NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Suara dentingan gelas kristal yang beradu dengan es batu memecah keheningan di dalam ruang kerja utama Wijaya Corporindo. Ruangan megah berlantai marmer hitam itu terletak di lantai paling atas sebuah pencakar langit di kawasan bisnis lainnya. Dari dinding kaca besarnya, gemerlap lampu kota Jakarta di bawah guyuran hujan deras tampak seperti hamparan permata. Namun, bagi pria yang berdiri menghadap jendela itu, pemandangan malam ini jauh lebih indah karena satu alasan, musuh bebuyutannya telah hancur.

Arman Wijaya, konglomerat saingan berat Dirgantara Group, menghirup dalam-dalam aroma wiski mahal di gelasnya. Pria paruh baya berambut klimis dengan setelan jas abu-abu custom-made itu menyunggingkan senyuman yang teramat puas. Bertahun-tahun ia hidup di bawah bayang-bayang kejeniusan Dikta Dirgantara. Berkali-kali tender raksasa perusahaannya didepak, dan berkali-kali pula egonya diinjak di setiap rapat. Namun malam ini, roda nasib telah berputar atas kendalinya.

"Minumlah, Bagas. Kau berhak menikmati kemenangan ini setelah kerja kerasmu yang sangat rapi," ujar Arman Wijaya tanpa berbalik, suaranya terdengar renyah namun dingin.

Bagas, yang duduk di sofa kulit mewah seberang meja kerja Arman, langsung menegakkan tubuhnya. Ia mengangkat gelas wiskinya dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa gembira yang meledak-ledak. Malam ini, ia tidak lagi mengenakan pakaian kusutnya. Sebuah setelan jas hitam baru—hadiah eksklusif dari Arman Wijaya—melekat di tubuhnya, mempertegas status barunya sebagai penguasa yang berhasil menumbangkan seorang raja.

"Terima kasih, Pak Arman," sahut Bagas seraya menyesap minuman keras itu hingga tak bersisa."Semua ini tidak akan berjalan lancar tanpa suntikan dana rahasia dan jaringan media yang Anda gerakkan dari belakang. Sandiwara di kamar bayi malam itu benar-benar menjadi panggung terbaik dalam hidupku."

Arman terkekeh rendah. Ia membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan menuju meja kerjanya yang berbahan kayu jati kuno berlapis emas. Ia meletakkan gelasnya, lalu mengambil selembar dokumen tebal bersampul kulit merah dari dalam laci.

"Dunia ini sangat lucu, Bagas," kata Arman sembari melemparkan dokumen itu ke atas meja, tepat di hadapan Bagas. "Dikta terlalu mengandalkan logikanya yang kaku dan prinsip bisnisnya yang bersih. Dia mengira dia tidak tersentuh hanya karena memegang saham pengendali. Dia lupa bahwa di negara ini, opini publik yang digerakkan oleh berita penyekapan istri orang jauh lebih mematikan daripada laporan audit keuangan."

Bagas menatap dokumen di depannya dengan serakah. "Apakah ini...?"

"Ya. Surat Keputusan resmi pengangkatan mu sebagai Direktur Utama di anak perusahaan utamaku," ucap Arman sambil melipat kedua tangannya di dada. "Mulai senin besok, namamu akan tertulis di papan utama gedung ini. Kau resmi memimpin Mega proyek reklamasi dan pembangunan superblok. Proyek bernilai puluhan triliun yang dulunya hampir jatuh ke tangan Dirgantara Group."

Bagas langsung menyambar dokumen itu, membacanya dengan napas yang memburu. Lembar demi lembar kompensasi, fasilitas mobil mewah, hingga persentase bagi hasil proyek terpampang jelas di depan matanya. "Luar biasa... terima kasih, Pak Arman! Dengan jabatan ini, seluruh sisa utang judi kasinoku di Macau yang mencapai miliaran rupiah bisa dilunasi dalam sekejap!"

