"Kalau begitu pimpin jalannya," ucap Leo mengokang senjatanya, matanya kembali menajam. "Kita akan membunuh siapa pun yang menghalangi jalan kita di lorong itu."
Elena tersenyum dingin. Ia melemparkan sebuah magasin cadangan kepada Leo, yang langsung ditangkap oleh pria itu dengan sigap. Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai.
semangat up thor💪
ini bukti besar takut klo sergio dibunuh
kmrin" ngapain aja... kalian sdh bertaruh nyawa bbrp x, qu dibikin deg"an
kalian hrs bs merebut kembali tahta palsu itu😠
nikmati masa" terakhir napasmu😁
makan apa mrk, daya tahan bs sehebat leo n elena ini (klo blh tau apa rahasia'a🤭)
jadi ketua klo cara'a salah gk bakal awet, apalg pewaris msh hidup
klo langkah mgkin iya, tp klo obrolan? 🤔