NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Berondong

Terjerat Pesona Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Obsesi / Enemy to Lovers
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

JANGAN DIBACA NANTI KETAGIHAN! 😝😘

Bagi Haura Widjaja, hidup adalah angka, target, dan ruko jastip yang harus berjalan sempurna. Di usianya yang ke-38, ia tidak butuh pria—apalagi bocah tengil yang hobi menebar pesona.
Namun, Marco Permana hadir membawa kekacauan. Mahasiswa DKV berusia 20 tahun itu bukan hanya sekadar asisten magang yang nekat; dia adalah bratt yang tahu persis bagaimana cara meruntuhkan benteng pertahanan Haura.
Satu adalah "Beauty" yang kaku dan perfeksionis.
Satu adalah "Brat" yang liar dan tak kenal takut.
Dua dunia yang seharusnya tidak pernah beririsan kini terjebak di tengah tumpukan kardus dan aroma lakban. Ketika si bocah tengil memutuskan untuk memburu hati sang Ratu Jastip, bisakah Haura tetap dingin, atau justru ia yang akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Kalimat itu lolos begitu saja dari belah bibir Haura sebelum akal sehatnya sempat menyaringnya. Keheningan malam di teras mansion mendadak terasa lebih pekat, hanya menyisakan deru napas keduanya yang saling berkejaran di udara dingin.

"Kamu sendiri... kalau nggak kuat, nangis aja, Marco," ucap Haura lirih, matanya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat gelap pemuda itu. Penyesalan sempat terbersit di wajahnya karena merasa terlalu lancang, namun rasa empati di dadanya jauh lebih besar. "Aku tahu... pasti berat banget disudutin sama orang yang seharusnya bisa jadi rumah buat kamu."

Marco tertegun. Gerakan tangannya yang semula sedang merapikan anak rambut di pelipis Haura seketika membeku. Kata-kata "nangis aja" dan "rumah" adalah dua hal yang sudah bertahun-tahun diharamkan di hidupnya. Di rumah Permana, dia dituntut jadi samsat caci maki tanpa boleh mengeluh. Tapi malam ini, di teras rumah musuh bebuyutan bapaknya, seorang wanita berusia tiga puluh delapan tahun justru menawarkan bahu untuk meruntuhkan pertahanannya.

Rahang Marco mengeras. Kilatan luka, amarah, dan rasa frustrasi yang terpendam bertahun-tahun mendadak bergolak, bermutasi menjadi sebuah letupan emosi lain yang jauh lebih pekat dan berbahaya.

"Lo... bener-bener nggak tahu cara main aman ya, Haura?" bisik Marco, suaranya mendadak berubah serak, berat, dan dalam.

Sebelum Haura sempat memproses perubahan atmosfer di antara mereka, tangan besar Marco yang semula berada di pelipisnya bergerak turun dengan kilat. Telapak tangannya yang hangat langsung mencengkeram rahang tegas Haura, mendongakkan wajah wanita itu dengan sedikit sentakan yang menuntut. Tangan satunya lagi dengan kasar merangsek ke pinggang Haura, menarik tubuh ramping itu hingga menempel tanpa celah pada dadanya yang bidang.

"Mar--co... mmph!"

Haura bahkan belum sempat menyelesaikan panggilannya ketika bibir Marco langsung menyambar bibirnya dengan brutal.

Itu bukan ciuman pertama yang lembut atau penuh keraguan. Marco melakukannya dengan sangat gragas, penuh tuntutan, dan emosi yang meluap-luap. Pemuda berusia dua puluh tahun itu melampiaskan seluruh rasa sesak, amarah pada bapaknya, dan rasa penasarannya yang gila pada Haura ke dalam pagutan tersebut.

Haura membelalak kaget, tangannya refleks memukul dada Marco untuk mendorongnya. Namun, tubuh Marco seperti dinding beton yang tak bergeming. Cengkeraman Marco di pinggangnya justru semakin mengencang, mengangkat tubuh Haura sedikit hingga wanita itu terpaksa bertumpu penuh pada tubuh kekar sang berandalan.

"Mmph... Mar..." Haura melenguh di sela ciuman, berusaha mencari celah oksigen. Tapi Marco tidak memberikan ampun. Pagutannya semakin dalam dan menuntut, bibirnya mengulum belah bibir marun Haura dengan rakus, menghisapnya bergantian dengan ritme yang memburu hingga menciptakan suara kecapan basah yang samar di antara desiran angin malam.

