Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.
Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.
Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membereskan Target
“Orang-orang itu sudah kami temukan, Pak. Kami membawanya ke gudang bekas pengolahan udang tawar dekat pantai.” Pemimpin operasi pencarian pakde Melisa memberi laporan pada Dharma begitu mereka berhasil membekuk target.
“Baik, Pak. kami jaga di sini.” Sambungan telepon ditutup.
Lima orang yang berhasil mereka ikat itu terus memberontak. Mulut mereka disumpal dengan kain agar tidak terus berisik meneriakkan kalimat-kalimat sampah.
Setelah beberapa lama, Dharma sampai di lokasi penyekapan.
“Selamat siang, Pak Dharma,” sapa tim pemburu target.
“Siang,” jawab Dharma singkat. “Kerja bagus, Max.”
Mereka berterima kasih atas pujian Dharma.
Dharma berjalan ke arah lima orang yang diikat menjadi satu. Ia membuka sumpalan pada salah satu mulut mereka. “Ingat aku? Kalian berurusan dengan orang yang salah, Paman-paman.”
“Bajingan. Orang kaya seperti kalian hanya bisa main kotor tanpa peduli nasib kami.”
“Wah, apa itu artinya kalian hanya umpan?”
“Bedebah. Aku sudah tidak peduli lagi dengan urusan kalian.”
“Bagus. Beri tahu dulu siapa otak di balik tugas kalian?” Dharma mengeluarkan alat kejut listrik dari balik saku jasnya.
Orang-orang dalam ikatan itu bergerak menghindar dengan gelisah. Wajah mereka sudah babak belur tidak karuan, sakitnya masih terasa di sekujur tubuh. Kalau harus ditambah dengan sengatan listrik sepertinya riwayat mereka akan tamat.
“Yang mana paman Melisa?” tanya Dharma seraya memutar-mutarkan alat kejut listrik yang dipegangnya.
Mereka semua saling bergumam karena tidak bisa bicara. Satu orang yang sumpalan mulutnya sudah dibuka tadi justru hanya diam.
“Oh, yang ini ya? Salam kenal, Paman. Aku suami keponakanmu. Kupikir kita bisa berkenalan dengan situasi yang lebih baik, tapi ternyata anda memilih jalan yang jauh lebih menarik begini.” Ia menyentuh kan senjatanya di pipi paman Melisa.
“Apa sebenarnya motifmu, Paman?” Dharma yang sudah sangat geram akhirnya menghidupkan alat itu dan menempelkannya di lengan pakde.
Tentu saja pakde langsung menegang menahan sakit saat arus listrik itu mengaliri tubuhnya. Begitu dilepas, malasnya langsung tidak beraturan.
“Sudah bisa menjawab?”
Karena masih diam, Dharma menyentuhkan alat itu untuk kedua kalinya.
“Aku… “ teriak pakde berusaha mencegah alat itu ditempelkan di lengannya lagi.
“Aku apa? Hm?” Rahang Dharma sudah menegang menahan marah, tapi ia berusaha tetap ramah.
“Sebenarnya aku hanya butuh dia pulang. Istriku merindukannya dan ingin meminta maaf.”
“Bohong.” Dharma tahu itu bukan alasan sebenarnya.
Ia memberikan kode kepada timnya untuk menutup kepala pakde. Itu artinya mereka semua bebas menyerang di bagian mana pun dengan apa pun.
Di dalam tutup kepala akhirnya pakde berbicara. “Nona Sheila.”
Mereka membuka lagi tutup kepala itu. “Katakan dengan jelas atau kalian semua akan ditenggelamkan di laut bersama ikatan itu!”
Suara deburan ombak terdengar begitu keras dan menyeramkan. Nyali orang-orang itu kini ciut, padahal kemarin mereka bergerak segagah itu dalam menjalankan misi. Mereka berusaha melepaskan ikatan.
“Nona Sheila datang ke rumah dan memintaku membuat kekacauan di rumah kalian.”
