Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Ancaman Paulus
Dikursi kemudi, wajah Bianca tampak panik. Tangannya yang mencengkeram setir mulai gemetar.
Ucapan Reno di telepon tadi masih terngiang-ngiang di kepalanya hingga sekarang.
"Jangan lupa kamu masih punya utang budi padaku... Transferlah 20 juta ke rekeningku untuk minggu ini. Kalau tidak, aku main-main ke kantor Theo ah..."
"Sialan kamu, Reno! Benar-benar parasit!" bisik Bianca.
Dua puluh juta bagi Bianca yang sekarang menyandang status sebagai calon istri dari Falcon Corp, angka itu harusnya kecil. Namun, kenyataannya berbanding terbalik.
Sejak perusahaan Theo mulai goyah, Theo menjadi sangat perhitungan soal uang. Jangankan meminta puluhan juta untuk keperluan pribadi, meminta uang belanja bulanan saja Bianca harus menerima banyak pertanyaan dari Theo.
Begitu mobil berhenti di rumah mewah Theo, Bianca segera mengubah ekspresi wajahnya. Dia menarik napas dalam-dalam, menghapus sisa kepanikan di matanya, dan menggantinya dengan raut wajah yang tampak begitu murung, sedih, dan penuh beban.
Ratna langsung masuk ke rumah dan duduk santai di sofa sambil mengagumi beberapa tas dan baju baru yang tadi mereka beli di mall. Begitu melihat Bianca berjalan masuk dengan kepala tertunduk, senyum di wajah Ratna langsung memudar.
"Bianca? Kamu kenapa, Sayang? Kok wajahmu murung begitu? Belanjaan kita tadi ada yang tertinggal?" tanya Ratna heran.
Bianca sengaja menjatuhkan tas kecilnya ke lantai, lalu duduk di samping Ratna. Kedua matanya mulai berkaca-kaca, sebuah akting air mata buaya yang sudah sangat sering dia latih di depan cermin.
"Tante... aku bingung harus cerita dari mana. Aku kasihan sekali melihat Theo," bisik Bianca dengan suara sedih yang sengaja digetarkan.
Jantung Ratna langsung berdegup kencang. "Theo? Kenapa dengan anak Tante? Dia sakit?"
"Bukan sakit fisik, Tante. Tapi pikiran," Bianca memegang tangan Ratna dengan erat, meyakinkan wanita paruh baya itu.
"Tadi saat Tante ke kamar mandi di mall, Theo sempat menelepon ku. Dia bilang, malam ini ada klien besar dari luar kota yang harus dijamu demi menyelamatkan proyek Falcon Corp. Tapi... Theo tidak punya dana tunai darurat sebesar 20 juta karena semua rekening perusahaan sedang diaudit untuk keperluan bisnis."
Ratna langsung panik. "Astaga... Kenapa dia tidak bilang langsung pada Tante?"
"Theo itu laki-laki yang punya gengsi tinggi, Tante. Dia tidak mau membuat ibunya khawatir. Dia bahkan melarangku untuk cerita pada Tante. Tapi aku tidak tega, Tante! Kalau malam ini klien itu batal ditemui hanya karena Theo kekurangan dana jamuan, posisi Falcon Corp bisa bahaya," ujar Bianca, semakin memperburuk suasana agar Ratna panik.
Sesuai dugaan Bianca, Ratna yang sangat memanjakan putra tunggalnya itu langsung termakan umpan. Tanpa berpikir panjang, Ratna berdiri dari sofa dengan tergesa-gesa.
"Tunggu di sini, Bianca. Tante punya uang simpanan dan beberapa perhiasan emas yang baru Tante beli bulan lalu. Kamu bawa ini, cepat uangkan atau transfer ke rekening Theo sekarang juga. Yang penting urusan Theo beres!" ujar Ratna panik seraya berlari menuju kamarnya.
Melihat punggung Ratna yang menjauh, senyum kelicikan langsung terukir di wajah Bianca.
"Bodoh sekali. Begitu mudahnya membohongi wanita tua ini," batin Bianca puas.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, uang tunai dan perhiasan sudah berpindah ke tangan Bianca. Tanpa menunda waktu, Bianca langsung mentransfer uang sebesar 20 juta itu ke rekening Reno demi membungkam mulut pria itu untuk sementara waktu.
Bianca menghela napas lega, merasa dirinya telah aman. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa kebohongannya ini adalah sebuah bom waktu yang siap menghancurkan dirinya sendiri di kemudian hari.
