NovelToon NovelToon
Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Jangan Jatuh Cinta Sama Gue

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: Iskak M

Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Kencan Buta

Malem itu kantor udah sepi banget. Jam 9 lewat, lampu koridor cuma nyala separuh. Gue lagi buru-buru mau pulang setelah ngerjain laporan mendadak yang Ria kasih, pas lewat depan ruangan Bu Sita, pintunya terbuka sedikit. Bu Sita ngeliat gue dari dalam dan langsung manggil dengan suara tegas.

“Bram, masuk sebentar.”

Gue masuk. Ruangan agak gelap, cuma lampu meja nyala. Bu Sita lagi duduk di depan laptop, layarnya nunjukin rekaman CCTV.

“Gue lagi cek CCTV satu bulan terakhir. Ada surat ancaman masuk tadi siang. Lo tahu apa-apa soal ini?” tanyanya sambil ngeliat gue tajam, alisnya naik.

Gue geleng pelan. “Ga tahu Bu. Mungkin gosip biasa.”

Bu Sita berdiri, mendekati gue pelan. Bau parfumnya mahal langsung nyebar di ruangan. Dia berdiri tepat di depan gue, wajahnya deket banget sampe gue bisa ngerasain napasnya.

“Cium gue, Bram,” katanya tiba-tiba dengan suara rendah dan penuh nafsu.

Gila, gue bilang dalam hati.

Tapi Bu Sita ga kasih kesempatan mikir lama. Dia tarik kepala gue dengan tangan, bibirnya langsung nempel ke bibir gue. Ciumannya ganas dan liar, lidahnya masuk tanpa permisi, muter-muter dengan agresif. Gue balas dengan sama ganasnya. Tangan Bu Sita langsung turun ke bawah, mencari-cari di celana gue. Dengan gerakan cepet dia melorotkan celana dan boxer gue sekaligus.

Tonjolan gue langsung terpampang nyata di depan wajahnya. Bu Sita kagum, matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka.

“Besaaar juga ya…” gumamnya sebelum langsung memasukkan ke mulutnya dengan rakus.

Dia luar biasa pandai. Lidahnya muter-muter di kepala, mulutnya naik turun dalam-dalam, tangannya bantu goyang batangnya dengan ritme yang pas. Gue rekam diam-diam pake HP di saku, mungkin suatu saat bisa jadi alat tekan kalau dia macem-macem. Suara gluk-gluk basah kedengeran di ruangan sepi. Bu Sita hisap dengan semangat, hampir bikin gue keluar di mulutnya.

Setelah puas, dia lepas dengan suara “plop”, bibirnya basah mengkilap.

“Pulang sana. Besok kerja yang bener,” katanya sambil nyengir sambil rapihin baju dan rambutnya.

Gue keluar kantor dengan perasaan campur aduk lega, tegang, dan agak was-was. Langsung gue nyetir ke rumah orang tua di Cilandak karena Bu Harti maksa pulang lewat chat sejak sore.

Sampai rumah, ibu gue langsung nyambut dengan senyum lebar di pintu.

“Akhirnya pulang juga kamu! Lama banget ga ke rumah. Ada tamu spesial nih malam ini,” katanya sambil tarik tangan gue masuk.

Di ruang tamu ada cewek yang lagi ngobrol sama ibu. Namanya Maya, dokter muda umur 26. Tinggi sedang, perawakan mirip Marita tapi lebih kecil, berkacamata tipis, wajahnya ada jerawat kecil yang lucu. Dia senyum sopan pas dikenalin.

“Bram, ini Maya. Dokter kerja di klinik deket apartemen kamu. Cocok kan sama kamu?” ibu langsung gas tanpa basa-basi.

Gue cuma bisa senyum kaku. “Iya Bu… halo Maya.”

Ibu suruh gue ajak Maya keluar. “Ajakin jalan dulu, nanti dibalikin ke sini lagi. Ibu mau ngobrol sama orang tuanya Maya besok.”

Gue ajak Maya ke kafe deket rumah. Karena cuma satu kiloan, kami jalan kaki sambil gandengan tangan. Maya agak malu-malu, tangannya dingin.

“Kenapa jerawatnya banyak?” gue tanya santai biar obrolan ngalir.

