Ketika mahkota kekaisaran ternoda oleh keserakahan dan tirani seorang saudara kandung, seorang putri yang terbuang harus bangkit dari abu pembantaian.
Diasingkan sejak lahir di Desa Bunga Lotus, Zhao Lianhua tidak pernah tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah kekaisaran. Namun saat pedang istana membakar rumah dan menghancurkan kedamaiannya, ia terpaksa mengambil pedang demi keadilan rakyat jelata!
Bisakah seorang putri terbuang menumbangkan kerajaan yang dipimpin oleh saudara kandungnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Amukan Kaisar Tirani
Matahari baru saja naik sepenggal di atas Kota Naga Emas, namun suasana di dalam Aula Balai Agung Istana Terlarang terasa jauh lebih gelap daripada malam terpekat. Udara dingin berbau dupa cendana dan anyir darah berpadu dalam keheningan yang mencekam.
Di atas Takhta Naga Emas, Kaisar Longwei duduk dengan postur kaku yang memancarkan aura membunuh luar biasa. Usianya kini menginjak tiga puluh enam tahun.
Garis-garis ketegasan di wajahnya makin menajam, sementara matanya yang tajam bagaikan bilah belati menyapu gulungan laporan intelijen yang baru saja dilemparkan ke lantai marmer.
Di hadapannya, Panglima Utama Pengawal Istana berlutut gemetar dengan dahi menempel di lantai dingin, dan tak berani mengangkat wajah sedikit pun.
"Ulangi apa yang baru saja kaulaporkan," suara Longwei terdengar rendah, tenang, namun mengandung tekanan es yang sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Panglima Pengawal menelan ludah dengan susah payah, suaranya bergetar hebat. "K... Kaisar Yang Mulia... Benteng perbatasan di Kota Cadas Hitam... telah jatuh tanpa pertumpahan darah. Jenderal Feng Lang ditahan, dan seluruh prajurit zirah besi dikalahkan dalam satu malam oleh kelompok perlawanan baru yang menyebut diri mereka... Pasukan Aliansi Bunga Lotus."
Brak!
Sandaran tangan Takhta Naga yang terukir dari giok murni hancur berkeping-keping dihantam oleh cengkeraman tangan Longwei.
"Bunga Lotus?!" bentak Longwei, suaranya menggelegar mengguncang pilar-pilar aula hingga debu berjatuhan dari langit-langit. "Kelompok rendahan itu lagi?! Selama bertahun-tahun aku membiarkan tikus-tikus comberan itu bersembunyi di balik pegunungan, dan sekarang mereka berani merebut benteng strategisku dan mempermalukan pasukan kekaisaran?!"
Bagi Longwei, nama "Bunga Lotus" bukan sekadar gangguan politik. Di dalam relung ingatannya yang paling gelap, bunga itu selalu diasosiasikan dengan bayangan masa lalu, dan desas-desus tentang bayi perempuan yang hilang di malam pembantaian tujuh belas tahun lalu.
Meskipun para mata-mata dan pasukan pembunuh bayangannya selama ini melaporkan bahwa anak itu tidak pernah ditemukan, penyebutan nama lotus selalu memicu paranoia mendalam di dalam jiwanya yang haus kekuasaan.
Longwei berdiri perlahan, jubah hitam bersulam naga bermata tiga berkibar megah di belakangnya. Ia kemudian mencabut pedang pendek kekaisaran dari pinggang pengawalnya.
"Dengar titahku," ucap Longwei dengan nada penuh kebiadaban. "Kerahkan seluruh Divisi Serigala Hitam dan sepuluh ribu prajurit garis depan! Sisir setiap jengkal tanah di Provinsi Barat! Bakar setiap desa yang pernah dilewati kelompok babi hutan itu! Ratakan rumah-rumah mereka, dan jika ada penduduk desa yang berani berbisik membela mereka... penggal kepala mereka di tempat dan gantung mayatnya di sepanjang jalan raya sebagai peringatan!"
