NovelToon NovelToon
Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Karena Itu, Aku Yang Akan Menikahi Penjahat Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.

Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!

"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."

Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENJELASAN YANG TIDAK DIMENGERTI

Mobil hitam berlapis kaca gelap itu tidak berbelok ke arah mansion keluarga besar yang penuh dengan drama dan aroma parfum bunga yang menyengat. Sebaliknya, mobil itu melaju menuju kawasan pegunungan di Puncak, berhenti di depan sebuah mansion pribadi yang arsitekturnya minimalis, dingin, dan mengintimidasi. Tidak ada ornamen berlebihan, tidak ada lampu kristal yang norak, dan yang paling penting, tidak ada Tante Ratna.

Vania turun dari mobil, menghirup udara pegunungan yang sejuk. Dia menatap bangunan raksasa di depannya, lalu menatap Kevin yang baru saja keluar dari kursi pengemudi.

"Kevin," ucap Vania, suaranya datar namun penuh dengan tanda tanya. "Ini bukan jalan ke mansion keluarga. Aku bahkan tidak tinggal di sini. Membawa wanita ke rumah pribadinya tanpa undangan resmi di tahun 90-an ini namanya penculikan, tahu? Rating sinetron ini bisa turun karena adegan ilegal."

Kevin tidak menjawab. Dia hanya berjalan melewatinya, aroma cologne maskulinnya menerpa indera penciuman Vania. Pria itu berjalan masuk ke dalam mansion, dan Vania, karena tidak punya pilihan lain dan takut ditinggal di jalan raya yang sepi ini, terpaksa mengikutinya.

Begitu mereka masuk ke dalam ruang kerja utama di lantai dua, Kevin menutup pintu kayu solid di belakang mereka.

Klik.

Suara kunci berputar terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi. Vania menatap gagang pintu, lalu menatap Kevin.

Di sinilah Vania harus mengakui satu hal yang sangat dia benci. Kevin, dengan kemeja putihnya yang lengan bajinya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangannya yang tegas dan otot lengan yang terbentuk sempurna, terlihat sangat... manly. Rahangnya yang tajam, tatapan matanya yang gelap dan dominan, serta cara dia mengunci pintu itu dengan satu gerakan tegas, adalah definisi literal dari male lead novel dark romance yang biasa Vania baca di ponselnya sebelum dia meninggal dulu.

Stop. Stop. Stop! batin Vania, menampar pipinya sendiri secara mental. Jangan terbuai, Vania! Ini bukan adegan romantis di mana heroine jatuh cinta pada penculiknya. Ini adalah Stockholm Syndrome! Dia penjahat, Van. Ingat tebing di episode 150! Ingat musik seruling yang menyakitkan telinga itu! Jangan lihat bahunya yang bidang itu! Fokus pada nyawamu!

Vania menarik napas panjang, memaksa otaknya untuk kembali rasional. Dia menatap "kamera" imajinernya yang melayang di dekat rak buku berisi ensiklopedia hukum. Kalian lihat kan? Aku sedang berjuang melawan tropes. Tolong doakan aku.

Kevin berbalik badan. Dia berjalan mendekati Vania, langkahnya lambat namun pasti, hingga Vania terpaksa mundur selangkah dan punggungnya menabrak pintu kayu yang terkunci.

"Cukup," ucap Kevin, suaranya rendah, berat, dan bergema di ruangan yang luas itu. Dia menumpu kedua tangannya di pintu, di sisi kiri dan kanan kepala Vania, mengurungnya. "Kau sudah melakukan bagianmu. Larasati aman. Utang ayahnya lunas. Preman itu sudah menangis ketakutan. Mereka aman."

Kevin menunduk, menatap lurus ke dalam mata Vania. Jarak mereka sangat dekat. Vania bisa melihat pupil hitam Kevin yang membesar, menelan seluruh cahaya di sekitarnya.

"Sekarang, lihat aku," desis Kevin. "Berhenti berlari. Berhenti mengalihkan perhatianmu pada Raka dan Larasati. Katakan padaku, apa maumu dariku?"

Vania menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, tapi dia tahu dia harus menjelaskan ini. Jika dia tidak membuat Kevin mengerti, pria ini akan terus membuat penyimpangan plot sampai Vania mati lebih awal dari jadwal.

"Kevin, dengar," ucap Vania, suaranya bergetar sedikit, tapi dia memaksakan nadanya untuk tetap tegas. "Kau tidak paham. Aku tidak melakukan ini karena aku tiba-tiba menjadi orang baik. Aku tidak melakukan ini karena aku cemburu atau karena aku punya motif tersembunyi. Aku melakukan ini karena ini adalah plot sinetron!"

Kevin berkedip. Alisnya berkerut. "Plot... sinetron?"

