NovelToon NovelToon
Kutunggu Jandamu

Kutunggu Jandamu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:669.8k
Nilai: 5
Nama Author: kenz....567

Sepuluh tahun pernikahan dan ribuan jarum suntik hanya menyisakan hampa bagi Zira Falisha. Demi cinta, ia mengizinkan wanita lain meminjamkan rahim untuk benih suaminya, Raka. Namun, ia tak menyangka keputusan itu justru membuka pintu perselingkuhan. Raka tidak hanya berbagi prosedur medis, tapi juga berbagi hati di belakangnya.

Namun, siapa sangka kehancuran rumah tangganya justru dimanfaatkan oleh pria yang berusia jauh lebih muda darinya, Kayden Julian Pradipta.

"Zira, minta suamimu untuk tidak campur tangan tentang hubungan kita."

"Dasar tidak waras!"

"Pria tidak waras ini masih mencintaimu, Sayang. Kutunggu jandamu."

Jika dulunya Kayden merelakan Zira menikahi pria lain, tapi saat ini ia tak mau lagi membiarkan wanita itu bersama pria yang menyakitinya. Ditambah, kehadiran seorang bocah menggemaskan yang memanggil Kayden dengan sebutan Papa.

"Oh, Mama balu Zayla? Yang kemalen itu nda jadi, Papa beal?"

Apakah Kayden berhasil merebut Zira dari suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebingungan Raka

Di dalam sebuah ruang periksa yang tenang, Raka Tristan Laurent terpaku menatap layar USG. Di sana, tampak siluet kecil yang bergerak samar, calon buah hati yang telah ia nantikan selama ini. Dengan gerakan yang tampak penuh kasih, pria itu mengelus puncak kepala Ivy Belle, wanita muda yang terbaring di atas ranjang pasien dengan perut buncit yang sudah terlihat jelas. Senyum bahagia merekah di wajah mereka saat dokter mulai menjelaskan kondisi janin tersebut.

"Saat ini kandungannya sudah memasuki bulan kelima. Keadaan bayinya sangat bagus, jantung, paru-paru, dan organ lainnya terbentuk dengan sempurna. Selamat, Nyonya Ivy," ucap sang dokter dengan nada ramah.

Ivy Belle, wanita yang dipercayakan untuk mengandung beniih Raka, tampak sangat emosional. Tangannya menggenggam erat pergelangan tangan Raka, seolah-olah mereka adalah sepasang suami istri yang tengah merayakan mukjizat. Ia melemparkan senyum penuh kemenangan sekaligus kasih sayang kepada Raka. Namun, Raka hanya membalasnya dengan senyum ala kadarnya.

"Pemeriksaan selesai," ucap sang dokter sembari membersihkan sisa gel di perut Ivy.

Setelah semuanya tuntas, Ivy diperbolehkan pulang. Raka dengan sigap merangkul bahunya, membantunya berjalan keluar dari ruangan dokter. Namun, pikiran Raka tidak benar-benar ada di sana. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah kegelisahan yang sulit ia definisikan.

"Ada apa? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ivy, menyadari perubahan raut wajah Raka.

Raka menggeleng pelan, berusaha mengusir bayang-bayang di kepalanya. "Tidak ada, aku hanya merasa heran saja."

"Heran kenapa?" tanya Ivy bingung.

"Biasanya jam segini Zira sudah mengajakku makan siang. Tapi kali ini, dia sama sekali tidak menghubungiku," gumam Raka pelan. Padahal, tadi pagi hubungan mereka terasa mulai membaik setelah ketegangan kemarin.

Raut wajah Ivy seketika berubah masam mendengar nama Zira disebut, namun dengan cepat ia memoles ekspresinya kembali. "Mungkin saja Kak Zira sedang sibuk dengan toko bunganya."

"Mungkin saja," sahut Raka pendek. "Ya sudah, ayo aku antar kamu."

Raka mulai melangkah, namun Ivy tiba-tiba menahan lengannya dengan kuat. "Antar? Kita mau pulang ke rumah, kan? Atau kamu mau pergi lagi ke tempat lain?" tanya Ivy dengan tatapan penuh selidik dan kecemburuan yang mulai terpancar.

Raka meraih tangan wanita itu, lalu melepaskan genggamannya dari pergelangan tangannya secara perlahan namun tegas. "Ivy, kamu tidak mungkin tinggal di rumahku lagi. Kasihan Zira, kondisi mentalnya sedang tidak stabil. Aku sudah menyediakan apartemen mewah untukmu, tinggallah di sana sementara waktu. Aku berjanji akan mengunjungimu setiap hari di jam istirahat. Tolong, jangan memancing kemarahan Zira. Aku sangat takut dia akan meminta cerai."

