Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai dua puluh, suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Lantai ini hanya diisi oleh dinding marmer hitam dan ruang kaca besar yang menghadap langsung ke arah pemandangan kota.
Saat Ishita berjalan mendekati meja sekretaris yang kebetulan sedang kosong, pandangannya tanpa sengaja beralih ke balik dinding kaca transparan sebuah ruang kerja utama. Di sana, seorang pria tegap dengan setelan jas hitam pekat buatan Italia sedang berdiri membelakanginya, menatap tajam keluar jendela besar. Siluet tubuhnya yang gagah, bahunya yang lebar, serta aura dominasi yang pekat mendadak membuat napas Ishita tertahan di tenggorokan.
Ada daya tarik yang begitu magnetis sekaligus berbahaya dari sosok misterius tersebut. Tanpa sadar, Ishita terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap sang CEO dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum yang amat dalam. Di detik itulah, sebuah getaran aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidup mendadak menyergap hatinya. Ishita, gadis remaja yang biasanya acuh terhadap urusan asmara, seketika jatuh hati pada pandangan pertama kepada pria di balik ruang kaca itu, bahkan sebelum ia sempat melihat wajahnya.
Pria di dalam ruangan itu perlahan membalikkan tubuhnya setelah mendengar langkah kaki kecil yang ragu-ragu di luar. Sepasang mata elangnya yang tajam dan sedingin es menembus kaca, langsung tertuju pada sosok Ishita yang sedang memegang map hitam dengan erat.
Pria itu adalah Kinan.
Setelah berhasil melenyapkan pengaruh buruk ayahnya dan menghapus nama Kusuma dari kerajaannya, Kinan menjelma menjadi sosok penguasa tunggal yang jauh lebih dingin dan tak tersentuh. Namun, ketika matanya meneliti wajah Ishita dari kejauhan, ada sebuah hantaman emosional yang sangat keras menghantam dadanya.
Gadis di luar sana sedang tersenyum canggung sembari membungkuk hormat, menampilkan binar mata yang polos, ceria, dan penuh energi murni yang positif. Gerakan tubuhnya, tawa kecilnya yang tertahan, dan aura ketulusan yang terpancar dari wajah Ishita seketika menarik paksa memori Kinan ke masa beberapa tahun yang lalu.
Neya.
Keceriaan dan kepolosan Ishita begitu identik dengan sosok Neya, cinta pertama yang selama ini ia cari dengan keputusasaan yang mendalam. Kabut dingin yang selama berbulan-bulan ini mengunci emosi Kinan mendadak cair dalam sekejap hanya karena melihat cara Ishita tersenyum. Sifat protektif dan posesifnya yang sempat mati rasa kini bangkit kembali dengan intensitas yang jauh lebih masif.
Kinan berjalan mendekati pintu, membukanya dengan satu gerakan tegas yang membuat Ishita terlonjak kaget.
"Masuk," perintah Kinan, suaranya bariton, rendah, dan sangat berwibawa, namun tidak lagi setajam biasanya.
Ishita melangkah masuk dengan kepala menunduk, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak menjalar di kedua pipinya. "I-ini berkas anggaran dari lantai bawah, Pak."
Kinan menerima map itu, namun matanya sama sekali tidak beralih dari wajah Ishita. Ia melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Ishita bisa mencium aroma parfum kayu cendana yang maskulin dan memabukkan dari tubuh sang CEO.
"Siapa namamu?" tanya Kinan, suaranya melembut secara drastis, sebuah perubahan sikap yang akan membuat seluruh dewan direksi Dirgantara Group syok jika menyaksikannya.
Kinan mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat menawan namun menyimpan kegelapan egoisme di sudutnya. Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, menyentuh jemari Ishita dengan perlahan namun penuh penekanan yang posesif.
"Nama yang indah. Panggil aku Kinan saat kita hanya berdua di lantai ini," bisik Kinan dengan tatapan mata yang mengunci seluruh kesadaran Ishita.
Ishita mendongak, matanya berbinar penuh rasa cinta yang kian mendalam, merasa dirinya begitu istimewa karena diperlakukan secara khusus oleh sang pangeran mahkota Dirgantara Group.
Bulan-bulan berikutnya berjalan bagai sebuah mimpi indah yang memabukkan bagi Ishita. Di lantai puncak Dirgantara Group, sebuah hubungan tanpa status yang unik, romantis, namun penuh batasan tak kasat mata perlahan terjalin antara dirinya dan sang CEO tertinggi. Bagi seluruh karyawan kantor cabang, Kinan adalah sosok tiran yang dingin, efisien, dan tidak mengenal ampun. Namun, begitu pintu ruang kerja pribadi itu tertutup dan hanya menyisakan mereka berdua, topeng es pria itu runtuh sepenuhnya di hadapan keceriaan Ishita.
Hubungan mereka dipenuhi dengan tawa lepas yang ganjil untuk ukuran seorang pangeran mahkota bisnis. Kinan, pria yang biasanya mendikte garis hidup ribuan karyawan dengan satu jentikan jari, kerap kali menunjukkan sisi yang sangat manja di depan Ishita. Ada kalanya Kinan menolak menyentuh makan siangnya jika tidak diletakkan di atas mejanya oleh Ishita, atau sengaja menahan gadis itu di ruangannya berjam-jam hanya untuk mendengarkan Ishita bercerita tentang hal-hal remeh di luar kantor.