Lidah Marco dengan nekat menerobos masuk begitu Haura membuka mulutnya untuk memprotes. Sentuhan hangat dan dominan itu seketika mengirimkan sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh saraf di tubuh Haura. Lutut wanita itu mendadak lemas. Gengsi, perbedaan usia, dan ketakutannya pada aturan sang papa seolah menguap terbakar oleh gairah panas yang disulut oleh Marco.

Tanpa sadar, tangan Haura yang semula memukul dada Marco perlahan mencengkeram kerah kemeja putih pemuda itu, meremasnya erat untuk mencari pegangan agar tidak jatuh. Haura mulai terbuai, ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam dominasi gila si brat yang sedang mengacak-acak kewarasannya.

Merasakan balasan yang meskipun malu-malu namun pasrah dari Haura, geraman rendah lolos dari tenggorokan Marco. Ciumannya berubah sedikit lebih lembut namun tetap posesif. Ia mengigit kecil bibir bawah Haura, membuat wanita itu mendesah pelan di dalam pagutannya, sebelum kembali melumatnya dengan sisa-sisa rasa lapar yang tak terbendung. Marco memiringkan kepalanya, memperdalam hisapannya, seolah ingin menghabiskan seluruh napas yang dimiliki sang Ratu Jastip malam itu.

Oksigen di sekitar mereka terasa menipis. Dada mereka naik turun berkejaran dengan detak jantung yang berdentum bertalu-talu. Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya merajai bibir Haura, Marco perlahan menjauhkan wajahnya, memutus pagutan panas itu dengan berat hati. Saliva tipis sempat tertinggal di sudut bibir Haura yang kini tampak sedikit bengkak dan memerah, dengan lipstik marunnya yang sudah berantakan.

Napas Haura terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat saat udara malam kembali memenuhi parunya. Matanya yang sayu dan berkaca-kaca menatap Marco dengan pandangan kosong, masih setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Marco tidak langsung menjauh. Jidatnya ditempelkan pada jidat Haura yang hangat, membiarkan napas memburu mereka saling beradu di udara. Mata cokelat gelapnya yang kini meredup penuh gairah menatap lurus ke dalam manik mata Haura. Tangannya masih melingkar protektif di pinggang wanita itu, menolak untuk memberi jarak.

"Gue nggak butuh nangis, Haura," bisik Marco, suaranya sangat serak, bergetar di depan bibir Haura yang basah. "Gue cuma butuh lo. Cuma lo yang bisa bikin kepala gue yang mau pecah ini mendadak waras lagi."

Haura menelan ludahnya dengan susah payah, tangannya masih gemetar di atas dada Marco. Jantungnya berdegup begitu kencang, menolak untuk menepis tangan Marco yang masih mencengkeram pinggangnya. "Kamu... kamu bener-bener gila, Marco Permana. Ini di rumah Papa aku..."

"Gue nggak peduli," sahut Marco dengan senyum miringnya yang tipis, kembali mengecup sekilas bibir bawah Haura yang bengkak dengan gemas. "Mau di rumah bokap lo, di ruko, atau di ujung dunia sekalipun... lo udah masuk ke dalam permainan gue, Tante Sayang. Dan gue nggak punya niat buat ngelepasin lo."

***

Sentuhan dingin angin malam Jakarta yang kembali menerpa wajah Haura seolah menjadi alarm darurat yang berhasil menarik kesadarannya kembali ke bumi. Mata Haura beralih dari tatapan intens Marco menuju bayangan pantulan kaca jendela teras, di mana ia bisa melihat dengan jelas bentuk bibirnya yang sudah bengkak dengan sisa lipstik marun yang meleber ke mana-mana.

Kesadaran bahwa ia baru saja diseruduk dengan gragas oleh asisten magangnya sendiri di halaman rumah papanya membuat wajah Haura memerah sempurna—kali ini murni karena kombinasi antara rasa malu yang luar biasa dan jengkel yang memuncak.

"Marco!" bentak Haura, suaranya tertahan di tenggorokan agar tidak memicu perhatian orang di dalam rumah. Dengan sisa tenaga yang baru saja terkumpul, kedua jarinya bergerak cepat dan mencubit kulit pinggang Marco di balik kemeja putihnya dengan sekuat tenaga.

Cekit!

"Aw! Sshh... gila, Tan, sakit!" Marco mengaduh, tubuh jangkungnya refleks berkelit mundur satu langkah sambil memegangi pinggangnya yang terasa panas. Topeng predatornya runtuh dalam sekilas, digantikan oleh ringisan menahan perih. Cubitan wanita umur tiga puluh delapan tahun ternyata tidak main-main tenaganya.