Mendengar kata-kata itu, hati Ivy terasa seperti disayat sembilu. Ia mengangguk pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menatap perutnya sendiri dengan perasaan getir. "Aku tahu ... aku sadar diri. Aku hanyalah wanita rahim yang dipinjam saja, bukan?"

Raka tersentak mendengar kalimat pedas itu. "Bukan begitu maksudku, Ivy. Astaga ...," Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, mengembuskan napas panjang untuk meredam frustrasinya.

"Ayo, aku antar sekarang. Jangan membuat masalah di rumah sakit ini," ajak Raka lagi. Ia mulai gelisah karena Zira tidak kunjung membalas pesan singkat yang ia kirimkan sejak satu jam yang lalu.

.

.

.

.

Sesampainya di apartemen, Raka masih tetap sibuk dengan ponselnya. Bahkan saat Ivy sudah duduk di sofa dan mencoba mencari perhatiannya, pria itu terus menatap layar, berulang kali mengecek status pesan yang hanya menunjukkan centang satu, tanda bahwa ponsel Zira sedang tidak aktif.

"Bisakah malam ini kamu menginap di sini?" tanya Ivy lirih. Raka tidak menyahut, jemarinya masih lincah mengetik pesan baru untuk istrinya.

"Raka, bisakah kamu menginap untuk malam ini saja? Aku merasa tidak enak badan," ulang Ivy sekali lagi dengan suara yang sedikit lebih keras. Namun, Raka tetap bergeming, tenggelam dalam kecemasannya terhadap Zira.

Kesabaran Ivy habis. Perasaannya yang merasa diabaikan meledak seketika.

"RAKA!" teriak Ivy dengan suara melengking yang mengguncang keheningan apartemen tersebut.

Raka tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan ponselnya. Ia menatap Ivy dengan tatapan tak percaya, seolah wanita di depannya adalah orang asing yang baru saja menyerangnya.

"Bisa bicara dengan nada pelan? Aku tidak tuli, aku bisa mendengarmu. Tidak perlu berteriak seperti itu," ucap Raka dengan nada ketus. "Zira ... dia tidak pernah sekalipun membentakku seperti ini selama sepuluh tahun pernikahan kami."

Air mata Ivy jatuh satu per satu, membasahi pipinya yang kemerahan. "Karena sejak tadi aku memanggilmu, tapi kamu hanya sibuk dengan ponselmu! Kamu ada di sini secara fisik, tapi pikiranmu hanya tertuju pada wanita yang bahkan tidak bisa memberimu keturunan itu!" sentaknya dengan penuh emosi.

Raka terdiam, rahangnya mengeras mendengar penghinaan terhadap Zira. Ia menatap Ivy yang kini mengusap air matanya dengan kasar.

"Pulang saja sana! Pergi! Biarkan aku sendiri di sini. Terserah besok anak ini masih ada atau tidak, kamu tidak peduli, kan?!" teriak Ivy sembari berjalan menuju jendela besar di kamar apartemen tersebut, memunggungi Raka.

Mendengar ancaman tersirat tentang janin tersebut, Raka terpaksa melunakkan hatinya. Ia menyimpan ponselnya ke dalam saku, lalu menghampiri Ivy yang berdiri gemetar di dekat jendela. Pria itu menghela napas pendek, mencoba menekan egonya demi keselamatan bayi yang dikandung Ivy.

"Ivy ...," Raka menyentuh bahu wanita itu. "Oke, maafkan aku. Tadi kamu bicara apa? Maaf, aku tadi tidak fokus mendengarmu, Sayang," ucap Raka sembari mengelus lembut lengan Ivy dari belakang, sebuah gestur manipulatif untuk menenangkan badai emosi wanita muda itu.

Ivy berbalik, menatap Raka dengan tatapan mata yang sangat dalam dan penuh ambisi. Ia meraih tangan Raka, menggenggamnya erat seolah tidak ingin melepaskannya lagi.

"Bisakah kamu menceraikan Kak Zira?"

Gerakan tangan Raka yang tengah mengelus lengan Ivy terhenti seketika. Tatapan matanya berubah menjadi dingin dan tajam. Ivy yang melihat perubahan itu justru semakin nekat. Ia meremas jemari Raka dengan lembut, mencoba membujuknya dengan logika yang ia anggap benar.

"Aku yang mengandung anakmu, Raka. Aku yang akan memberikanmu pewaris. Sedangkan dia? Dia hanya wanita yang tidak bisa memberimu apa-apa. Seharusnya kamu mempertahankanku, bukan dia. Aku lebih layak menjadi istrimu!"

