Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — BENGKEL TUA DAN RAHASIA ARX-9
Pukul empat lewat tiga puluh pagi, Arga Pratama sudah terbangun.
Udara masih dingin. Jalanan di sekitar rumahnya belum ramai, sementara cahaya lampu dari rumah tetangga sesekali menembus jendela kamar. Arga duduk di tepi tempat tidur, memandangi telepon yang tergeletak di atas meja.
Pesan misterius itu masih ada.
"Aku memiliki salinan data asli proyek ARX-9. Jika kamu benar-benar ingin mengetahui siapa yang mengkhianatimu, datanglah besok pukul enam pagi ke bengkel tua di belakang stasiun lama. Datang sendiri."
Arga membacanya sekali lagi.
Ia tidak pernah menyukai pertemuan rahasia. Terlebih, orang yang mengirim pesan itu mengetahui terlalu banyak tentang kejadian lima tahun lalu. Namun, ia juga tidak ingin mengabaikan kesempatan untuk menemukan bukti yang selama ini tidak pernah berhasil ia dapatkan.
Arga membuka peta pada teleponnya dan mencari lokasi bengkel tua di sekitar stasiun lama. Ia menemukan beberapa kemungkinan tempat, tetapi tidak satu pun yang benar-benar cocok dengan deskripsi dalam pesan.
Ia kemudian menghubungi seorang kenalan yang biasa mencari dan membeli komponen kendaraan bekas.
"Maaf mengganggu pagi-pagi," kata Arga ketika panggilan tersambung. "Aku mau bertanya tentang sebuah bengkel tua di belakang stasiun lama. Apa kamu tahu tempat seperti itu?"
Di seberang telepon terdengar suara menguap.
"Bengkel tua? Yang mana? Di sekitar stasiun ada banyak gudang lama."
"Tempat yang sudah tidak beroperasi selama beberapa tahun."
Kenalannya berpikir sejenak.
"Mungkin bengkel milik Pak Surya. Dulu dia sering memperbaiki mesin kendaraan niaga. Tempatnya berada di jalan kecil belakang gudang barang. Tapi setahuku, sudah lama tutup."
"Apakah kamu tahu cara menuju ke sana?"
"Tahu. Nanti kukirim lokasinya."
"Terima kasih."
Arga menutup telepon dan meletakkannya di atas meja.
Ia tidak akan pergi ke sana tanpa persiapan. Ia mengambil tas kecil, memasukkan telepon cadangan, buku catatan, senter, dan beberapa barang pribadi. Ia juga menyimpan salinan pesan misterius itu agar bisa menunjukkan isinya jika diperlukan.
Sebelum meninggalkan rumah, Arga menulis pesan kepada ibunya bahwa ia harus pergi lebih awal untuk suatu urusan sebelum kompetisi dimulai. Ia tidak menjelaskan semua persoalan yang sedang dihadapinya, tetapi memastikan ibunya mengetahui ke mana ia pergi.
Setelah semuanya siap, Arga keluar rumah.
Langit masih gelap ketika ia berjalan menuju jalan raya untuk mencari kendaraan.
Hari itu akan menjadi hari yang panjang.
Pukul lima lewat empat puluh lima menit, Arga tiba di kawasan stasiun lama.
Daerah tersebut jauh lebih sepi dibandingkan pusat kota. Beberapa gudang berdiri di sepanjang jalan, sebagian masih digunakan sebagai tempat penyimpanan barang, sedangkan sisanya tampak terbengkalai.
Arga berjalan mengikuti petunjuk lokasi yang dikirim kenalannya.
Di sisi jalan kecil, ia menemukan sebuah bangunan dengan papan nama yang hampir seluruh tulisannya terhapus.
BENGKEL SURYA MOTOR.
Pintu besinya tertutup setengah. Cat dindingnya mengelupas, beberapa genting terlihat tidak rata, dan rumput liar tumbuh di dekat pagar. Di halaman depan terdapat sebuah mobil tua yang ditutupi terpal berdebu.
Arga berhenti beberapa meter dari pintu.
Tempat itu tampak seperti bengkel yang sudah lama tidak menerima pelanggan.
Namun, ketika memperhatikan lebih saksama, ia melihat bekas ban baru di tanah dekat pintu samping. Ada pula jejak sepatu di debu yang menutupi lantai.
