Liora dipaksa menikah dengan Arkan demi menyelamatkan perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut. Ia mengira Arkan hanyalah pengusaha kaya biasa yang dingin dan tertutup. Kehidupan baru Liora dimulai di kediaman megah namun penuh ketatapan. Pelan tapi pasti, Liora mulai melihat keanehan-keanehan: pengawal yang selalu berjaga, orang-orang yang menunduk takut saat melihat Arkan, dokumen rahasia, hingga pembicaraan tentang organisasi bernama Bayangan Hitam.
Liora perlahan mengetahui kenyataan pahit: suaminya bukan sekadar pengusaha, melainkan pemimpin mafia paling berkuasa yang menguasai jalur perdagangan gelap, ekonomi bawah tanah, dan memiliki koneksi hingga ke pejabat tinggi negara. Dunia Liora berantakan, rasa takut bercampur kagum. Di sisi lain, Arkan yang awalnya menganggap Liora hanya kewajiban kontrak, mulai tertarik pada ketulusan dan keberanian gadis itu yang tidak pernah lari meski sudah tahu siapa dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Sikap
Hari-hari berlalu setelah peristiwa di pelabuhan utara. Berita tentang lenyapnya organisasi Serigala Putih menyebar ke seluruh dunia kriminal bagai api di padang rumput kering. Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi, tidak ada jenazah yang ditemukan, tidak ada jejak yang tertinggal.
Namun, semua orang tahu siapa pelakunya. Arkan. Raja Bayangan telah berbicara, dan suaranya cukup untuk membungkam semua orang yang berani berpikir buruk padanya.
Di kediaman kami, suasana menjadi jauh lebih tenang namun penuh rasa hormat yang berlipat ganda. Kini, setiap kali aku melintas, para pelayan dan pengawal tidak lagi hanya sekadar menunduk hormat. Mereka menatapku dengan pandangan yang berbeda, pandangan yang penuh kekaguman dan ketakutan bercampur jadi satu.
Mereka tahu, aku adalah wanita yang menjadi alasan mengapa Arkan bertindak sekejam itu. Aku adalah kelemahan tuannya, namun sekaligus kekuatan terbesarnya.
Pagi itu, aku sedang duduk di ruang keluarga, menyulam kain bunga sambil menunggu sarapan disajikan. Arkan baru saja turun dari lantai atas. Ia mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kekarnya yang berotot.
Wajahnya terlihat segar, tidak ada lagi jejak kelelahan atau amarah yang biasa menghiasi wajahnya beberapa hari lalu.
Ia berjalan mendekatiku, lalu duduk di sofa di sampingku. Tanpa bicara, ia meraih tanganku yang sedang memegang benang sulam, lalu menggenggamnya lembut. Gerakannya itu begitu wajar, begitu akrab, seolah kami sudah melakukan ini bertahun-tahun lamanya.
"Kau tampak tenang hari ini," ucapnya pelan, suaranya berat namun hangat.
Aku mengangkat wajah, menatap manik mata hitamnya yang dalam. "Kau juga. Sepertinya beban di bahumu sudah berkurang."
Arkan tersenyum tipis, senyum yang kini semakin sering ia perlihatkan hanya untukku.
"Ancaman sudah dibersihkan. Untuk sementara waktu, tidak ada yang berani mengganggu kita. Mereka sudah diberi pelajaran yang cukup mahal."
Ia mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya, gerakan kecil yang membuat jantungku selalu berdebar.
"Liora, ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu. Tentang kita."
Aku meletakkan sulamanku di meja, menegakkan tubuh. "Tentang apa?"
"Dulu, saat kita menikah, aku bilang ini hanya perjanjian. Aku bilang kau hanya perlu menjalankan peran sebagai istri, dan jangan berharap lebih," ucap Arkan perlahan, matanya menatapku lekat-lekat seolah ingin menembus masuk ke dalam jiwaku.
"Tapi belakangan ini... aku sadar aku salah. Aku salah karena meremehkan kehadiranmu. Aku salah karena berpikir aku bisa menjalani hidup ini sendirian tanpa membiarkan siapa pun masuk."
Jantungku berdegup kencang, mendadak aku merasa gugup luar biasa. "Arkan..."
