Di Kota Chang’an zaman modern, hiduplah seorang pemuda bernama Mu Chen. Ia berusia 22 tahun, bertubuh tegap dan gagah, tapi dikenal sebagai kutu buku yang haus akan pengetahuan sejarah dan filsafat Tiongkok kuno. Suatu sore di pasar loak, ia menemukan sebuah batu giok berwarna hijau pucat yang diukir pola Yin-Yang. Tanpa sadar, ia membawanya pulang. sebuah perjalanan yang merubah hidupnya dari jaman modern ke jaman kuno hidupnya para dewa Dewi dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon premier MT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Ujian Kebugaran
Sehari setelah kejadian langit berubah warna yang membuat semua orang penasaran tanpa jawaban, kehidupan di Sekte Angin Hijau kembali seperti biasa. Para murid melanjutkan latihan mereka, dan Mu Chen... seperti biasa, menghabiskan waktunya antara membaca buku di perpustakaan dan menyiapkan makanan lezat di dapur.
Namun, kabar tentang keanehan tubuhnya dan tulang legendarisnya masih menjadi pembicaraan. Beberapa murid muda masih memandangnya dengan pandangan campuran antara rasa hormat dan rasa ragu. Ada juga yang diam-diam berpikir: "Dia hanya beruntung punya tulang langka, tapi tetap tidak bisa berkultivasi seperti orang lain. Kalau diuji kemampuan, pasti dia akan kalah telak."
Suatu pagi, di halaman latihan utama, Tetua Chang mengumumkan:
"Bulan ini akan diadakan ujian dasar bagi semua murid — untuk mengukur ketahanan tubuh, kecepatan, dan kekuatan fisik. Ini penting untuk melatih fondasi dasar!"
Semua murid bersorak antusias. Bagi mereka, ini kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dan mendapatkan perhatian para tetua.
Saat nama-nama peserta dibacakan, nama Mu Chen pun disebutkan.
Mu Chen yang sedang memegang keranjang sayuran di dekat dapur tertegun:
"Hah? Saya juga ikut? Tapi saya kan murid tamu..."
Tetua Chang menoleh padanya dan menjawab:
"Aturannya berlaku untuk semua orang yang tinggal di sekte ini. Apakah kau takut ikut serta?"
Mu Chen menggaruk kepalanya, lalu tersenyum santai:
"Takut tidak takut juga... saya tidak punya teknik khusus, tapi kalau cuma lari dan angkat beban, saya rasa masih bisa. Daripada dianggap pengecut, lebih baik ikut saja!"
Beberapa murid tertawa pelan mendengar jawabannya.
"Angkat beban? Dia pikir ini seperti permainan anak-anak ya?"
"Nanti lihat saja, dia pasti akan menyerah di babak pertama!"
Ujian pertama adalah berlari menempuh jalur menanjak sejauh lima kilometer. Jalurnya tidak rata, penuh batu dan akar pohon, serta memiliki tekanan energi ringan yang membuat pernapasan menjadi agak berat — hal yang cukup sulit bagi pemula.
"Siap... mulai!" teriak Tetua Chang.
Semua murid langsung berlari dengan kecepatan yang bisa mereka capai. Mereka memutar energi di tubuh mereka untuk membuat langkah menjadi ringan dan cepat.
Mu Chen di awal agak tertinggal sedikit. Ia berlari dengan kecepatan biasa, napasnya teratur — tidak seperti orang lain yang terlihat berusaha keras.
"Hahaha! Lihat dia, larinya seperti berjalan-jalan di taman saja! Dia pasti akan kehabisan napas di tengah jalan!" ejek salah satu murid yang berlari di depan.
Namun, semakin lama berlari, wajah murid-murid itu perlahan berubah. Tekanan energi di jalur itu semakin terasa berat. Napas mereka mulai memburu, keringat membasahi wajah, dan langkah mereka mulai melambat.
Sedangkan Mu Chen?
Tekanan energi di jalur itu perlahan diserap masuk ke dalam tubuhnya tanpa ia sadari. Justru membuat tubuhnya terasa semakin ringan dan segar. Ia mulai mempercepat langkahnya sedikit demi sedikit.
Satu per satu murid ia lewati.
"Permisi... hati-hati ya..." ucapnya sopan setiap kali melewati orang.
Sampai akhirnya, ia malah menjadi orang pertama yang tiba di garis finis — dengan napas yang masih teratur, tidak ada keringat berlebih, dan wajah yang masih segar.
Semua orang tertegun. Bahkan Tetua Chang yang mengawasi hampir menjatuhkan papan catatannya.
"Ini... tidak mungkin! Jalur ini memiliki tekanan energi yang bisa membuat orang biasa terengah-engah, tapi dia seolah tidak merasakan apa-apa?!"
Mu Chen berdiri di sana, lalu menoleh dan berkata polos:
"Wah, sampai juga. Rasanya seperti jalan pagi di kampung saja. Hanya saja udaranya terasa sedikit lebih segar di tengah jalan. Apakah ini lulus?"
Ujian berikutnya adalah mengangkat batu-batu besar yang memiliki bobot dan energi tekanan di dalamnya. Batu teringan memiliki bobot 500 kilogram, sedangkan yang terberat mencapai 3.000 kilogram — dan hanya sedikit murid yang bisa mengangkat batu 1.500 kilogram saja.
