NovelToon NovelToon
Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Peluk Aku Di Kehidupan Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.

‎Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.

Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.

‎"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Rafael duduk santai di kursi teras depan rumah Aruna. Pakaiannya rapi namun wajahnya terlihat tidak sabar, seolah sudah menunggu cukup lama. ‎Begitu melihat kedatangan mobil Aruna, Rafael langsung berdiri, senyum licik yang biasa dia perlihatkan terukir di bibirnya.

‎‎"Kamu lama sekali, Aruna. Aku sudah menunggu hampir satu jam disini," sapa Rafael begitu Aruna turun dari mobil. Dia melangkah mendekat dan berdiri tepat di hadapan Aruna. "Aku datang untuk menagih apa yang kamu janjikan padaku kemarin saat di mobil. Kamu bilang ingin meminjamkan uangmu padaku. Aku butuh jumlah yang kita bicarakan itu hari ini juga, urusannya mendesak."

‎‎Aruna menatap pria itu lekat-lekat, rasa muak memenuhi hatinya. Dia menggeleng pelan, wajahnya datar tanpa ekspresi berlebihan.

‎‎"Maaf, Rafael. Aku tidak bisa memberikannya padamu," jawab Aruna tenang namun tegas.

‎‎‎"Apa maksudmu tidak bisa? Kamu berjanji, Aruna! Kamu bilang kamu akan membantuku. Kamu tahu kan kalau aku sangat butuh proyek ini untuk naik jabatan? Kalau bukan karena penting, aku tidak akan sampai meminta bantuanmu," nada bicaranya meninggi, terdengar menuntut dan sedikit mengancam. "Uang itu ada, kan? Orang tuamu meninggalkan warisan yang cukup, dan aku tahu kamu punya tabungan sendiri. Mana uangnya? Berikan padaku sekarang, aku janji akan mengembalikannya nanti setelah proyek ini berhasil."

‎‎Aruna menghela napas pelan, menatap lurus ke manik mata Rafael yang penuh keserakahan itu.

‎‎"Uang itu memang ada beberapa waktu lalu. Tapi maaf, aku tidak menyimpannya. Uang yang kamu minta itu... sudah habis," ucap Aruna pelan namun jelas.

‎‎Rafael tertegun sejenak, lalu tertawa kecil dengan nada yang tidak percaya.

‎‎"Habis? Apa maksudmu habis? Uang sebanyak itu kamu habiskan untuk apa dalam waktu sesingkat ini? Jangan bercanda, Aruna. Ini bukan soal uang receh."

‎‎"Aku serius, Rafael," potong Aruna, suaranya semakin tegas. "Aku menggunakannya. Sebagian untuk membeli beberapa keperluan yang memang sudah lama aku butuhkan untuk rumah dan keperluanku pribadi. Dan sisanya... aku salurkan untuk amal barusan. Aku menyumbangkannya ke panti asuhan."

‎"APA?!" Rafael berteriak kaget dan marah, wajahnya memerah menahan emosi yang meledak. Dia melangkah maju, hampir mendekap wajah Aruna karena tidak percaya. "Kamu gila?! Kamu habiskan uang sebanyak itu hanya untuk belanja barang dan bersedekah?! Kamu pikir uang itu tumbuh di pohon?! Kamu tahu betapa pentingnya uang itu bagiku! Kamu tega sekali, Aruna! Kamu lebih memilih membuang-buang uang daripada membantu pacarmu yang sedang kesulitan?!"

‎‎Aruna mundur selangkah, menjaga jarak aman, namun tatapannya tidak beralih sedikit pun. Dia sudah terbiasa dengan kemarahan Rafael di kehidupan sebelumnya, dan dia tahu betapa kejam dan egoisnya pria ini jika keinginannya tidak terpenuhi. Tapi kali ini dia tidak lagi merasa takut atau bersalah.

‎‎"Aku tidak membuang-buangnya, Rafael. Aku menggunakannya untuk hal yang benar dan bermanfaat. Itu adalah uangku, hakku sepenuhnya untuk menentukan kemana uang itu pergi," jawab Aruna dingin. "Aku sudah sering membantumu, tapi kali ini maaf saja, memang sudah tidak ada lagi."

‎‎"Kamu... kamu berubah, Aruna. Kamu berubah menjadi pelit dan tidak punya perasaan!" hardik Rafael kasar, tangannya mengepal erat menahan keinginan untuk melampiaskan amarah, namun dia masih menahan diri demi menguasai harta peninggalan kedua orang tua Aruna yang meninggal dalam kecelakaan mobil tujuh bulan lalu. "Dulu kamu tidak pernah sekejam ini! Kamu akan memberikan apa saja yang aku minta. Pasti ada orang lain yang mempengaruhimu, kan?"

‎‎"Tidak ada yang mempengaruhiku, Rafael. Sebaiknya kamu pergi, aku capek mau istirahat." jawab Aruna santai.

