NovelToon NovelToon
Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Raja Ruang & Waktu Di Akademi Para Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali di dunia yang dipenuhi Iblis dan Malaikat Jatuh bukanlah rencana Saiba Ren. Sebagai mantan Raja Dewa yang pernah mengguncang Alam Ilahi, ia kini harus memulai segalanya dari nol di Akademi Kuoh dengan identitas baru.
​Namun, Ren tidak datang sendirian. Di balik penutup matanya yang misterius, tersimpan kekuatan Six Eyes yang mampu menembus struktur semesta, dan di dalam jiwanya, istri-istri tercintanya masih tertidur dalam dimensi rahasia yang menunggu untuk dibangkitkan. Di dunia di mana Sacred Gear dan garis keturunan adalah segalanya, Ren hadir sebagai anomali yang tidak bisa diukur oleh logika sistem mana pun.
​Saat faksi-faksi besar mulai mengincar kekuatannya, Ren hanya memiliki satu prinsip: "Dunia ini boleh punya aturannya sendiri, tapi akulah yang menentukan kapan aturan itu berlaku bagiku." Bisakah ia membangun kembali kejayaannya sambil menjaga kedamaian haremnya yang perlahan terbangun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33.Naga Dibawa Langit Malam

Angin malam di puncak gedung Akademi Kuoh berembus lebih tajam, membawa aroma dingin dari pegunungan yang mengelilingi kota. Di atas atap yang luas ini, cahaya lampu kota di kejauhan tampak seperti hamparan berlian yang tumpah di atas beludru hitam. Namun, bagi Issei Hyodo, keindahan itu sama sekali tidak terasa. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi seragam sekolahnya yang sudah kotor terkena debu beton.

Ren berdiri tegak di tepi pagar pembatas, membelakangi Issei. Jubah seragamnya berkibar pelan tertiup angin, memberikan siluet yang begitu tenang namun sangat menekan. Di sampingnya, Bibi Dong bersandar dengan anggun pada tiang transmisi, matanya yang berwarna ungu gelap menatap Issei dengan pandangan yang sulit diartikan—antara rasa ingin tahu dan penghinaan yang halus.

"Berdirilah, Issei," ucap Ren tanpa menoleh. Suaranya rendah, namun bergema di keheningan malam, seolah-olah kata-katanya memiliki bobot fisik yang menekan udara. "Jika kau hanya bisa bersujud seperti itu, maka bidak Pawn di dalam tubuhmu hanyalah sampah yang menunggu untuk dibuang."

Issei menggeretakkan giginya. Ia memaksakan lengannya yang terasa lemas untuk menopang tubuhnya. "Saiba-kun... aku... aku sudah melakukan apa yang kau minta. Tapi kenapa... kenapa aku tidak bisa merasakan kekuatan itu lagi?"

Bibi Dong terkekeh, sebuah suara yang terdengar sangat jernih namun menyakitkan bagi harga diri Issei. Ia melangkah maju, setiap ketukan sepatunya di atas atap beton menciptakan gema yang membuat bulu kuduk Issei berdiri.

"Kau mencari kekuatan di tempat yang salah, Naga Kecil," Bibi Dong berdiri tepat di depan Issei, menatapnya dari ketinggian. "Kau mengharapkan kekuatan itu datang kepadamu karena kau dalam bahaya? Sangat naif. Kekuatan sejati adalah sesuatu yang kau paksa keluar dari jiwamu, bukan sesuatu yang kau mohon dari sebuah barang antik di tanganmu."

Ren berbalik perlahan. Di bawah sinar rembulan, kacamata hitamnya memantulkan pendaran cahaya yang misterius. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika, ruang di sekitar Issei terasa membeku. Tekanan gravitasi meningkat secara drastis, membuat Issei kembali tersungkur dengan bunyi dentum yang keras.

"Malam ini, aku tidak akan melatihmu sebagai seorang guru," Ren melangkah mendekat, langkahnya sangat tenang namun penuh otoritas. "Aku akan menjadi musuhmu. Jika kau tidak bisa mengaktifkan Boosted Gear dalam sepuluh detik ke depan... aku akan membiarkan Dong'er melumpuhkan seluruh saraf di tubuhmu. Dan percayalah, dia sangat ahli dalam hal itu."