Artinya, seseorang baru saja datang ke sana.
Arga mengeluarkan telepon dan melihat waktu.
Pukul lima lewat lima puluh delapan menit.
Ia tidak langsung masuk. Sebaliknya, ia mengamati bangunan dari luar, memastikan tidak ada tanda bahaya yang terlihat, lalu menghubungi kenalannya untuk memberi tahu lokasi yang ia datangi.
Setelah itu, ia berdiri di dekat pintu depan.
"Permisi," panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk pintu besi dua kali.
Beberapa detik kemudian, terdengar suara benda bergeser dari dalam.
Pintu terbuka sedikit.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun muncul di baliknya. Rambutnya mulai memutih, wajahnya tampak lelah, dan ia mengenakan kemeja abu-abu dengan lengan yang digulung sampai siku.
Pria itu memandang Arga dengan hati-hati.
"Kamu Arga Pratama?"
Arga mengangguk.
"Benar. Apakah Anda yang mengirim pesan kepada saya?"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah Arga cukup lama, seolah sedang memastikan bahwa orang di hadapannya benar-benar sosok yang ia tunggu.
"Masuklah. Kita tidak punya banyak waktu."
Arga tetap berdiri di tempat.
"Sebelum saya masuk, saya ingin mengetahui siapa Anda."
Pria itu menghela napas.
"Namaku Surya. Dulu aku bekerja sebagai teknisi mesin untuk salah satu pemasok komponen proyek ARX-9."
Nama itu tidak asing bagi Arga. Ia pernah mendengar nama Surya dari beberapa laporan lama, tetapi tidak pernah bertemu langsung dengannya.
"Bagaimana Anda mendapatkan nomor telepon saya?"
"Nomormu masih tercatat dalam arsip pengiriman komponen lama. Aku membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukannya."
"Dan mengapa Anda menghubungi saya sekarang?"
Surya menatapnya dengan wajah serius.
"Karena aku baru mengetahui bahwa kamu kembali ke dunia otomotif. Aku juga mendengar bahwa Adrian Voss mulai mengawasimu."
Arga mengamati pria itu.
"Apakah Anda memiliki bukti tentang apa yang terjadi lima tahun lalu?"
"Aku memiliki sesuatu yang mungkin bisa membantu. Tetapi sebelum kamu melihatnya, kamu harus tahu bahwa aku tidak mengetahui seluruh kejadian. Aku hanya mengetahui bagian yang berkaitan dengan pekerjaanku."
Arga mengangguk pelan.
"Baik. Saya akan mendengarkan."
Surya membuka pintu lebih lebar.
Arga masuk ke dalam bengkel tua tersebut.
Bagian dalam bengkel jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.
Di sisi kanan terdapat sebuah meja kerja yang dipenuhi kunci pas, tang, dan beberapa alat ukur lama. Rak besi di dinding menyimpan komponen mesin yang sebagian sudah tidak digunakan. Di bagian belakang, sebuah mesin bubut kecil tertutup kain, sementara dua kendaraan tua terparkir di dekat pintu gudang.
Meski terlihat berantakan, Arga memperhatikan bahwa beberapa bagian ruangan masih terawat.
Surya mengajaknya menuju ruang kecil di belakang meja kerja.
Ruangan itu berisi lemari arsip, komputer lama, dan meja kayu dengan permukaan yang penuh goresan. Di atas meja terletak sebuah kotak plastik hitam.
Surya mengunci pintu sebelum duduk.
"Aku ingin menjelaskan sesuatu terlebih dahulu," katanya. "Lima tahun lalu, perusahaan tempatmu bekerja memesan beberapa komponen khusus dari pemasok kami. Komponen itu digunakan untuk pengujian prototipe ARX-9."
Arga duduk di kursi seberang.
"Saya mengingatnya."
"Pada malam sebelum insiden, ada permintaan penggantian satu komponen pengendali. Permintaan itu datang melalui jalur resmi perusahaan."
"Siapa yang mengajukannya?"
Surya membuka sebuah map tipis.
"Pada dokumen pengiriman yang masih kusimpan, nama pemohon tidak tercantum secara langsung. Permintaan itu dibuat menggunakan kode otorisasi internal."
Arga mengerutkan dahi.
