Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20.Batas strategis
Suasana di restoran privat bintang lima malam itu terasa begitu formal dan megah. Lampu-lampu gantung berbahan kristal memancarkan cahaya kekuningan yang elegan di atas meja panjang, menerangi jajaran investor papan atas dan para mitra strategis Diksara Group yang hadir malam ini.
Damar duduk tegak di kepala meja dengan setelan jas hitam mewah yang membungkus tubuh atletisnya. Di sebelah kanannya, Naya duduk anggun dalam balutan gaun krem berpotongan simpel namun sangat memesona, memancarkan aura kelas atas yang memikat siapa saja yang melihatnya.
Sepanjang acara makan malam berlangsung, Naya menjalankan perannya dengan luar biasa profesional. Setiap kali para investor melontarkan pertanyaan seputar kehidupan pernikahan mereka atau rahasia keharmonisan rumah tangga seorang CEO muda, Naya selalu menjawabnya dengan senyuman manis, tutur kata yang sangat elegan, dan pembawaan cerdas yang membuat seisi meja berdecak kagum.
"Wah, Pak Damar..." puji Pak Wijaya seraya mengangkat gelas minumannya dengan gestur penuh hormat. "Istri Anda betul-betul wanita yang sangat berkelas, cerdas, dan tenang. Cocok sekali mendampingi pemimpin besar Diksara Group. Ngomong-ngomong, Pak Hendra yang sedang sibuk mengurus proyek di luar kota pasti sangat bangga mendengar kabar kalau putranya mendapatkan pendamping yang begitu sepadan seperti Mbak Naya."
Damar melirik Naya dari samping. Dadanya dipenuhi oleh rasa bangga yang teramat sangat melihat bagaimana istrinya begitu menguasai situasi. Pria itu baru saja hendak membuka mulut untuk membalas pujian Pak Wijaya dan memberikan pengakuan tulus, namun Naya sudah bergerak lebih cepat. Cewek itu menyela dengan senyuman manis paling mematikan yang pernah ia miliki.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Pak Wijaya," sahut Naya halus, suaranya terdengar begitu merdu di telinga semua orang yang hadir. "Sebagai 'keputusan strategis yang terukur' dalam rencana bisnis jangka panjang Mas Damar, sudah menjadi kewajiban profesional saya untuk tampil sempurna malam ini. Semuanya tentu harus berjalan sesuai dengan hitam di atas kertas dan klausul yang berlaku."
DEG.
Umpan kata-kata itu mendarat telak di ulu hati Damar, membuatnya mendadak tersedak ludahnya sendiri.
Damar langsung menyandarkan tubuhnya dengan kaku di kursi restoran, menatap Naya dengan mata melebar tipis. Kalimat persis yang diucapkannya di ruang rapat privat pada Pak Wijaya tadi sore ternyata didengar seutuhnya oleh Naya dari balik pintu!
Pak Wijaya dan beberapa investor tua di meja itu justru tertawa renyah, mengira ucapan Naya hanyalah sebuah lelucon bisnis yang cerdas dan jenaka dari pasangan muda modern. "Hahaha! Luar biasa! Khas bahasa pebisnis muda zaman sekarang ya! Komunikasi rumah tangganya sangat taktis dan profesional!"
Sementara para investor tertawa lepas, Damar justru merasa punggungnya mendadak dingin seketika. Tatapan mata Naya yang tersenyum ramah padanya terlihat sangat jernih, namun memancarkan sinyal bahaya dan protes dingin yang sangat pekat.
Pukul sepuluh malam, mobil sport hitam milik Damar membelah jalanan Kota Medan yang mulai lengang, melaju mulus menuju kemegahan mansion Diksara.
Suasana di dalam kabin mobil terasa dingin mencekam, seolah-olah pengatur suhu di dalam kendaraan diturunkan hingga titik terendah. Tidak ada alunan musik pop dari radio seperti biasanya; yang terdengar hanya deru mesin dan hembusan napas berat yang tertahan.
Damar memegang lingkar kemudi dengan cengkeraman yang sangat rapat. Pria itu berulang kali melirik Naya dari ekor matanya. Naya tampak duduk santai sambil sibuk merapikan tas kecilnya dan mengoleskan lip balm di bibirnya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa bersalah.
Karena tidak tahan dengan keheningan yang menyiksa batinnya, Damar akhirnya berdeham keras-keras untuk memecah kebekuan.
"Ehem!"
Naya tetap diam, tidak menoleh sedikit pun ke arah suaminya.
"Naya," panggil Damar akhirnya, suaranya diusahakan terdengar setenang dan setegas mungkin, meski dadanya diliputi rasa panik setengah mati. "Soal ucapan kamu di meja makan restoran tadi..."
Naya perlahan menoleh, mengumbar senyuman savage-nya yang sangat tajam. "Kenapa, Mas Damar? Ada yang salah ya dari akting saya malam ini? Perasaan saya sudah menjalankan 'tugas strategis' saya dengan sangat sempurna deh sesuai standar klausul kontrak kerja kita."
Damar mengepalkan jemarinya kuat-kuat di lingkar kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. "Kamu... mendengarkan seluruh pembicaraan saya dengan Pak Wijaya tadi sore di ruang rapat privat?"