Sore itu, rintik hujan membasahi kaca jendela besar yang menghadap langsung ke lanskap kota. Kinan duduk di sofa kulitnya, menyandarkan kepalanya yang lelah di sandaran kursi sementara Ishita berdiri di dekat meja kopi, merapikan beberapa dokumen internal.
"Ishita, kepalaku agak pusing karena rapat dewan direksi tadi," ucap Kinan dengan suara baritonnya yang mendadak terdengar lirih dan menuntut perhatian—sebuah nada suara manja yang hanya ia simpan khusus untuk ruangan ini. "Buatkan aku teh hangat, dan jangan kembali ke kubikelmu sampai badai di luar reda."
Ishita menoleh, menatap wajah tegas Kinan yang kini tampak melunak. Jantungnya berdegup manis. Setiap perhatian kecil, setiap tatapan intens yang diberikan Kinan, selalu berhasil membuat Ishita merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Sikap romantis Kinan yang sering kali menariknya mendekat, membelai rambutnya dengan tatapan penuh kerinduan yang mendalam, selalu sukses menerbangkan angan-angannya.
Malam harinya, di rumah kayu mereka yang tenang, kehangatan keluarga kecil itu kembali berkumpul di ruang tengah. Setelah makan malam sederhana yang dimasak bersama, Ishita duduk di dekat Neya yang sedang menjahit beberapa helai pakaian kerja yang longgar. Kak Aldo berada di meja sebelah, pura-pura sibuk memeriksa laporan komoditas lokalnya, namun sepasang matanya sesekali mencuri pandang ke arah wajah teduh Neya.
Ishita tidak bisa lagi membendung rahasia besar yang selama ini ia simpan sendiri di dalam dadanya. Dengan mata yang berbinar-binar jenaka, ia menyenggol lengan Neya.
"Kak Neya, aku mau cerita rahasia," bisik Ishita penuh semangat, membuat Neya menghentikan gerakan jarum jahitnya dan menoleh dengan senyum lembut.
"Rahasia apa, Ishita? Kelihatannya senang sekali," tanya Neya.
"Ini tentang CEO tertinggi di kantor pusat Dirgantara Group... Pak Kinan," ucap Ishita, menyebut nama itu dengan nada yang sarat akan rasa kagum dan cinta. "Kak tahu tidak? Semua staf di kantor cabang bilang dia itu galak sekali, dingin seperti es batu, dan tidak punya hati kalau sudah memotong anggaran. Tapi, entah kenapa... di hadapanku dia itu sangat manja, Kak!"
Neya terpaku di tempatnya berdiri. Kinan.
Nama itu meluncur begitu saja dari bibir polos Ishita, menghantam dinding pertahanan batin Neya yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Neya yang tidak tahu apa-apa tentang perubahan nama korporasi Kusuma menjadi Dirgantara, mengira itu hanyalah sebuah kebetulan nama yang sama di dunia bisnis yang luas ini. Namun, mendengar bagaimana pria bernama Kinan itu bersikap manja dan romantis pada adik angkatnya, ada sebuah rasa sakit yang teramat sangat, asing, dan tak bisa dijelaskan mendadak mencubit ulu hati Neya. Rasa cemburu lama yang ia kira telah mati bersama kegugurannya beberapa bulan lalu, mendadak berdenyut nyeri tanpa alasan yang masuk akal.
Meskipun dadanya terasa sesak, Neya memaksa bibirnya untuk mengulas senyuman paling tulus yang ia miliki. Ia mengusap pipi Ishita dengan penuh kasih sayang, ikut merasa senang atas kebahagiaan adiknya. "Benarkah? Kalau begitu, dia pasti menganggapmu sangat istimewa, Ishita. Jaga dirimu baik-baik, ya."
Ishita tertawa riang, lalu menoleh ke arah Kak Aldo yang sejak tadi mendengarkan dalam diam dengan rahang yang sedikit menegang. Ishita yang cerdik tahu bahwa kakak laki-lakinya itu sebenarnya telah lama menyimpan rasa cinta yang begitu besar dan mendalam pada Neya, sejak mereka masih bersama di panti asuhan. Bagi Aldo, Neya bukan sekadar adik angkat; wanita itulah pusat dari seluruh dunia profesional dan pribadinya.
"Makanya, Kak Aldo jangan mau kalah!" goda Ishita sembari mengedipkan matanya ke arah sang kakak. "Kak Neya ini cantik, pintar, dan baik hati. Sudah saatnya Kak Aldo melamar Kak Neya supaya kita bisa resmi jadi keluarga utuh. Ishita selalu berdoa dan berusaha setiap hari supaya kalian berdua cepat menikah!"
Mendengar godaan blak-blakan dari adiknya, wajah Kak Aldo mendadak memerah. Pria tegap itu berdeham salah tingkah, menyembunyikan binar matanya yang penuh harap saat menatap Neya. Sementara itu, Neya hanya bisa tersenyum canggung, mencoba mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa sakit asing di dalam dadanya yang kian bergemuruh.
lalu Kinan ?