NovelToon NovelToon
Twin Gus: A Love Story

Twin Gus: A Love Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Hantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku yang akan menikahi Zaskia, Abi."
"Apa kamu yakin?"
"Yakin Abi. Hanya Zaskia yang Aryan mau dan Zaskia cuma butuh aku saat ini."
***
"Gus itu terlalu galak!"
"Bukan saya yang galak, tapi kamu yang bebal dan sulit di atur!"

Kisah cinta dua Gus Kembar.
Zaskia diguna-guna oleh seorang laki-laki yang menggilainya, sihir itu akan musnah jika Zaskia menikah dan berhubungan dengan suaminya. Aryan yang menikahi Zaskia meski ia tau bahwa Zaskia tidak mencintai dirinya melainkan sahabatnya-Kafa. Lantaran Kafa mundur bak pengecut.

Sedangkan Kisah Gus Arshaf, yang sudah menyerah dengan sikap nakal santriwatinya, bernama Zayna. Juga tentang Zayna yang sudah kebal dengan kegalakan dan semua hukuman dari Gus-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arshaf dikira hamil

Keesokan paginya, dua pasangan suami istri itu tampak duduk di tepi ranjang dengan perasaan tak menentu. Ada rasa cemas, gugup, sekaligus harap yang tergambar jelas di wajah keduanya.

“Kak... deg-degan,” lirih Zaskia sebelum perlahan membalik tespek di tangannya.

Aryan yang duduk di sampingnya ikut menahan napas. Salah satu tangannya menimpali tangan Zaskia, seolah ingin berbagi keberanian.

“Sama, sayang.” Ia tersenyum tipis. “Coba kita lihat bareng-bareng. Bismillah.”

Bersamaan, mereka membalik benda kecil itu.

Zaskia langsung menatap Aryan dengan sorot mata tegang. “Garis dua, Kak...”

Aryan ikut melihat hasilnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan, “Itu tandanya hamil?”

Zaskia buru-buru mengambil bungkus tespek lalu membaca petunjuk di sana.

“Di sini tertulis kalau garisnya dua berarti positif,” ucapnya pelan sambil terus membaca. “Kalau satu berarti negatif.”

Aryan terdiam.

“Berarti... kata Bu Sari benar?”

Zaskia mendongak menatap suaminya lalu mengangguk kecil.

“Jadi... beneran hamil?”

“Ih, Kak...” Zaskia tertawa gugup di tengah rasa tegangnya. “Kan hasilnya udah kelihatan.”

Aryan langsung nyengir lebar. Tanpa pikir panjang ia menarik Zaskia ke dalam pelukannya.

“Alhamdulillah...” suaranya terdengar bergetar menahan haru. “Alhamdulillah, Kia.”

Namun berbeda dengan Aryan yang tampak bahagia, Zaskia justru terdiam di dalam pelukan itu. Perasaannya campur aduk. Ia tidak tau harus senang atau takut.

Bukan karena ia tidak menginginkan anak mereka.

Hanya saja semuanya terasa begitu cepat.

Ia masih mahasiswi. Masih harus kuliah, mengerjakan tugas, menghadapi omongan orang-orang di kampus, dan menjalani hari-hari yang mungkin akan jauh lebih berat setelah ini.

Belum lagi reaksi keluarga besar nanti.

Semua pikiran itu datang bersamaan dan membuat dadanya sesak.

“Apa ini gak kecepetan, Kak?” tanyanya pelan.

Aryan yang tadi tenggelam dalam rasa bahagia langsung tersadar. Ia perlahan melepas pelukan lalu menatap wajah istrinya yang tampak menyimpan kegelisahan.

“Kamu belum siap?”

“Kia bingung, Kak...”

Kepala Zaskia menunduk. Tanpa sadar air matanya mulai jatuh satu per satu.

Melihat itu, Aryan langsung menghela napas pelan. Kedua tangannya menangkup pipi Zaskia lalu mengangkat wajah perempuan itu agar menatapnya.

Ibu jarinya bergerak lembut menghapus air mata yang terus luruh.