"Kode siapa?"
"Itulah yang ingin kutunjukkan."
Surya mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning. Di bagian atas terdapat nomor pesanan, tanggal pengiriman, dan daftar komponen yang dikirim ke laboratorium.
Arga mengambil kertas itu dan memeriksanya dengan teliti.
Ia mengenali nomor proyek tersebut.
Namun, ada satu kode di bagian bawah yang membuatnya berhenti.
Kode otorisasi itu bukan kode yang biasa digunakan oleh tim mekanik.
Kode tersebut merupakan akses tingkat manajemen.
Arga menatap Surya.
"Komponen ini dikirim atas persetujuan seseorang yang memiliki akses manajemen."
Surya mengangguk.
"Benar."
"Apakah Anda tahu siapa pemilik akses tersebut?"
"Aku tidak tahu secara langsung. Aku hanya menerima pesanan yang sudah disetujui. Tetapi ada hal lain."
Surya membuka kotak plastik hitam dan mengeluarkan sebuah perangkat penyimpanan data lama.
"Ini salinan catatan pengiriman dan komunikasi yang berhasil kusimpan. Aku tidak berani menyimpannya di tempat biasa karena setelah insiden itu, beberapa dokumen pemasok diminta untuk dimusnahkan."
Arga menatap perangkat tersebut.
"Siapa yang meminta pemusnahan?"
"Perwakilan perusahaan."
"Adrian Voss?"
Surya tidak langsung menjawab.
"Aku tidak pernah bertemu langsung dengan Adrian. Namun, surat instruksi itu mencantumkan nama bagian manajemen yang berada di bawah pengawasannya."
Arga merasakan ketegangan dalam dadanya.
"Apakah data ini bisa menunjukkan siapa yang memberikan perintah?"
"Belum tentu. Sebagian catatan mungkin masih bisa dibaca, tetapi perangkatnya sudah tua. Aku belum berani membukanya karena tidak memiliki peralatan yang sesuai."
Arga menerima perangkat tersebut dan memeriksa bentuk luarnya.
Ia melihat label inventaris yang sudah memudar. Perangkat itu merupakan media penyimpanan lama yang biasa digunakan untuk memindahkan data pengujian antar komputer di laboratorium.
"Apakah Anda pernah mencoba membuat salinannya?"
"Pernah. Namun, komputer yang kugunakan tidak bisa membaca seluruh isinya."
Arga memutar perangkat itu perlahan.
"Kalau datanya masih utuh, kita mungkin bisa memulihkannya. Tapi saya tidak bisa menjamin semuanya dapat dibaca."
Surya tampak sedikit lega.
"Itulah sebabnya aku menghubungimu."
Arga meletakkan perangkat di atas meja.
"Saya perlu memeriksa isinya dengan hati-hati. Namun, saya tidak akan mengambil keputusan hanya berdasarkan satu dokumen."
Surya mengangguk.
"Aku memahami itu."
"Apakah ada orang lain yang mengetahui bahwa Anda menyimpan arsip ini?"
Surya terdiam cukup lama.
"Ada satu orang yang pernah bertanya tentang dokumen pengiriman lama. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar mengetahui keberadaan salinan ini."
"Siapa orang itu?"
Surya memandang Arga dengan ragu.
"Marcus Hale."
Arga langsung teringat pada pria yang menjadi juri dalam kompetisi nasional.
"Marcus pernah datang ke sini?"
"Beberapa tahun lalu. Dia bertanya apakah aku masih menyimpan catatan pengiriman komponen ARX-9. Aku menjawab bahwa sebagian besar arsip sudah dimusnahkan sesuai instruksi perusahaan."
"Apakah dia percaya?"
"Aku tidak tahu. Dia tidak memaksaku menunjukkan apa pun. Namun, setelah kunjungannya, aku merasa sebaiknya tidak menyimpan semua dokumen di satu tempat."
Arga memandang kotak plastik di atas meja.
"Jadi, Anda memindahkan arsipnya ke sini?"
"Sebagian. Sisanya mungkin masih berada di tempat lain."
Arga menarik napas panjang.
Petunjuk yang ia dapatkan masih belum cukup untuk menjelaskan seluruh kejadian. Namun, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia memiliki sesuatu yang tidak berasal dari laporan perusahaan.