Arkan mengangkat tangannya, menyentuh pipiku dengan lembut. Kulitnya kasar namun hangat, sentuhan yang membuatku merasa aman lebih dari apa pun.
"Sejak kejadian malam itu, saat aku mendengar mereka berani menyebut namamu dengan mulut kotor mereka... aku sadar satu hal. Kau bukan sekadar istri kontrak bagiku, Liora. Kau adalah separuh dari diriku. Kau adalah bagian yang hilang dari hidupku yang gelap dan hampa ini."
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah namun penuh perasaan.
"Aku tidak pandai bicara manis. Aku tidak tahu cara merayu wanita. Hidupku sejak kecil hanya diisi dengan kekerasan, ambisi, dan darah. Tapi aku berjanji padamu, Liora.
Selama aku masih hidup, aku akan menjagamu lebih dari nyawaku sendiri. Apa pun yang kau inginkan, akan kuberikan. Siapa pun yang berani menyakitimu, akan kuhancurkan. Kau bukan lagi sekadar Nyonya Arkan di atas kertas. Kau adalah Ratu di duniaku."
Air mata menetes dari sudut mataku. Kata-katanya sederhana, jauh dari kata-kata indah yang biasa ada di novel romansa, tapi ketulusan di baliknya begitu besar hingga membuat dadaku sesak oleh rasa bahagia yang meluap.
"Aku juga, Arkan," jawabku dengan suara bergetar, memegang tangan yang ada di pipiku.
"Awalnya aku takut. Aku benci situasi ini. Aku benci bahwa suamiku adalah orang yang ditakuti dunia, orang yang penuh rahasia dan bahaya.
Tapi lama-kelamaan... aku melihat sisi lain darimu. Sisi yang bertanggung jawab, sisi yang memegang teguh janji, dan sisi yang lembut hanya padaku. Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi aku sudah jatuh cinta padamu. Aku mencintaimu, Arkan, meskipun aku tahu duniamu sangat berbahaya."
Arkan terdiam sejenak, lalu perlahan ia menarikku ke dalam pelukannya. Ia memelukku erat, sangat erat, seolah takut aku akan menghilang jika ia melepaskanku.
Di dalam pelukannya, aku bisa mendengar detak jantungnya yang kuat dan teratur. Di sana, aku merasa rumahku telah kutemukan.
"Terima kasih, Liora," bisiknya di telingaku.
"Terima kasih mau menerima aku apa adanya.
Terima kasih mau tinggal di dunia gelap ini hanya demi bersamaku. Aku berjanji, aku akan berusaha menjadi pria terbaik untukmu, meskipun mungkin aku tidak akan pernah bisa menjadi pria biasa seperti yang kau harapkan."
Pagi itu, hubungan kami berubah total. Ikatan pernikahan yang awalnya hanya transaksi bisnis, kini telah berubah menjadi ikatan jiwa yang tak terputuskan. Kami bukan lagi sekadar suami dan istri di atas kertas. Kami adalah pasangan, mitra hidup, dan satu-satunya tempat bersandar satu sama lain.
Setelah momen itu berlalu, Arkan melepaskan pelukannya namun masih menggenggam tanganku erat. Ia menatapku dengan sorot mata yang penuh tekad baru.
"Karena kau sekarang sudah sepenuhnya menjadi bagian dari duniaku, ada hal lain yang harus kau ketahui dan pelajari," ucapnya dengan nada yang sedikit lebih serius namun tetap lembut.
"Selama ini aku melarangmu masuk ke sayap barat karena aku ingin melindungimu dari hal-hal buruk. Tapi sekarang, kau berhak tahu segalanya. Kau berhak tahu bagaimana organisasi ini bekerja, siapa musuh kita, dan siapa sekutu kita.
Mulai hari ini, kau akan ikut denganku ke mana pun aku pergi, kau akan duduk di sampingku dalam setiap pertemuan, dan kau akan belajar menjadi pemimpin yang sesungguhnya."
Mataku terbelalak kaget. "Maksudmu... aku boleh masuk ke sayap barat? Aku boleh tahu semua rahasiamu?"
Arkan mengangguk tegas.
"Ya. Karena istri Raja Bayangan tidak boleh hidup dalam ketidaktahuan. Kau harus kuat, Liora. Kau harus pintar. Kau harus berani.
