Wan Chen tidak ingin menyelamatkan dunia.
Ia hanya ingin kaya.
Untungnya, saat berada di ambang kematian, ia memperoleh Sistem dengan kemampuan Duplikasi dan Penyimpanan Dimensional.
Dan di dunia yang kekurangan segalanya, tidak ada kemampuan yang lebih menakutkan dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Akses VIP dan Rencana Pelelangan
Kredit itu mendarat di atas meja resepsionis berbahan marmer putih. Noda kecokelatan yang menempel di ujung kertasnya jelas bukan sekadar sisa lumpur.
Petugas wanita di balik meja mengedipkan mata dua kali. Senyum profesionalnya sedikit menegang, tapi ia menahan lidahnya rapat-rapat.
"Suite lantai tertinggi," suara Wan Chen memecah keheningan lobi. "Yang punya sistem pemindai bio-metrik secara mandiri."
Satu kartu akses berlapis krom mendarat pasrah di hadapannya.
Pintu lift terbuka dengan desisan lambat. Wan Chen melangkah masuk lebih dulu. Lin Yu Yan mengekor di belakangnya, kedua tangannya meremas ujung jaket dengan kikuk. Mata wanita itu terus berpindah, memindai pantulan kotor dirinya di dinding lift yang menyerupai cermin sempurna.
Lantai enam puluh.
Pintu logam berat suite itu bergeser. Aroma khas udara murni yang diproses oleh mesin pendingin langsung menyapu wajah mereka berdua. Bukan lagi bau karat. Bukan lagi bau darah sisa monster atau mesiu obralan.
Ruangan itu terlampau luas. Karpet tebal berwarna gading meredam suara alas kaki dengan sempurna. Di sudut paling jauh, jendela kaca raksasa menampilkan distrik pusat kota yang angkuh bermandikan cahaya neon.
Lin Yu Yan berdiri di ambang batas pintu. Sepatu botnya yang membawa debu luar terasa seperti dosa mematikan di atas hamparan karpet bersih itu.
Wan Chen berjalan santai. Jaket kotornya dilempar sembarangan ke atas sofa kulit di tengah ruangan.
Pria itu meregangkan otot leher sampai terdengar bunyi gemeretak pelan. Tidak ada raut takjub di wajahnya. Matanya hanya menyapu seluruh sudut fasilitas sekilas lalu.
'Orang bodoh menumpuk harta untuk pamer kemewahan,' pikir Wan Chen. Ia menjatuhkan diri ke bantalan sofa, membiarkan pegas empuk itu menyerap paksa rasa lelah dari tulangnya. 'Aku menumpuk harta supaya punggungku tidak perlu mencium aspal berdebu lagi.'
Bagi sebagian manusia elit, ruangan ini adalah validasi status. Bagi Wan Chen, ini cuma kewarasan fungsional. Makanan tanpa suntikan pengawet dan air panas tanpa kontaminasi logam adalah satu-satunya tujuan ia memanen nyawa di luar sana.
Ia kemudian memutar arah pandangnya. Menatap Lin Yu Yan yang masih berdiri membeku.
"Duduk," perintah Wan Chen singkat.
Wanita itu terkesiap, lalu melangkah ragu. Ia mengambil tempat di ujung sofa paling luar, mencoba menempati ruang sesedikit mungkin.
Wan Chen merogoh ruang dimensionalnya. Sebagian tumpukan uang tunai sisa rampasan Serigala Hitam ditarik keluar. Kertas kusam itu dilempar santai tepat ke pangkuan Lin Yu Yan.
Wanita itu menahan napas. Jemarinya secara otomatis memegang uang tersebut erat-erat.
"Uang operasional," tukas Wan Chen datar.
Lin Yu Yan mendongak. Matanya menyiratkan kebingungan yang tertimpa oleh kewaspadaan.