Sebuah catatan pengiriman asli.
Sebuah kode otorisasi.
Dan seorang saksi yang bersedia berbicara.
Arga meminta izin untuk memeriksa perangkat penyimpanan tersebut menggunakan peralatan yang tersedia. Surya memberinya sebuah komputer lama yang masih berfungsi, tetapi Arga memilih untuk tidak langsung menghubungkannya ke komputer itu.
Ia terlebih dahulu memeriksa kondisi fisik perangkat dan mencari tahu jenis antarmuka yang digunakan.
"Kamu masih sangat teliti," kata Surya sambil memperhatikan pekerjaannya.
"Kalau kita terburu-buru, data yang tersisa justru bisa rusak."
Arga memeriksa label, konektor, dan nomor inventaris. Setelah memastikan perangkat tidak menunjukkan kerusakan fisik yang jelas, ia menjelaskan bahwa pemulihan data sebaiknya dilakukan dengan peralatan yang dapat membaca media lama tanpa mengubah isi aslinya.
Surya mengangguk.
"Berapa lama yang kamu butuhkan?"
"Aku belum tahu. Saya harus memastikan kondisi perangkat dan membuat salinan data terlebih dahulu. Kalau ada bagian yang rusak, prosesnya bisa lebih lama."
Surya melihat jam dinding.
"Kamu harus mengikuti kompetisi hari ini, bukan?"
"Ya. Babak ketiga dimulai pagi ini."
"Kalau begitu, jangan sampai urusan ini merusak kesempatanmu."
Arga menatapnya.
"Anda tidak khawatir jika saya kembali ke kompetisi dan nama saya semakin dikenal?"
Surya tersenyum tipis, tetapi matanya tetap serius.
"Aku sudah terlalu lama melihat orang-orang berbakat kehilangan kesempatan karena kesalahan orang lain. Kalau kamu ingin kembali, kembalilah karena kamu memang menginginkannya. Jangan biarkan orang yang pernah menjatuhkanmu menentukan seluruh hidupmu."
Kalimat itu membuat Arga terdiam.
Ia teringat Pak Darto, pemilik Agung Joyo Motor, yang juga pernah mengatakan bahwa masa lalu tidak seharusnya mencuri masa depannya.
Dua orang berbeda telah menyampaikan pesan yang hampir sama.
Mungkin sudah waktunya ia berhenti melihat dirinya sebagai korban dari kejadian lima tahun lalu.
Namun, itu bukan berarti ia akan melupakan semuanya.
"Aku akan kembali ke kompetisi," kata Arga akhirnya. "Tetapi saya ingin membawa salinan arsip ini ke tempat yang lebih aman setelah kita memastikan kondisinya."
Surya mengangguk.
"Itu keputusan yang bijaksana."
Arga mengeluarkan telepon dan memotret dokumen pengiriman dengan izin Surya. Ia juga mencatat nomor pesanan serta kode otorisasi yang tertera di bagian bawah.
Ketika sedang menyelesaikan catatannya, sebuah suara keras terdengar dari luar bengkel.
Seseorang mengetuk pintu depan.
Tiga kali.
Surya langsung menegakkan tubuh.
Ia memandang Arga, lalu memberi isyarat agar tetap diam.
Ketukan terdengar kembali.
"Pak Surya! Saya tahu Anda ada di dalam!"
Suara seorang pria.
Surya berdiri perlahan dan berjalan menuju pintu ruang kecil. Ia mengintip melalui celah sempit, lalu wajahnya berubah tegang.
"Siapa?" bisik Arga.
Surya tidak langsung menjawab.
Beberapa detik kemudian, ia kembali ke meja.
"Orang yang pernah datang menanyakan arsip lama."
"Marcus Hale?"
Surya menggeleng.
"Bukan. Aku belum pernah melihat orang ini sebelumnya."
Ketukan kembali terdengar, kali ini lebih keras.
"Kami hanya ingin berbicara sebentar, Pak Surya. Tolong buka pintunya."
Arga memandang perangkat penyimpanan di atas meja.
Ia mulai memahami bahwa keberadaan arsip tersebut mungkin jauh lebih penting daripada yang mereka duga.
Surya mengambil kotak plastik hitam dan menyimpannya ke dalam lemari besi kecil di sudut ruangan. Ia mengunci lemari itu, lalu memasukkan kuncinya ke saku.