Panglima Pengawal bergidik ngeri mendengar kekejaman titah tersebut. "Tapi... Yang Mulia, rakyat di wilayah barat sebagian besar adalah petani tak bersalah. Jika kita membantai mereka semua, produksi pangan provinsi akan runtuh—"
Cras!
Tanpa pandang bulu, Longwei mengayunkan pedangnya. Kepala panglima itu terpelanting ke lantai, darah segar pun memuncrat membasahi karpet merah istana.
"Aku tidak butuh petani yang tidak bisa membayar pajak atau melindungi wilayahnya dari pemberontak!" maki Longwei di hadapan mayat yang mengejang. "Kirim pasukan sekarang juga! Bawa pemimpin Bunga Lotus itu ke hadapanku... hidup atau mati!"
**
Dua hari kemudian, badai kehancuran yang diperintahkan oleh Kaisar Longwei mulai menerjang wilayah perbatasan Provinsi Barat.
Pasukan Serigala Hitam yang dipimpin oleh komandan-komandan keji bergerak bagaikan malapetaka. Mereka tidak lagi menyelidiki atau mencari informasi seperti sebelumnya. Mereka datang membawa obor, tombak beracun, dan kekejaman tanpa batas.
Desa demi desa yang berada di jalur lintasan menuju Lembah Bunga Lotus dibakar rata dengan tanah. Jeritan anak-anak, ratapan para ibu, dan tangisan orang tua membelah langit sore yang berubah kelam oleh kepulan asap hitam.
Prajurit istana merampas seluruh ternak, membakar lumbung-lumbung gandum yang baru saja dibagikan oleh Aliansi Bunga Lotus, dan membantai siapa saja yang mencoba menghalangi jalan mereka.
Kabar buruk itu akhirnya tiba di markas rahasia Aliansi Bunga Lotus di Lembah Bunga Lotus menjelang tengah malam.
Di dalam aula pertemuan utama, suasana mendadak tegang ketika seorang pengintai muda dari faksi Pasukan Merah berlari masuk dengan tubuh penuh luka sayat dan pakaian terkoyak.
"Panglima Lu! Putri Lianhua!" teriak pengintai itu dengan napas tersengal-sengal dan air mata bercucuran. "Pasukan Serigala Hitam... mereka mengamuk! Desa Mawar Merah dan Desa Sumber Air telah dibantai habis! Longwei mengeluarkan perintah pembumihangusan seluruh wilayah barat!"
Panglima Lu bangkit berdiri dari kursinya dengan tangan mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. "Keparat keji itu! Membantai rakyat yang tidak tahu apa-apa hanya demi melampiaskan kemarahan karena kalah di Cadas Hitam?!"
BAM!
Paman Han menghantamkan tinjunya ke dinding kayu. "Kita harus turun tangan sekarang! Jika kita tinggal diam di lembah ini, seluruh desa di sekitar kita akan musnah!"
Di ujung meja bundar, Zhao Lianhua berdiri dari duduknya. Wajahnya yang jelita tampak sangat tenang, namun di balik ketenangan itu, sepasang matanya yang jernih memancarkan badai kemarahan yang tertahan dengan sangat dingin.
Ia melangkah mendekati peta besar kekaisaran. Jarinya yang lentur menunjuk titik-titik desa yang baru saja dihancurkan oleh pasukan istana.
"Ini bukan lagi sekadar operasi militer untuk memadamkan pemberontakan," ucap Lianhua dengan suara yang merdu namun berbobot, hingga membuat seluruh isi ruangan terdiam mendengarkan. "Ini adalah bentuk keputusasaan dari seorang penguasa tiran yang mulai kehilangan kendali. Longwei ingin meneror rakyat agar mereka takut mendukung kita."