“Kakak udah bilang kan...” ucapnya pelan penuh ketenangan, “kakak gak akan biarin kamu jalanin semuanya sendirian.”

Tatapan Aryan begitu teduh.

“Kakak bakal tanggung jawab. Kakak bakal bantu kamu nanti, bantu tugas kuliah kamu, bantu jagain kamu sama dedek bayi.” Ia tersenyum kecil. “Apa pun yang terjadi, kakak gak akan ninggalin kamu sendirian. Oke?”

Zaskia langsung terisak pelan. Ia mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis.

Bersyukur sekali rasanya memiliki suami seperti Aryan. Di saat dirinya ketakutan, laki-laki itu justru menjadi tempat paling aman untuk bersandar.

“Sini, sayang.” Aryan kembali menarik Zaskia ke dalam pelukannya.

“Maafin kakak ya...”

Zaskia buru-buru menggeleng dalam dekapannya. “Ini bukan salah kakak,” sahutnya terbata karena tangis. “Jangan minta maaf.”

Aryan memejamkan mata sejenak. “Kakak benar-benar gak nyangka kamu bakal hamil secepat ini, Kia. Salah kakak juga karena gak cari tau—”

“Kak...” Zaskia memotong pelan sambil mengangkat wajahnya sedikit. “Udah, jangan dibahas lagi yang udah lewat.”

Aryan terdiam mendengarkan.

“Semuanya juga udah terjadi,” lanjut Zaskia lirih. “Dan Kia gapapa... asalkan ada kakak.”

Seketika senyum hangat terukir di wajah Aryan. Ia lalu mengeratkan pelukannya, satu tangannya menangkup belakang kepala Zaskia agar perempuan itu semakin dekat ke dadanya.

Aryan menempelkan pipinya di atas kepala sang istri sambil memejamkan mata pelan. “Terima kasih ya... udah percaya sama kakak.”

***

Di tempat lain.

Arshaf yang baru saja tiba di dapur berniat membuat sarapan mendadak menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut saat aroma masakan dari arah kompor menyeruak tajam ke indera penciumannya.

Perutnya langsung terasa aneh.

“Huekh—”

Suara seperti orang ingin muntah itu membuat perhatian Kafa teralihkan dari wajan yang sedang ia pegang.

“Lo kenapa, Shaf?”

“Gak tau,” jawab Arshaf sambil menutup hidungnya. “Gue mual banget nyium masakan lo. Lo masak apa sih?”

Baru selesai bicara, Arshaf langsung berlari menuju kamar mandi.

“Eh, Shaf!”

Tiba di dalam sana, Arshaf benar-benar muntah di wastafel.

“Astaghfirullah...” gumamnya lemas sambil memegangi pinggiran wastafel. “Kenapa lagi sih gue?”

Ia mendengus kesal sendiri. Sudah dua hari terakhir tubuhnya terasa aneh. Mual tanpa sebab, badan lemas, bahkan nafsu makannya hilang.

“Apa gue masuk angin ya?” gumamnya sambil mengusap mulut. “Tapi gak enak banget rasanya.”

Arshaf termasuk orang yang jarang sakit. Selama kuliah di Jakarta pun ia hampir tidak pernah tumbang. Karena itu, keadaan seperti ini membuatnya tidak nyaman.

Biasanya kalau sakit, yang paling ia cari adalah Umanya.

Sekarang perempuan itu justru berada jauh darinya.

Arshaf memutar keran lalu membasuh wajah dan membersihkan sisa muntah di wastafel. Setelah merasa sedikit lebih baik, ia kembali keluar menuju dapur.

Namun baru beberapa langkah mendekat, aroma masakan Kafa kembali menusuk hidungnya.

“Huh...”

Ia langsung berbelok menjauh sambil menutup hidung.

Kafa yang sudah selesai memasak dada ayam panggang dengan bawang putih dan bawang bombai akhirnya membawa piring ke ruang TV. Di sana, Arshaf tampak rebahan lemas di sofa.