"Nih, rasain tuh! Dasar bocah tengil, kurang ajar!" omel Haura, napasnya masih memburu, tangannya sibuk mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, berusaha menghapus sisa lipstik yang berantakan, yang justru malah membuat noda merah itu makin melebar di sekitar pipinya. "Gara-gara kamu... gara-gara kelakuan kamu yang kayak orang kesurupan ini, lipstik aku jadi berantakan tahu nggak! Gimana cara aku masuk ke dalam rumah, hah?!"

Marco yang awalnya meringis kini malah menahan senyum. Ia menegakkan tubuhnya kembali, menatap wajah Haura yang sedang panik dengan sisa noda marun di bibirnya. Kesan Boss Lady yang angkuh benar-benar hilang, menyisakan seorang wanita yang sedang mengomel dengan menggemaskan.

"Tinggal dihapus semua apa susahnya sih, Tan? Lagian, salah lo sendiri memancing harimau kelaparan," sahut Marco santai, kembali memasang nada tengil andalannya seolah ciuman panas yang menuntut beberapa menit lalu itu hanyalah angin lalu.

"Kamu bilang apa?! Memancing—"

"Wihhh... gila, gila. Tontonan mahal malam-malam, gratis pula tanpa sensor."

Sebuah suara cengengesan yang sangat familier tiba-tiba memotong perdebatan mereka dari arah balik pilar beton besar di sudut teras. Haura dan Marco serempak menoleh cepat.

Dari balik kegelapan bayangan pilar, sosok Arlo melangkah keluar dengan cengiran selebar seisi ruko. Keponakan kurang ajar Haura itu rupanya sudah berdiri di sana entah sejak kapan, dengan sepasang mata yang berbinar-binar penuh kemenangan karena berhasil menangkap basah skandal terbesar tahun ini di keluarga Widjaja.

"Arlo?!" Haura memekik tertahan, matanya membelalak horor. Jantungnya yang baru saja mau berdegup normal kini rasanya melompat keluar dari tempatnya.

Arlo berjalan mendekat dengan gaya sok asyik, bergantian menatap tantenya yang berantakan dan Marco yang kancing kemejanya sudah terbuka dua. "Gimana, Tan, rasanya? Mantap nggak?" tanya Arlo tanpa punya rasa takut sedikit pun, menaik-turunkan alisnya ke arah Haura.

"Rasa apa?! Kamu ngomong apa, Arlo?! Nggak usah ngaco ya!" seru Haura panik, melangkah maju untuk menutupi tubuhnya dari pandangan menyelidik keponakannya.

"Halah, udahlah nggak usah pura-pura amnesia gitu, Tante Sayang," ledek Arlo, dengan sengaja menekankan panggilan 'Tante Sayang' untuk meniru Marco. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada, menyatukan kedua jempolnya lalu menggerak-gerakkannya maju mundur membentuk gestur orang yang sedang berciuman dengan heboh. "Tadi udah begini kan kalian berdua? Sedot-sedotan sampai mau habis itu oksigen teras? Hayo ngaku!! Gue lihat dari pas si Marco narik pinggang Tante sampai nempel kayak perangko jastip!"

"Arlo!! Mulut kamu bener-bener ya!!"

Haura sudah mencapai batas kesabarannya. Mengabaikan rasa lemas di kakinya, ia merangsek maju secepat kilat. Sebelum Arlo sempat melompat mundur untuk kabur, tangan kanan Haura yang bergerak taktis langsung mengunci kepala Arlo dari belakang, menariknya turun, dan memiting mulut keponakannya itu di bawah ketiaknya dengan gerakan pitingan maut yang sangat presisi.

"Aduhh! Tan! Amfpun! Mmph--lepaf!!" Arlo megap-megap, suaranya teredam karena mulutnya dijepit habis-habisan oleh lengan kekar tantenya yang biasa mengangkat beban kardus logistik.

"Kamu diam nggak?! Berani kamu bocorin ini ke Papa atau ke Mama kamu, Tante pastiin semua aset jastip kamu, komisi kamu bulan ini, sama kunci motor kamu Tante sita seumur hidup! Dengar nggak?!" ancam Haura berapi-api, mempererat pitingannya pada leher Arlo hingga remaja itu menepuk-nepuk lengan Haura tanda menyerah kalah.

"Iyahh! Nggakh bokhong! Amfpun, Tan! Leher gue mau fatah!" rintih Arlo tersiksa.

