NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXVI

  Setelah Luna tampak tenang dan terlelap, Pangeran Haoran keluar dari kamar untuk menemui Dafi dan Lili yang masih menunggu di luar.

"Sepertinya Luna membutuhkan waktu untuk memahami semuanya," jelas Pangeran Haoran dengan nada lembut. "Terlalu banyak peristiwa yang telah terjadi selama ini, jadi wajar jika ia belum bisa menerima kenyataan ini begitu saja."

Pangeran Haoran kemudian meminta, "Untuk sementara waktu, kalian tinggalah di sini. Aku berharap kalian bisa tetap ada di sini dan menemaninya sementara waktu."

Lili dan Dafi saling berpandangan, lalu mengangguk setuju. "Baiklah, kami akan tinggal di sini. Kami juga ingin meyakinkannya," jawab Dafi.

Pangeran Haoran pun memanggil pelayan untuk mengantar mereka ke kamar masing-masing yang telah disiapkan.

  Sementara itu, di dalam kamar, ternyata Luna hanya berpura-pura tidur. Air mata perlahan menetes di sudut matanya saat ia mengenang segala penderitaan dan hal-hal kelam yang pernah ia alami selama ini.

Tak lama kemudian, Pangeran Haoran kembali masuk. Ia melihat Luna sedang menyeka air matanya, lalu segera menghampiri dan duduk di sisi tempat tidur. Ia menggenggam tangan Luna dengan lembut.

"Aku mengerti bahwa apa yang kau alami dulu, tidaklah mudah, banyak hal-hal berat yang telah kau lalui," ucap Pangeran Haoran pelan. "Tapi ingat, Kakakmu tidaklah bersalah atas apa pun. Ia bahkan tidak tahu selama ini ia memiliki saudara kembar. Ia hanya berharap suatu hari nanti kau mau menerimanya sebagai keluarga." ucap Pangeran Haoran sambil mengelus kepala Luna.

Luna pun kembali menangis. "Bagaimana mungkin ia mau menerimaku? Aku ini orang jahat. Tanganku ini..." ia mengangkat tangannya sambil gemetar, "... Aku telah banyak membunuh orang. Aku tidak yakin ia bisa menerimaku."

Pangeran Haoran menatapnya dengan tatapan tulus. "Dengarkan aku. Kalian adalah saudara kembar, terikat oleh darah yang sama. Suatu hari nanti ia pasti akan mengerti. Tapi setidaknya berikan ia kesempatan untuk bicara denganmu."

Setelah mendengar penjelasan itu, Luna akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah... aku mau bertemu dengannya."

Pangeran Haoran segera memanggil pelayan untuk memanggil Lili. Mendengar kabar itu, wajah Lili berseri-seri dan ia segera bergegas menuju kamar Luna. Sesampainya di sana, Pangeran Haoran dan Dafi pun pamit keluar agar mereka bisa bicara berdua saja.

Begitu suasana sepi, Lili perlahan mendekat dan memegang tangan Luna. Air matanya kembali mengalir.

"Ning... setelah begitu lama, Kau akhirnya kembali..." ucapnya pelan, lalu segera memeluk adiknya itu dengan erat.

Luna pun membalas pelukan itu, menumpahkan segala kesedihan yang selama ini ia pendam.

"Aku... aku tidak pantas menjadi adikmu,kak..." Ucap Luna sambil menangis. "Tanganku ini telah banyak melakukan kejahatan..."

Lili segera memegang kedua tangan adiknya dengan lembut dan memotong pembicaraannya.

"Jangan bicara begitu. Apa yang sudah terjadi biarlah. Sekarang aku ada di sini bersamamu. Aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian lagi."

Lili menatap mata Luna dengan penuh harap. "Ning... maukah kau pulang bersamaku ke rumah kita? Meskipun Ayah dan Ibu sudah tiada, mereka pasti sangat bahagia jika melihatmu kembali."

Luna terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk setuju. Sementara di luar kamar, Pangeran Haoran dan Dafi masih menunggu dengan perasaan cemas sekaligus berharap.

  Tidak lama kemudian, Lili keluar dari kamar Luna. Setelah saling berbicara dan memahami satu sama lain, Lili menyampaikan keputusan yang telah ia dan Ning sepakati.

"Aku sudah berbicara dengan Ning, maksudku, adikku," ucapnya sedikit memperbaiki ucapan. "Ia setuju besok kami akan kembali ke rumah kami. Terutama untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ayah dan ibu kami."

Mendengar hal itu, awalnya Pangeran Haoran terlihat tidak setuju. Ia khawatir dengan kondisi Luna yang belum sepenuhnya pulih. Namun, Lili menyampaikan pendiriannya dengan tegas.

"Aku akan membawanya pulang. Ia adalah saudara kandungku, dan tidak ada seorang pun yang bisa melarangnya," tegas Lili.

Pangeran Haoran menghela napas panjang, lalu menjawab dengan nada yang sedikit berat namun tetap menghormati.

"Baiklah. Aku akan datang menjemputnya nanti." Ucap Pangeran Haoran tegas.

Dafi kembali menambahkan, "Tapi ingat, kau tidak boleh datang membawanya kembali ke sini begitu saja."