...****************...
Sementara itu, di gedung Bank Nasional berbanding terbalik dengan ketenangan yang dirasakan Bianca.
Theo Falcon berdiri di depan meja kepala cabang bank dengan panik.
"Mohon pertimbangannya sekali lagi, Pak. Falcon Corp sudah menjadi nasabah setia Bank Nasional selama bertahun-tahun. Kami hanya meminta perpanjangan tenor cicilan selama dua bulan saja untuk modal 10 miliar tersebut. Begitu investor baru masuk, kami akan melunasinya sekaligus!" mohon Theo, menurunkan seluruh harga dirinya yang setinggi langit di depan pihak bank.
Kepala cabang yang mengenakan kacamata itu, hanya menatap Theo dengan pandangan dingin tanpa simpati. Dia menutup dokumen profil kredit Falcon Corp dengan suara ketukan yang berat.
"Maaf sekali, Tuan Theo. Kami tidak bisa memberikan toleransi lagi. Berdasarkan sistem pusat kami, rating kredit Falcon Corp dalam seminggu terakhir telah merosot tajam ke zona merah akibat kehilangan investor Singapura secara mendadak. Aturan bank sangat ketat," ujar nya tegas.
"Tapi tidak mungkin rating kami anjlok secepat itu kalau tidak ada manipulasi! Pasti ada kekeliruan!" bantah Theo, emosinya mulai menyulut.
Pria itu menghela napas, lalu sedikit condong ke depan, berbisik dengan nada serius.
"Tuan Theo, saya akan memberi Anda satu informasi bocoran. Sebenarnya, ada instruksi tidak tertulis dari salah satu investor besar baru kami, yaitu Aricia International. Mereka adalah pemegang saham terbesar di bank ini sekarang. Pihak Aricia secara spesifik meminta kami untuk memperketat dan tidak memberikan kelonggaran sepeser pun pada setiap lini kredit yang diajukan oleh Falcon Corp. Jadi, tangan saya terikat."
Mendengar nama itu, jantung Theo bagai dihantam. "Aricia International? Perusahaan konglomerat itu? Kenapa mereka mengincar perusahaan saya?! Saya bahkan tidak pernah punya urusan bisnis atau masalah dengan mereka!"
"Itu saya tidak tahu, Tuan Theo. Mungkin Anda tanpa sadar telah menyinggung orang yang salah di atas sana. Saran saya, dalam waktu dua minggu, segera cari uang 10 miliar itu, atau aset Falcon Corp akan kami sita secara hukum," ujar beliau, mengakhiri pertemuan secara sepihak.
Theo keluar dari ruangan itu dengan mirung. Kepalanya berdenyut pusing, rasanya seperti mau pecah.
"Aricia International... Siapa sebenarnya pemilik perusahaan itu? Kenapa mereka seperti ingin membunuh Falcon Corp perlahan-lahan?" batin Theo frustrasi.
Dia benar-benar tidak pernah menduga bahwa sosok Aricia yang sangat ditakutinya itu adalah mantan istri yang selalu dia hina sebagai wanita miskin tak berguna.
...****************...
Begitu pintu ruang kerjanya terbuka,
Ayahnya, Paulus Falcon, sudah duduk di kursi
Theo dengan wajah yang penuh amarah.
"Dari mana saja kamu, Theo?!" gertak Paulus, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga membuat beberapa kertas di meja bergetar.
"A-Ayah... Kenapa Ayah datang tiba-tiba?" tanya Theo, berusaha menyembunyikan kegugupannya sembari memijat pelipisnya.
"Kalau aku tidak datang, kamu mungkin akan terus menyembunyikan kebusukan ini dariku! Mana laporan keuangan bulanan yang harus dikirim ke rekeningku?! Kenapa saham Falcon Corp anjlok sampai belasan persen dalam waktu singkat?! Apa yang kamu lakukan sebagai CEO, Theo?!" Paulus memukul meja dengan keras.
Theo tersentak. "Itu... itu hanya ketidakstabilan pasar biasa, Ayah. Ada sedikit kendala dengan investor Singapura, tapi aku sedang mengurusnya—"
Belum sempat Theo menyelesaikan kalimatnya untuk menenangkan sang ayah, pintu ruangan tiba-tiba diketuk dari luar dengan tergesa-gesa.