"Kau bilang ada lelang besar di distrik tengah besok malam." Wan Chen mencondongkan tubuh ke depan, menyandarkan kedua sikunya di atas lutut. "Aku butuh kursi kosong di sana."
Lin Yu Yan menelan ludah paksa.
"Lelang Era Baru," jawabnya pelan. "Akses mereka sangat berlapis. Faksi dagang raksasa yang mengelolanya punya standar verifikasi yang mustahil ditembus orang pinggiran."
Wan Chen mendengus sinis.
"Makanya aku menyuruhmu. Sogok penjaga tiketnya. Beli akses dari perantara pasar gelap. Sewa identitas palsu. Lakukan apa saja."
Jeda turun mengambil alih. Hening.
"Kau berguna sejauh informasi yang bisa kau bawa pulang," lanjut Wan Chen, suaranya tenang tanpa amarah namun mengiris telak. "Buktikan padaku kalau investasi logistik ini tidak terbuang sia-sia."
Sorot mata Lin Yu Yan seketika berubah. Rasa canggungnya tersapu habis oleh ketakutan primitif. Posisi ini sangat rapuh. Jika ia gagal memberikan nilai tambah malam ini juga, pria mengerikan di depannya bisa menendangnya kembali ke selokan.
"Aku akan membawa tiketnya," tekad Lin Yu Yan.
Tubuhnya berdiri cepat. Ritsleting jaketnya ditarik naik hingga membungkus dagu. Ia mengangguk sekali, berbalik kaku, dan menghilang di balik pintu suite tanpa repot mengucapkan perpisahan.
Ruangan itu kini sepenuhnya sepi.
Wan Chen melepaskan napas panjang. Ia bangkit dan melangkah lurus menuju area kamar mandi utama.
Keran diputar penuh. Air panas mengguyur kepalanya yang tertutup kotoran pertempuran. Kepalanya sedikit menengadah. Sensasi otot yang akhirnya melemah dari mode siaga adalah kemewahan mutlak. Mandi bukan sekadar urusan membersihkan noda fisik, ini ritual membilas residu ketegangan mekanis dari urat sarafnya.
Setengah jam terlewati, ia melangkah keluar hanya dengan balutan jubah mandi putih. Ujung rambutnya masih meneteskan air.
Kursi beludru di dekat meja kaca menjadi sasarannya. Jari telunjuk kirinya mengetuk udara kosong tanpa pola.
Satu panel biru transparan merobek udara. Matanya menatap daftar barang rampasan yang memenuhi gudang inventaris. Di sudut terjauh barisan layar, ikon merah kecil menyala ritmis.
Tiga tangkai Bunga Darah.
Tiga objek itu termaterialisasi langsung ke atas meja. Bunyi dentingan lirih terdengar saat batang kerasnya menyentuh permukaan kaca.
Cahaya merah pekat langsung berpendar memakan ruang. Biasnya menelan paksa lampu neon kota yang mencoba menyusup dari kaca jendela. Bau manis herbal yang aneh langsung menggerogoti udara steril di dalam kamar.
Mata Wan Chen menyipit. Otak pragmatisnya langsung menyusun probabilitas.
Barang ini terlalu tidak masuk akal. Jika ia menjual satu tangkai saja ke rumah lelang biasa, faksi manapun akan rela menukar separuh kekayaan mereka. Tapi itu murni manuver orang amatir yang panik mengejar nominal.
'Satu bunga bisa membawaku pensiun,' gumamnya pelan.
Jari telunjuknya mengetuk kaca meja. Konstan.
'Tapi menjual beberapa sekaligus di tengah kumpulan elit serakah... itu akan menciptakan kepanikan massal.'
Para penguasa faksi tidak takut miskin, mereka cuma takut mati. Melempar pasokan obat penunda kematian dalam jumlah yang melanggar logika akan merusak batas harga dasar. Mereka akan saling menikam leher lewat angka tawaran, hanya untuk memastikan faksi musuh tidak memonopoli kelangsungan hidup.
