"sebuah kontrak yang menyelamatkan namun siksaan dari profesor untuk mahasiswinya..."
Akankah yang awalnya siksaan itu menjadi sebuah kenikmatan atau kebahagiaan, bisa jadi penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Singgasana Kekuasaan dan Pelampiasan Malam
BAB 25: Singgasana Kekuasaan dan Pelampiasan Malam
Mansion mewah keluarga Alkatiri yang berdiri megah di kawasan elite Menteng tampak begitu angker di bawah siraman cahaya lampu gantung kristal yang temaram. Atmosfer di dalam ruang keluarga utama terasa begitu mencekam, seolah-olah seluruh pasokan oksigen telah ditarik keluar. Di atas sofa berlapisi kain beludru impor, duduk sang matriark, Tante Miranda Alkatiri, berdampingan dengan dr. Clarissa yang kini melipat kedua tangannya di dada dengan senyuman kemenangan yang samar.
Adrian berdiri di tengah ruangan, melipat kedua tangannya di depan dada tegapnya. Kemeja abu-abu gelapnya masih rapi, namun aura di sekelilingnya memancarkan kedinginan yang sanggup membekukan apa saja. Tatapan mata elangnya menatap lurus pada sang ibu, tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Jadi, kamu berani mengancam keluarga Clarissa demi mahasiswi pembantu riset itu, Adrian?" suara Miranda mengalun tajam, memecah keheningan dengan keangkuhan yang mutlak. "Kamu lupa siapa yang membiayai seluruh riset laboratoriummu? Kamu lupa siapa yang memegang kendali atas warisan utama mendiang ayahmu?"
Clarissa menimpali dengan nada manja yang dibuat-buat, "Tante, Adrian bahkan tega mencengkeram tanganku sampai memerah kemarin di kampus. Semuanya demi membela perempuan tidak tahu diri itu."
Adrian terkekeh sangat tipis—sebuah kekehan dingin, angkuh, dan penuh kemenangan terselubung yang menjadi ciri khas sang profesor killer. Ia mengambil satu langkah maju, menatap ibunya dengan binar mata yang mematikan.
"Silakan cabut seluruh pembiayaan risetku, Bu. Cabut juga hak waris atas namaku jika Ibu mau," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat tenang namun sarat akan tekanan psikologis yang berat. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitamnya, menampilkan gestur tengil yang tak tergoyahkan.
"Tapi perlu Ibu ingat... formula paten farmasi yang menjadi tulang punggung Alkatiri Group semester ini berada di bawah hak cipta pribadiku. Jika Ibu atau Clarissa berani menyentuh atau mengusik Kiara bahkan hanya seujung kuku saja... kupastikan seluruh lisensi riset itu akan kubawa keluar ke perusahaan kompetitor besok pagi. Dan kita lihat, siapa yang akan hancur lebih dulu."
BRAK!
Miranda memukul meja kaca di depannya hingga menimbulkan suara dentuman yang keras. Wajah paruh bayanya menegang, syok melihat bagaimana anak laki-laki tunggalnya berani membangkang secara terbuka demi seorang mahasiswi biasa. Ada rahasia kelam masa lalu yang membuat Miranda tahu bahwa Adrian tidak pernah main-main dengan ancamannya. Kartu as yang dipegang Adrian terlalu kuat untuk dihancurkan sekarang.
"Kurang ajar kamu, Adrian! Keluar kamu dari rumah ini!" usir Miranda dengan napas yang memburu karena amarah yang mendidih.
Adrian tidak menjawab. Ia hanya memutar tubuh tegapnya dengan santai, melangkah lebar meninggalkan mansion angker itu tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Pikirannya sudah tidak lagi berada di sana. Fokusnya, raga, dan seluruh birahinya telah melesat kembali menuju apartemen mewah tempat istri kontraknya berada.
Jam digital di dasbor mobil sedan hitam Adrian menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit saat mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai sepi. Sepanjang perjalanan, rahang Adrian mengunci rapat. Frustrasi batin akibat tekanan keluarganya, ditambah dengan ingatan akan bagaimana Clarissa mencoba menyakiti Kiaranya, membuat darah di dalam tubuh sang profesor mendidih hebat.
Ada letupan energi gelap yang menuntut pelampiasan. Dan pelampiasan itu hanya bisa ia dapatkan dari satu-satunya wanita yang memegang kunci atas jiwanya: Kiara.
Cklek.
Pintu apartemen terbuka. Suasana di dalam penthouse tampak sunyi, namun seperti perintah Adrian sebelum pergi, seluruh lampu di kamar tidur utama dibiarkan menyala benderang. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, mata elang Adrian menangkap sosok Kiara yang sedang tertidur pulas di atas sofa kulit panjang.