“Apa dia juga yang menyuruhmu menculik Melisa?”
“Tidak. Itu ideku sendiri, karena Nona Sheila bohong soal bayarannya. Jadi, aku inisiatif sendiri membawa Melisa pulang. Aku butuh cap jarinya untuk menjual tanah warisan mendiang orang tua kami.”
Dharma hanya diam menyimak. Lalu ia menampar wajah pakde.
“Aku berkata jujur. Kalau Nona Sheila tidak ke rumah, mungkin sampai kapan pun aku tidak akan menemukan Melisa lagi. Anak itu sudah lama kabur dari rumahku,” jelas pakde dengan ketakutan.
Dharma meminta timnya untuk memberi pelajaran pada mereka dan melepasnya begitu berjanji tidak akan berulah lagi.
“Patahkan kaki atau tangan mereka sebagai ganjaran!” perintahnya.
Ia lalu pergi meninggalkan lokasi.
…
Dalam perjalanan pulang, Dharma melihat toko kue kering langganan hampers kantor. Ia mampir beli untuk oleh-oleh Dayu dan Melisa. Sekalian nanti ia akan berikan ponsel baru yang kemarin masih disimpan.
“Dua paket hampers lengkap mini.” Dharma menyebutkan pesanannya.
“Boleh tahu ini untuk keluarga atau pasangan, Pak?”
Dharma terlihat berpikir sebentar. “Untuk keluarga,” jawabnya.
“Baik. Untuk keluarga kami ada free gantungan kunci ya, Pak.”
Dharma mengangguk sopan dan berterima kasih.
Ia memperhatikan gantungan kunci itu. Ada sepasang kekasih dan dua anak kecil yang bergandengan. Itu potret keluarga sempurna dengan satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Tidak cocok dengan komposisi keluarganya. Dharma hanya menyimpan gantungan itu di laci mobil.
Sepanjang perjalanan, Dharma mengingat kenangan-kenangan bersama istrinya. Rasa cinta dalam hatinya masih sama besarnya sejak pertama kali jatuh cinta, tapi kini ia punya ruang kecil dalam hatinya yang membawa nama Melisa.
“Apa dia sungguhan tidak punya pacar atau apapun sebelum datang ke rumahku? Sepertinya tidak mungkin.”
Dharma berbicara sendiri. Ia mulai menerima Melisa dalam hidupnya, tapi juga ragu-ragu, khawatir salah melangkah atau dikecewakan oleh takdir lagi.
“Nanti di rumah akan coba aku tanyakan.”
Perjalanan berakhir. Ia memarkir mobilnya di garasi dan segera masuk ke dalam rumah.
“Sedang apa kamu, Melisa?”
Ia melihat Melisa membawa sapu dan alat serok sampah, juga ada lap kecil yang menggantung di bahunya. Perempuan itu sibuk membersihkan rumah sampai tidak mendengar panggilannya.
Dharma mendekat. “Hei, kamu sedang apa?“
Melisa terkejut. Sejak tadi ia membersihkan rumah sambil melamun. Tiba-tiba ada suara Dharma di belakangnya.
“Hah, Pak Dharma bikin kaget deh. Aku lagi beres-beres lah, para ART itu kan kamu sekap entah di mana. Kamu pikir rumah ini bisa membersihkan dirinya sendiri. Aku lah yang harus bersihkan mulai hari ini,” keluh Melisa. Perempuan itu mengelap keringat yang menetes di dahinya. “Harus dua kali lipat nih gaji bulanannya.
Dharma tersenyum. “Aku sudah panggil jasa kebersihan, Melisa. Dia akan datang setiap sore. Tidak perlu kamu yang membereskan ini semua.”
Dharma mengambil alat-alat itu dari tangan Melisa, juga menyingkirkan lap kecil yang tergantung pasrah di bahunya.
“Duduk dulu! Dayu mana?”
Melisa menurut. Ia duduk dengan manis.
Dharma menyodorkan kotak hampers yang tadi dibelinya.