Naya menyandarkan kepalanya dengan santai di jok mobil, lalu melipat tangan di depan dada. "Enggak sengaja lewat aja kok, Mas. Lagian ucapan Mas Damar waktu itu keren banget loh! Sangat lugas, tegas, berwibawa, dan sangat dingin khas CEO impian para investor. 'Keputusan strategis yang terukur'! Wah, saya sampai terhura mendengarnya!"
Damar langsung menginjak pedal rem, menghentikan mobilnya dengan mulus di sebuah lampu merah yang kebetulan sedang menyala merah. Pria itu menoleh seutuhnya menatap Naya, memperlihatkan raut wajah kaku di mana benteng gengsi besarnya kini mulai menunjukkan retakan parah yang sulit disembunyikan.
"Saya tidak bermaksud mengkerdilkan keberadaan kamu di rumah tangga ini, Naya," kilih Damar dengan suara beratnya yang agak serak dan panik tertahan. "Di hadapan para investor, saya harus memberikan kepastian stabilitas perusahaan—"
"Iya, Mas Damar Diksara yang terhormat..." potong Naya cepat dengan nada halus yang sengaja dibuat terdengar sangat menyindir. "Enggak usah panik berlebihan begitu dong. Saya kan emang perempuan profesional. Mas butuh citra perusahaan aman terkendali, saya butuh kompensasi dua miliar rupiah dan perlindungan hukum selama empat bulan ke depan. Adil kan? Semuanya berjalan sesuai rencana bisnis Mas!"
Damar membeku total. Lidahnya yang biasanya sangat tajam, tangkas, dan mematikan dalam setiap perundingan bisnis bernilai triliunan rupiah kini mendadak kelu, kehilangan seluruh kosakatanya di hadapan sang istri.
Rasa menyesal yang teramat sangat kini membakar dadanya. Naya tidak menangis histeris atau marah-marah meledak-ledak seperti wanita pada umumnya; cewek ini justru membalasnya dengan cara yang jauh lebih menohok, yaitu membatasi diri sepenuhnya menggunakan istilah hukum dan bisnis dingin yang diciptakan oleh Damar sendiri!
Sesampainya di mansion, mobil memasuki garasi dengan mulus. Naya langsung membuka pintu mobil, turun tanpa menunggu Damar, dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju lantai dua.
Begitu memasuki kamar utama yang luas, Naya melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan santai, mengganti gaun pestanya dengan piyama katun longgar bermotif beruang yang nyaman, lalu naik ke atas tempat tidur berukuran king-size.
Tanpa rasa bersalah sedikit pun, Naya menarik dua buah guling besar sekaligus dari sisi ranjang. Dengan cekatan, ia menyusun guling-guling itu secara vertikal dengan sangat tinggi dan rapat, tepat di garis tengah kasur untuk membelah tempat tidur menjadi dua bagian yang terisolasi.
Damar yang baru saja selesai membersihkan diri dan keluar dari ruang ganti dengan mengenakan kaus santai serta celana kain langsung mematung di tempat. Pria itu membelalakkan matanya lebar-lebar menatap benteng guling ganda yang menjulang tinggi di tengah tempat tidur mereka.
"Apa-apaan ini, Naya?" tanya Damar dengan kening berkerut sangat dalam, nada suaranya menyiratkan protes keras.
Naya menepuk-nepuk tumpukan guling itu pelan dengan gaya seorang profesional yang sedang mempresentasikan proyek besar.
"Ini dinamakan 'Standard Operating Procedure' atau SOP perbatasan zona tidur, Mas Kulkas!" jawab Naya dengan senyuman manis penuh kemenangan. "Sesuai dengan kepastian hukum dan batasan aset yang Mas minta siang tadi. Tujuannya agar tidak ada 'emosi impulsif' yang melintasi garis perbatasan teritorial selama sisa masa kontrak kita!"
Damar menatap tumpukan guling pembatas itu dengan nanar, lalu mengalihkan pandangannya pada Naya yang sudah merebahkan tubuhnya dengan nyaman sambil membelakangi posisinya.
Dada Damar mendadak terasa sesak luar biasa. Rasa gengsi yang selama ini diagung-agungkan setinggi langit kini berbenturan keras dengan rasa tidak rela karena harus diasingkan sejauh ini oleh istrinya sendiri.
"Naya," panggil Damar dengan suara pelan namun sarat akan permohonan terselubung, melangkah mendekati tepi ranjang. "Buka gulingnya. Jangan seperti ini."
"Enggak bisa, Mas. Ini sudah sesuai dengan 'prosedur standar legalitas' yang Mas inginkan. Selamat tidur, Mas CEO yang terhormat!" sahut Naya riang dari balik selimutnya, menahan tawa kemenangan di dalam gelapnya malam.
Damar mendengkus pasrah di sisi seberang ranjang. Pria itu menarik selimutnya sendiri, berbaring telentang menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Damar Diksara... kamu benar-benar menelan ludah sendiri dan menjadi korban dari ucapanmu, batin Damar merutuki kebodohannya. Sang CEO dingin itu kini harus menerima kenyataan pahit, terjebak dalam benteng kaku yang ia bangun sendiri di hadapan sang istri yang luar biasa savage.
_Bersambung