Tuan Zhao melangkah mendekati Lianhua, lalu meletakkan tangannya di atas bahu sang putri. Tatapan matanya penuh dengan kekhawatiran seorang ayah. "Lianhua, pasukan musuh yang dikirim kali ini berjumlah puluhan ribu di bawah komandan utama mereka. Jika kita mengerahkan seluruh pasukan aliansi secara gegabah untuk melayani pertempuran terbuka di desa-desa terbuka, kita akan masuk ke dalam jebakan mereka."
Lianhua menoleh menatap Tuan Zhao, dan menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Kita tidak akan melayani pertempuran terbuka di desa, Ayah," tegas Lianhua. "Kita akan menyambut amukan sang naga dengan strategi yang membalikkan keadaan."
Malam itu, setelah rapat penyusunan strategi pertahanan darurat selesai dan para pemimpin faksi membubarkan diri untuk mempersiapkan pasukan, Lianhua berdiri sendirian di tepi telaga lotus.
Air telaga yang jernih memantulkan cahaya rembulan purnama dan gugusan bintang di langit malam.
Pikiran Lianhua sedang bergejolak. Selama bertahun-tahun dibesarkan di Lembah Bunga Lotus, ia diajari tentang keadilan, tentang bagaimana melindungi rakyat jelata, dan tentang betapa kejamnya penguasa di Kota Naga Emas yang merenggut nyawa ibunya, Selir Meizhen serta menindas jutaan rakyat.
Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Lianhua sama sekali tidak mengetahui satu kebenaran besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Tuan Zhao dan para tetua desa: bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah darah kekaisaran yang sama dengan pria yang kini duduk di atas takhta sebagai musuh terbesar rakyat, Kaisar Longwei.
Bagi Lianhua, Longwei hanyalah seorang tiran tak berhati yang harus ditumbangkan demi kedamaian dunia.
Tap tap tap!
Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari belakang.
"Angin malam di telaga ini sangat dingin, Lianhua," suara Tuan Zhao terdengar lembut. Mantan panglima itu berjalan mendekat, mengenakan jubah hangat yang kemudian disarungkannya ke pundak Lianhua.
Lianhua tersenyum tipis, dan merapatkan jubahnya. "Lianhua tidak merasa dingin, Ayah. Hati Lianhua justru terasa terbakar setiap kali mendengar kabar tentang anak-anak dan orang tua yang dibantai tanpa dosa oleh pasukan istana."
Tuan Zhao menghela napas panjang, lalu menatap permukaan air telaga yang tenang. "Dunia di luar sana memang kejam, Nak. Kekuasaan sering kali membuat seseorang lupa akan asal-usul darah dagingnya sendiri."
Lianhua mendongak, dan menatap wajah Tuan Zhao yang kini dipenuhi kerutan usia dan guratan luka perang. "Ayah... terkadang Lianhua berpikir, apa sebenarnya yang membuat Kaisar Longwei begitu kejam? Apakah sejak lahir manusia diciptakan dengan hati yang dingin seperti batu, ataukah kekaisaran itulah yang merusak jiwa seseorang?"
Pertanyaan polos namun penuh filosofi itu membuat dada Tuan Zhao bergemuruh hebat. Hatinya mencelos. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya bahwa Longwei adalah saudara kandungnya sendiri, kakak tirinya yang lahir dari permaisuri yang sama-sama haus kekuasaan, tetapi ia tidak ingin membebani jiwa suci sang putri dengan beban kutukan darah kekaisaran tersebut.
Tuan Zhao lantas merangkul pundak Lianhua dengan penuh kehangatan seorang ayah.
"Manusia tidak dilahirkan dengan kebencian, Lianhua," jawab Tuan Zhao lembut, seraya menatap tepat ke dalam mata jernih sang putri. "Tetapi ketika seseorang memilih untuk menumpuk kekuasaan di atas penderitaan orang lain, ia telah menjual jiwanya kepada kegelapan. Dan tugas kita... tugasmulah, sebagai seseorang yang dipilih oleh rakyat untuk membawa cahaya... adalah membersihkan kegelapan itu, tanpa memandang siapa pun yang berdiri di hadapanmu."