Gadis itu tampaknya kelelahan menunggunya pulang. Ia masih mengenakan kemeja rajut putih berkerah turtleneck tinggi tanpa lengan yang dipakainya sejak pagi. Wajah polosnya saat tertidur tampak begitu damai, memancarkan aura ketangguhan yang kini melebur menjadi kerapuhan yang amat menggemaskan.
Adrian mendekat tanpa suara. Ia berlutut di samping sofa, menatap lekat-lekat wajah istri kontraknya. Rasa bersalah karena harus menyembunyikan status Kiara dari dunia luar beradu dengan rasa kepemilikan yang gila di dalam dadanya.
Adrian menyusupkan lengan kekarnya di bawah tengkuk dan lipatan lutut Kiara, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongan bridalnya dengan sangat mudah. Kiara tersentak, kelopak matanya terbuka perlahan, menampilkan sepasang manik mata yang masih diselimuti kabut kantuk.
"Adrian... kamu sudah pulang?" lirih Kiara dengan suara yang sangat serak, tangannya otomatis melingkar di leher kokoh sang dosen untuk mencari keseimbangan.
Adrian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia membawa tubuh Kiara masuk ke dalam kamar tidur utama, lalu membaringkannya di atas seprai sutra hitam yang dingin. Sebelum Kiara sempat mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya, tubuh tegap Adrian sudah menyusup di antara kedua kaki jenjang Kiara, mengurungnya kembali di bawah dominasi mutlak raga kekarnya.
"Adrian, ada apa? Kenapa wajahmu memerah seperti ini?" tanya Kiara, sifat tangguhnya terusik melihat kilat kegelapan yang begitu pekat dan lapar di mata elang Adrian. Napas Adrian memburu panas, menerpa permukaan kulit wajah Kiara.
"Diamlah, Kiara. Peluk aku yang erat... jangan biarkan aku melepaskanmu hanya karena kegilaan keluargaku," bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat rendah, parau, dan sarat akan frustrasi seksual yang memuncak. Pria itu menanggalkan jas dan kemeja abu-abunya dengan satu sentakan kasar, melemparnya sembarangan ke atas lantai hingga dada bidangnya yang berotot keras mengekspos aura maskulin yang intimidatif.
Detik berikutnya, Adrian langsung menundukkan kepalanya, membungkam bibir ranum Kiara dengan sebuah ciuman yang luar biasa brutal, panas, dan menuntut. Ciuman kali ini tidak memiliki celah untuk kelembutan yang lambat. Ini adalah ciuman pelampiasan, sebuah klaim kepemilikan yang didorong oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan wanita tangguh di bawah kuasanya.
"Mphhh! Ah... Adrian..."
Lenguhan seksi lolos dari bibir Kiara saat lidah hangat Adrian menyapu dan mengabsen seluruh rongga mulutnya dengan gerakan yang teramat agresif. Adrian melumat bibir bawah dan atas Kiara bergantian dengan ritme yang memabukkan, membuat pasokan oksigen di sekitar mereka terasa lenyap. Kedua tangan mungil Kiara yang tadinya berada di dada bidang Adrian perlahan kehilangan kekuatannya, merayap naik dan mencengkeram rambut hitam tebal pria itu, membalas lumatan panas Adrian dengan gairah yang ikut tersulut.
Tangan kekar Adrian merayap ke bawah kerah turtleneck Kiara, menarik kain rajut itu dengan paksa hingga robek di bagian bahunya, mengekspos keindahan kulit putih mulus Kiara di bawah siraman lampu kamar yang benderang. Adrian menjauhkan bibirnya dari mulut Kiara, lalu turun menjajah leher jenjang gadis itu, memberikan hisapan-hisapan yang teramat kuat dan dalam, mencetak tanda kepemilikan baru yang jauh lebih merah dan pekat di atas tanda yang lama.
"Ahhh! Adrian, sakit... pelan-pelan..." rintih Kiara, tubuhnya melengkung ke atas saat bibir panas Adrian memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual di sepanjang garis rahangnya hingga turun ke tulang selangkangannya.
"Kamu milikku, Kiara. Hanya milikku... persetan dengan Clarissa, persetan dengan ibuku, tidak akan ada yang bisa mengambilmu dariku," geram Adrian rendah, suaranya terdengar begitu seksi dan dipenuhi oleh birahi yang menggelegar di sela desahannya.
