NovelToon NovelToon
In Umbra Penitentiae

In Umbra Penitentiae

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi
Popularitas:810
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Kehadiran seorang anak kecil berusia tujuh tahun seharusnya membawa kebahagiaan. Namun tidak bagi keluarga itu. Kedatangannya sebagai anak yang tak pernah diharapkan perlahan menghancurkan keharmonisan yang selama ini terlihat sempurna. Sejak kecil ia tumbuh di tengah tatapan benci, kasih sayang yang setengah hati, dan kehidupan yang seolah tak pernah berpihak padanya.

Semakin dewasa, ia mencoba mencari tempat untuk pulang—melalui mimpi, cita-cita, dan cinta yang diyakininya mampu memperbaiki semuanya. Tetapi hidup kembali mempermainkannya. Harapan yang ia bangun perlahan runtuh, meninggalkan penyesalan, luka, dan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan untuk mendapatkan akhir bahagia.

Di balik semua itu, ia hanya ingin satu hal sederhana: diterima sebagai manusia, bukan kesalahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Kenyataan yang Terlalu Menyakitkan

Malam di Seoul terasa dingin.

Namun suasana di dalam suite hotel tempat Damar menginap jauh lebih dingin daripada udara di luar sana.

Brak!

Sebuah pukulan keras mendarat tepat di wajah Raka sampai pria itu terdorong ke belakang.

“OM GILA YA?!”

Suara Damar menggema di ruangan saat melihat ayahnya baru saja meninju Raka tanpa ampun.

Damir berdiri dengan napas memburu dan mata merah penuh emosi.

“Kamu nyembunyiin anak saya lima belas tahun, Rak!” bentaknya penuh amarah.

Raka mengusap sudut bibirnya yang berdarah pelan namun tidak melawan sedikit pun.

“Tuan…”

“JANGAN PANGGIL SAYA TUAN!”

Damir kembali menarik kerah baju Raka kasar.

“Saya percaya sama kamu!”

“Dan kamu malah sembunyiin Ela dari saya?!”

Suasana ruangan benar-benar tegang.

Damar langsung menarik tubuh ayahnya menjauh sebelum pria itu kembali memukul Raka.

“Yah cukup!”

Namun Damir terlihat jauh dari kata tenang.

Matanya bahkan mulai berkaca-kaca karena emosi yang terlalu besar.

“Anak saya hidup…”

“Dan saya baru tau sekarang…”

Suara pria itu mulai melemah di akhir kalimat.

Raka menundukkan kepala dalam sebelum akhirnya berkata pelan,

“Itu permintaan Nona Ela sendiri.”

Damir langsung membeku.

Raka mengangkat kepalanya perlahan.

“Nona nggak mau kembali.”

“Karena dia takut.”

Dan satu kalimat itu langsung menghantam Damir lebih keras daripada apa pun.

Takut.

Anaknya takut pada keluarganya sendiri.

Sementara itu di sisi lain hotel, Lavanya tengah duduk bersama Mita di kamar berbeda.

Wanita itu masih menggenggam beberapa foto Ana dengan tangan gemetar.

Matanya bengkak karena menangis sejak tadi.

“Mita…” suara Lavanya pecah. “Ela selama ini hidup kayak gimana?”

Mita terdiam beberapa saat sebelum akhirnya duduk di samping sahabatnya itu.

“Berat.”

Satu kata itu saja sudah cukup membuat dada Lavanya sesak.

Mita mulai menceritakan semuanya perlahan.

Tentang Ela yang mengalami panic attack setelah kebakaran.

Tentang luka bakar yang membuat gadis itu tidak berani bercermin selama berbulan-bulan.

Tentang kehamilan yang dijalani sendirian di usia muda.

Dan tentang bagaimana Ela menangis setiap malam karena takut anaknya nanti membencinya.

Lavanya langsung menutup mulutnya sendiri sambil menangis.

“Ya Tuhan…”

“Mita…”

“Saya jahat banget ya…”

Mita hanya diam sambil mengusap punggung wanita itu pelan.

“Ela nggak pernah benci kamu,” ucap Mita lirih.

“Itu yang paling bikin saya sakit,” jawab Lavanya sambil menangis semakin keras.

Karena bahkan setelah semua yang terjadi… Ela masih tetap menyelamatkan nyawanya malam itu.

Malam harinya, Damir dan Lavanya akhirnya memutuskan pergi diam-diam melihat Ana.

Hanya melihat.

Mereka belum punya keberanian untuk muncul di depan anak itu.

Mobil hitam mereka berhenti tidak jauh dari café Ana.

Dari dalam mobil, Damir langsung membeku saat melihat wanita yang selama ini ia pikir telah tiada sedang tertawa kecil di depan café bersama Dylan dan Sabine.

Wajah Ana terlihat jauh lebih dewasa sekarang.

Namun bagi Damir… itu tetap anak kecilnya.

Anak perempuan yang dulu selalu menunggu dirinya pulang kerja hanya untuk menunjukkan hasil gambar atau medali ice skating miliknya.

Dan saat melihat senyum kecil Ana malam itu… dada Damir terasa hancur.

Karena senyum seperti itu tidak pernah anaknya tunjukkan saat masih tinggal bersama mereka.

“Mas…”

Lavanya menggenggam tangan suaminya pelan sambil menangis.

Namun perhatian Damir mendadak tertuju pada Dylan dan Sabine.

Dua anak itu terlihat sangat dekat dengan Ana.

Dylan membantu membawa belanjaan ibunya sementara Sabine terus mengoceh tanpa henti sambil bergelayut manja di lengan Ana.

Tatapan Damir perlahan berubah bingung.

“Itu…”

“Anaknya?”

Lavanya ikut menatap ke arah dua remaja tersebut.

Dan entah kenapa… wajah Sabine terasa familiar di mata Damir.

Sangat familiar.

Sampai akhirnya Sabine tertawa kecil sambil menoleh ke arah lampu jalan.

Dan Damir langsung membeku total.

Kalung di leher gadis itu terlihat jelas.

Kalung dengan liontin kecil berbentuk ukiran khusus.

Liontin yang sangat ia kenal.

Karena itu adalah liontin keluarga Fernandes.

Mata Damir langsung melebar.

Tidak mungkin.

Lalu potongan-potongan ingatan mulai muncul di kepalanya.

Prom night.

Taruhan bodoh para anak muda kaya.

Dan seorang laki-laki mabuk bernama—

“Izyan…”

Suara Damir terdengar sangat dingin sampai Lavanya menoleh cepat.

Damar yang ikut melihat dari kursi depan langsung menegang.

Dan saat itu juga…

Mereka semua akhirnya sadar siapa pria yang telah menghancurkan hidup Dariela Atlanna Zavira Raespati lima belas tahun lalu.

1
Agus Tina
bagus ceritanya ...
wulaniii: makasih kak like dan komen yah 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!