Lianhua merasakan kehangatan yang luar biasa dari pelukan ayahnya. Keteguhan di dalam hatinya makin mengakar kuat, dan ia pun mengangguk mantap.
"Lianhua mengerti, Ayah," bisik Lianhua penuh keyakinan. "Apapun harganya, Aliansi Bunga Lotus akan menghentikan amukan Longwei. Kita akan melindungi setiap jengkal tanah rakyat ini."
Keesokan paginya, fajar menyingsing diiringi derap ribuan kuda Pasukan Serigala Hitam yang mendekati perbatasan Lembah Bunga Lotus.
Dipimpin oleh jenderal lapangan kepercayaan Longwei yang bernama Komandan Huyan, seorang veteran perang bertubuh raksasa dengan senjata gada berduri, pasukan istana membakar sisa-sisa desa terakhir di luar lembah.
"Dengar, para anjing pemburu!" teriak Komandan Huyan di atas kuda perangnya, seraya menunjuk ke arah celah masuk Lembah Bunga Lotus yang diselimuti kabut tebal. "Kaisar memerintahkan agar tidak ada satu pun orang yang hidup di lembah ini! Bunuh semua lelaki, tangkap gadis-gadisnya, dan ratakan tanah itu menjadi abu!"
Uoooohhh! teriak ribuan prajurit zirah hitam serempak, menyerbu masuk menerobos celah kabut dengan membabi buta.
Namun, yang tidak diketahui oleh Komandan Huyan dan pasukannya adalah bahwa mereka sedang berjalan lurus ke dalam perangkap maut yang dirancang dengan presisi sempurna oleh Zhao Lianhua.
Di atas tebing tinggi yang tersembunyi di balik kabut, Lianhua berdiri tenang memegang bendera isyarat, didampingi oleh Panglima Lu dan Paman Han.
Di sekeliling mereka, ratusan pemuda desa dan prajurit aliansi telah menyiapkan batu-batu raksasa, gulungan kayu berduri, dan bendungan air buatan di hulu sungai.
"Biarkan mereka masuk lebih dalam ke tengah lembah," bisik Lianhua dingin, matanya mengawasi barisan depan musuh yang mulai memasuki area cekungan rawa.
Ketika ribuan prajurit Serigala Hitam berjejal memenuhi jalur sempit di bawah tebing, Lianhua menurunkan bendera isyaratnya dengan gerakan tegas.
"Lepaskan!"
BOOOOOOM!
Suara ledakan bubuk mesiu buatan Paman Han mengguncang tebing utara. Ratusan ton batu besar longsor menutupi jalur masuk dan keluar lembah seketika, hingga mengurung pasukan istana di dalam cekungan!
Di saat yang sama, bendungan di hulu sungai dibuka lebar, dan melepaskan jutaan galon air bercampur lumpur tebal yang menyapu barisan depan pasukan musuh hingga kocar-kacir.
Komandan Huyan terperanjat di atas kudanya. "Jebakan! Kita disergap! Putar balik!"
"Terlambat, Komandan Huyan."
Sebuah suara merdu namun dingin berkumandang dari atas dahan pohon tinggi.
Komandan Huyan mendongak. Di sana, di bawah naungan sinar matahari pagi yang menembus kabut, berdiri Zhao Lianhua. Gadis bergaun biru tua berbalut jubah merah itu melayang turun dengan ringan bagaikan bidadari, pedang peraknya terhunus berkilat memantulkan cahaya.
"Kau..." seru Huyan terbelalak melihat seorang gadis remaja berdiri di hadapannya. "Kau pimpinan gerombolan Bunga Lotus?!"
Lianhua tidak menjawab. Ia melangkah maju, dan membiarkan energi dalam mengalir di sekujur bilah pedangnya.
"Atas nama rakyat yang telah kaubantai di desa-desa," suara Lianhua menggema tajam menusuk jiwa, "hari ini, amukan nagamu akan dihentikan di sini!"
Bersambung...