NovelToon NovelToon
The Aftermath

The Aftermath

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.

Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.

Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.

Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.

Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.

Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.

_🌷_

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Aroma roti panggang mentega dan kopi susu rendah kafein memenuhi ruang makan rumah aman di Long Island.

Pagi itu, langit tampak begitu cerah tanpa gumpalan awan mendung. Sinar matahari yang hangat menyapu permukaan lantai marmer, menciptakan suasana yang jauh lebih hidup dan tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Adiba duduk di meja makan, perlahan menyesap susu hangatnya dengan pembawaan yang jauh lebih rileks.

Sisa-sisa rasa rindu ganjil yang sempat mengusik batinnya kemarin sore kini telah menguap, digantikan oleh rasa lapar yang normal. Di sampingnya, Eleanor Abbey sedang sibuk mencatat sesuatu di atas tablet digitalnya dengan binar mata yang teramat antusias.

"Mami sedang mencatat apa?" tanya Adiba, meletakkan gelas susunya.

Eleanor mendongak, wajah anggunnya dihiasi senyuman lebar. "Mami sedang membuat daftar belanjaan, Sayang. Kamar bayimu belum siap, tapi yang lebih penting sekarang adalah mengisi lemari makananmu. Ibu hamil tidak boleh kekurangan stok camilan. Mami membaca di artikel pagi ini, kau butuh biskuit gandum, cokelat hitam untuk memperbaiki suasana hati, buah-buahan kering, yogurt organik, dan banyak lagi."

Adiba terkekeh kecil melihat kehebohan maminya. "Mami, ini baru awal kehamilan. Stok camilan di dapur bahkan masih cukup untuk memberi makan satu batalion tentara."

"Tidak ada bantahan, Adiba," sela Eleanor dengan nada manja namun tegas khas seorang ibu.

"Kita akan pergi ke swalayan organik premium di pusat kota Long Island hari ini. Kau harus ikut memilih sendiri apa yang ingin kau makan. Papi sudah menyiapkan pengawalan tersembunyi, jadi kau tidak perlu khawatir tentang keamanan kita. Anggap saja ini refreshing kecil agar kau tidak bosan mengurung diri di rumah."

Mendengar kata 'belanja', kilat semangat yang sudah lama redup di wajah Adiba mendadak kembali memancar. Ide untuk keluar rumah dan memilih tumpukan camilan organik terdengar sangat menggoda di telinganya. "Baiklah, Mami. Beri aku waktu lima belas menit untuk bersiap."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Swalayan organik di kawasan elite Long Island itu tidak terlalu ramai siang ini. Alunan musik jazz instrumental yang lembut mengalun dari pengeras suara di langit-langit, menciptakan atmosfer belanja yang teramat nyaman dan santai.

Adiba mendorong kereta belanjaan perak besar dengan langkah santai, sementara Eleanor berjalan di sampingnya, dengan lincah mengambil beberapa bungkus biskuit oat madu dan memasukkannya ke dalam keranjang.

"Bagaimana dengan sereal ini, sayang? Ini sangat bagus untuk pencernaan ibu hamil," ujar Eleanor menunjukkan sebuah kotak sereal gandum utuh dengan kemasan berwarna hijau neon.

"Boleh, Mami. Masukkan saja," jawab Adiba sembari tersenyum.

Dia merasa benar-benar rileks hari ini. Tidak ada pembicaraan berat tentang saham, tidak ada intrik pelabuhan Brooklyn, dan tidak ada nama Louis Osborn yang mengotori benaknya. Dunia terasa begitu ringan.

Saat Eleanor bergerak ke lorong sebelah untuk memilih varian keju dan yogurt, Adiba mendorong keretanya menuju lorong khusus cokelat dan camilan manis.

Matanya berbinar menatap deretan cokelat hitam dengan berbagai persentase kandungan kakao. Dia mengulurkan tangannya untuk mengambil satu batangan cokelat premium dari rak teratas.

Namun, karena posisi rak yang agak terlalu tinggi dan gaun rajut longgarnya sedikit membatasi gerakannya, ujung jemari Adiba hanya mampu menyentuh ujung kemasan cokelat tersebut.

