Alba lopez di nikahkan pada pria yang awalnya tak ia inginkan.
Awalnya ia enggan tapi tak ada gunanya untuk menentang orang tuannya, jadilan ia ikut dalam sandiwara pernikahan itu seakan-akan ia juga setuju dan menerima.
Namun setelah melihat sosok asli suaminya ia memiliki tekat untuk meluluhkan hati pria itu, pria yang tak memiliki secuil ketertatikan padannya.
Gencar ia menggoda pria itu hingga sampai pada ketika dengan mata kepalannya sendiri pria itu melakukan hal yang tak Alba duga.
Apakah Alba akan tetap pada pendiriannya untuk meluluhkan pria itu atau justru pergi setelah mengetahui rahasia yang pria itu miliki.
Bagaimana kelanjutannya, mari merapat untuk meramaikam cerita Locked Away.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon okolele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat perjanjian.
...⚠️ FICTIONAL CONTENT⚠️...
...Seluruh adegan, karakter, tempat, dialog, situasi, serta peristiwa dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis. Beberapa unsur sengaja dibuat, diubah, atau dikembangkan untuk kebutuhan alur cerita....
...Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan kejadian nyata, maupun menjadi acuan terhadap kehidupan atau perilaku di dunia nyata....
...Harap membaca dengan bijak....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maxim melemparkan dokumen bersikan perjanjian mereka. "Tanda tangani!." Gesaknya.
"Ini apa. " Ujar Paloma sembari mengambil dokumen itu dan mulai membacanya.
"Berlaku setelah anak ini lahir?. " Perjelas Paloma pada kata terakhir poin dari dokumen itu.
"Ya, kamu menyetujuinya bukan?. " Balas Maxim sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Jangan ikut campur masalah masing-masing."
"Kalau di luar harus seperti orang asing. "
"Jangan datang ke kantor saya. "
"Itu adalah poin terpanting yang jangan sampai kamu langgar. " Putus Maxim absolutely.
"Kenapa peraturannya banyak condong ke kamu?. " Protes Paloma dengan alis yang ia naikan.
"Itu sudah poinnya, kamu tinggal percepat tanda tangani saja. "Datar Maxim seakan tak sabaran.
" Tapi ini gak adil om. "Pungkas Paloma sembari jari telunjuknya menunjuk point yang menurutnya aneh dan lebih condong ke Maxim.
" Cepat Paloma!. Saya tidak memiliki waktu banyak kekasih saya menunggu. "
Duarr.
Bak di sambar petir dan di hujami ribuan jarum di uluh hati saat Maxim mengatakan seperti itu. Di rematnya bajunya menyembunyikan perasaannya yang sakit.
Sebisa mungkin ia halau buliran yang hampir luruh di pelupuk matannya. Dengan cekatan dan tanpa di suruh lagi Paloma menandatangani surat perjanjian itu.
Di sodorinya dokumen itu. "Sudah." Lirihnya tanpa melihat Maxim.
Maxim lantas mengambil dokumen itu lalu pergi dari sana meninggalkan Paloma seorang diri, hanyut dalam pusaran rasa sakit yang ia ciptakan sendiri. Demi bersama pria itu ia rela di sakiti sedemikian ini.
Buliran bening air menetes melewati pipi, dengan cepat ia usapi air matannya dan segera bangkit dari sana menuju kamarnya.
Para pelayan yang melihat itu ikut prihatin, teryata tuan mereka tidak mencintai nyonya baru mereka, hubungan mereka ada di karenakan tekanan tanggung jawab atas anak yang kini di kandung Paloma.
"Tuan jahat ya, nyonya secantik dan sebaik itu di abaikan. " Ujar pelayan yang bernama Moi.
"Iya, kasian nyonya.Nyonya banyak murungnya,suka ngurung diri di kamar lagi. " Timpal Timi.
Mereka adalah maid termuda yang ada di mansion itu, padahal baru kemarin mereka senang akhirnya rumah ini di huni perempuan baik dan ramah seperti Paloma dan mengira hubungannya dengan tuan mereka itu di landaskan cinta ternyatanya semua hanya perjanjian.
...****************...
Sudah dua minggu lamanya Paloma tinggal di mansion Maxim, dan hanya 2 kali dalam seminggu ia melihat Maxim pulang walaupun hanya sebentar dan tak mau Paloma ganggu gugat.
Itu membuat Paloma kembali sedih, wanita hamil itu terlihat sedikit kurusan, kantung matanya terlihat wajahnya tampak letih tanpa semangat.
"Nyonya." Sapa Moi hangat membawa makan malam Paloma. "Ini susu hamilnya nyah di minum, sama ini ada sup juga biar si adek bayinya kuat dan sehat. " Ujar Moi excited.
"Nyonya mau di suapin?. "Timpal Timi sembari mendekat pada Paloma. " Atau mau di pijitin nyah? . "
"Boleh deh, di pijitin. Kaki aku juga rasannya makin bengkak sama pegel. " Tuai Paloma menerima tawaran Timi.
"Taruh aja di meja Moi, nanti aku makan. " Ujarnya juga pada Moi yang masih setia memegangi nampan.
"Permisi ya nyah. " Kata Timi sembari menganjal kaki Paloma dengan bantal dan mulai memijit lembuat dari mata kaki ke lutut, Timi menghindari pergelangan kaki dalam karena itu bagian paling sensitif.
"Hebat banget Timi, enak lo pijitannya. " Puji Paloma.
"Makasih nyah. " Timi tersipu malu di buatnya nyonya nya ini memang pandai sekali memuji mereka para pelayan selalu di buat melting karenannya.
"Nyonya beneran gak mau saya suap. " Celetuk Moi tiba-tiba.
"Gak papa nanti bisa makan sendiri Moi. " Tutur Paloma.
Kalau saja ada Alba dan Roze mungkin kedua setan jadi-jadian itu akan menertawai Paloma karena tak biasannya wanita itu bertingkah seperti itu, kesannya jadi aneh seukuran cegil seperti dia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Terima kasih sudah membaca novel ini sampai akhir. Terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk mengikuti setiap cerita dan perjalanan para tokohnya. Saya tahu cerita ini masih jauh dari sempurna, tetapi semoga tetap meninggalkan kesan bagi kalian. Mohon maaf jika masih ada kekurangan selama cerita berlangsung. Semoga kita bisa bertemu lagi di cerita berikutnya. Sampai jumpa, dan sekali lagi, terima kasih sudah menjadi bagian dari perjalanan cerita ini....
...THANK YOU FOR READING 🌸...
...For u, a dahlia. 🌺...
...— Author...