‎‎‎"Istirahat?" ulangnya dengan nada sinis yang tinggi. "Kamu pikir aku akan pergi begitu saja setelah kamu menghambur-hamburkan uang yang seharusnya bisa kita gunakan bersama? Jangan bermimpi, Aruna! Kamu pikir aku bodoh? Kamu pasti menyembunyikan uang itu di tempat lain, kan? Kamu cuma mau mengusir aku dengan alasan konyol itu!"

‎‎Rafael meraih pergelangan tangan Aruna dengan kasar, mencengkeramnya cukup kuat hingga wanita itu meringis menahan sakit. Dia menarik tubuh Aruna agar kembali berhadapan dengannya, matanya melotot penuh ancaman.

‎‎"Dengar aku baik-baik," ucap Rafael dengan suara rendah dan penuh ancaman. "Aku tidak peduli kamu pakai untuk apa atau kamu sumbangkan kemana. Aku butuh uang itu hari ini juga. Kamu telepon asisten papa kamu sekarang dan minta dia mentransfer uang lima ratus juta, bilang saja kamu butuh untuk biaya kuliah kamu."

‎‎Aruna menatap pergelangan tangannya yang tergenggam kuat oleh tangan Rafael, rasa sakit menjalar hingga ke lengan, namun dia tidak membuang muka sedikit pun.

‎‎"Kamu benar-benar sudah gila, Rafael," ucap Aruna pelan namun tegas, suaranya sama sekali tidak bergetar meski posisinya terdesak. "Kamu pikir aku ini sapi perah milikmu? Kamu pikir warisan orang tuaku ada di sana-sini dan bisa kuambil sembarangan hanya karena kamu minta? Lima ratus juta? Kamu bicara seolah uang itu hanya recehan yang ada di dalam saku celanamu."

‎‎Rafael semakin mempererat cengkeramannya, rahangnya mengeras, wajahnya memerah menahan emosi yang hampir meledak. "Jangan berbelit-belit, Aruna! Kamu punya akses kesana! Asisten almarhum papamu itu selalu menuruti apa saja kemauanmu. Cukup telepon sekarang, katakan apa yang aku suruh, dan aku akan pergi dari sini dengan tenang. Kalau tidak..."

‎‎"Kalau tidak, apa?" potong Aruna cepat, menatap tajam tepat ke manik mata pria itu. "Kamu mau apa? Kamu mau memaksaku? Kamu mau menyakitiku? Lakukan saja, kalau kamu berani maka aku akan berteriak meminta tolong agar orang-orang diluar sana datang dan menghajarmu sampai babak belur."

‎‎Aruna menepis tangan Rafael dari pergelangan tangannya hingga terlepas. Dia segera mundur beberapa langkah menjauh, mengusap bekas cengkeraman merah di kulitnya dengan tatapan jijik.

‎‎"Dan satu lagi..." lanjut Aruna, nadanya berubah menjadi dingin dan mengancam, "Om Herman tidak akan mentransfer uang sebesar itu hanya karena aku minta sembarangan. Sejak kematian kedua orang tuaku, semua keuangan diatur sangat ketat. Setiap pengeluaran besar harus ada persetujuan tertulis dan alasan yang sah. Kalau aku sampai minta uang sebanyak itu dengan alasan konyol seperti biaya kuliah, semua orang akan curiga."

‎‎Wajah Rafael berubah drastis dalam sekejap. Amarah yang semula membara di matanya seolah dipadamkan begitu saja, digantikan oleh ekspresi kaget dan penyesalan yang dibuat-buat. Dia sadar, memaksa dengan kekerasan saat ini hanya akan membuatnya rugi besar. Aruna adalah tambang emas terbesarnya, dan dia tidak akan melepaskannya sampai seluruh aset peninggalan orang tua gadis itu benar-benar jatuh ke dalam genggamannya.

‎‎"Maaf... maafkan aku, Aruna," ucap Rafael dengan nada suara yang tiba-tiba berubah lembut dan sedih. Dia melangkah maju perlahan, namun berhenti saat melihat Aruna mundur lagi sedikit menjauh. "Aku... aku tidak bermaksud kasar padamu. Sungguh. Aku hanya terlalu panik dan terdesak. Aku benar-benar butuh proyek ini untuk masa depan kita berdua."

‎Dia menundukkan wajahnya, berpura-pura sedih dan menyesal.

‎‎"Aku minta maaf ya... aku salah. Aku seharusnya mengerti keputusanmu. Kamu benar, itu hakmu sepenuhnya. Aku tidak berhak memaksamu apalagi bersikap kasar seperti tadi. Maafkan aku, ya? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku sayang padamu, Aruna. Aku tidak mau ada pertengkaran di antara kita."