Sebelum cokelat itu sempat terjatuh, sebuah tangan kokoh dengan jemari panjang berbalut cincin perak kuno mendahuluinya. Tangan itu dengan mudah mengambil kotak cokelat tersebut, lalu menurunkannya tepat di hadapan wajah Adiba.

"Cokelat hitam dengan kadar delapan puluh persen. Pilihan yang bagus untuk menenangkan saraf yang tegang," sebuah suara bariton yang teramat dalam, berat, namun terdengar sangat familier menyapa indra pendengaran Adiba.

Adiba tertegun. Dia membalikkan tubuhnya dengan perlahan, menatap sosok pria jangkung yang kini berdiri tepat di hadapannya.

Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna biru dongker dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, menampilkan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Rahangnya tegas, wajahnya tampan dengan potongan rambut gelap yang rapi, dan sepasang mata sehitam jelaga itu sedang menatapnya dengan binar jenaka yang teramat hangat.

Adiba mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak salah.

Mereka bukanlah dua orang asing yang tidak saling mengenal. Jauh sebelum badai New York ini terjadi, pria ini adalah bagian dari masa lalunya yang terkunci di dalam kotak memori masa kuliah.

"Giorgio...? Giorgio Chiellini?" tanya Adiba, suaranya sarat akan rasa tidak percaya.

Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu tersenyum tipis, sebuah senyuman menawan yang sanggup membuat wanita mana pun terpaku.

Dia meletakkan kotak cokelat tadi ke dalam kereta belanjaan Adiba. "Senang melihat ingatanmu masih bekerja dengan sangat baik, Junior."

Adiba mendadak merasakan gelombang nostalgia yang teramat kuat menghantam kepalanya.

Pertemuannya dengan Giorgio di swalayan ini seketika menarik paksa kesadarannya mundur beberapa tahun ke belakang, tepat saat mereka berdua masih menyandang status sebagai mahasiswa di Universitas Washington.

Flashback: Tujuh Tahun Lalu di Universitas Washington

Udara musim gugur yang sejuk menerpa koridor kampus yang dipenuhi oleh hiruk-pukuk mahasiswa baru yang sedang menjalani pekan orientasi.

Adiba Abbey, yang saat itu baru berusia delapan belas tahun dengan rambut yang dikuncir kuda dan wajah polos tanpa riasan berat, berdiri di tengah lapangan rumput dengan napas terengah-engah.

Dia baru saja kalah dalam sebuah permainan kelompok yang diadakan oleh para panitia pelaksana orientasi mahasiswa baru.

Dan di dunia kampus, kekalahan artinya harus siap menerima konsekuensi hukuman yang konyol.

"Dengar, Mahasiswi Baru Abbey!" teriak salah satu panitia senior perempuan dengan pengeras suara portabel di tangannya, memancing perhatian puluhan mahasiswa lain yang berada di sekitar lapangan.

"Hukumanmu sangat mudah! Kau lihat pria yang sedang duduk sendirian di bawah pohon ek besar di ujung sana?"

Adiba menolehkan kepalanya, mengikuti arah telunjuk sang senior. Di bawah rindangnya pohon ek, duduk seorang pria bertubuh tegap yang mengenakan jaket almamater hitam.

Pria itu tampak sedang membaca sebuah buku tebal dengan ekspresi wajah yang teramat dingin dan datar, seolah-olah seluruh keramaian di kampus ini tidak ada hubungannya dengan duniaku.

"Itu Giorgio Chiellini. Mahasiswa tahun terakhir dari jurusan bisnis internasional. Dia terkenal sebagai pria paling dingin, kaku, dan paling mustahil untuk didekati di angkatannya," bisik senior itu dengan seringai usil. "Tugasmu adalah jalan ke sana, dan ajak dia pacaran sekarang juga! Harus singkat, padat, dan jelas!"

