Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Road Trip Gen Z dan Jalur Pembilasan Pikiran
Hari Sabtu yang dinanti akhirnya tiba. Ketika sebagian besar karyawan ibu kota memanfaatkan akhir pekan untuk mendekam di bawah selimut atau nongkrong di kafe-kafe estetik Jakarta Selatan, Rian dan Bagas sudah bersiap di depan gerbang kostan sejak pukul lima subuh. Sebuah motor matic ber-cc besar milik Bagas sudah penuh sesak oleh muatan. Di bagian belakang, sebuah tas carrier berkapasitas enam puluh liter belubir dengan matras gulung hitam, tenda kapasitas dua orang, serta perlengkapan masak portabel yang diikat paksa menggunakan tali karet serbaguna.
"Gila ya, ini kita mau camping apa mau pindahan rumah, Gas? Berat amat bentukan motor lo," protes Rian sambil menaikkan ransel mininya ke atas bahu. Pagi itu, Rian sengaja menanggalkan segala atribut kantornya. Ia hanya mengenakan celana kargo longgar, kaus polos hitam, dan jaket parka andalannya.
Bagas yang sedang memanaskan mesin motor sambil mengunyah gorengan sisa semalam langsung menoleh jengkel. "Heh, Malih! Bersyukur dikit napa! Ini namanya camping mandiri ala Gen Z. Hemat, ringkas, dan yang penting estetik pas divideoin buat TikTok nanti. Udah, buruan naik, mumpung jalur tol dalam kota belum padat sama emak-emak mau ke pasar!"
Rian akhirnya pasrah dan melompat ke jok belakang. Begitu motor melesat membelah udara subuh Jakarta yang masih terasa dingin, Rian menarik napas dalam-dalam. Ada rasa lega yang perlahan merayap di dadanya. Selama beberapa hari ke depan, tidak akan ada dokumen anggaran vendor yang memusingkan, tidak ada ruangan berkaca transparan, dan yang paling penting... tidak ada aroma parfum elegan milik Bu Arini yang selalu sukses mengacaukan sistem kerja otaknya. Rian benar-benar ingin menghilang dari radar.
Perjalanan road trip antarprovinsi itu dimulai dengan penuh energi. Mengingat jarak dari Jakarta menuju Garut Selatan memakan waktu sekitar lima hingga enam jam perjalanan, Bagas sengaja memilih jalur melintasi Bandung kemudian memotong turun ke arah Cikajang, sebelum akhirnya menuju jalur lintas selatan Garut.
Sepanjang perjalanan menembus wilayah perbatasan, Bagas bertindak sebagai operator musik sejati. Melalui intercom helm yang saling terhubung, telinga Rian dipaksa mendengarkan playlist lagu-lagu galau indie favorit Bagas. Mulai dari lagu-lagu bertema patah hati, hingga musik akustik mendayu-dayu yang sengaja diputar untuk memancing emosi Rian.
"Gas, ganti lagunya napa! Ini lagu liriknya kenapa musti soal 'melepaskan yang tak bisa dimiliki' sih? Sengaja banget lo ya?!" protes Rian setengah berteriak melalui intercom, saat motor mereka mulai memasuki daerah dataran tinggi yang berkelok-kelok.
"Hahaha! Lah, kan pas banget sama tema perjalanan kita hari ini, Yan! Perjalanan membilas pikiran si staf yang cemburu sama sedan mewah!" tawa Bagas menggelegar di dalam helm, membuat Rian hanya bisa mendengkus kesal dan memilih melemparkan pandangannya ke luar jalanan.
Makin jauh motor bergerak meninggalkan hiruk-pikuk kota, pemandangan di sekitar mereka perlahan berubah drastis. Udara panas dan polusi Jakarta digantikan oleh semilir angin pegunungan yang menusuk tulang. Saat motor mereka mulai memasuki wilayah Cikajang, Garut, Rian mendadak terpaku. Di kanan dan kiri jalan, terhampar luas kebun teh hijau yang bergelombang layaknya permadani raksasa, diselimuti oleh kabut tipis sisa embun pagi. Perkebunan kubis yang subur dan deretan tanaman bunga vinca serta zinnia warna-warni di halaman rumah warga lokal seolah menyambut kedatangan mereka.