‎‎"Baiklah," jawab Aruna singkat, nada bicaranya tetap datar dan dingin, tidak menunjukkan bahwa dia terbuai oleh permintaan maaf itu. "Aku mengerti kamu sangat memikirkan masa depan hubungan kita, tapi ingat, bukan berarti kamu boleh kasar padaku."

‎‎Rafael tersenyum tipis, senyum lega yang samar tersembunyi. Dia mengangguk patuh, berusaha terlihat sebagai kekasih yang mengalah.

‎‎"Iya, iya. Kamu benar sekali. Sekali lagi maafkan aku ya, Sayang. Aku janji akan perbaiki sikapku. Asal kamu tidak marah dan tidak menjauh dariku, aku sudah senang sekali," ucap Rafael lembut, berusaha menanamkan kembali rasa percaya yang sudah hancur itu.

‎‎"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Istirahatlah yang cukup. Nanti aku hubungi kamu lagi kalau pikiranku sudah lebih tenang," pamit Rafael dengan nada lembut. Dia menatap Aruna sekali lagi dengan tatapan penuh kasih sayang palsu, sebelum akhirnya berbalik badan dan masuk kedalam mobilnya yang terparkir di halaman rumah Aruna.

‎‎Aruna berdiri diam menatap kepergian mobil itu. Dia menghela napas panjang, merasa lega namun juga semakin waspada. Dia tahu, permintaan maaf Rafael tadi hanyalah kedok. Ancaman yang sesungguhnya belum berlalu, dan pria itu pasti akan kembali dengan cara yang lebih licik dan berbahaya.

‎‎"Mainkan saja peranmu itu sepuas hatimu, Rafael." bisik Aruna pelan, matanya menatap tajam ke arah mobil yang baru saja menghilang dari pandangan matanya. "Aku juga sedang memainkan peranku. Dan kali ini, aku yang akan memastikan kamu tidak akan pernah bisa menyentuh sedikit pun hakku."

-

-

-

Bersambung...

1
〈⎳ FT. Zira
niatnya lain kyknya
〈⎳ FT. Zira
masih punya stok drama ternyata/Sweat/
〈⎳ FT. Zira
pingsan aja.. gak ada yg larang kok
〈⎳ FT. Zira
eaaa... rayuannya bang... meleleh hatiku
〈⎳ FT. Zira
zekarang minta maaf , yg kemarin percaya diri mana wajahnya/Drowsy/
〈⎳ FT. Zira
otak mereka mana nyampe.. tau nya kan cuma ngambil yg bukan hak nya doang🤧
W I 2 K
idihhhhhh nyebelin banget kamu tania... celamitan.... sok²an mau ngelakuin apa aja....
〈⎳ FT. Zira: giliran di suruh nuduh "kamu tega!" hwakkk/Sob/🤣🤣🤣
total 2 replies
W I 2 K
mimpi terindah... khayalan belaka....
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
🔥Violetta🔥: Perlu diceburkan ke comberan sepertinya dia 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
secangkir kopi sm Sajen bunga sekebon meluncur.. biar authornya tambah cemangat....... 💃
🔥Violetta🔥: Wah... terimakasih banyak kakak /Grin//Pray/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
langsung ciut🤣
〈⎳ FT. Zira
siap siap bangun dari mimpi dengan seember air yak🤣
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 4 replies
〈⎳ FT. Zira
Faunai siapa??? apa itu panggilan?
〈⎳ FT. Zira
bicaramu sungguh manis bang/Hammer//Hammer//Hammer/
〈⎳ FT. Zira
tinggikan saja percaya dirimu.. semakin tinggi semakin sakit saat jatuh🤧
W I 2 K
slow Rafael.... baru juga disedot dasar bumi.... belum sedot dasar neraka kan... aman.. aman... aman..
🔥Violetta🔥: astaga 😂😂😂
total 1 replies
W I 2 K
dateng zeff... siapa tau kejutannya bikin terkejot.. kejott.... 🤣
🔥Violetta🔥: Zeff langsung guling-guling di ranjang... ehhh 🤭🤭🤭
total 3 replies
W I 2 K
astaga drama apa lagi Rafael... mimpi mana lg yg km mau gapai... nanti jatuh sejatuhnya sakit loh🤭
🔥Violetta🔥: EEEE.... AAAAA 💃💃💃💃🕺🕺🕺🕺
total 7 replies
〈⎳ FT. Zira
Luar biasa..
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍
🔥Violetta🔥: Wah, terimakasih banyak kakak /Pray//Grin/ Semangat juga untuk kakak /Good/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mimpi Rafael ternyata belum berakhir🤧🤧
🔥Violetta🔥: Berakhirnya kalau sudah mau end 🤣🤣🤣
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mokondonya kental dong ya Rafael ini🤧
〈⎳ FT. Zira: rujak biar asem, enak di makan. lah rafael di mana bagian enaknya../Silent//Silent/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!