"Arga, kamu harus pergi melalui pintu belakang."
"Bagaimana dengan Anda?"
"Aku akan menghadapinya. Bengkel ini milikku. Aku berhak mengetahui siapa yang datang."
Arga menggeleng.
"Saya tidak ingin meninggalkan Anda menghadapi masalah ini sendirian."
Surya menatapnya dengan tegas.
"Kamu memiliki kompetisi yang harus diselesaikan. Jangan membuat pengorbananku sia-sia."
Arga terdiam sejenak, lalu mengangguk.
Ia memasukkan telepon dan catatannya ke dalam tas. Sebelum pergi, ia memastikan bahwa Surya mengetahui cara menghubunginya jika terjadi sesuatu.
Kemudian, Arga berjalan menuju pintu belakang.
Namun, sebelum ia sempat membukanya, suara langkah kaki terdengar dari sisi lain bangunan.
Seseorang sudah berada di dekat pintu belakang.
Arga berhenti.
Surya memandangnya dengan wajah pucat.
Mereka kini tidak memiliki banyak pilihan.
Di luar bengkel, seorang pria bertubuh tinggi berdiri di dekat pintu depan. Ia mengenakan jaket hitam dan celana panjang gelap. Di belakangnya terdapat seorang pria lain yang terus memeriksa jalan.
Pria pertama mengetuk pintu sekali lagi.
"Pak Surya, saya tidak ingin membuat masalah. Kami hanya ingin mengambil kembali barang milik perusahaan."
Dari dalam, Surya menjawab dengan suara keras.
"Perusahaan tidak memiliki barang apa pun di sini."
"Kalau begitu, Anda tidak akan keberatan jika kami memeriksa ruangan."
"Tidak. Kalian tidak memiliki izin untuk masuk."
Pria itu terdiam sesaat.
Kemudian, ia mengeluarkan telepon dan melakukan panggilan.
"Dia tidak mau membuka pintu."
Suara dari seberang terdengar samar.
Pria itu mengangguk.
"Baik. Kami akan menunggu."
Ia menutup telepon dan berdiri di dekat pintu.
Di dalam ruangan, Arga mendengar sebagian percakapan itu.
Ia tidak tahu siapa yang memberikan perintah kepada kedua pria tersebut. Namun, ia yakin kedatangan mereka bukan kebetulan.
Seseorang mengetahui bahwa Surya masih menyimpan arsip proyek ARX-9.
Dan orang itu tidak ingin arsip tersebut jatuh ke tangan Arga.
Arga menoleh kepada Surya.
"Ada jalan keluar lain?"
Surya berpikir sejenak, lalu menunjuk sebuah pintu kecil yang mengarah ke gudang samping. Pintu itu menghubungkan bengkel dengan lorong sempit di antara dua bangunan.
"Jalan itu menuju ke gang belakang. Biasanya tidak digunakan karena penuh barang bekas."
Arga mengangguk.
"Kalau begitu, kita keluar bersama."
Surya sempat hendak menolak, tetapi Arga sudah membuka pintu tersebut.
Mereka bergerak hati-hati melewati gudang, menghindari tumpukan komponen dan rak besi yang berdebu. Setelah beberapa menit, mereka berhasil mencapai lorong belakang.
Gang itu kosong.
Arga mempersilakan Surya berjalan lebih dahulu, kemudian mengikutinya sampai ke jalan yang lebih ramai.
"Ke mana Anda akan pergi?" tanya Arga.
"Aku akan menghubungi seseorang yang bisa membantuku mengamankan dokumen."
"Pastikan Anda tidak kembali sendirian ke bengkel sebelum keadaan jelas."
Surya mengangguk.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku harus kembali ke kompetisi."
Surya memegang bahu Arga sebentar.
"Berhati-hatilah. Orang-orang yang mengincar arsip itu mungkin tidak akan berhenti hanya karena kamu pergi."
Arga mengangguk, lalu berpisah dengan Surya di persimpangan jalan.
Dalam perjalanan menuju lokasi kompetisi, ia memeriksa teleponnya. Tidak ada pesan baru dari nomor misterius yang pertama kali menghubunginya.
Namun, ia menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Pesan itu hanya berisi satu kalimat.