"Silakan maju satu per satu!" perintah Tetua Chang.
Murid-murid mencoba satu per satu. Ada yang bisa mengangkat batu 800 kilogram, ada yang sampai 1.200 kilogram, dan murid terbaik berhasil mengangkat batu 1.800 kilogram sambil wajahnya memerah menahan tenaga.
Sekarang giliran Mu Chen.
Ia berjalan mendekati tumpukan batu, lalu menatapnya satu per satu. Ia menggaruk kepalanya dan bertanya:
"Boleh saya pilih yang paling besar sekalian?"
Semua orang tertegun. Murid yang baru saja mengangkat 1.800 kilogram tertawa:
"Jangan berlebihan! Batu terberat itu 3.000 kilogram, bahkan para tetua muda saja harus berusaha keras mengangkatnya! Kau akan terluka!"
Mu Chen tidak mempedulikan ejekan itu. Ia berjalan mendekati batu besar setinggi pinggang orang dewasa, meletakkan kedua tangannya di sisi batu, lalu menarik napas — tanpa memutar energi apa pun, hanya mengandalkan kekuatan tubuhnya yang telah diperkuat oleh penyerapan energi terus-menerus.
"Huuuup!"
Dengan suara yang tidak terlalu keras, batu besar itu terangkat perlahan — bahkan ia bisa mengayunkannya sedikit dari sisi ke sisi!
"Ini tidak terlalu berat... rasanya seperti mengangkat karung beras yang agak besar saja," gumamnya polos.
BRAK!
Batu itu ia letakkan kembali ke tanah dengan hati-hati, meninggalkan bekas cekungan kecil di tanah.
Seluruh halaman latihan menjadi hening seketika. Bahkan burung yang sedang terbang di langit seolah berhenti sesaat.
Tetua Agung Mo Feng yang datang menyaksikan dari kejauhan mengangguk perlahan sambil bergumam:
"Tulang Bintang Galaksi... benar-benar berbeda. Ia menyerap energi selama ini dan mengubahnya menjadi kekuatan fisik murni. Ini bukan kekuatan biasa."
Bagian terakhir ujian adalah menahan satu serangan ringan dari instruktur latihan. Serangan itu menggunakan energi tingkat dasar — cukup kuat untuk membuat orang biasa terlempar beberapa meter.
"Ini hanya untuk mengukur ketahanan tubuh. Jangan khawatir, serangannya dikendalikan agar tidak melukai," jelas Tetua Chang.
Mu Chen berdiri tegak, lalu berkata santai:
"Baiklah, silakan saja. Saya akan berusaha tidak jatuh."
Instruktur mengumpulkan sedikit energi di telapak tangannya, lalu mendorongnya perlahan ke arah dada Mu Chen.
"Hati-hati ya..." ucapnya.
Begitu energi itu menyentuh dada Mu Chen — hal yang tidak terduga terjadi lagi!
Alih-alih mendorong tubuhnya mundur, energi itu justru diserap masuk dengan cepat! Instruktur merasakan seolah energinya tersedot perlahan, dan ia harus menarik tangannya kembali dengan cepat agar tidak kehabisan tenaga.
Mu Chen hanya merasakan sedikit getaran hangat di dadanya, lalu menatap instruktur dengan wajah bingung:
"Sudah selesai? Rasanya hanya seperti ditiup angin saja. Apakah serangannya terlalu lemah?"
Semua orang hampir tersedak ludah mereka. Bahkan instruktur itu sendiri menggaruk kepalanya dengan wajah bingung:
"Aneh sekali... energiku seolah hilang begitu saja. Apakah tubuhmu ini seperti lubang hisap?"
Setelah semua babak selesai, hasilnya diumumkan. Secara keseluruhan, Mu Chen menduduki peringkat pertama — meski dengan cara yang sangat berbeda dari orang lain.
Beberapa murid yang tadinya meremehkan kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa hormat dan rasa ingin tahu.
Mu Chen sendiri justru merasa sedikit malu dan berkata polos:
"Sebenarnya saya tidak melakukan apa-apa lho. Tubuh saya ini memang aneh, tidak bisa mengeluarkan tenaga, tapi ternyata lumayan kuat kalau dipakai untuk hal-hal fisik biasa. Ini seperti baju besi yang bisa berjalan sendiri!"
Tetua Chang tertawa dan menepuk bahunya:
"Ini adalah kelebihanmu yang unik. Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama. Kekuatan fisik yang kokoh juga merupakan hal yang sangat berharga."
Saat semua orang mulai bubar, perut Mu Chen tiba-tiba berbunyi keras: "KRUUUKKK!"
Ia memegangi perutnya dan tersenyum kikuk:
"Eh... ujian selesai, perut lapar. Kalau begitu saya ke dapur dulu. Siapa mau ikut membantu? Nanti saya ajari cara membuat nasi goreng yang enak!"
Beberapa murid yang penasaran langsung mengangkat tangan dengan antusias. Sejak hari itu, pandangan orang-orang terhadap Mu Chen berubah — meski ia tidak bisa mengeluarkan serangan energi seperti orang lain, mereka menyadari bahwa pemuda dari dunia lain ini memiliki keunikan yang tidak dimiliki siapa pun.