Sorak-sorai dan tawa riuh dari mahasiswa baru lainnya seketika pecah, membuat wajah Adiba memerah padam karena menahan malu. Namun, sebagai seorang Abbey yang keras kepala dan tidak suka dicap sebagai pengecut, Adiba menghentakkan kakinya.

"Siapa takut?!" tantang Adiba berani.

Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan dengan penuh rasa kesal, Adiba berjalan memotong lapangan rumput, langsung menuju ke arah pohon ek tersebut.

Begitu langkahnya berhenti tepat di depan bayang-bayang pohon, dia berdiri tegak dengan kedua tangan yang berkacak pinggang, menutupi cahaya matahari yang menyinari buku yang sedang dibaca oleh Giorgio.

Giorgio yang merasa langkah membaca bukunya terganggu, perlahan mendongakkan kepalanya.

Sepasang mata sehitam jelaga milik pria berusia dua puluh dua tahun itu menatap Adiba datar, tanpa ekspresi sedikit pun.

Adiba menelan ludahnya sejenak, mengumpulkan seluruh keberaniannya sebelum melontarkan kalimat hukuman itu dengan satu tarikan napas panjang.

"Ayo berkencan?!" ucap Adiba lantang. Singkat, padat, dan sangat jelas.

Giorgio Chiellini mengernyitkan alisnya sebentar.

Dia memandangi gadis remaja di depannya dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang berdebu.

Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi hening selama beberapa detik yang terasa menyiksa bagi Adiba. Di kejauhan, para panitia senior sudah bersiap menertawakan penolakan mentah-mentah yang pasti akan diterima Adiba.

Namun, di luar dugaan semua orang, dari belahan bibir Giorgio yang kaku, perlahan keluar satu kata yang teramat santai.

"Oke."

Adiba membeku di tempatnya. Matanya membelalak sempurna, dan mulutnya sedikit menganga karena syok.

"Tunggu... apa?" tanya Adiba dengan ekspresi wajah yang teramat bingung, mengira pendengarannya sedang bermasalah.

Giorgio menutup buku tebalnya dengan bunyi debukan pelan, lalu bangkit berdiri, menampilkan postur tubuhnya yang jauh lebih tinggi daripada Adiba. Dia menatap mahasiswi baru itu dengan sebuah senyuman tipis yang misterius.

"Aku bilang, Oke aku mau. Ayo berkencan," ulang Giorgio dengan nada suara yang teramat tenang, seolah-olah dia baru saja menyetujui ajakan untuk makan siang biasa, bukan sebuah hubungan instan karena hukuman orientasi.

Adiba benar-benar tidak menyangka. Pria yang digosipkan sebagai kutub es paling beku di Universitas Washington, pria yang kabarnya selalu menolak puluhan surat cinta dari mahasiswi cantik lainnya, justru menerimanya begitu saja hanya dengan satu kalimat ajakan yang tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.

Sejak hari itu, meski hubungan mereka berdua akhirnya hanya berjalan sebagai senior dan junior yang sering menghabiskan waktu minum kopi bersama di kafetaria kampus tanpa status pacaran yang mengikat, Giorgio selalu menjadi sosok kakak kelas yang paling protektif dan selalu ada setiap kali Adiba membutuhkan bantuan akademis.

Kembali ke Realitas: Swalayan Long Island

Mengingat kembali kekonyolan masa lalu itu mendadak membuat Adiba tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa kecil.

Rasa canggung yang sempat muncul di antara mereka seketika mencair, tergantikan oleh kehangatan pertemanan lama yang sudah bertahun-tahun tidak bertegur sapa setelah Giorgio lulus dan kembali ke Eropa.

"Aku tidak menyangka pria sedingin Giorgio Chiellini sekarang berkeliaran di lorong cokelat swalayan," ucap Adiba dengan nada bercanda, menatap Giorgio dengan pandangan yang jauh lebih bersahabat.

Giorgio terkekeh rendah, sebuah tawa hangat yang menyembunyikan getaran obsesi pekat yang bergejolak di dalam dadanya saat melihat wajah cantik wanitanya dari jarak sedekat ini.

