Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Sarsinah vs Alina
18 Juni 1931. Pukul 20.00 waktu Batavia.
Rumah Kontrakan Petak di Kampung Kwitang.
Sarsinah terlonjak kaget sampai kursinya terguling ke belakang.
"Gusti Allah!" jeritnya tertahan.
Dia menatap horor ke arah mesin tik di depannya. Tombol-tombol itu bergerak sendiri! Bergerak tanpa disentuh!
Sarsinah mundur sampai punggungnya menabrak lemari. Dia gemetar hebat. Mistik. Klenik. Mesin tik ini ada penunggunya!
Apakah itu arwah Mas Arya?
Rasa takut Sarsinah perlahan dikalahkan oleh rasa rindu yang membuncah. Dia memberanikan diri mendekat, mengintip tulisan yang muncul secara gaib itu.
> Sarsinah...
> Pulanglah.
> Jangan mencari yang sudah hilang.
>
Sarsinah menangis. Dia menyentuh kertas itu.
"Mas Arya? Itu Mas Arya?" tanyanya dengan suara serak, lalu dia mengetik dengan jari telunjuk yang kaku.
> I n i M a s A r y a ?
> K e n a p a s u r u h s a y a p u l a n g ?
>
Alina di masa depan membaca balasan itu. Dia harus tega.
> Dia sudah tenang di lautan, Sarsinah.
> Dia tidak ingin kau menangisinya lagi.
> Dia ingin kau hidup. Menikah. Bahagia.
> Lepaskan dia.
>
Sarsinah membaca pesan itu. Hatinya hancur berkeping-keping. "Dia". Suara itu menyebut Arya dengan "Dia", bukan "Aku".
"Kamu siapa?" bisik Sarsinah. "Malaikat?"
Sarsinah mengetik lagi.
> S i a p a k a m u ?
>
Alina bingung. Siapa dia?
> Aku adalah penjaga kenangannya.
> Sarsinah, dengarkan aku.
> Ada seseorang yang menunggumu di masa depan.
> Seorang pria yang baik. Seorang guru.
> Jangan sia-siakan hidupmu untuk mengejar ombak yang sudah pecah di pantai.
>
Sarsinah tertegun. Guru?
Pikirannya melayang pada Mas Sudiro, tetangga barunya yang seorang guru HIS (sekolah dasar). Pria santun yang kemarin membantunya menawar harga mesin tik ini di Pasar Baru, dan yang memanggulkan mesin berat ini sampai ke rumahnya.
Mas Sudiro yang selalu tersenyum sabar melihat Sarsinah melamun.
"Mas Sudiro..." gumam Sarsinah.
Apakah ini petunjuk dari Tuhan? Bahwa Arya sudah benar-benar mati dan menyuruhnya move on?
Sarsinah menghapus air matanya. Dia merasa dadanya sesak, tapi juga sedikit lega. Ada kepastian, meski menyakitkan.
> B a i k l a h .
> S a m p a i k a n p a d a n y a . . . s a y a i k h l a s .
> T e r i m a k a s i h , P e n j a g a .
>
Di masa depan, Alina menghembuskan napas lega yang panjang. Dia berhasil. Dia menyelamatkan takdir Sarsinah.
"Maafkan aku membohongimu, Sarsinah. Tapi ini demi kebaikanmu," bisik Alina.
Namun, drama belum selesai.
Di tahun 1931, Sarsinah hendak menutup mesin tik itu. Dia ingin menyimpannya di lemari dan mulai melupakan masa lalu.
Saat dia menggulung kertas keluar (roll out), matanya menangkap sesuatu pada pita tinta (ribbon) hitam-merah yang terpasang di mesin itu.
Pita itu sudah tua dan agak kering. Tapi karena Sarsinah baru saja mengetik, pita itu bergeser, menampakkan bagian yang sebelumnya tergulung di dalam spool.
Di bagian itu, terlihat jejak ketikan lama yang tintanya sudah kering tapi bekas hantamannya masih membekas di kain pita. Seperti negatif film.
Sarsinah yang penasaran mendekatkan lampu minyak. Dia menyipitkan mata, mencoba membaca bekas huruf-huruf yang samar itu.