Siska masuk dengan napas sedikit terengah-engah dan wajah panik, membawa sebuah amplop cokelat tebal di tangannya.
"M-Maaf, Tuan Theo... Ini berkas rincian aset yang tadi Anda minta saya ambil dari ruang pribadi Anda untuk laporan keuangan," ujar Siska dengan suara bergetar ketakutan karena melihat aura Paulus yang sedang murka.
Karena terburu-buru dan panik dikejar waktu oleh Theo, Siska tidak memeriksa lagi isi di dalamnya. Dia hanya asal mengambil amplop cokelat tersebut karena warna dan ukurannya persis sama dengan dokumen internal kantor yang diperintahkan Theo.
Mata Theo melotot saat melihat ujung kertas yang terlihat dari amplop cokelat tersebut.
... Jantungnya serasa berhenti berdetak saat membaca sekilas tulisan berhuruf kapital di sana...
... AKTA PERCERAIAN...
Itu bukan berkas keuangan kantor! Itu adalah dokumen perceraiannya dengan Zarlin yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari sang ayah!
Dengan gerakan refleks yang sangat cepat bak kesetanan, Theo langsung merampas amplop tersebut dari tangan Siska sebelum tangan Paulus sempat meraihnya.
Dia langsung menyembunyikan amplop itu di balik punggungnya dengan wajah yang sangat panik.
"Surat apa itu, Theo?! Kenapa kamu tampak panik begitu? Sini, biar Ayah yang periksa sendiri laporan asetnya!" gertak Paulus dengan mata menyipit penuh kecurigaan, tangannya sudah terulur menuntut dokumen tersebut.
"B-Bukan apa-apa, Ayah! Ini... ini salah berkas! Siska salah ambil! Ini dokumen lama yang sudah tidak terpakai dan banyak data yang salah. Siska, keluar sekarang dan cari berkas yang benar di lemari depan, bukan yang di ruang pribadi saya!" bohong Theo setengah mati, suaranya tetap gemetar.
Matanya melotot tajam ke arah Siska, memberi kode keras yang seolah-olah ingin membunuh sekretarisnya itu hidup-hidup jika berani bicara lagi.
Siska yang baru sadar kalau dirinya salah mengambil amplop pribadi bosnya langsung membungkuk panik dengan tubuh gemetaran.
"M-Maaf, Tuan Besar! Maaf, Tuan Theo! Saya benar-benar teledor dan terburu-buru tadi. Saya permisi ganti berkasnya sekarang!" ujar Siska yang langsung buru-buru keluar dari ruangan.
Paulus berdiri dari kursinya, menatap putranya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang sangat kecewa, tajam, dan penuh curiga. Dia berjalan mendekati Theo, lalu menepuk pundak Theo dengan tekanan yang sangat berat.
"Aku tidak peduli rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan di dalam amplop itu, Theo. Tapi ingat kata-kataku ini baik-baik. Aku memberikanmu waktu tiga hari. Hanya tiga hari! Bereskan masalah penurunan saham ini dan kembalikan kondisi keuangan Falcon Corp seperti semula. Jika dalam tiga hari kamu gagal dan laporan keuangan yang masuk ke rekeningku masih kacau... aku sendiri yang akan turun tangan memeriksa semua sudut kantor ini, mengusirmu dari kursi CEO, dan mencoret namamu dari daftar ahli waris Falcon! Paham?!" ancam Paulus tanpa belas kasihan.
Setelah meluapkan amarahnya yang menggelegar, Paulus berjalan keluar dari ruangan dan membanting pintu dengan keras.
Brak!
Suasana ruangan kembali hening, namun keheningan itu justru terasa mencekik bagi Theo.
Theo jatuh terduduk di kursi kerjanya dengan lemas, dia melempar amplop cokelat berisi akta perceraian itu ke atas meja dengan tangan yang gemetar
Ia kepanikan karena hampir ketahuan ayahnya tadi membuat dadanya terasa begitu sesak.
Dia benar-benar merasa berada di ujung tanduk. Perusahaannya sekarat di ambang kebangkrutan karena ulah perusahaan misterius bernama Aricia International, ayahnya mengancam akan mengusirnya dalam tiga hari, dan dokumen perceraiannya dengan Zarlin hampir saja menghancurkan hidupnya hari ini.
Theo meremas rambutnya frustrasi, tidak pernah menduga bahwa keputusan menceraikan Zarlin akan menjadi awal dari penyesalannya sendiri.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!