Bibi Dong tersenyum manis, jemarinya mulai memercikkan energi ungu yang berpendar redup. "Suamiku benar. Aku sudah lama tidak membedah anatomi seekor naga yang masih hidup."

Ketakutan yang murni mulai menjalar di tulang belakang Issei. Ia bisa merasakan bahwa ini bukan sekadar gertakan. Mata Ren yang tersembunyi di balik kacamata itu benar-benar mengincarnya.

[SISTEM: Deteksi lonjakan adrenalin pada target Issei Hyodo. Resonansi jiwa mencapai ambang batas.]

[SISTEM: Analisis emosi—Putus asa (90%), Tekad (10%). Memerlukan pemicu tambahan untuk sinkronisasi penuh.]

"Satu..." Ren mulai menghitung.

"Tunggu! Saiba-kun!" Issei berteriak, suaranya parau.

"Dua... Tiga..."

"Aku tidak bisa! Tanganku tidak merespon!"

"Empat... Lima..." Ren terus menghitung tanpa emosi. Wajahnya tetap datar, seolah-olah ia sedang menghitung detik jatuhnya sehelai daun, bukan nasib seorang manusia.

Bibi Dong melangkah lebih dekat, energi racun di ujung jarinya mulai membentuk duri-duri halus yang bergetar. "Enam... Sayang sekali, sepertinya kita akan memiliki koleksi baru di asrama nanti."

"TUJUH!"

Issei memejamkan matanya rapat-rapat. Pikirannya melayang pada Rias yang menyelamatkannya, pada penghinaan Xenovia, dan pada tatapan meremehkan dari pasangan di depannya ini. Ia merasa muak. Muak menjadi yang terlemah. Muak menjadi investasi yang tidak berguna.

"DELAPAN!"

"DIAM!!!" Issei meraung.

Tiba-tiba, sebuah cahaya merah yang menyilaukan meledak dari tangan kiri Issei. Udara di atas atap bergetar hebat saat sebuah sarung tangan berlapis baja merah dengan permata hijau di tengahnya muncul dengan suara denting logam yang berat.

BOOST!

Suara digital yang berat menggema di seluruh area atap, mengusir keheningan malam.

Ren menghentikan hitungannya di angka sembilan. Ia menatap sarung tangan naga itu, lalu beralih menatap wajah Issei yang kini dipenuhi oleh kemarahan dan tekad yang baru. Ren tersenyum tipis—bukan senyum kemenangan, melainkan senyum seorang pemain catur yang melihat bidaknya akhirnya bergerak ke posisi yang tepat.

"Bagus," gumam Ren. Ia menoleh ke arah Bibi Dong. "Sepertinya kita tidak jadi membedahnya malam ini, Dong'er."

Bibi Dong menarik kembali energinya, meski wajahnya menunjukkan sedikit kekecewaan yang dibuat-buat. Ia berjalan kembali ke samping Ren, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dengan manja. "Sayang sekali. Padahal aku sudah sangat penasaran dengan warna darah naga."

Issei terengah-engah, menatap Boosted Gear di tangannya dengan tidak percaya. Ia merasa seolah-olah seluruh energinya telah terkuras, namun ada kepuasan aneh yang mulai tumbuh di dadanya.

"Latihan sebenarnya baru dimulai, Issei," ucap Ren sambil melepaskan kacamata hitamnya, memperlihatkan pendaran biru kristal dari Six Eyes yang seolah-olah sanggup menembus jiwa Issei. "Simpan kekuatan itu. Besok pagi, saat matahari terbit, kau akan menunjukkan pada Rias dan Gereja bahwa kau bukan lagi sekadar pelayan yang menunggu diperintah."

Ren merangkul pinggang Bibi Dong, membalikkan tubuh untuk meninggalkan Issei yang masih berlutut di tengah atap.

"Beristirahatlah. Besok, kita akan membuat mereka semua gemetar," suara Ren terbawa angin malam, meninggalkan Issei dalam kesunyian yang kini terasa jauh lebih penuh dengan harapan daripada ketakutan.

1
Chandra
lanjut lagi lebih banyak lagi
Chandra
lanjut mana sih
Chandra
lanjut mana
Chandra
lanjut lagi
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut lagi seru ini
Chandra
lanjut lagi
Chandra
lanjut
Chandra
mana lanjutnya 😭
Chandra
mana lanjutnya
Chandra
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!