Kebetulan—atau kesialan—pita itu berhenti tepat pada jejak ketikan terakhir Arya sebelum dia meninggalkan mesin tik itu 6 bulan lalu.
Sarsinah mengeja huruf-huruf terbalik itu.
...k - a - r - e - p - i - j - g - n - a - T (Tanjung Perak...)
...o - k - i - M - g - n - u - B (Bung Miko...)
Tunggu. Itu bukan jejak ketikan Arya. Itu jejak ketikan orang lain?
Atau...
Sarsinah teringat sesuatu. Saat dia membeli mesin ini, si pedagang bilang mesin ini disita dari kosan Arya. Jadi yang terakhir memakai ini pasti Arya.
Kenapa Arya mengetik "Tanjung Perak"? Dan siapa "Bung Miko"?
Sarsinah bukan wanita bodoh. Cintanya mungkin buta, tapi instingnya tajam.
Tanjung Perak adalah pelabuhan di Surabaya.
"Mas Arya..." bisik Sarsinah, matanya membelalak. "Kamu nggak mati di Ancol. Kamu lari ke Surabaya."
Sarsinah menatap kertas yang baru saja menyuruhnya "ikhlas" dan "menikah dengan guru".
"Bohong," desis Sarsinah. Wajahnya mengeras. "Suara gaib ini bohong."
Dia kembali duduk di depan mesin tik. Kali ini dia tidak mengetik dengan ragu. Dia mengetik dengan kemarahan orang yang merasa dipermainkan.
> K A M U B O H O N G !
> K A M U B U K A N M A L A I K A T !
> K A M U P E R E M P U A N I T U K A N ? !
>
Di tahun 2025, Alina tersentak kaget.
> P E R E M P U A N Y A N G S E L A L U B I K I N M A S A R Y A S E N Y U M S E N D I R I !
> S A Y A T A H U M A S A R Y A M A S I H H I D U P !
> D I A D I S U R A B A Y A !
> D A N K A M U M E N C O B A M E N J A U H K A N S A Y A D A R I D I A !
>
Alina panik luar biasa. "Sial! Dari mana dia tahu Surabaya?"
Alina tidak menjawab. Dia takut salah bicara lagi.
Di Batavia, Sarsinah tidak butuh jawaban. Diamnya mesin tik adalah konfirmasi baginya.
Sarsinah berdiri, menyambar kain selendangnya. Dia mengambil celengan ayam dari lemari, memecahkannya ke lantai.
PRANG!
Uang recehan berhamburan. Dia memungutinya.
"Mas Sudiro!" teriak Sarsinah, berlari keluar rumah menuju rumah tetangganya. "Mas Sudiro! Antar saya ke Stasiun Gambir sekarang! Saya mau ke Surabaya!"
Di masa depan, Alina melihat layar laptopnya. Sebuah notifikasi peringatan dari software silsilah keluarga yang dia pasang menyala merah.
ALERT: Timeline Disruption Detected.
Data Genealogi "Sarsinah" berubah.
Entri "Menikah dengan Guru Desa tahun 1934" menghilang.
Berubah menjadi: "Status Tidak Diketahui / Hilang tahun 1931."
Alina menjambak rambutnya frustrasi.
"Tidak... tidak..."
Dia baru saja membuat Sarsinah nekat menyusul ke Surabaya.
Dan jika Sarsinah ke Surabaya, dia akan menemukan Arya (Miko).
Dan jika mereka bertemu... Arya mungkin akan luluh karena kasihan, atau tertangkap karena kecerobohan Sarsinah.
Sejarah hancur.
Alina harus ke Surabaya. Sekarang.
Dia harus sampai di sana sebelum Sarsinah sampai di sana—meski mereka terpisah waktu 94 tahun, lokasi "pertemuan" itu adalah titik kritis yang bisa dilihat Alina lewat arsip sejarah.
Perlombaan dimulai.
Alina vs Sarsinah.
Masa Depan vs Masa Lalu.
Semuanya menuju satu titik: Seorang kuli panggul bernama Miko di Tanjung Perak.
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan