Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jijik
Begitu Keira masuk, teman-temannya langsung menyambut dengan heboh.
“Selamat datang kembali, Keira!”
Beberapa dari mereka langsung memeluknya bergantian.
Keira hanya tertawa kecil. Namun, begitu pandangannya berkeliling ke seluruh kamar, senyumnya perlahan memudar.
Dinding kamar tampak lembap. Beberapa sudut bahkan dipenuhi bercak jamur. Udara di dalam juga terasa pengap.
Keira mengernyit.
“Gak ada rumah lain, ya?” tanyanya jujur.
Rina langsung menepuk bahunya.
“Keira... kita ini sedang KKN. Namanya juga tinggal di desa. Harus bisa hidup apa adanya.”
Keira menghela napas kecil lalu mengangguk.
“Iya juga sih...”
Karena merasa gerah, Keira akhirnya melepas kaus luar yang dikenakannya dan menyisakan tank top.
“Panas banget...” keluhnya sambil mengipas-ngipas tubuh.
Rina yang melihatnya langsung bertanya, “Memangnya kenapa kamu pindah dari rumah Pak Salim? Bukannya di sana lebih nyaman?”
Keira langsung mendengus.
“Nyaman dari mana? Ada Pak Arsen di sana. Aku malas terus-terusan melihat wajahnya.”
Rina terkekeh. “Kalau begitu, masuk akal juga.”
Keira hanya menghela napas. Beberapa saat kemudian, ia bangkit dari kasur.
“Aku haus. Mau ambil minum dulu.”
Ia kemudian keluar dari kamar.
Di luar, beberapa mahasiswa laki-laki sedang duduk santai. Ada yang bercanda, ada yang bermain gitar sambil menikmati waktu istirahat.
Begitu Keira muncul dari dalam kamar, beberapa kepala langsung menoleh. Keira baru menyadari bahwa dirinya hanya mengenakan tank top.
Ia langsung salah tingkah.
“Permisi...” ucapnya cepat sambil menundukkan kepala, berusaha melewati mereka tanpa banyak bicara.
Sebagian mahasiswa hanya tersenyum, sementara beberapa lainnya saling melirik.
Namun, ada satu orang yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan.
Kevin.
Lelaki itu sedang duduk sambil memegang gitar. Tatapannya terpaku pada Keira sampai ia bahkan lupa melanjutkan petikan gitarnya.
“Cantik banget...” gumamnya tanpa sadar.
Keira tidak menyadarinya. Ia buru-buru mengambil air minum, kemudian kembali masuk ke kamar.
Tak lama setelah itu, suara petikan gitar kembali terdengar dari luar.
Disusul suara Kevin yang mulai bernyanyi.
Suaranya terdengar merdu. Lagu yang ia bawakan bernuansa lembut dan romantis, seolah sedang menceritakan seseorang yang sedang jatuh cinta.
Awalnya, Keira tidak terlalu memperhatikannya.
Namun, beberapa saat kemudian...
“Keira...”
Namanya terdengar terselip di antara lirik lagu.
Sekali. Lalu terdengar lagi.
“Keira...”
Kali ini lebih jelas.
Suasana di dalam kamar langsung berubah.
“Gila!” Rina spontan menutup mulut sambil tertawa. “Cieee... ada yang naksir berat nih!”
Teman-teman yang lain ikut bersorak.
“Parah! Itu mah bukan kode lagi!”
“Namanya disebut terus!”
Keira yang duduk di atas kasur langsung mengambil bantal dan menutupi wajahnya.
“Apaan sih kalian... Jangan aneh-aneh!” protesnya, berusaha terdengar santai.
Namun, pipinya yang memerah justru membongkar rasa malunya.
Sementara itu, di luar kamar, suara Kevin semakin terdengar percaya diri.
Petikan gitarnya semakin mantap. Bahkan, nada suaranya sedikit dinaikkan, seolah sengaja memastikan seseorang di dalam kamar dapat mendengar nyanyiannya.
