Aurora sudah terlihat cantik dengan riasan wajah natural flowles dan glowing. ia mengenakan gaun pengantin impiannya rancangan sahabatnya sendiri Vera.
Di sudut ruangan rias Maxime yang tak lain sahabat Aurora berdiri mengamati kecantikannya dengan takjub.
Tiba-tiba sebuah kabar buruk datang jika pengantin pria yaitu Andre tidak datang melainkan pergi tanpa kabar sejak semalam. kepanikan seketika melanda terutama Aurora sampa jatuh pingsan dan harus di tenangkan oleh teman dan keluarganya. hingga waktu yang di tentukan Andre tak juga datang. demi menyelamatkan nama keluarga besar akhirnya Maxime bersedia menikahi Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nur danovar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10 Makan siang
Aurora sudah merasa baikan setelah beristirahat di rumah selama dua hari. siang ini ia sengaja menghampiri Maxime ke kantor untuk mengajaknya makan siang bersama. Aurora tiba di depan meja kerja sekretaris Maxime yaitu Serly, wanita muda, cantik, sexy dengan pakaian kerja mini dan high hells tujuh sentinya.
"Siang bu Aurora" sapa Serly.
Aurora mengamati penampilan Serly dari atas hingga bawah.
"Dimana pak Maxime?"
"Pak Maxime meeting bu"
"Serly sudah berapa lama kau menjadi sekretaris Maxime?"
"Lima tahun bu"
"Oke Serly sebagai istri Maxime boleh saya memberi saran sedikit agar karir mu panjang di perusahaan ini?"
"Boleh bu silahkan"
Wisnu yabg baru tiba ikut mendengarkan obrolan Aurora dan Serly di depan ruang kerja sekretaris.
"Itu stelan kerja mu tolong rok nya di panjangkan sedikit dan belahan dada itu sebaiknya jangan lagi kau perlihatkan di hadapan Maxime, mengerti?"
Aurora tidak senang jika setiap hari Maxime di suguhi pemandangan tidak senonoh di tempat kerjanya.
"Iya baik bu" kata Serly sambil tersenyum.
"Siang Mba Rora" sapa Wisnu.
"Saya menunggu Max"
"Bos sudah selesai meeting sekarang ada di ruang kerjanya" kata Wisnu.
Aurora bergegas menuju ruang kerja Maxime. ia sedikit tidak mood setelah melihat sekretaris Maxime. entah kenapa ia jadi kesal dengan Serly padahal selama ini Aurora juga tahu cara berpenampilan Serly memang seperti itu tapi sekarang entah kenapa ia jadi keberatan.
"Hai kenapa tidak bilang kalau mau kemari?" sapa Maxime begitu melihat istrinya memasuki ruangan CEO.
"Aku mau mengajak makan siang" kata Rora.
"Oke, sekarang saja kita pergi nanti aku ada meeting lagi ke kantor papa"
"Ke kantor papa Gunanto?" tanya Aurora.
"Iya ada pembelian saham baru sekaligus membahas acara anniversary papa mama besok malam"
Aurora mengangguk paham, Maxime memang sangat sibuk.
Jadilah siang itu Maxime dan Aurora pergi ke warung ketoprak langganan karyawan kantor Maxime. disana terkenal ketopraknya sangat enak. Aurora ingin sekali makan ketoprak pedas karena setelah sakit beberapa hari ia tidak boleh makan pedas oleh Maxime.
"Kenapa harus ketoprak pedas?" tanya Maxime kesal.
"Ayolah Max aku sudah sembuh aku bosan makan makanan yang tidak ada rasa pedasnya sama sekali"
Akhirnya Maxime luluh keduanya duduk sembari menunggu pesanan datang. tidak berapa lama dua porsi ketoprak datang. yang pedas untuk Aurora dan sama sekali tidak pedas untuk Maxime. lidah Maxime sama sekali tidak cocok dengan makanan pedas. sejak kecil ia tidak suka makanan pedas.
Maxime mengaduk ketoprak di piring Aurora lalu menggesernya ke hadapan Aurora.
"Silahkan tuan putri" kata Maxime.
Aurora tersenyum senang, Maxime memang selalu perhatian dan memanjakannya. baik semasih menjadi sahabat atapun setelah mereka menikah.
"Mau coba?" Aurora menyendok sedikit ketoprak dan hampir menyuapkannya pada Maxime.
"Tidak Rora, itu pedas aku tidak mau" Maxime mencium aroma cabai saja rasanya sudah mau menghindar.
"Sekali saja Max aku mau lihat bagaimana reaksimu kalau makan pedas?"
"Rora hentikan"
"Ayolah Max!"
Maxime membuka mulutnya dan memejamkan mata sembari menahan rasa pedas yang mendera lidahnya. wajah tampan Maxime memerah karena kepedesan.
"Shhhh pedas sekali Rora!" Maxime meraih es di gelasnya dan langsung meminumnya sampai habis.
"Max kau tidak apa-apa?" Aurora jadi cemas melihat wajah Maxime memerah. ia meraih tisue dan membersihkan bibir Maxime. ia juga mengelap keringat di kening Maxime dengan jemarinya.
"Maafkan aku, maaf aku tidak tahu reaksinya sampai seperti ini" kata Aurora menyesal tapi juga menahan tawa.
Maxime terlihat mirip anak TK yang tidak kuat menahan pedas. Maxime memejamkan matanya menahan pedas. saat itu juga Aurora menyadari jika Maxime memang sangat tampan di lihat dari jarak dekat.