"Utang judimu sudah aku bersihkan sore ini, Bagas. Anggap saja itu bonus awal atas keberhasilanmu membuat Dikta membusuk dalam tahanan," sela Arman dengan nada meremehkan yang sengaja disembunyikan. "Tapi ingat satu hal. Jabatan ini bukan sekadar hadiah gratis. Aku menempatkanmu di sana karena kau memegang kunci utama, Arini."

Bagas menghentikan senyumannya, menatap Arman dengan kening berkerut. "Arini? Apa hubungannya dengan proyek itu, Pak?"

Arman berjalan mendekat, mencondongkan tubuhnya ke arah Bagas hingga aroma parfum mahalnya tercium pekat. "Dikta Dirgantara mungkin sudah miskin karena seluruh rekening pribadinya dibekukan oleh pengadilan, Sahamnya juga sudah menyentuh nilai nol karena kepanikan pasar. Tapi dia tidak bodoh. Sebelum ditangkap, dia sempat membuat surat wasiat dengan mengalihkan aset miliknya atas nama Arkan. Dan lebih mengejutkan lagi, ia menjadikan istrimu sebagai wali sah atas putranya. Bukan itu saja, kau harus menjamin bahwa Arini tidak akan kabur dari sana. Dia saksi yang bisa menguatkan kita di pengadilan."

Bagas tertegun sejenak, lalu menyeringai. "Ah, jadi itu alasan Anda meminta saya untuk menyekapnya? Anda ingin saya memeras informasi itu darinya?"

"Tepat. Gunakan statusmu sebagai suaminya. Siksa mentalnya, hancurkan harga dirinya, atau lakukan apa pun yang kau suka. Suruh dia mendatangi surat dokumen pengalihan tanah itu. Jika surat tanah itu sudah di tangan kita, Dirgantara Group tidak akan pernah bisa bangkit kembali dari kuburnya, meskipun Dikta berhasil keluar dari penjara."

Bagas mengepalkan tinjunya dengan penuh rasa percaya diri. "Anda tidak perlu cemas, Pak Arman. Arini sekarang hanyalah boneka tak berdaya di rumahku. Terlebih lagi, aku sudah memegang kartu as miliknya. Anak kandung Dikta, Arkan, sudah resmi dibuang ke panti asuhan yang paling kumuh berkat desakan pengacaraku kepada Dinas Sosial. Cukup dengan mengancam keselamatan bayi itu, Arini akan merangkak memohon di bawah kakiku dan melakukan apa saja yang aku minta."

Arman Wijaya menyipitkan matanya, menatap Bagas dengan pandangan takjub. Pria bodoh dan licik itu adalah alat terbaik yang ia miliki untuk menyingkirkan Dikta dari kehidupannya.

"Bagus. Aku suka caramu berpikir. Pastikan sipir bayaran yang kita sewa di rutan itu melaksanakan tugas mereka. Aku tidak mau mendengar Dikta bisa tidur nyenyak satu detik pun. Setiap malam harus menjadi neraka baginya. Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya menjadi sampah yang tidak punya hak untuk bernapas."

"Tentu saja, Pak Arman. Sipir itu adalah orang kepercayaanku. Dia sudah memastikan Dikta menerima 'menu khusus' setiap jam dua pagi. Saat ini, mungkin lengan atau rusuk Dikta sudah remuk menjadi potongan-potongan tak berguna," kata Bagas diiringi tawa terbahak-bahak yang menggema memenuhi ruangan mewah itu.

Kedua pria itu kembali mengangkat gelas mereka, bersulang di atas penderitaan seorang ayah yang dipisahkan dari putranya, dan seorang wanita yang terperangkap dalam istana yang penuh duri karena suaminya.

Sementara di sudut kota lain, dengan dipimpin langsung oleh Marco baru saja mulai bergerak di dalam kegelapan malam, bersiap mengintai setiap langkah kaki para pengkhianat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!