"Sekarang kamu sudah tahu bahwa ARX-9 bukan sekadar kegagalan teknis. Berhentilah sebelum terlambat."
Arga membaca pesan itu tanpa mengubah ekspresi.
Kemudian, ia menyimpan tangkapan layarnya.
Ancaman itu tidak membuatnya ingin menyerah. Sebaliknya, pesan tersebut memperkuat keyakinannya bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan.
Namun, ia tidak akan bertindak gegabah.
Ia akan menyelesaikan kompetisi, menjaga keselamatan dirinya, dan mengumpulkan bukti yang dapat diverifikasi.
Kebenaran tidak akan menjadi lebih kuat hanya karena ia berani mengambil risiko yang tidak perlu.
Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, Arga tiba kembali di Jakarta International Convention Center.
Aula sudah dipenuhi peserta. Panitia sedang menyiapkan babak ketiga, sementara beberapa juri memeriksa daftar kendaraan yang akan digunakan.
Arga memasuki aula dan langsung melihat Dimas berdiri di dekat meja peserta.
"Kamu dari mana saja?" tanya Dimas. "Aku menghubungimu sejak tadi, tetapi tidak mendapat jawaban."
"Ada urusan yang harus kuselesaikan."
Dimas memperhatikan wajah Arga.
"Kamu terlihat seperti baru saja menghadapi masalah besar."
Arga tersenyum kecil.
"Mungkin memang begitu."
Dimas tidak bertanya lebih jauh.
"Kalau begitu, fokuslah dulu pada kompetisi. Babak ketiga katanya akan lebih sulit daripada dua babak sebelumnya."
Arga mengangguk.
Ia berjalan menuju tempat duduknya dan memeriksa perlengkapan yang dibawa. Meskipun pikirannya masih dipenuhi kejadian di bengkel tua, ia berusaha mengembalikan konsentrasinya pada kompetisi.
Beberapa menit kemudian, pembawa acara naik ke panggung.
"Para peserta, selamat datang kembali. Hari ini kita akan memasuki babak ketiga, yaitu simulasi diagnosis dan penanganan gangguan mesin dalam kondisi terbatas."
Layar besar menampilkan sebuah kendaraan balap dengan sistem mesin yang telah dimodifikasi.
"Pada babak ini, setiap peserta akan menghadapi serangkaian gejala yang saling berkaitan. Kalian harus menentukan prioritas pemeriksaan, menjelaskan dasar diagnosis, serta menyusun rencana perbaikan yang aman dan efektif."
Fajar mengambil mikrofon.
"Perlu kami tegaskan bahwa peserta tidak diperbolehkan melakukan tindakan di luar prosedur keselamatan. Penilaian tidak hanya didasarkan pada hasil akhir, tetapi juga pada proses kerja."
Arga memperhatikan layar dengan saksama.
Inilah jenis pengujian yang paling ia sukai.
Bukan karena ia yakin akan menang, melainkan karena ia bisa menunjukkan bahwa pemahaman sistem jauh lebih penting daripada sekadar mengganti komponen.
Ketika pembagian unit dimulai, Arga mendapatkan kendaraan balap dengan nomor tiga belas.
Ia mendekati kendaraan tersebut, membaca lembar instruksi, lalu memeriksa data awal.
Ada tiga gejala yang tercatat.
Putaran mesin tidak stabil pada kondisi tertentu.
Respons tenaga mengalami keterlambatan.
Dan satu peringatan sistem muncul secara berkala.
Arga tidak langsung menyentuh alat diagnostik.
Ia membaca ulang data, lalu mengamati kendaraan dari luar.
"Menarik," gumamnya.
Di seberang aula, Adrian Voss memperhatikan Arga dari meja juri.
Marcus berdiri di sampingnya.
"Apakah kita perlu mengubah sesuatu pada penilaian?" tanya Marcus pelan.
Adrian menatapnya tajam.
"Tidak. Kita tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuat kompetisi terlihat tidak adil."
"Lalu bagaimana jika dia menang lagi?"
Adrian kembali memandang Arga.
"Kalau dia menang karena kemampuannya, kita harus menerima hasilnya. Tetapi itu tidak berarti kita harus membiarkannya menggali masa lalu."
Marcus mengangguk, meskipun jelas masih gelisah.
