Di kedalaman hutan yang sunyi, di mana wabah asing pernah merenggut segalanya, Alexandria Grace hidup sendirian—seorang gadis yang selamat karena kekuatan muda yang masih membara.
Hutan adalah rumahnya, kesunyian adalah temannya, sampai suatu hari ia menemukan seekor macan kumbang yang terluka, terperangkap dalam jebakan manusia. Rasa iba mengantarnya merawat makhluk itu dengan setia, tak menyadari bahwa ia sedang membuka pintu bagi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pertolongan.
Saat luka sembuh dan ikatan tak terlihat mulai terjalin, malam musim kawin membawa kejutan yang mengubah segalanya, sosok binatang yang ia kenal berubah menjadi pria dewasa yang memancarkan aura misterius, dan tanda yang pernah ia rasakan kini menjadi janji cinta beda dunia yang tak terelakkan—meskipun dunia di sekitar mereka siap untuk menolak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhafira nabhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Pertempuran Akhir dan Kedamaian yang Kembali
Fajar di Eldoria tampak berbeda pada hari itu. Langit yang biasanya berwarna ungu tua kini sedikit kemerahan, seolah meramalkan pertempuran besar yang akan terjadi. Leonard berdiri di depan pasukan yang sudah siap berangkat—lebih dari tiga ratus orang dengan wajah penuh tekad, siap untuk merebut kembali istana kerajaan yang kini dikuasai oleh Valerius.
Di sisinya, Alexandria mengenakan baju zirah perak yang telah diberi sihir pelindung khusus, dengan tas ramuan yang penuh di pundaknya. Marcus dan Lyra berdiri di belakang mereka, memimpin pasukan masing-masing dari markas Ironhold dan desa Silverleaf.
"Saudaraku sekalian!" suara Leonard bergema kuat dan jelas, sementara Pedang Kejayaan di tangannya memancarkan cahaya keemasan yang terang.
"Hari ini kita berjuang bukan hanya untuk kerajaan, tapi untuk masa depan kita semua! Untuk keluarga kita, untuk desa kita, dan untuk kedamaian yang telah lama hilang dari Eldoria!"
Suara sorak dan teriak semangat menggema ke seluruh barisan pasukan. Mereka bergerak maju dengan langkah yang mantap menuju istana kerajaan yang terletak di tengah kota besar Eldoria Prima. Saat mereka semakin dekat, mereka bisa melihat bahwa istana itu dikelilingi oleh pasukan Valerius yang banyak, dengan tembok pertahanan yang tinggi dan sihir gelap yang membungkus area sekitarnya.
"Tembok sihir gelap," bisik Alexandria sambil mengamati lapisan kabut hitam yang menyelimuti tembok istana. "Kita harus menghancurkannya dulu sebelum bisa masuk."
Leonard mengangguk, lalu menoleh ke arah ahli sihir yang ada di pasukan mereka.
"Para ahli sihir, bersiaplah! Kita akan menggunakan kekuatan bersama untuk menghancurkan tembok sihir itu. Alex, bantu mereka dengan ramuanmu!"
Alexandria segera bergerak ke kelompok ahli sihir, memberikan ramuan khusus yang bisa meningkatkan kekuatan sihir mereka. Bersama-sama, mereka membentuk lingkaran dan mulai mengumpulkan kekuatan sihir mereka. Cahaya beragam warna emas, perak, biru, dan hijau mulai menyatu menjadi satu pancaran cahaya yang sangat terang, kemudian ditembakkan ke arah tembok sihir gelap.
BOOOM!
Suara ledakan besar menggema saat cahaya bersinar bertemu dengan tembok sihir. Lapisan kabut hitam mulai terkoyak dan menghilang, memperlihatkan tembok istana yang sebenarnya. Namun, saat itu juga, gerbang istana terbuka lebar dan pasukan Valerius keluar dengan teriak ganas.
Pertempuran dimulai.
Pasukan Leonard bergerak dengan terkoordinasi baik—pejuang terlatih ke depan melawan prajurit Valerius, ahli sihir di belakang memberikan dukungan dengan sihir pelindung dan serangan, sementara Alexandria dan beberapa wanita lain mengurus yang terluka dengan ramuan penyembuhnya.
Leonard sendiri berada di garis depan, memegang Pedang Kejayaan yang dengan mudah menghancurkan senjata musuh dan menghancurkan sihir gelap yang mereka lemparkan. Marcus dan Lyra mengikutinya dengan gigih, membantu membersihkan jalan menuju pintu utama istana.
Namun, saat mereka hampir mencapai pintu istana, sebuah sosok besar muncul di atas teras istana, Itu Valerius sendiri, mengenakan baju zirah hitam yang mengerikan dengan mahkota yang penuh duri di kepalanya. Di tangannya, ia memegang tongkat sihir gelap yang memancarkan aura hitam pekat.
"LEONARD!" teriak Valerius dengan suara yang mengerikan.
"KEMBALI KEMARI UNTUK MEMPERJUANGKAN APA YANG KATAMU MILIKMU? TETAPI KEKUASAAN ADALAH MILIK YANG BERANI MEMBAWA DIRINYA!"
"Valerius!" balik Leonard dengan suara yang tegas, mengangkat Pedang Kejayaan ke atas kepalanya.
"Waktumu sudah habis! Aku akan mengembalikan hak rakyat atas kebebasan!"