Dan tanpa Keira sadari, ada seseorang lain yang mungkin tidak akan senang melihat perhatian itu tertuju kepadanya.
Arsen.
“Fix, dia benar-benar jatuh cinta sama kamu,” bisik Rina sambil menyenggol bahu Keira.
Keira mendengus pelan. “Enggaklah...”
Ia berusaha bersikap biasa saja dan mengabaikan nyanyian Kevin. Namun, telinganya tetap menangkap setiap nada yang terdengar dari luar.
'Kalau Arsen dengar... jangan-jangan aku dimarahinya lagi,' gumam Keira dalam hati.
Tiba-tiba, suara petikan gitar berhenti. Suasana di luar yang sebelumnya santai mendadak berubah tegang.
Kevin yang masih memegang gitar langsung membeku ketika melihat Arsen berdiri di hadapan mereka.
“Pak Arsen...” sapanya gugup.
Arsen menatap mereka satu per satu dengan wajah dingin.
“Saya sudah bilang kalian istirahat,” ucapnya tegas. “Bukan malah bermain gitar dan bernyanyi seperti ini.”
Semua mahasiswa langsung terdiam.
“Ini tempat kalian melaksanakan KKN, bukan tempat untuk mencari cinta.”
Nada bicara Arsen terdengar tajam.
Kevin menundukkan kepala. “Maaf, Pak Arsen.”
Mahasiswa lainnya ikut diam. Tidak ada satu pun yang berani menyela. Arsen menarik napas pendek sebelum kembali berkata,
“Panggil Keira.”
Seketika beberapa mahasiswa saling melirik. Di dalam kamar perempuan, suasana yang tadinya tenang kembali ramai.
Tok... tok... tok...
Pintu diketuk.
“Keira, kamu dipanggil Pak Arsen.”
Rina langsung menahan tawa.
“Waduh...”
Ia menatap Keira dengan wajah jahil.
“Keira benar-benar gak akan pernah tenang, ya!”
Keira hanya menghela napas panjang.
'Sudah kuduga...' batinnya.
Ia kemudian berdiri, merapikan rambutnya sebentar, lalu berjalan menuju pintu. Begitu keluar, pandangannya langsung bertemu dengan Arsen yang berdiri tidak jauh dari sana.
Wajah lelaki itu terlihat serius. Jauh berbeda dari sikapnya sebelumnya. Keira berjalan mendekat dengan santai.
“Iya, Pak? Ada apa?” tanyanya sambil sengaja menggunakan nada formal.
Arsen hanya menatapnya dalam. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Kemudian, ia berkata singkat,
“Ikut.”
Keira langsung mengangkat alis. “Ke mana?”
“Ke rumah Pak Salim.”
Nada suara Arsen terdengar seperti perintah yang tidak bisa dibantah.
Mahasiswa lain yang berada di sekitar mereka langsung berpura-pura sibuk, meskipun jelas-jelas masih memperhatikan keduanya.
Keira mendengus kecil.
“Apalagi sekarang? Aku terus yang salah...” gumamnya kesal.
Meski begitu, ia tetap mengikuti langkah Arsen.
..
Sesampainya di rumah Pak Salim, Keira berhenti di depan kamar.
Ia sama sekali tidak berniat masuk.
“Masuk,” perintah Arsen tegas.
“Gak mau. Mau ngomong apa? Bilang saja di sini,” jawab Keira santai.
“Tidak bisa. Nanti Pak Salim dengar.”
Keira belum sempat membalas. Arsen langsung meraih tangannya dan membawanya masuk.
Pintu ditutup.
Klik.
Arsen menguncinya..Keira langsung menoleh dengan tatapan heran.
“Kenapa dikunci, sih?”
“Biar kamu gak kabur.”
Keira mendengus lalu berjalan ke kasur tipis dan duduk dengan malas.