Agar suatu hari nanti, jika aku tidak ada di sampingmu, kau tetap bisa bertahan dan memimpin semua ini. Kau harus tahu, banyak mata yang menatapmu. Ada yang memuja, ada yang iri, dan ada yang ingin melihatmu jatuh."
Aku menarik napas panjang, lalu mengangguk mantap. Rasa takutku perlahan hilang, digantikan oleh rasa percaya diri yang tumbuh karena dukungannya.
"Aku siap, Arkan. Aku akan belajar. Aku akan berusaha menjadi wanita yang pantas berdiri di sampingmu. Aku tidak akan menjadi beban bagimu lagi."
Arkan tersenyum bangga. Ia mencium punggung tanganku dengan penuh rasa hormat, sebuah tindakan yang jarang sekali dilakukan seorang pria apalagi sosok sekuat dia.
"Aku tahu kau bisa. Dan ingat satu hal, Liora. Di mata semua orang di organisasi ini, perintahmu sama mutlaknya dengan perintahku sendiri. Apa pun yang kau katakan, adalah hukum.
Tidak ada yang berani membantah, tidak ada yang berani menolak. Kau adalah nyawaku, dan nyawaku adalah harga mati bagi mereka."
Hari itu menandai awal babak baru dalam hidupku. Aku bukan lagi gadis polos yang hanya duduk diam di kamar menunggu suaminya pulang. Aku mulai masuk ke dunia gelap itu, bukan lagi sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu pemimpinnya.
Siang harinya, Arkan mengajakku masuk ke bagian yang selama ini dilarang: Sayap Barat.
Jantungku berdebar kencang saat kami berjalan melewati pintu gerbang yang dulu dijaga ketat itu. Kini, kedua penjaga itu membungkuk sangat dalam saat melihatku berjalan beriringan dengan Arkan, wajah mereka penuh rasa hormat dan kekaguman.
Di balik pintu itu, ternyata terdapat lorong panjang yang dindingnya dilapisi besi baja dan kaca antipeluru.
Di ujung lorong itu ada sebuah ruangan besar yang berfungsi sebagai pusat kendali organisasi. Dinding-dindingnya penuh dengan layar monitor yang menampilkan berbagai lokasi di seluruh dunia, peta wilayah kekuasaan, dan data-data yang rumit.
Di sana ada puluhan orang yang bekerja, memantau, berkomunikasi, dan mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan Bayangan Hitam.
Saat kami masuk, seluruh aktivitas di ruangan itu berhenti sejenak. Semua kepala menoleh ke arah kami, lalu serentak semua orang berdiri dan membungkuk hormat.
"Selamat datang, Tuan Arkan. Selamat datang, Nyonya Arkan," ucap mereka serempak, suara mereka bergema kuat di ruangan itu.
Arkan berjalan ke tengah ruangan, tangannya tetap menggenggam tanganku erat seolah ingin memberiku kekuatan. Ia menatap semua bawahannya satu per satu dengan tatapan tajam dan berwibawa.
"Dengarkan baik-baik," ucap Arkan dengan suara lantang yang mendominasi ruangan.
"Mulai hari ini, Nyonya Liora akan selalu ada di sisiku. Dia akan mengetahui semua rahasia, semua rencana, dan semua keputusan. Dia memiliki hak akses penuh ke seluruh data organisasi.
Siapa pun yang berani menyembunyikan sesuatu darinya, atau siapa pun yang berani meremehkannya, akan menghadapi hukumanku. Ingat, dia adalah Ratu kita. Dan Ratu harus dihormati, dilindungi, dan dipatuhi tanpa syarat."
Suasana hening sejenak, lalu kembali terdengar suara serempak yang gagah.
"Siap, Tuan! Kami mengerti dan akan patuh!"
Aku berdiri di samping Arkan, merasakan beban besar yang kini bertumpu di bahuku. Namun, saat aku melirik ke arah Arkan dan ia tersenyum meyakinkanku, aku tahu aku mampu melewati semuanya.
Hari itu aku sadar, duniaku telah berubah sepenuhnya. Aku telah resmi menjadi bagian dari kekuatan terbesar di dunia. Dan perjalanan panjangku sebagai istri bos mafia yang disegani dunia baru saja benar-benar dimulai.
jangan lupa mampir ya thor 💗, tinggalin jejak oke 😍