“Lo sakit, Shaf?”

“Jauh-jauh dulu dari gue, Kaf. Please.”

“Dih, napa lagi gue?” Kafa melongo.

“Bau masakan lo nggak enak.”

Kafa langsung mengernyit tidak terima.

“Eh, itu makanan yang dulu lo suka banget, anjir. Sekarang malah dibilang nggak enak. Gue udah niat bikinin buat lo tau.”

“Iya, tapi gue juga gak ngerti kenapa,” keluh Arshaf sambil memijat pelipisnya. “Tiba-tiba aja gue mual terus.”

“Lo masuk angin kali.”

“Iya kali.”

Kafa terkekeh kecil sambil duduk di sofa sebelahnya. “Wah, tumben banget lo sakit, Shaf. Nggak ada Tante Zura, gimana ini?”

Arshaf langsung melotot. “Apa hubungannya sama Uma gue?”

“Hahaha!” Kafa malah makin tertawa. “Lo kalau sakit manja banget sama Uma lo.”

Arshaf mendecih pelan, tapi tidak membantah. “Maka dari itu,” gumamnya pasrah. “Tersiksa gue jauh dari Uma kalau lagi sakit begini. Gue gak nafsu makan, badan juga lemes banget.”

Kafa memperhatikan wajah sahabatnya yang memang terlihat pucat. “Ke dokter aja. Gue anter."

Arshaf langsung menoleh. “Beneran?”

“Iya. Siangan kita ke dokter. Gue temenin.”

Arshaf akhirnya mengangguk pelan. “Ya udah...” gumamnya lemas sambil kembali menyandarkan kepala ke sofa.

***

Azzura memang cukup sering menghubungi Arshaf. Berbeda dengan Aryan yang kini sudah memiliki istri, perempuan itu jadi sungkan terlalu sering menelepon putra sulungnya karena takut mengganggu waktu mereka berdua.

Pagi itu, ponsel Arshaf tiba-tiba berdering.

Kafa yang sedang duduk sambil memainkan remot televisi langsung melirik layar ponsel sahabatnya.

“Nah tuh, Uma lo nelepon.”

Wajah Arshaf langsung sedikit berbinar. “Uma emang the best.”

Ia segera mengangkat panggilan tersebut.

“Assalamu’alaikum, Arshaf.”

“Iya, wa’alaikumussalam, Uma.”

Baru mendengar suara putranya, kening Azzura langsung berkerut. “Kamu kenapa, Nak? Kok suara kamu beda? Kamu sakit?”

Arshaf langsung manyun meski lawan bicaranya tak bisa melihat. “Uma emang paling tau Arshaf.”

“Ya Allah...” suara Azzura berubah khawatir. “Kamu sakit apa?”

“Mual, pusing...” keluh Arshaf lemas. “Arshaf muntah-muntah, bahkan gak nafsu makan, Uma.”

“Kamu habis makan yang salah enggak?”

“Enggak, Uma. Arshaf enggak makan yang aneh-aneh kok.”

“Ya udah, nanti kamu berobat ya,” ucap Azzura lembut namun tegas. “Kalau belum sembuh juga, Uma ke sana.”

“Uma jangan—”

“Gapapa.” Azzura langsung memotong. “Uma gak tenang kalau kamu sakit. Di antara Aryan sama kamu, memang kamu yang paling manja ke Uma.”

Arshaf langsung rebahan makin pasrah di sofa. “Arshaf kangen Uma...”

Nada bicara itu sukses membuat Kafa menahan tawa di sampingnya.

“Makanya cepet kelarin kuliah kamu, habis itu balik ke sini.”

“Iya, Uma.”

Namun beberapa detik kemudian, Azzura kembali bersuara dengan nada berpikir.

“Kamu mualnya kapan aja, Shaf?”

“Cuma pagi doang, Uma.”

“Hm...” Azzura terdengar semakin curiga. “Apa jangan-jangan kamu hamil, Shaf.”

Arshaf langsung bangkit dari posisi rebahnya.