Marco yang berdiri di belakang mereka hanya bisa menyilangkan dada sambil meledakkan tawa renyahnya. Suara tawanya yang berat terdengar begitu lepas, memenuhi keheningan malam halaman mansion. Melihat bagaimana seorang wanita sosialita berumur tiga puluh delapan tahun sedang bergulat memiting keponakannya sendiri dengan lipstik belepotan adalah pemandangan paling absurd sekaligus paling menghibur yang pernah Marco lihat seumur hidupnya.

"Bantuin gue, Co! Gila, Tante gue titisan preman pasar!" seru Arlo dari sela pitingan.

"Ogah. Salah lo sendiri pakai acara ngintip," sahut Marco tanpa niat membantu sedikit pun. Ia melangkah mendekati Haura yang napasnya kembali terengah-engah karena kelelahan memiting Arlo.

Marco memegang pundak Haura lembut, membuat gerakan wanita itu terhenti. "Udah, Tan, lepasin. Nanti anak orang mati lemas, lo yang repot berurusan sama polisi," bisik Marco tepat di dekat telinga Haura.

Haura akhirnya menghempaskan tubuh Arlo dengan jengkel. Arlo langsung terbatuk-batuk, memegangi lehernya sambil mundur menjauh, menatap tantenya dengan pandangan ngeri. "Tante beneran kejam ya. Pantesan om-om pada takut deketin Tante."

"Arlo! Sekali lagi kamu ngomong, Tante piting lagi ya!" gertak Haura sambil mengangkat tangannya, membuat Arlo langsung lari bersembunyi di balik punggung Marco.

"Co, amanin Tante lo, Co. Berondongnya harus tanggung jawab nih, jinakin macan ruko lo!" bisik Arlo memegang pinggang jaket Marco.

Haura menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai diri. Ia merapikan blusnya yang kembali berantakan akibat ulah Arlo, lalu menatap tajam ke arah kedua anak muda di depannya. "Kalian berdua... masuk lewat pintu samping sekarang. Dan kamu, Marco..." Haura menunjuk wajah Marco dengan jari telunjuknya yang bergetar, "...hapus senyum menyebalkan kamu itu. Bersihkan diri kamu sebelum Papa kamu lihat."

Tanpa menunggu jawaban, Haura berbalik dengan cepat, melangkah lebar-lebar menuju pintu samping mansion yang biasa digunakan oleh para pelayan, berusaha menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus dan bibirnya yang berantakan dari jangkauan lampu ruang utama. Sementara di belakangnya, Marco dan Arlo saling lirik; yang satu tersenyum penuh kemenangan, dan yang satu lagi meringis sambil mengusap lehernya yang memerah. Permainan malam ini mungkin selesai, tapi rahasia di antara mereka berdua kini resmi memiliki seorang saksi mata yang paling merepotkan.

***

Astaghfirullah dedek gragas banget 😭😭😝🤏

1
apiii
yg sabar ya mar🥹
apiii
ditunggu bucinya tante haura🤣
apiii
manis bngt sihh berondongnya mau satu kaya marco bolehhh🤣
apiii
jangan pindah lapak🥲 thor soalnya cuma cerita dari novel author yg paling aku tunggu🥹
Penulis GenZ: nggak pindah lapak kak cuma aku nulis juga cerita disana hehe. yang disini tetep aku tamatin kok tenang aja ya😍
total 1 replies
apiii
kenapa sih itu mbah" ga bisa berkaca dari kejadian si cegill
Penulis GenZ: mbah² bgt nih kak🤣
total 1 replies
apiii
akhirnya up lagi❤️
apiii
semangat cogill🤣
apiii
emng bener berondong lebih menarik buktinya si haura sampai nggak berkutik🤣
apiii
sangat bagus alur ceritanya tidak membosankan dan membuat pembaca jadi penasaran
Indra P.
lannjutttt thorrr...
semangattt
apiii
semangat ya thor aku suka bangt semua novel yg author tulis
Penulis GenZ: jadi terharu mau nangis 🥺
total 1 replies
apiii
ngga kak asik bngt loh alur ceritanya aja bagus dan ya emg sekarang lagi musim kakak" pacaran sama berondong🤣
apiii
emng berondong itu bikin mabok kepayang🤣
apiii
berondong kesayangan🥲
apiii
mulai terpikat pesona berondong🤣
apiii
kayanya lucu klo mereka tbtb nikah🤭
apiii
jodohin haura sama si berondong tengil itu🤣
apiii
semangat up nya thor❤️
apiii
thor kenapa haura ketemu tua bangt🥲
Penulis GenZ: apanya yang tua🤣🤣
total 1 replies
English Lesson
menarik💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!