“Sudah. Katakan cepat.”
Arsen berdiri di hadapannya. Tatapannya tajam dan sulit ditebak.
“Bangga?”
Keira mengerutkan kening. “Bangga apaan?”
“Dia nyanyi buat kamu. Kamu bangga?”
Keira justru mengangkat dagunya sedikit.
“Ya bangga lah. Kapan lagi aku dinyanyiin sama cowok tampan?”
Raut wajah Arsen seketika berubah.
“Keira, baru dinyanyiin seperti itu saja kamu sudah bangga. Dasar...”
Keira menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Terserah aku, dong.”
“Bangga banget, ya?” ulang Arsen. Kali ini suaranya terdengar lebih dalam.
“Iya. Kenapa?”
Hening.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Keira kemudian menyunggingkan senyum tipis.
“Bilang saja kalau kamu cemburu.”
Arsen langsung menjawab tanpa ragu.
“Sama sekali tidak.”
Nada suaranya terdengar tegas.
“Aku cuma tidak suka kalian bersikap seperti itu. Reputasi kampus bisa tercemar.”
Keira hanya mengangguk pelan. Namun, dari sorot matanya, ia jelas tidak sepenuhnya percaya dengan alasan Arsen.
“Oh...” jawab Keira singkat.
Ia terdiam sejenak sebelum menambahkan dengan nada menyindir,
“Kukira kamu cemburu.”
Setelah mengatakan itu, Keira memalingkan wajahnya.
Hening.
Arsen tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Keira yang sengaja membuang pandangan darinya.
Suasana kamar terasa semakin tegang. Beberapa detik kemudian, Arsen melangkah mendekat.
Keira belum sempat bereaksi ketika tangan Arsen menahan tengkuknya.
Dalam sekejap, Arsen mencium bibirnya.
Mata Keira langsung membesar karena terkejut.
Ia spontan berusaha menjauh dan mendorong Arsen, tetapi cengkeraman lelaki itu membuatnya panik.
Keira akhirnya menggigit bibir Arsen cukup keras.
“Ah!”
Arsen langsung melepaskannya. Tanpa berpikir panjang, Keira mengangkat tangannya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Arsen.
“Lancang!” bentak Keira dengan napas bergetar.
Wajahnya memerah. Bukan hanya karena amarah, tetapi juga karena masih diliputi rasa kaget dan tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi.
Arsen terdiam.
Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut.
Sementara Keira sama sekali tidak ingin menatapnya lagi. Ia segera membuka pintu dan keluar.
Brak!
Pintu tertutup cukup keras di belakangnya. Arsen tetap berdiri seorang diri di dalam kamar.
Sunyi.
Rahangnya mengeras.
Bukan semata-mata karena tamparan yang baru saja diterimanya, melainkan karena untuk pertama kalinya ia sadar bahwa dirinya telah kehilangan kendali atas tindakan sendiri.
Keira berjalan cepat meninggalkan rumah Pak Salim. Napasnya tidak beraturan. Tangannya bahkan masih gemetar.
Tanpa mampu menahannya, air mata mulai mengalir di pipinya.
Ia segera mengusap bibirnya dengan kasar.
“Jijik...” gumamnya lirih dengan suara bergetar.
Sesampainya di halaman rumah Pak Salim, Keira berhenti. Ia menundukkan wajah, kemudian meludah ke samping sebelum bergegas menuju keran air.
Dengan tergesa-gesa, ia berkumur berkali-kali.
Seolah-olah ingin menghilangkan kejadian yang baru saja dialaminya.
“Jijik...” bisiknya sekali lagi.
Matanya semakin memerah.
Perasaannya bercampur aduk—marah, terkejut, kecewa, dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
Keira tidak ingin berlama-lama di sana.
Ia segera meninggalkan rumah Pak Salim dan berjalan menuju tempat tinggal Rina.
Langkahnya semakin cepat, hampir seperti berlari.