NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:24.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 : Perang Sistem Di Adiwinata Corporation

Sudah lewat tengah malam ketika sebagian besar lantai utama Adiwinata Corporation masih menyala.

Lampu-lampu putih memantulkan bayangan panjang di lantai marmer. Suasana gedung itu tetap tenang dari luar.

Namun di dalam semuanya sedang bergerak.

Begitu cepat dan diam-diam. Juga penuh tekanan.

“Masih belum ditemukan?”

Suara Ravian terdengar rendah. Tatapannya tertuju pada layar besar di hadapannya. Barisan data terus bergerak. Log akses dan aktivitas sistem.

Perpindahan jaringan internal.

“Jejaknya terputus di beberapa titik.”

Seorang staf IT menjawab dengan nada hati-hati.

“Orang ini tahu cara menutupi jalur.”

Mendadak hening.

Ravian menyandarkan tubuhnya perlahan. Rahangnya nampak mengeras tipis.

“Orang luar tidak mungkin sebersih ini.”

Gumamnya pelan. Kalimat itu membuat suasana berubah.

Karena semua orang yang berada di ruangan itu memahami satu hal kalau akses internal mulai dimainkan, maka masalahnya bukan lagi sekadar serangan. Namun sebagai suatu pengkhianatan.

Pintu ruangan mulai terbuka. Alessandro Vorneti masuk tanpa suara berlebihan. Tetap terlihat tenang dan santai.

Seolah tekanan di ruangan itu tidak benar-benar menyentuhnya.

“Update.”

Nada suaranya datar. Ravian menoleh.

“Jejak akses diputus sebelum kami menemukannya.”

Alessandro berjalan mendekat ke layar.

Tatapannya bergerak cepat membaca data.

“Tidak.”

Satu kata itu membuat beberapa orang saling berpandangan.

“Kondisi seperti ini bukan diputus,” lanjut Alessandro pelan.

“Namun ditinggalkan.”

Hening sekali suasana.

Ravian mengernyit tipis.

“Apa bedanya, Tuan?"

Alessandro menoleh sedikit.

“Kalau akses diputus, berarti dia panik.”

Tatapannya kembali ke layar.

“Kalau ditinggalkan…”

Ia berhenti sejenak. Sambil menghela napas berat.

“…berarti dia sudah selesai.”

Suasana mendadak terasa lebih dingin.

Ravian memperhatikan pria itu beberapa detik.

Semakin lama ia mulai menyadari sesuatu.

Cara Alessandro melihat masalah sangat berbeda.

Bukan seperti eksekutif. Bukan juga seperti pebisnis biasa. Lebih seperti seseorang yang terbiasa membaca pergerakan lawan.

“Jadi menurut anda ini sengaja?” tanya Ravian.

“Semuanya sengaja.”

Jawaban itu datang tanpa ragu.

Alessandro menunjuk salah satu titik di layar.

“Lihat ini.”

Ravian mendekat. Berdiri di sebelah Alessandro.

“Akses masuk nampak terlalu rapi.”

Tatapan Alessandro menyipit tipis.

“Dia tidak masuk untuk merusak sistem.”

“Lalu?”

“Untuk melihat seberapa jauh dia bisa masuk.”

Suasana jadi hening.

Dan untuk pertama kalinya Ravian merasakan sesuatu yang tidak nyaman.

Karena kalau itu benar,  maka lawan mereka tidak sedang mencoba menghancurkan. Namun mereka tengah mempelajari sistem.

“Berarti dia akan kembali.”

Alessandro mengangguk pelan.

“Dan kali berikutnya akan lebih dalam lagi dia masuk ke sistem.”

Ruangan kembali sunyi. Semua orang terdiam membisu. Tidak ada yang menyadari bahwa kalimat itu bukan tebakan. Namun adalah sebuah kepastian.

Di tempat lain Bismantaka berdiri di depan jendela kantornya. Dia memandang kota Jakarta malam itu. Gelap malam membentang di bawah sana.

Ponsel di tangannya menyala. Satu pesan baru masuk. Pesan singkat. Tanpa nama tertulis.  Jalur internal berhasil dibuka. Senyum tipis pun muncul di wajahnya.

“Bagus.”

Namun beberapa detik kemudian pesan berikutnya masuk. Tapi akses berhenti sendiri.

Senyumnya perlahan memudar.

“Berhenti?”

"Kenapa bisa jadi begini?"

Gumamnya pelan. Ia tidak menyukai kata itu. Karena dalam permainan seperti ini tidak ada yang berhenti tanpa alasan. Tatapannya berubah lebih tajam.

“Dia sadar?”

Tidak ada jawaban. Pertanyaan Bismantaka mengambang di udara.

Namun instingnya mulai bergerak. Ada sesuatu yang salah dengan perasaannya. Dan ia sangat membenci perasaan itu.