“Astaghfirullah, Uma!” serunya tidak percaya. “Arshaf berbatang, mana mungkin bisa hamil!”

Di seberang sana, Azzura malah tertawa ngakak.

Sementara Kafa yang duduk di samping Arshaf ikut pecah tertawa begitu mendengar ucapan itu.

“Hahaha! Bisa aja Tante Zura!”

“Yaa gimana...” sahut Azzura masih sambil tertawa kecil. “Gejala yang kamu rasain tuh mirip banget orang hamil, Shaf.”

“Ih, Uma ngadi-ngadi ya!”

“Coba aja cek pakai tespek.”

“Umaaaa!!”

Azzura kembali tertawa geli mendengar nada frustasi putranya.

Sementara Kafa sudah hampir terguling di sofa karena terlalu keras tertawa.

“Anjir, Shaf!” katanya sambil menepuk bahu sahabatnya. “Jangan-jangan nanti hasilnya garis dua!”

Arshaf langsung melotot tajam. “Gue tendang lo keluar rumah sekarang juga ya!”

***

“Kamu sanggup gak ngampus hari ini?” tanya Aryan begitu motor mereka berhenti di depan Gedung Fakultas Ilmu Komunikasi.

Zaskia yang baru saja melepas helm langsung mengangguk kecil.

“Sanggup kok. Malahan Kia kayak gak ngerasain apa-apa, Kak. Cuma kemarin doang yang mulai agak parah.”

Aryan menatap istrinya penuh khawatir. “Bukan agak, tapi memang parah. Kamu sampai pingsan, Kia.”

Zaskia malah nyengir kecil.

Aryan menghela napas pasrah melihat reaksi itu. “Kakak antar aja yuk.”

“Enggak usah,” tolak Zaskia pelan. “Bukannya Kakak mau nemuin Bu Sari?”

“Iya sih, tapi kayaknya beliau belum datang.” Aryan melirik jam di tangannya sebentar sebelum kembali menatap Zaskia. “Ya udah, Kakak antar dulu.”

Zaskia tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Sekalian ngabarin?”

Aryan mengernyit bingung. “Hem? Ngabarin apa?”

“Bilang ke anak-anak prodi Kia kalau kita udah nikah.”

Aryan terdiam sejenak, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. “Oh...” sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu siap?”

Zaskia mengangguk mantap.

“Oke. Kakak parkir motor dulu.”

Zaskia kembali mengangguk.

Aryan langsung menghidupkan mesin motor dan membawa kendaraan itu menuju area parkir. Setelah selesai memarkirkan motor, ia berjalan cepat menghampiri Zaskia yang menunggunya di pinggir jalan setapak.

Begitu sampai, Aryan tanpa ragu langsung menautkan jemarinya dengan jemari sang istri.

Zaskia sempat tersipu, tapi kali ini ia tidak lagi melepaskan genggaman itu.

Namun baru beberapa langkah menaiki teras gedung, suara seseorang memanggil Aryan.

“Yan!”

Keduanya kompak menoleh ke belakang.

Ternyata Kafa sedang berjalan menghampiri mereka. Namun kali ini tidak ada Arshaf di sampingnya seperti biasanya.

“Kaf, Arshaf mana?” tanya Aryan.

“Lagi sakit doi.”

Aryan langsung mengernyit. “Arshaf sakit? Tumben banget.”

“Gak tau dia kenapa. Mual katanya. Udah beberapa hari begini.”

“Masuk angin?”

Kafa mengangkat bahu. “Ntar siang abis kuliah gue anter dia ke dokter.”

Aryan mengangguk pelan. “Oh gitu...” Ia menepuk bahu Kafa singkat. “Makasih ya, Kaf, udah jagain kembaran gue. Lo tau sendiri, dia jauh dari Uma.”

Mendengar kata “Uma”, Kafa langsung teringat kejadian tadi pagi.

Ia spontan menahan tawa, tapi gagal.

Aryan mengernyit heran. “Lo kenapa ketawa?”

