Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 26
“Murung amat sih muka lo? Kenapa?” tanya Widya sambil menatap Alya penuh rasa penasaran.
“Iya nih, pengantin baru bukannya semangat malah cemberut begitu,” sahut Ayi santai. “Kenapa sih? Kurang jatah? Atau jangan-jangan rumor tentang Max itu beneran?”
Belum sempat Alya merespons, Widya langsung menjitak kepala Ayi cukup keras.
“Mulut lo tuh, nggak bisa direm dikit apa?” bisik Widya kesal.
Alya hanya menggeleng lemah. Tatapannya kosong, jauh berbeda dari biasanya.
“Bukan soal itu...” ucapnya pelan.
Widya dan Ayi saling berpandangan bingung.
“Terus apa?” tanya mereka hampir bersamaan.
Alya menarik napas panjang sebelum akhirnya bersandar lesu di kursinya.
“Tadi pagi gue dikasih uang sama Max,” katanya lirih. “Tapi semuanya diambil nyokap gue. Sekarang gue bingung gimana cara ngejelasinnya ke Max.”
Ia menunduk, jemarinya saling meremas gelisah.
“Gue tahu uang itu udah jadi hak gue. Tapi tetap aja nggak enak, anjir... Masa baru dikasih pagi tadi, sekarang udah langsung habis begitu aja.” Suaranya makin mengecil. “Gue takut Max malah mikir aneh-aneh tentang gue.”
“Aneh-aneh gimana maksud lo?” tanya Ayi, kali ini nadanya lebih hati-hati.
“Mungkin dia bakal nganggep gue matre... atau boros,” jawab Alya lirih.
Ayi mendecak kecil.
“Ih, ngapain dipikirin sih? Laki lo itu orang kaya. Duit segitu mah nggak ada artinya buat dia. Lagian lo kan istrinya, udah kewajiban dia ngasih nafkah.”
Namun ucapan itu sama sekali tidak membuat Alya merasa lebih baik. Bahunya justru makin merosot, seolah beban di dadanya bertambah berat.
Masalahnya, Widya dan Ayi tidak benar-benar mengerti keresahan yang sedang ia rasakan sekarang.
Bukan hanya soal uang itu.
Ada hal lain yang jauh lebih menyesakkan—status pernikahannya dengan Max yang sebenarnya hanyalah sebatas kontrak.
Alya memejamkan mata sesaat, mencoba menelan sesak yang sejak tadi menumpuk di dadanya. Kerongkongannya terasa kering, sementara pikirannya terus dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.
Kalau saja pernikahan ini sungguhan, mungkin ia tidak akan secemas ini.
“Muka lo makin pucet aja,” gumam Widya pelan, kali ini nada bicaranya jauh lebih lembut. “Lo yakin cuma karena masalah uang?”
Pertanyaan itu membuat Alya tersenyum hambar.
“Iya... cuma lagi kepikiran aja.”
Padahal jelas-jelas bukan hanya itu.
Alya terlalu takut untuk mengatakan kenyataan sebenarnya. Ia takut jika rahasia tentang pernikahan kontraknya dengan Max sampai bocor, semuanya akan berubah jadi kacau. Bukan cuma dirinya yang kena masalah, tapi juga Max.
Ayi menghela napas panjang lalu menepuk pundak Alya pelan.
“Denger ya, kalau emang lo nggak enak sama Max, tinggal jelasin baik-baik. Selesai. Nggak usah terlalu dipikirin sampai stres begitu.”
Alya hanya mengangguk kecil meski hatinya sama sekali belum merasa tenang.
Tak lama kemudian, ponsel di atas meja bergetar.
Nama Max muncul di layar.
DEG.
Jantung Alya langsung berdegup lebih cepat.
Widya dan Ayi otomatis saling melirik sambil menahan senyum jahil.
“Ciee... suami nelpon,” goda Ayi pelan.
“Angkat sana,” tambah Widya.
Dengan tangan sedikit gemetar, Alya akhirnya mengangkat panggilan itu.
“Halo...”
“Apa kau masih di kampus?” suara Max terdengar berat dari seberang sana.
“I-iya.”
“Aku sebentar lagi sampai.”
Kalimat singkat itu sukses membuat Alya membeku.
“Hah? Nyampe mana?”
“Tentu saja kampusmu.”
Mata Alya langsung melebar sempurna.
“Ngapain?”
“Tadi aku transfer uang buat kebutuhanmu, kan?” jawab Max santai. “aku ingin membawamu membuka rekening baru sekalian.”
Napas Alya tercekat.
Mati gue...
Ia langsung menunduk panik, membuat Widya dan Ayi yang duduk di depannya ikut bingung.
“Kenapa?” bisik Widya.
Alya menutup mikrofon ponselnya cepat-cepat.
“Max mau ke sini...” desisnya panik.
“Hah?!” Ayi hampir berteriak.
“Terus masalahnya apa?” tanya Widya heran.
Alya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sebelum berbisik lirih,
“Gue bingung ngejelasinnya gimana kalau dia nanya...”