Sementara itu, Arga mulai melakukan pemeriksaan awal.
Ia memastikan kondisi kendaraan aman untuk diuji, memeriksa sambungan yang terlihat, dan membandingkan gejala dengan data yang disediakan panitia.
Setelah beberapa menit, ia menemukan pola yang mengingatkannya pada sistem yang dahulu dikembangkan dalam proyek ARX-9.
Bukan karena kendaraan itu menggunakan teknologi yang sama, melainkan karena pola gangguannya memiliki karakteristik yang pernah ia pelajari bertahun-tahun lalu.
Arga terdiam.
Apakah ini hanya kebetulan?
Ia tidak ingin membuat kesimpulan berdasarkan ingatan semata. Karena itu, ia kembali memeriksa data dan melakukan pengukuran tambahan sesuai instruksi.
Hasilnya mulai membentuk pola yang lebih jelas.
Arga menuliskan diagnosis sementara, kemudian menambahkan alasan teknis yang mendukung kesimpulannya.
Ketika seorang juri mendekati mejanya, Arga menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan.
Juri itu mendengarkan dengan saksama.
"Anda menghubungkan ketiga gejala tersebut sebagai satu rangkaian masalah?"
"Ya. Saya belum menyimpulkan bahwa semuanya berasal dari satu komponen, tetapi data menunjukkan adanya hubungan yang perlu diperiksa sebelum kita mengganti bagian apa pun."
"Bagaimana jika waktu Anda tidak cukup untuk melakukan seluruh pemeriksaan?"
"Saya akan memprioritaskan pemeriksaan yang paling relevan dengan keselamatan dan gejala utama, lalu menjelaskan bagian mana yang masih membutuhkan konfirmasi."
Juri itu mengangguk.
"Jawaban yang baik. Silakan lanjutkan."
Arga kembali bekerja.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di kompetisi, ia benar-benar melupakan pesan misterius dan ancaman yang diterimanya.
Ia kembali menjadi dirinya yang dahulu.
Seorang mekanik yang tidak mencari pujian, tidak bergantung pada nama besar, dan tidak akan berhenti sebelum memahami masalah yang ada di hadapannya.
Namun, saat ia menunduk untuk mencatat hasil pengukuran terakhir, telepon di dalam tasnya bergetar.
Sebuah pesan baru masuk.
Pengirimnya adalah nomor yang sama dengan pesan tentang bengkel tua.
"Periksa kode otorisasi pada dokumen Surya. Bandingkan dengan arsip proyek yang kamu miliki. Kamu akan menemukan nama orang yang sebenarnya membuka akses malam itu."
Arga membeku sesaat.
Ia belum pernah menceritakan secara terperinci isi dokumen Surya kepada pengirim pesan tersebut.
Bagaimana orang itu mengetahui apa yang baru saja ia temukan?
Arga mengangkat kepala dan mengamati aula.
Puluhan orang bergerak di antara meja peserta. Para juri sibuk menilai pekerjaan. Kamera dokumentasi diarahkan ke beberapa kendaraan.
Tidak ada seorang pun yang tampak mencurigakan.
Arga kembali menatap teleponnya, lalu mengunci layar.
Ia tidak akan membalas pesan itu sekarang.
Pertama-tama, ia harus memastikan bahwa dokumen Surya benar-benar autentik. Setelah itu, ia perlu menemukan arsip lama miliknya sendiri untuk membandingkan kode otorisasi yang tercatat.
Jika informasi itu benar, mungkin ia akhirnya akan mengetahui siapa yang memberikan akses terakhir pada malam ketika proyek ARX-9 mengalami kegagalan.
Dan jika informasi itu salah, ia tidak akan membiarkan dirinya dipermainkan oleh seseorang yang bersembunyi di balik nomor telepon tak dikenal.
Arga menarik napas panjang, kemudian kembali memusatkan perhatian pada kendaraan di hadapannya.
Babak ketiga belum selesai.
Namun, jauh di balik kompetisi yang disaksikan ratusan orang, sebuah rahasia lama mulai bergerak menuju permukaan.
Rahasia yang bisa mengembalikan nama baik Arga Pratama.
Atau menghancurkan kehidupan orang-orang yang selama lima tahun berusaha menyembunyikannya.
Bersambung.