"Aku ada beberapa urusan bisnis keluarga di New York, Junior. Dan kebetulan, aku sedang ingin mencari camilan manis saat melihat seorang wanita hamil sedang kesusahan mengambil cokelat hitam di rak teratas."

Mendengar kata 'wanita hamil', Adiba secara refleks menyentuh perutnya, ekspresi wajahnya sedikit berubah menjadi agak canggung.

Giorgio yang menyadari hal itu segera mengalihkan topik pembicaraan dengan sangat halus, tidak ingin Adiba merasa tidak nyaman atau mendeteksi bahwa dialah dalang di balik janin yang dikandung wanita itu.

"Kau tampak jauh lebih matang sekarang, Adiba. Pernikahan... dan semua berita di Manhattan belakangan ini, kuharap tidak membuat selera humormu yang konyol seperti saat di kampus dulu hilang."

"Tentu saja tidak," sahut Adiba, senyumannya kembali merekah. "Aku tetap Adiba Abbey yang sama, yang berani mengajakmu berkencan di bawah pohon ek."

Tepat pada saat itu, Eleanor Abbey melangkah kembali ke lorong cokelat dengan membawa dua kotak yogurt di tangannya. Sang mami sempat tertegun sejenak saat melihat putrinya sedang mengobrol dengan sangat akrab bersama seorang pria asing yang bertubuh tegap dan berpenampilan teramat elite.

"Adiba? Siapa ini, Sayang?" tanya Eleanor lembut, mendekati mereka berdua.

Giorgio segera memutar tubuhnya menghadap Eleanor, lalu membungkukkan badannya dengan kesopanan tingkat tinggi khas bangsawan Eropa.

"Selamat siang, Nyonya Abbey. Perkenalkan, saya Giorgio Chiellini. Saya adalah senior Adiba saat kami berdua menempuh studi di Universitas Washington beberapa tahun lalu."

Mendengar nama belakang 'Chiellini', mata Eleanor sedikit melebar karena terkejut.

Sebagai istri dari klan Abbey, dia tentu tahu betul siapa keluarga Chiellini—salah satu dinasti bisnis raksasa Eropa yang pengaruh finansialnya sangat disegani di bursa internasional.

Dia tidak menyangka bahwa putri tunggalnya ternyata memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat dengan pewaris utama klan tersebut.

"Ah, jadi kau senior Adiba di kampus? Senang bertemu denganmu, Giorgio," ucap Eleanor dengan senyuman hangat yang tulus, merasa sangat senang karena Adiba tampak begitu ceria dan melupakan semua beban pikirannya saat mengobrol dengan pria ini.

"Kebetulan sekali kita bertemu di sini, Giorgio," lanjut Eleanor, melirik keranjang belanjaan mereka yang mulai penuh dengan camilan ibu hamil.

"Kami sedang menyetok banyak camilan untuk Adiba. Bagaimana kalau kau ikut bersama kami ke rumah untuk makan siang? George... suami saya, pasti akan sangat senang menyambut teman lama Adiba di rumah."

Giorgio menatap Adiba sejenak, seolah-olah sedang meminta persetujuan dari sang wanita, sebuah gestur penuh hormat yang membuat Adiba merasa dihargai.

Adiba mengangguk kecil, mengulas senyuman tipis. "Ikutlah, Giorgio. Anggap saja ini sebagai balasan karena kau sudah menolongku mengambil cokelat hitam ini tadi. Lagipula, sudah lama kita tidak mengobrol tentang masa-masa konyol di kampus."

Giorgio tersenyum, sebuah senyuman tipis yang sarat akan kepuasan mutlak yang tersembunyi rapat di balik ketenangannya.

Segalanya berjalan dengan sangat mulus, bahkan jauh lebih mudah daripada yang dia perkirakan. Langkah pertamanya untuk masuk kembali ke dalam kehidupan Adiba secara terang-terangan telah terbuka lebar, tepat di antara tumpukan belanjaan camilan manis di swalayan Long Island.