“Ini kalau pas haid mas, biasa keluar jerawat. Kerjaan dokter emang bikin stres kadang,” jawabnya polos sambil ketawa kecil.

“Praktek di mana?”

“Klinik deket apartemen kamu katanya. Klinik Pratama.”

*Wah, klinik tempat gue periksain Sinta tempo hari,* gue mikir dalam hati sambil nyengir dalam.

Setelah dari kafe, gue balik ke rumah. Ibu gue maksa gue menginap. Maya juga diajak masuk kamar gue buat “kenalan lebih deket”. Gue tutup pintu kamar. Gue mandi dulu, keluar cuma pakai handuk pinggang. Maya masih duduk di tepi ranjang pegang HP.

Gue setengah telanjang, langsung foto selfie bareng dia. Tak sengaja Maya senggol punya gue pas geser posisi.

“Maaf mas…” katanya malu, pipinya merah.

Gue nafsu juga. Gue lepas kacamatanya pelan, pegang rahangnya, suruh buka mulut. Gue suka liat gigi behelnya yang rapi. Lalu gue masukin lidah, cium dia agak lama. Maya balas ragu tapi mulai ikut.

Ketukan di pintu. “Bram, jadi nginap kan?” tanya ibu gue dari luar.

Gue lepas Maya cepet. Maya buru-buru rapihin baju dan rambutnya. Ibu masuk kamar.

“Ini calon suami mu yang ibu ceritain. Beda 6 tahun, cocoklah. Bilang orang tuamu Maya, ibu segera lamarmu,” kata ibu gue langsung tanpa ampun.

Gue terkejut berat. “Bu, jalani sajalah dulu. Jangan buru-buru.”

Ibu gue nyengir lebar. “Ibu tahu selera kamu Bram. Maya sudah kamu bawa ke kamar, artinya dia sudah tahu hal privat di kamarmu. Cocok banget ini.”

Maya cuma diem malu, kepalanya menunduk. Akhirnya dia pamit, ibu antar ke mobilnya.

Gue langsung chat Dian.

Bram: Di, malam ini ke apartemen gue yuk.

Dian bales cepet dengan emoji hati.

Gue pamit ke ibu, “Ada urusan Bu yang harus diselesaikan malam ini.”

Sampai apartemen, gue ketemu Ulva yang baru pulang gym. Badannya masih berkeringat, tank top ketat dan legging yang nempel di tubuh melengkungnya.

“Eh Bram! Baru pulang? Besok malem jalan yuk, lama ga ketemu,” ajaknya sambil senyum lebar.

“Siap Ul, besok malem gue ajak lo dinner,” gue sanggupi sambil ngobrol sebentar di lobby.

“Janji ya! Jangan kabur lagi kayak biasa,” goda Ulva sambil kedip sebelum naik lift.

Ga lama kemudian Dian dateng. Gue gandeng langsung masuk apartemen. Begitu pintu nutup, Dian langsung cium gue ganas. Rasa tertahan dari pagi di ruang meeting akhirnya meledak.

Malam itu Dian pasrah total. Dia menyerahkan keperawanannya ke gue dengan penuh kepercayaan. Gue tuntun pelan-pelan, penuh kelembutan. Dian gigit bibir, mata berkaca-kaca, tapi bisik, “Lanjut Kak… aku mau.”

Sampai pagi, Dian baru sadar statusnya sudah tidak gadis lagi. Dia menangis di dada gue.

“Aku takut Kak… ini pertama kali aku. Jangan cerita ke siapa-siapa ya. Kalau hamil, Kakak tanggung jawab kan?” katanya sambil nangis, tangannya rekam suara di HP sebagai bukti.

Gue peluk erat. “Iya Di, gue tanggung jawab. Tenang ya.”

Dian minta pulang ke kos buat tenangin diri. Gue antar dia pulang dengan perasaan berat tapi puas.

Hari ini weekend, tapi kepala gue penuh Bu Sita, ancaman Angga, Maya yang ibu jodohin, Ulva yang nunggu besok, dan sekarang Dian yang baru aja kehilangan keperawanannya.

Hidup gue emang semakin rumit.

1
Iskak
terima kasih , boleh tukeran baca
S.Moonlight
hi, penulis baru.. ceritamu seru kok. semangat ya 💪

btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!