Tanpa berlama-lama, Valerius melontarkan serangan sihir gelap yang kuat ke arah Leonard. Leonard dengan cepat menghalangnya dengan Pedang Kejayaan, dan cahaya keemasan dari pedang itu bertempur dengan energi hitam dari tongkat sihir Valerius.
Alexandria melihat bahwa Leonard kesulitan melawan sendirian. Tanpa berpikir dua kali, ia berlari menuju arah mereka, membawa dengan dirinya sebuah botol ramuan khusus yang telah ia buat dengan bahan dari dunia manusia dan sihir Eldoria.
"Leo, tangkap ini!" teriak Alexandria saat melemparkan botol itu ke arah Leonard.
Leonard menangkap botol dengan cepat, lalu memecahkannya di atas bilah Pedang Kejayaan. Segera, cahaya dari pedang itu menjadi lebih terang dan menyala dengan warna keemasan yang lebih kuat. Dengan kekuatan baru itu, ia menyerang Valerius dengan gerakan cepat dan kuat.
Valerius terkejut dengan kekuatan tambahan yang datang dari Leonard. Ia mencoba membela diri dengan sihir gelapnya, tapi tidak bisa menandingi kekuatan cinta dan keadilan yang terkandung dalam Pedang Kejayaan. Saat bilah pedang menyentuh tubuhnya, aura sihir gelap yang membungkusnya mulai menghilang.
"Aku tidak akan menyerah!" jerit Valerius dengan marah, mencoba mengumpulkan kekuatan terakhirnya.
Namun, saat itu juga Alexandria berdiri di samping Leonard, menggenggam tangannya dengan erat. Cahaya putih lembut mulai memancar dari tubuhnya, menyatu dengan cahaya keemasan dari pedang. Bersama-sama, mereka mengeluarkan pancaran cahaya yang sangat terang yang menyelimuti Valerius.
"Sekarang kamu akan melihat kekuatan cinta yang sejati!" ucap Leonard dengan suara yang penuh tekad.
Kekuatan cinta dan keadilan itu terlalu kuat bagi Valerius. Sihir gelap yang ada di dalam dirinya mulai terkikis dan menghilang, serta baju zirahnya yang mengerikan mulai hancur berkeping-keping. Akhirnya, ia jatuh ke tanah dengan tubuh yang lemah dan wajah yang penuh penyesalan.
"Aku... aku salah..." bisik Valerius dengan suara yang lemah. "Aku terlalu terpaku pada kekuasaan dan melupakan makna sejati dari menjadi pemimpin."
Leonard mendekat dengan hati yang penuh belas kasihan, bukan kebencian.
"Kamu memang salah, Valerius. Tapi masih ada waktu untuk memperbaiki kesalahanmu. Eldoria bisa memberimu kesempatan kedua jika kamu sungguh-sungguh menyesali tindakanmu."
Dengan itu, pasukan Valerius yang masih bertahan melihat pemimpin mereka telah dikalahkan dan mulai menyerah. Pasukan Leonard merayakan kemenangan mereka dengan teriak kegembiraan yang menggema ke seluruh istana.
Setelah pertempuran usai dan keadaan kembali terkendali, Leonard dan Alexandria memasuki istana kerajaan yang telah lama ditinggalkannya. Di dalam istana yang megah itu, mereka menemukan ruang takhta yang luas dengan takhta kerajaan yang indah di tengahnya.
Leonard berdiri di depan takhta, lalu menoleh ke arah Alexandria dengan tatapan penuh cinta dan rasa syukur.
"Tanpamu, Alex, semua ini tidak akan pernah terjadi. Kamu adalah penyelamat Eldoria dan juga penyelamat hatiku."
Alexandria tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu sendiri yang kuat, Leo. Aku hanya membantu kamu menemukan kekuatan yang sudah ada di dalam dirimu."
Pada hari berikutnya, upacara penobatan Leonard sebagai raja baru Eldoria diadakan di halaman istana dengan dihadiri oleh semua penduduk desa yang telah membantu dalam perjuangan. Saat mahkota kerajaan diletakkan di kepalanya, suara sorak dan tepukan tangan menggema ke seluruh area.
Setelah upacara selesai, Leonard berdiri di atas panggung dengan Alexandria di sisinya. Ia mengangkat tangan untuk mendapatkan perhatian semua orang.
"Saudara-saudaraku!" ucap Leonard dengan suara yang kuat dan jelas.
"Eldoria telah melalui masa-masa sulit, tapi sekarang kita berdiri kembali dengan kuat! Saya berjanji akan memimpin dengan keadilan dan cinta, bersama dengan ratu yang akan saya banggakan untuk hidup bersama—Alexandria!"
Suara sorak yang lebih keras menggema saat semua orang melihat Leonard yang membawa tangan Alexandria ke atas kepala mereka. Di bawah langit Eldoria yang kini kembali bersinar cerah dengan dua bulan yang indah, mereka saling menatap dengan cinta yang tak tergoyahkan.
"Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku, Alex," bisik Leonard dengan lembut.
"Terima kasih telah membawa aku ke dunia yang indah ini, Leo," balas Alexandria dengan senyum manis.
Mereka berciuman di hadapan semua orang, menandakan awal dari masa baru bagi Eldoria, masa di mana cinta dan keadilan menjadi dasar pemerintahan, dan di mana batasan antara dunia tidak lagi menjadi halangan bagi cinta yang sejati.