Kafa langsung ngakak. “Hahaha, gapapa. Tadi tuh Tante Zura nelepon Arshaf, kan. Terus Arshaf ngadu sakit.”

Aryan mulai ikut penasaran. “Terus?”

“Pas Tante Zura tau gejalanya aneh...” Kafa sudah hampir terpingkal lagi. “Beliau malah ngira Arshaf hamil!”

Zaskia yang sejak tadi diam langsung membekap mulut menahan tawa.

Aryan pun membelalak. “Hah?”

“Iya!” Kafa makin ngakak. “Katanya semua gejala yang Arshaf rasain tuh mirip ibu hamil. Mual pagi, muntah-muntah, enggak nafsu makan.”

Aryan langsung menunduk sambil tertawa geli. “Terus Arshaf gimana?”

“Panik lah!” jawab Kafa cepat. “Dia sampe bilang, ‘Astaghfirullah Uma, Arshaf berbatang!’”

Kali ini Zaskia benar-benar tertawa sampai bahunya bergetar.

Sementara Aryan sampai mengusap wajahnya sendiri karena tidak kuat membayangkan ekspresi kembarannya saat itu.

“Kasian banget kak Arshaf,” ujar Zaskia di sela tawanya.

Setelah obrolan singkat itu selesai, Kafa pun pamit berlalu menuju gedung fakultasnya.

Selama berada di sana tadi, laki-laki itu nyaris tidak pernah menatap Zaskia secara langsung. Padahal jauh di dalam hatinya, rasa rindu itu masih ada dan sesekali menyesakkan dada.

Namun Kafa sadar diri. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mengganggu rumah tangga Aryan dan Zaskia.

Kini Kafa berada di tahap mencoba ikhlas.

Baginya, semua ini memang kesalahannya sendiri. Terlalu lama diam, terlalu lama menunda, sampai akhirnya Zaskia benar-benar menjadi milik orang lain.

Dan orang itu adalah sahabatnya sendiri.

Karena itu, risiko yang harus ia terima sekarang adalah belajar melupakan perasaan tersebut secepat mungkin.

Lagipula, Kafa bisa melihat sendiri bagaimana Zaskia berubah akhir-akhir ini.

Perempuan itu terlihat jauh lebih hidup. Lebih hangat. Lebih bahagia. Dan semua itu terjadi saat bersama Aryan.

Kafa tersenyum tipis meski terasa pahit.

Mungkin beginilah cara Tuhan memberitahu bahwa tidak semua yang kita inginkan memang ditakdirkan untuk kita miliki.

Sepeninggal Kafa, Zaskia masih memikirkan cerita tadi sambil berjalan pelan di samping Aryan.

“Kak?”

“Hm?” sahut Aryan menoleh singkat.

Zaskia tampak ragu beberapa detik sebelum akhirnya berbisik pelan, “Kok Kak Arshaf kayak orang hamil ya?”

Aryan langsung menoleh cepat. “Kia...” ia menahan tawa. “Kamu mau ikut-ikutan kayak Uma?”

“Bukan gitu, Kak,” bantah Zaskia sambil mengerucutkan bibir. “Tapi kan sekarang Kia hamil.”

Aryan makin bingung. “Terus kenapa?”

“Kan yang hamilin Kia itu Kakak.”

“Iya...” Aryan mengangguk pelan. “Terus?”

Zaskia mendekat sedikit lalu berkata dengan nada serius yang justru terdengar lucu, “Tapi Kak Aryan sama Kak Arshaf kembar.”

Aryan terdiam.

Beberapa detik kemudian laki-laki itu malah pecah tertawa.

“Hahahaha! Ya Allah, Kia!”

“Apasih?!” Zaskia jadi malu sendiri.

“Kembar bukan berarti semua rasa harus ikut kebagi juga, Sayang.”

“Tapi siapa tau...” gumam Zaskia polos.

Aryan langsung memegang jidatnya sendiri sambil masih tertawa tidak percaya. “Kasian banget Arshaf kalau sampai dengar omongan kamu.”

“Loh, kan Kia cuma mikir aja.”