Kembali ke gedung Adiwinata orang-orang mulai meninggalkan ruang utama. Satu per satu mereka melangkah pergi keluar ruangan.

Namun Ravian tetap berdiri di sana.

Sementara Alessandro duduk santai di kursi dekat jendela. Bersikap tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Aku masih tidak mengerti satu hal.”

Ravian akhirnya bicara. Alessandro mengangkat pandangan. Menatap ke arah Ravian.

“Kalau kau sudah menduga ini…”

Ravian berhenti sejenak.

“…kenapa tidak langsung ditutup?"

Hening sesaat. Tatapan Alessandro tertahan beberapa detik.

Lalu senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

“Karena aku ingin melihat siapa yang cukup berani masuk.”

Ia menyandarkan tubuhnya santai. Ravian terdiam karena pengaruh suasana. Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami.

Sebagian retakan itu memang dibiarkan. Bukan karena gagal menghentikan. Namun karena sengaja dibuka sedikit. Sebagai umpan.

“Anda sedang bermain berbahaya.”

“Tidak.”

Jawaban Alessandro tenang.

“Aku hanya membiarkan mereka merasa aman.”

Kalimat itu jatuh pelan. Namun cukup membuat suasana berubah. Ravian menghela napas perlahan.

“Sekarang aku mulai mengerti kenapa Tuan Kaelric mempercayai anda.”

Alessandro tidak menjawab. Namun tatapannya berubah tipis. Nama itu selalu membawa sesuatu yang berbeda.

Ponsel Ravian tiba-tiba bergetar. Satu panggilan masuk. Matanya langsung berubah saat melihat nama di layar.

Kaelric Vorn. Ravian menjawab cepat.

“Ya, Bos. ”

Tidak ada suara keras dari seberang sana. Justru terlalu tenang. Namun itulah yang membuatnya terasa berat baginya.

“Jangan tutup jalurnya.”

Ravian langsung mengernyit.

“Maksud Bos bagaimana?”

“Biarkan dia masuk lagi.”

Suara Kaelric tetap datar.

“Karena orang yang terlalu percaya diri selalu lupa melihat pintu keluar.”

Hening sejenak. Sambungan sudah terputus kini. Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Ravian perlahan menurunkan ponselnya. Tatapannya beralih pada Alessandro.

Dan pria itupun hanya tersenyum tipis.

Seolah sudah mengetahui isi percakapan itu bahkan sebelum telepon diangkat.

“Jadi Bos, dan anda Tuan Alessandro... "

Ravian bergumam pelan.

“Kalian memang membiarkan ini terjadi.”

Alessandro berdiri perlahan lalu berjalan menuju sisi meja tempat Ravian berada.

“Tidak semuanya.”

Lalu dia merapikan jasnya.

“Hanya bagian yang kami perlukan.”

Kalimat itu membuat Ravian diam. Karena saat itu juga ia sadar akan satu hal. Sejak awal juga  permainan ini  sudah tidak berjalan liar. Seseorang sudah mengarahkannya sejak awal.

Dan sekarang, Bismantaka mulai berjalan terlalu jauh ke dalam labirin yang bahkan tidak ia sadari.

Di sisi lain kota Bismantaka kembali menerima sebuah pesan baru. Jalur kedua sudah siap untuk digunakan. Senyum tipis pun kembali muncul di sudut bibirnya.

Kali ini lebih tajam dari semula.

“Bagus.”

Baginya tekanan itu mulai bekerja. Namun yang tidak ia sadari setiap langkah yang ia ambil sekarang bukan lagi mendekatkannya pada kemenangan.

Melainkan membawanya semakin dalam ke tempat yang sudah disiapkan untuknya.

****

Pukul  sepuluh pagi Vorn Aegis Consortium, Kaelric duduk di kursi kerjanya. Hari itu dia sedang mengerjakan mega proyek dengan perusahaan asal Singapura yaitu Valcrest International Holdings.

Valcrest International Holdings adalah perusahaan investasi berbasis di Singapura yang dikenal sangat selektif dalam kerja sama bisnis.

Mereka jarang muncul di media, namun memiliki pengaruh besar pada jalur logistik, teknologi finansial, dan distribusi regional Asia Tenggara.

Mega proyek tersebut diberi nama Aether Corridor Project.  Ini bukan proyek pembangunan biasa.

Ini tentang siapa yang akan mengendalikan jalur perdagangan berikutnya.Mereka akan membangun sebuah kawasan pelabuhan modern  dengan pusat distribusi dan financial corridor.

Mega proyek yang mereka lakukan akan terpusat di kota Surabaya.

Valcrest dan Kaelric memang telah mengenal satu sama lain. Bahkan sudah sejak lama. Valcrest sendiri pernah berhutang jasa bahkan financial pada Kaelric.

Hingga perusahaannya kini bisa berkembang pesat.

1
rasdi fajar
baik
rasdi fajar
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!