"Dengan senang hati, Nyonya Abbey. Sebuah kehormatan bagi saya untuk menerima undangan makan siang dari keluarga Anda," jawab Giorgio dengan nada suara baritonnya yang teramat tenang dan memikat.

Di dalam kepalanya, skenario takdir yang dia sutradarai dari balik layar kini perlahan mulai bergeser ke permukaan, siap membawa Adiba dan anaknya masuk ke dalam pelukan pelindungnya yang mutlak.

1
nayla tsaqif
Semoga lekas sembuh,, 😊
Ros 🍂: ma'aciww ka🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
semoga lekas sembuh kak😍😍
Ros 🍂: ma'aciww kakak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Gaskennn,bang gio,, segera sah kan mbk adibanya,, biar louis ketar ketir anak yg di kira miliknya punya calon bpk,, 🤭
Ros 🍂: Ku kira anakku, ternyata bukan anakku😭🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ketemuan juga gasken bang gio gercep sekali babang yg satu ini😍😍😍
Ros 🍂: Ahahaha 🤭
total 1 replies
Agus Hidayat
next😍😍😍
Ros 🍂: siap kak🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Plotwist yg sangat mengejoet kn,,?? Diatas si gila adiba masih ada yg lbh gila,, babang giogio,, 😌
Ros 🍂: Reader aman ? 🤭🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wauuu aku sungguh tergiorgio Giorgio ini ma sama kayak yg aku haluiin Thor kerennn pakai kebangetan thanks kak udah datengin makhluk yg sama GK warasnya kayak Adiba😍😍👍👍👍
Ros 🍂: Huhuhu Ma'aciww ya kak 🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
😍😍😍😍😍
Ros 🍂: uhuhuyyy🥰🫶
total 1 replies
Debu Nakal
sungguh diluar nurul 😱😱😱
Ros 🍂: biar Author lanjutkan 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
sorry kak typo othor maksudnya bukan tohir🙏🤣🤣🤣
Ros 🍂: santai kak hehehe😅
total 1 replies
Agus Hidayat
wauu sungguh plot twist yg sangat sangat😍👍 GK bisa berkata kata kerennnnn pakai banget suka semua karya Tohir semuanya best😍😍😍😍😍
Ros 🍂: iiiih thankyou kak🫶 sehat-sehat ya 🥰
total 1 replies
Agus Hidayat
next kak👍
Ros 🍂: siap kak
total 1 replies
Agus Hidayat
absen 😍😍😍😍
Ros 🍂: ya huuuuu Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aku mendukungmu 1000 persen Adiba jadilah perempuan yg tangguh dan Badas, bukan kamu yg tidak pantas tapi dia yg tak pantas untukmu💪😍😍😍
Ros 🍂: nah iya 🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huh rasain jangan balikan lagi Thor kasih Adiba jodoh yg lain aja👍
Ros 🍂: okay kak🫶🥰
total 1 replies
Bellz
kapan up thor nungguin banget suka sama karhanya😍
Ros 🍂: Malam ini dua bab dulu ya kak🫶 besok Author Up banyak 🙏🏻🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Q rela louis nyumpah nyerampahin adiba,, tp q gk rela baby di kandungan adiba di hina bpknya sendiri sprti itu sakit bangettt itu,, plisss jangan balikan,, jd single mom aja adiba,,
Ros 🍂: siap sesuai Maunya reader 🥰 Maafkan author yaa 😭
total 1 replies
Bellz
semangat Thor, suka sama karyanya😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🥰 semoga tetap Singgah 🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
huuaaaaa nangis aku thor nyesek banget, tapi i am so happy akhirnya Adiba jadi waras jangan buat balikan sama Louis Thor nek banget sama cowok modelan gitu kasih jodoh yg lain baru kali ini baca novel othor spaneng Mulu aku jangan kasih bawang terus thor
Ros 🍂: huhu maafkan author 🙏🏻🤭🥰
total 1 replies
Agus Hidayat
lue aja yg masuk neraka sendiri Sono bang jangan ajak Adiba,biar Adiba cari sugar Daddy yg laen🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak sugar Daddy Menghilang 🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!