Aryan menggeleng gemas. Tangannya lalu terulur mencubit pelan pipi Zaskia. “Lucu banget sih istri Kakak.”

Zaskia langsung manyun sambil menepis tangan Aryan. “Ih, serius tau.”

“Iya iya serius,” jawab Aryan masih dengan sisa tawanya. “Nanti kalau Arshaf muntah lagi, Kakak coba tanya dia ngidam apa.”

Keduanya kembali melanjutkan langkah memasuki gedung fakultas.

Sepanjang pasangan muda itu menyusuri koridor, tatapan orang-orang terasa berbeda dari biasanya. Beberapa mahasiswa bahkan terang-terangan memandang mereka sambil berbisik satu sama lain.

Dan seperti yang Zaskia duga, sebagian bisikan itu berisi cibiran.

“Kok mereka pada ngeliatin kita ya, Kak?” bisik Zaskia pelan sambil merapat sedikit pada Aryan.

Aryan menyapu sekitar dengan tatapan tajam. Rahangnya mulai mengeras ketika samar-samar telinganya menangkap beberapa ucapan yang menyinggung Zaskia.

Langkahnya mendadak terhenti.

“Ada apa?” Zaskia ikut berhenti.

Namun Aryan justru menoleh ke arah sekelompok mahasiswi yang sedang berbisik di dekat lorong kelas.

“Ada masalah apa sampai kalian liatin dia kayak gitu?” tanya Aryan lantang. “Dia punya salah apa sama kalian?”

Suasana koridor langsung mendadak hening.

Beberapa mahasiswa yang tadi berbisik langsung salah tingkah.

Sementara Zaskia tersentak kaget sampai wajahnya memucat.

“Kak!” Ia buru-buru menarik lengan Aryan pelan, memberi isyarat agar laki-laki itu tidak memperbesar keadaan. “Udah, Kak...”

Namun salah satu mahasiswi tiba-tiba menyahut dengan nada sinis.

“Gimana gak jadi pusat perhatian?” katanya sambil melipat tangan di dada. “Cewek yang terkenal alim di prodi malah pacaran, terus sekarang hamil.”

1
Syti Sarah
Masya Allah bucin bnget sih Aryan 🥰🥰
Ayu Oktaviana
jodohnya kafa msih unyu unyu😁😁😁😂😂😂
syora
dara nih kyak si onty zura 🤣🤣🤣🤣
Nifatul Masruro Hikari Masaru
wah jodoh nya kafa masih sd
Syti Sarah
kocak juga nih anak nya Azzam 😂😂
Shabrina Darsih
blm Tau aja kia. uda nikah pasti hbs tuh sm aryan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya nggak papa lah wong yang hamilin kan suami sendiri
nan luxiao
suka banget, dari cerita athar cila, abidzar zuya, azzam aira, sama yang ini selalu seruu banget
Syti Sarah
waah,mmang ya umma zuya absurd nya gak ada lawan.msa anak sndiri di bilang hamil 😂😂
anakkeren
best ,❤️
Anak manis
cakep buat authornya 🥰
just a grandma
seruuu
cutegirl
pokoknya aku sllu menunggu cerita dri author ini
cutegirl
ada ada aja😂
Ayu Oktaviana
selamat untuk kia dan aryan😍😍.. kita tinggal tunggu arshaf nih
Fegajon: kurang lebih begitu 😛
total 3 replies
Syti Sarah
Masya Allah,lengkap sudh kbhgian pasangan ini.slmat ya kia Aryan 🥰🥰
Syti Sarah
ciie yg udh di blas cinta nya sama istri 🥰
Syti Sarah
prsis kyak Abi nya ya aryan ini.tpi klau udh sah,bda bnget sifat nya sama istri nya .jdi syang ,bucin bnget sama istri nya .eeeh,udh mulai brani ya kia😁😁
Syti Sarah: iya btul bnget kak 😊
total 4 replies
Syti Sarah
ciie yg msak untuk pak suami 🤭🤭
Nifatul Masruro Hikari Masaru
udah terlambat kali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!