Gengsi. Keputusasaan. Harga tidak lagi punya plafon tertinggi.
Hanya saja, Wan Chen menatap sisa slot staminanya di sudut layar. Kelemahan absolutnya tetap bersarang pada kapasitas fisik tubuh manusia.
Bunga Darah ini adalah tiket cadangannya. Celah curang untuk memperpanjang napas di saat monster kelas tinggi memaksa batas fisiknya lagi. Ia wajib menahan sebagian pasokan. Menjaga lumbung sendiri sebelum menguras isi kantong orang lain.
Lalu sisanya? Barang rampasan receh dari Para Monster Mutasi masih menumpuk kotor di inventaris. Logam usang itu bisa dicairkan diam-diam di pasar bawah tanah untuk menutupi jejak uang masuk.
'Sisakan batas aman. Buat mereka kelaparan,' batinnya memaku keputusan.
Waktu bergulir lambat. Langit di luar sepenuhnya dikuasai warna hitam.
Klik.
Daun pintu suite terdorong kasar. Lin Yu Yan berjalan masuk dengan ritme napas yang berantakan.
Wanita itu menyandarkan bahunya pada daun pintu. Rambutnya lepek menempel di pelipis. Sebuah memar kemerahan baru saja tercetak di rahang kirinya. Bau mesiu murah serta asap tembakau limbah langsung mengotori ruangan, membawa salam hangat dari distrik terbawah.
Wan Chen bahkan tidak repot memutar kursinya. Tatapannya tertancap pada kaca jendela.
Langkah sepatu bot itu terseret perlahan mendekati meja. Tangan Lin Yu Yan merogoh ruang sempit di balik jaketnya.
Denting keras terdengar. Sebuah plakat tipis mendarat sembarangan di atas meja kaca. Logam emas murni berhias ukiran geometris yang rumit memantulkan cahaya merah ruangan.
"Itu... yang kau minta," ucap Lin Yu Yan susulan. Napasnya putus-putus. Tangannya memegang ulu hati.
Wan Chen perlahan menoleh. Sorotnya mendarat pada plakat emas itu.
"Jalur belakang pasar gelap," lanjut wanita itu, berusaha menormalkan pita suaranya. "Tiket VIP nomor cadangan. Aku memakai saluran anonim yang terputus dari pengawasan kota."
"Identitas asliku?" tanya Wan Chen datar.
"Kosong. Penyelenggara lelang murni menganggap kursi ini dibeli oleh calo tanpa wajah. Kau baru akan ditanyai saat pantatmu menyentuh kursi nomor nol di dalam ruangan," paparnya cepat.
Sudut bibir Wan Chen tertarik ke atas. Sebuah lengkungan tipis yang sangat tidak bersahabat.
Investasi nyawa pada informan amatir ini terbayar lunas. Jaringan jalanan milik wanita itu bekerja menutupi celah statusnya dengan presisi.
Wan Chen mengangkat badannya dari kursi. Plakat emas itu disambar kasar.
Kakinya melangkah membelah ruangan menuju lemari dinding yang menyatu dengan partisi kamar. Tangannya menarik satu setelan jas formal hitam tanpa sehelai benang cacat. Pakaian peradaban lama yang sudah terkubur dari ingatannya sejak retakan langit pertama kali muncul.
"Bagus," timpal Wan Chen pelan.
Jubah mandinya dilempar bebas ke karpet. Ia mulai membalut tubuhnya dengan setelan kemeja dan jas tersebut. Pergerakannya statis dan efisien. Udara di sekelilingnya seketika memadat.
Token emas itu disusupkan rapi ke saku bagian dalam jas. Wan Chen berhenti tepat di depan cermin raksasa.
"Mari kita buktikan," bisik Wan Chen seraya merapatkan kancing manset di pergelangan tangannya. "Seberapa jauh mental para bajingan kaya di kota ini bisa kuhancurkan besok malam."