"Ya! Naskah! Alur cerita!" Vania menggerakkan tangannya dengan panik, mencoba memvisualisasikan konsep yang mustahil. "Dengar, dunia ini berjalan berdasarkan naskah. Raka dan Larasati adalah pemeran utama. Kalau mereka bahagia, cerita berjalan normal. Tapi kalau kau mengganggu mereka, kalau kau membuat mereka berpisah, alur cerita akan mencari kambing hitam untuk menyeimbangkan konflik. Dan kambing hitamnya adalah aku!"

Vania menatap mata Kevin, mencari tanda-tanda pengertian. "Kalau kau ganggu mereka, alur cerita akan membunuhku, Kevin! Aku akan jatuh dari tebing, atau diracun, atau ditabrak truk container di episode 150! Aku tidak mau mati lebih awal!"

Hening.

Ruangan itu terasa sangat sunyi. Hanya ada suara dengungan AC sentral yang dingin.

Vania menatap Kevin, napasnya memburu. Dia sudah menjelaskan semuanya. Dia sudah membongkar rahasia semesta ini. Sekarang, Kevin pasti mengerti. Sekarang, Kevin pasti akan mundur, membiarkannya hidup tenang, dan...

"Mati?"

Suara Kevin terdengar sangat pelan. Namun, nada di dalamnya bukan nada pengertian. Itu adalah nada yang gelap, berbahaya, dan penuh dengan amarah yang mendidih.

Vania membeku. "Y-ya. Mati. Secara metafora, atau secara harfiah, tergantung seberapa parah penyimpangan plotnya..."

Kevin menatap Vania. Matanya menyipit, dan rahangnya mengeras begitu rupa hingga Vania bisa melihat ototnya berkedut. Angin indoor yang misterius tiba-tiba berhembus di dalam ruangan tertutup itu, mengibarkan ujung kemeja Kevin dan rambut bob Vania.

"Siapa yang mencoba membunuhmu?" desis Kevin, suaranya bergetar rendah, penuh dengan aura membunuh yang nyata. "Apakah itu Pak Darmawan? Apakah itu Raka? Atau apakah 'Alur Cerita' itu nama pembunuh bayaran baru yang disewa oleh pesaingku? Berikan aku namanya, Vania. Berikan aku namanya sekarang!"

Vania menatap Kevin dengan mata terbelalak.

Astaga, batin Vania, rasa putus asa mulai merayap di dadanya. Dia tidak paham. Dia sama sekali tidak paham. Dia pikir 'alur cerita' itu adalah orang. Dia pikir ini adalah konspirasi bisnis biasa.

"Bukan orang, Kevin!" Vania hampir berteriak, frustrasi. "Alur cerita itu bukan orang! Itu adalah konsep semesta! Itu adalah naskah yang ditulis oleh penulis di dimensi lain! Aku ada di dalam buku, Kevin! Aku ada di dalam sinetron! Kau tidak bisa membunuh naskah!"

Kevin menatapnya lekat-lekat. Tatapannya tidak menunjukkan kebingungan lagi. Tatapannya menunjukkan keyakinan yang mutlak, keyakinan seorang pria yang egonya terlalu besar untuk menerima fakta bahwa dia hanyalah karakter fiksi.

"Aku tidak peduli semesta mana yang mencoba menyentuhmu," ucap Kevin pelan, suaranya serak dan penuh dengan obsesi yang mengerikan. Dia mengangkat tangannya, jari-jarinya yang panjang dan kuat menyentuh rahang Vania dengan lembut namun mencengkeram, memaksa Vania untuk menatap matanya. "Aku tidak peduli jika 'Alur Cerita' itu adalah Tuhan, setan, atau penulis dari dimensi lain. Jika mereka mencoba membunuhmu, aku akan membunuh mereka."

Vania menatapnya, napasnya tertahan di tenggorokan.

"Aku akan membunuh siapa pun yang mencoba menyentuhmu, Vania," bisik Kevin, matanya berkilat dengan kegilaan dan cinta yang sangat toxic namun sangat tulus. "Kau tidak akan mati. Aku tidak akan membiarkanmu mati. Bahkan jika aku harus menghancurkan seluruh dunia ini untuk menyelamatkanmu."

Vania menatap pria di depannya. Pria yang sangat tampan, sangat kuat, dan sangat, sangat gila.

Dia menatap "kamera" imajinernya dengan tatapan yang hampa.

Dia di luar jangkauan logika, batin Vania, rasa putus asa yang mendalam menyelimuti seluruh sistem sarafnya. Aku mencoba menjelaskan konsep fourth wall dan meta-narasi pada pria yang otaknya hanya berisi strategi pengambilalihan perusahaan dan cara mengurung wanita di menara. Ini sia-sia. Aku benar-benar sia-sia.

Kevin menatap Vania yang terdiam, mengira wanita itu terpesona oleh janjinya. Dia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka hanya berjarak satu milimeter.

"Jadi, berhentilah takut pada 'alur cerita'-mu," bisik Kevin, napasnya yang hangat menerpa bibir Vania. "Mulai sekarang, satu-satunya hal yang harus kau takuti... adalah aku."

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!