Rian menurunkan kaca helmnya, menghirup udara bersih itu dalam-dalam. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu terjebak dalam pusaran canggung di kantor, Rian merasakan sudut bibirnya otomatis terangkat membentuk sebuah senyuman tulus. Tempat ini benar-benar menenangkan. Pikiran kusutnya perlahan mulai terurai oleh dinginnya angin Garut.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Setelah melewati kawasan Cikajang, jalur perjalanan mereka mulai berubah menjadi ujian nyali yang sesungguhnya. Untuk menuju ke Garut Selatan arah Puncak Guha, mereka harus melewati jalur meliuk-liuk tajam dengan turunan dan tanjakan curam yang dikenal dengan jalur Trans Jabar Selatan.
"Pegangan yang kenceng, Yan! Ini jalurnya udah kayak simulasi wahana Dufan!" teriak Bagas saat motor mereka miring ke kanan dan ke kiri melewati tikungan tajam yang di satu sisinya adalah tebing batu padat dan di sisi lainnya adalah jurang sedalam puluhan meter.
"Gas! Jangan kencang-kencang, anjir! Ini muatan motor lo berat, kalau oleng kita bisa langsung meet and greet sama malaikat maut di bawah!" jerit Rian panik, kedua tangannya otomatis mencengkeram besi begel belakang motor dengan kekuatan penuh. Jantungnya berdegup kencang, kali ini murni karena adrenalin, bukan karena urusan asmara.
Setelah hampir dua jam memacu adrenalin di jalur ekstrem pegunungan, pemandangan di depan mereka mendadak berubah lapang. Aroma belerang dan tanah basah berganti dengan aroma asin khas air laut yang kuat. Garis pantai selatan Jawa yang biru pekat dan ombak besar yang bergulung-gulung mulai terlihat di cakrawala.
"Bentar lagi nyampe, Yan! Itu di depan ada plang Puncak Guha!" seru Bagas penuh semangat.
Motor mereka berbelok memasuki area kawasan wisata Puncak Guha. Begitu melewati pintu gerbang dan memarkirkan motor di dekat pembatas, Rian langsung turun dari motor dengan kaki yang sedikit lemas akibat perjalanan panjang. Namun, begitu ia melayangkan pandangannya ke depan, rasa lelah dan pegal di sekujur tubuhnya menguap begitu saja tanpa sisa.
Tempat itu benar-benar se-estetik yang ada di video TikTok, bahkan jauh lebih indah aslinya. Puncak Guha bukanlah pantai pasir putih biasa, melainkan sebuah tebing batu karang yang sangat tinggi dan menjorok langsung ke arah laut lepas Samudra Hindia. Di bawah tebing, terdengar suara deburan ombak raksasa yang menghantam dinding karang dengan suara menggelegar, menciptakan cipratan busa putih yang dramatis. Di atas tebing, terhampar padang rumput hijau yang luas dan bersih, berpadu sempurna dengan langit siang yang cerah tanpa awan.
"Gimana, Bro? Pilihan tempat dari gue gak pernah gagal, kan?" ujar Bagas bangga sambil berkacak pinggang di samping Rian, menikmati angin laut yang berembus kencang membuat rambut mereka berantakan. "Di sini gak bakal ada kurir bunga lili, gak ada mantan narsis, dan gak ada Bu Kepala Staf yang bikin lo senam jantung tiap hari. Cuma ada lo, gue, tenda, dan laut lepas."
Rian berjalan mendekati tepi tebing yang diberi pagar pengaman, membiarkan angin laut menerpa wajahnya dengan kuat. Ia memandangi hamparan laut biru yang tak bertepi di depannya. Di tempat sesunyi dan se-megah ini, segala permasalahan gengsi, salah paham di lobi kantor, dan rasa minder yang menggerogoti hatinya belakangan ini mendadak terasa begitu kecil dan tidak berarti.
"Iya, Gas. Tempat ini bener-bener pecah banget," sahut Rian pelan, sebuah senyuman lega mengembang sempurna di wajahnya. "Gue berasa baru dapet kehidupan kedua setelah mati suri di kubikel kantor."
"Nah, gitu dong! Jiwa Gen Z lo akhirnya bangkit dari kubur!" seru Bagas heboh. "Yuk, buruan kita diriin tenda sekarang sebelum sore, biar kita gak ketinggalan momen sunset paling estetik buat pamer di medsos!"
Rian tertawa kecil dan langsung membantu Bagas membongkar muatan motor. Siang itu, di atas tebing Puncak Guha yang indah, Rian bertekad untuk benar-benar mengunci rapat seluruh memorinya tentang kantor. Ia siap memulai proses penyembuhan hatinya, tanpa tahu bahwa di belahan kota lain, takdir sedang menyiapkan kejutan lain yang tidak akan pernah bisa ia tebak.