Adrian menatap langsung ke dalam mata Kiara yang kini berair karena sensasi nikmat yang menyiksa. Jemari panjang Adrian menyusup di antara jemari mungil Kiara, menguncinya kuat-kuat di atas kasur, menyatukan tangan mereka dengan cengkeraman yang erat seiring dengan tangannya yang lain menanggalkan sisa pakaian yang menghalangi penyatuan mereka.
Saat raga mereka akhirnya menyatu tanpa sehelai benang pun di atas ranjang sutra hitam itu, gelombang gairah yang luar biasa dahsyat langsung menghantam pertahanan mereka berdua. Penyatuan kali ini terasa begitu intens, dalam, dan dipenuhi oleh kekuatan dominasi Adrian yang bergerak dengan ritme yang cepat dan menuntut. Kiara hanya bisa pasrah, sifat tangguhnya melebur sepenuhnya menjadi desahan-desahan seksi yang memanggil nama Adrian berulang kali di dalam keheningan kamar.
"Adrian... ah! Lebih... lebih cepat..." lenguh Kiara, matanya terpejam erat dengan kepala yang bergerak gelisah di atas bantal saat Adrian memperdalam gerakannya, membawa mereka berdua semakin dekat ke puncak pelepasan yang membara.
Adrian mempererat dekapannya, otot-otot di lengan dan punggungnya menegang keras menahan letupan kenikmatan yang luar biasa ekstrem. Ia membungkuk, menyatukan bibir mereka kembali dalam sebuah ciuman yang mematikan, menyerap seluruh suara lenguhan Kiara ke dalam mulutnya saat gelombang pelepasan yang teramat panas dan nikmat akhirnya menghantam mereka berdua secara bersamaan. Tubuh mereka bergetar hebat, saling memeluk tanpa celah di bawah siraman lampu kamar, membiarkan cairan kehangatan menyatu di sela desah napas yang kian memburu kasar.
Dua jam setelah pergulatan birahi yang luar biasa panas itu berakhir, keheningan yang intim kembali menyelimuti kamar utama. Udara masih terasa hangat, bercampur dengan aroma keringat dan percintaan yang pekat di antara seprai sutra yang kini berantakan tak berbentuk.
Adrian berbaring terlentang dengan napas yang perlahan mulai beraturan. Lengan kanannya dijadikan bantal oleh Kiara, sementara tangan kirinya melingkar erat di pinggang polos gadis itu di balik selimut tebal. Wajah tegas sang profesor tampak jauh lebih rileks, seluruh frustrasi dan beban batin akibat interogasi ibunya tadi telah menguap sepenuhnya bersama dengan pelepasan panasnya di dalam tubuh Kiara.
Kiara merapatkan tubuhnya, menyembunyikan wajahnya yang masih merona merah di dada bidang Adrian yang basah oleh keringat tipis. Ia bisa mendengar detak jantung Adrian yang berdegup kencang tepat di bawah telinganya, memberikan melodi penenang yang membuatnya merasa begitu dihargai sebagai seorang wanita, bukan lagi sebagai barang sewaan di atas kertas kontrak.
Adrian menundukkan kepalanya, mengecup kening Kiara yang hangat dengan teramat dalam dan lama. "Maafkan aku jika malam ini aku terlalu kasar padamu, Sayang," bisik Adrian dengan suara bariton yang teramat lembut dan serak, menyunggingkan senyuman seksi yang membuat dada Kiara kembali berdesir.
Kiara mendongak sedikit, menatap mata elang Adrian yang kini menatapnya dengan binar kelembutan yang tulus. "Aku tahu kamu sedang tertekan, Adrian. Tapi berjanjilah padaku... jangan pernah menyembunyikan masalahmu sendirian lagi. Jika aku harus menjadi rahasiamu untuk sementara waktu, maka setidaknya biarkan aku menjadi tempatmu bersandar saat kamu lelah," ucap Kiara dengan ketegasan seorang wanita tangguh yang siap menghadapi badai bersama suaminya.
Mendengar ucapan tulus dari Kiara, sudut hati Adrian yang paling dalam bergetar hebat. Pria itu menarik dagu Kiara perlahan, menyatukan bibir mereka kembali dalam sebuah ciuman malam yang lambat, manis, dan sarat akan janji setia yang tak terucapkan di atas kertas. Malam itu, di balik tirai hitam yang menyembunyikan hubungan mereka dari dunia luar, ikatan di antara sang dosen keren dan sang mahasiswi tangguh telah terkunci semakin kuat oleh tali birahi dan cinta yang kian membara, bersiap menghadapi bom waktu konflik yang sewaktu-waktu bisa diledakkan oleh keluarga Alkatiri.