Pangeran Haoran menatapnya dengan tatapan tajam, kembali bertanya, "Apa maksudmu aku tidak boleh membawanya? Mengapa? Bukankah aku dan Luna, maksudku Ning akan segera menikah? Apakah itu telah berubah?"

"Tentu saja tidak," jawab Dafi. "Kau boleh membawanya, tapi dengan satu syarat, kau harus datang menjemputnya dengan iringan pernikahan."

Pangeran Haoran pun menyetujui syarat itu. "Baiklah, aku akan segera menyiapkan segalanya dan membawa iringan pernikahan menuju kediaman kalian nanti."

Tiba-tiba, Dafi menggenggam tangan Lili dan menyela dengan senyum lembut.

"Bukan hanya kalian yang akan menikah," ucapnya sambil menatap Lili dengan penuh kasih sayang. "Kami berdua pun akan melangsungkan pernikahan."

Pangeran Haoran terkejut mendengarnya. "Jadi maksudnya, kalian juga akan menikah?"

"Tentu saja," jawab Dafi singkat.

Mendengar hal itu, Pangeran Haoran pun mengajukan usulan. "Bagaimana kalau kita melangsungkan pernikahan di hari yang sama di sini, di kediamanku? Aku akan menyiapkannya semewah mungkin, sesuatu yang belum pernah dilihat orang lain sebelumnya."

"Tidak," tolak Dafi dengan sopan namun tegas. "Kami ingin mengadakan pernikahan ini di kediaman Menteri. Kami tidak menginginkannya di sini."

"Ayolah," pinta Haoran berusaha membujuk.

Setelah berdiskusi dan berdebat cukup lama, akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan bersama di kediaman Menteri, mengingat hal itu akan membuat arwah ayah dan ibu mereka merasa bahagia melihat anaknya Ning akhirnya kembali.

Dafi kembali bertanya kepada Haoran. "Apakah kau sudah berbicara dengan Ning mengenai rencana pernikahan ini?" tanya Dafi.

Pangeran Haoran tersenyum tipis sambil mengingat kejadian sebelumnya. "Tentu saja. Bahkan jika ia tidak terluka parah seperti ini, mungkin kami sudah menikah sekarang."

"Baiklah," kata Lili menutup pembicaraan. "Besok pagi kami akan membawa Ning kembali ke kediaman."

"Baiklah, aku mengerti," jawab Pangeran Haoran dengan nada yang terasa sedikit berat di hatinya.

Pagi pun tiba...

  Dafi, Lili, dan Luna bersiap-siap untuk kembali menuju kediaman mereka.

Pangeran Haoran mendekati Luna yang hendak berangkat. Ia menggenggam tangan wanita itu dengan lembut dan menatapnya.

"Aku berjanji akan segera datang menjemputmu," ucapnya sambil tersenyum tulus.

Pangeran Haoran lalu bergerak maju, berniat memeluk Luna, namun tiba-tiba tubuhnya ditahan dan ditarik menjauh oleh Dafi dan Lili.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Dafi dengan nada tegas. "Kami masih ada di sini, dan kau berani bertindak sembarangan. Ingat, dia adalah adik iparku. Aku tidak akan membiarkanmu berbuat sesuka hati."

Pangeran Haoran mengerutkan keningnya, sedikit kesal. "Memangnya ada apa? Sebentar lagi kami akan menikah, kenapa aku tidak boleh memeluk calon istriku sendiri?"

Belum sempat Haoran menjelaskan lebih lanjut, Lili sudah menarik tangan Luna dan membawanya menuju kereta kuda.

Pangeran Haoran hanya bisa menghela napas pasrah melihat kepergian mereka. Ia pun segera bergegas menyiapkan iringan pernikahan secepat mungkin.

  Di Sepanjang Perjalanan, Lili menenangkan hati Luna yang mulai gelisah.

"Ning.. kau tidak perlu merasa takut atau cemas. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Lili lembut sambil menggenggam tangan adiknya itu.

Setelah menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Menteri. Bangunan itu tampak megah, luas, dan tertata dengan sangat indah. Lili segera mengajak Ning masuk, lalu memperlihatkan setiap sudut dan ruangan yang ada di dalamnya.

Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah Aula. Di sana terlihat banyak papan nama leluhur dan papan nama kedua orang tua mereka yang telah tiada. Lili menoleh ke arah Ning dan berkata,

"Ini adalah tempat untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayah dan Ibu kita. Sampaikan saja apapun yang ada di hatimu, Ning. kau tidak perlu ragu."

Ning mendekat perlahan, lalu menundukkan kepalanya. Dengan suara bergetar menahan tangis, ia berbicara dalam hati: "Ayah, Ibu... maafkan aku. Selama ini aku tidak bisa menjadi putri yang baik bagi kalian. Maaf aku karena baru bisa datang sekarang..."

Setelah meluapkan segala perasaannya dan berhenti menangis, Lili mengajak Ning pergi.

"Ayo, sekarang kita beristirahat. Aku akan tunjukkan kamarmu," ucap Lili sambil tersenyum.

Ia membawa Ning menuju kamarnya, untuk beristirahat. Mereka berdua juga saling bercerita tentang hidup mereka dan berbagi suka maupun duka yang telah mereka lalui selama mereka terpisah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!