Raka menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku tidak akan pernah menceraikan Zira. Aku sangat mencintainya. Apa pun yang terjadi, aku tidak bisa melakukannya. Tolong, jangan pernah memintaku untuk memilih, karena jawabannya akan selalu Zira."

"Lalu bagaimana denganku dan anak ini?!" sentak Ivy dengan suara tajam yang bergetar karena amarah dan rasa sakit hati.

Tenggorokan Raka terasa tercekat. Ia terjebak dalam labirin yang ia buat sendiri. Ia menginginkan bayi itu, namun ia tidak pernah berniat membagi hidupnya dengan wanita yang mengandungnya. Baginya, Ivy hanyalah sebuah sarana, sementara Zira adalah tujuannya.

"Ivy ... sudahlah. Jangan berpikiran yang macam-macam. Selama kamu mengandung dan melahirkan anakku, aku akan menjamin seluruh hidupmu dengan materi yang berlimpah. Kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan nyaman nanti. Sekarang, aku harus kembali ke rumah," ucap Raka sembari melepaskan tangan Ivy. "Tolong, sadarlah akan posisimu sejak awal. Kamu hanyalah ibu pengganti."

Raka menyambar jasnya di kursi, lalu melangkah keluar dari apartemen tanpa menoleh lagi. Ia meninggalkan Ivy yang jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu sambil memegangi perutnya yang mulai menegang. Di dalam hatinya, benih kebencian terhadap Zira semakin tumbuh subur, beriringan dengan janin yang kian membesar dalam rahimnya. Sementara itu, di dalam lift, Raka terus menatap ponselnya, berharap agar Zira segera memberinya kabar.

"Kemana dia, apa ... dia masih marah padaku?" lirihnya cemas.

___________________________________________

Haaaaa cemas kau bang😆

1
Irma Juniarti
mau belah duren yeeee😁
Irma Juniarti
hey,sebelum kamu yg kenal kayden,zira sudah duluan,dari kay masih jadi bodel.tau nda.
Irma Juniarti
kamu seorang perempuan loh Sofia,klu laki2 udh gak mau kenapa mesti memaksa.jangan jadi pelakor .
Irma Juniarti
masih aja penasaran sama sopia ini
jumirah slavina: buka APK kuning Kak Irma., biar gak penasaran sm Shopee

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Irma Juniarti
denger itu kay.
Irma Juniarti
kamu udh melanggar kepercayaan zira,kay.
Irma Juniarti
kan udh zira bilang jangan ada kebohongan kay,harus jujur.
Sugiharti Rusli
kenapa Kayden ga mau terus terang siapa yang tadi ditemui di taman, bukannya saat pernikahan si Zira sudah bertemu Sofia saat mengucapkan selamat,,,
Sugiharti Rusli
bukannya si Kayden bilang dia ga pernah dekat dan pacaran dengan perempuan lain yah, kenapa si Sofia merasa Kayden milik nya sih,,,
RiriChiew🌺
haishhh baru kmren² ku dukung kau , tapi setelah menikah malah berbohong 😌 skor mu bertambah 1 dari diriku yaa bang kai .
ku laporin ayang Xander nanti kau mau sakiti anak nya lagii, aku cctp lohh inii🤣
RiriChiew🌺: kok jadi bertambah 🤔 berkurang harusnya /Facepalm/ hilihh gagal estetik
total 1 replies
Dew666
🎈🎈🎈🎈
@E𝆯⃟🚀BuNdAιиɑ͜͡✦⍣⃝కꫝ🎸🇵🇸
siapa dia?
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
baru juga hari pertama jd suami udah boong 😏 pengen nyariin zira suami baru rasanya 🙃
Syifa Azhar
Sophia jangan ngeyel,lain dulu lain sekarang.dulu kamu menyukai kayden dan dia masih singgel sih ok aja,to sekarang kayden dah punya istri.jadi perempuan harus punya harga diri masa mau sama laki orang,emang didunia cuma ada kayden???hello .... dunia gak cuma seluas daun kelor sayang🤣🤣
Laila Isabella
Luar biasa
Mulaini
Akhirnya Kayden bisa gooolll juga ke gawang Zira hehehe...
Uba Muhammad Al-varo
Sofia dengar tuh apa kata Diva,jadi orang jangan egois, orang udah nggak mau kok dipaksa, yang ada kamu dicap cewek murahan Sofia /Curse//Curse/
Nur Rofikoh
ya ampun ini jadi malam nya kay dan zira... anaknya di rumah bikin opa sarden pusing tujuh keliling...
faridah ida
semoga Zira hamil nanti nya ...
faridah ida
laah gak sadar diri nih sih Sofia .. jelas2 sudah di tolak dan di cuekin sama Kay , dasar muka tembok ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!