Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26.
Melda mengepalkan tangannya dengan erat, ia tidak menyangka Esther mengadu pada Jack.
"A.. apa? aku tidak melakukan apa pun padanya!" jawab Melda tidak mengaku.
"Ku tanyakan sekali lagi! apa kamu yang menghasut teman sekampusmu menindas istriku?!"
"A... aku!" Melda menjadi gugup melihat amarah Jack.
Edison dan Rachel mencoba menyela diantara amarah Jack, untuk membela Melda.
"Jack, hanya masalah candaan anak muda! kamu jangan terlalu ambil ke hati!" sahut Edison sembari tersenyum.
"Iya, benar! salam perkenalan antara senior dan junior dikampus, sepertinya memang harus seperti itu!" Rachel menambahkan sembari tersenyum juga.
"Oh! aku baru tahu seperti begitu salam perkenalan dikampus! Nick, bawakan botol air mineral itu padaku!!"
"Baik, Tuan!"
Nick membawa beberapa botol air mineral, dan menaruhnya ke atas meja.
"Sayang, lakukan salam perkenalan padanya!"
Jack memberi kode lirikan mata kearah botol air mineral, yang ada di atas meja pada Esther.
"Haruskah?" tanya Esther sedikit ragu, karena beberapa botol air mineral itu ada sekitar satu lusin, yang harus ia lemparkan pada Melda.
"Iya, harus! karena katanya itu semacam candaan, untuk berkenalan dengan mahasiswi baru!"
Dengan ragu tangan Esther mengambil satu botol air mineral, yang berisi air mineral tersebut.
"Ayo! jangan ragu! lakukan seperti yang mereka lakukan padamu!"
Jack memberi semangat pada Esther, untuk melempar Melda dengan botol air mineral tersebut.
Melda yang mengerti maksud Jack dengan beberapa air mineral itu, menjadi panik, dan mencoba untuk menjelaskan kembali apa yang tadi ditanyakan Jack.
"Ka.. kak Jack! aku.. aku sebenarnya tidak bermaksud seperti itu padanya! karena... !!"
"Kamu harus memanggil kakak ipar padanya! Esther istriku! Ibu yang melahirkan anak-anakku!!!" bentak Jack memotong penjelasan Melda.
Raut wajah Melda seketika masam mendengar apa yang dikatakan Jack.
Vera yang sudah merasa senang, kalau Melda menjalankan keinginannya membalas Esther, menjadi gelisah di tempatnya berdiri.
Ia pasti akan dipaksa juga untuk memanggil Esther sebagai kakak ipar, karena Williams adik sepupu Jack.
Tidak akan! usiaku lebih tua dua tahun darinya! aku tidak mungkin memanggilnya kakak ipar! bisik hati Vera menahan rasa, yang semakin tidak suka pada Esther.
Esther meraih satu botol air mineral itu, dan ia berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati Melda.
Melda seketika mundur melihat Esther yang melangkah ke arahnya, dan ia pun merapat pada Vera.
"Lakukan! agar ia tahu salam perkenalan, yang ia ajarkan pada temannya seperti apa rasanya!!" Jack memberi semangat pada Esther.
Sementara Edison dan Rachel, yang tadinya mengerti perkenalan yang asal saja mereka katakan, menjadi panik.
Akhirnya mereka menyadari apa yang dilakukan Melda pada Esther, sampai Jack begitu marah pada Melda.
"Eh, Ja.. Jack, po.. ponakanku! mungkin teman Melda salah mengartikan perkataannya, jadi mereka spontan melakukannya!" Edison mencoba menjelaskan lagi, untuk meredakan amarah Jack.
"Iya-iya! benar!" Rachel mengangguk-angguk membenarkan apa yang dikatakan suaminya.
"Oh! begitu, ya!!" senyum dingin Jack terlihat semakin dingin, "Istriku, lakukan dengan spontan! seperti yang dilakukan mereka!!"
"Hah?!" Edison dan Rachel terkejut mendengar apa yang dikatakan Jack.
Esther pun mengangkat botol air mineral yang ia pegang, dan Melda seketika berlindung ke balik punggung Vera.
Tapi Vera dengan cepat menggeser tubuhnya ke samping, dan Melda pun merasakan bahunya terkena hantaman botol air mineral.
Buk!
"Akh!!!" jeritnya.
"Lagi!" Jack mengambil botol air mineral dari atas meja, lalu melangkah menghampiri tempat Esther berdiri.
Ia memberikan botol yang ia pegang kepada Esther, dan Esther menerima botol itu, lalu kembali melemparkannya kepada Melda.
Rachel yang tidak menyangka, ternyata seperti itu yang dilakukan Melda pada Esther, seketika berlari untuk melindungi Melda.
"Akh!!"
Rachel merasakan sakit pada dadanya, begitu botol berisi air mineral itu mengenai tubuhnya.
"Oh! ternyata Bibi ingin merasakan juga, bagaimana salam perkenalan yang dilakukan Melda pada istriku! baguslah!!"
Jack kemudian menoleh ke arah Edison, "Paman juga ingin merasakannya? biar aku yang melakukannya pada Paman!!"
Nick dengan cepat memberikan satu botol air mineral itu kepada Jack, dan sontak membuat Edison panik.
"Ti.. tidak! pada Williams saja kamu lakukan!!" jawab Edison bangkit berdiri dari duduknya.
"Apa? kenapa aku jadi ikut terlibat?!" tanya Williams seketika panik.
"Agar kamu juga merasakan, bagaimana salam perkenalan Melda menyambut mahasiswa baru di kampusnya!!"
Jack memutar botol air mineral dalam genggaman tangannya, dan sontak membuat Williams bangkit berdiri dari duduknya.
"Jangan pergi!!"
Melihat Jack akan melemparnya, Williams pun dengan cepat membentak Melda.
"Melda! kamu harus minta maaf pada kakak ipar! kamu sudah keterlaluan membullynya! cepat minta maaf!!"
"A.. aku hanya ingin menuntaskan amarah kakak ipar saja! dia sudah menipu kakak ipar!!" jawab Melda membela diri.
"Apa?! coba katakan sekali lagi!!" bentak Jack.
Sementara Vera, begitu mendengar apa yang dikatakan Melda menjadi panik.
"Aduh!!" Vera meringis memegang perutnya yang membesar.
Ia harus mengakhiri keributan yang telah dilakukan Melda, dengan berpura-pura sakit perut.
"Hah?! kenapa?!"
Satu keluarga Williams terkejut melihat Vera yang kesakitan, dan serentak menghambur ke arah Vera.
"Perutku sakit!!" rintih Vera dengan wajah yang ia buat terlihat menahan sakit.
"Ayo, kerumah sakit!!" Williams menyanggah tubuh Vera yang lemas.
Vera yang tadinya hanya berpura-pura saja, tiba-tiba ia merasakan perutnya memang sakit.
"Akh!!" rintihnya benar-benar kesakitan.
"Ayo, cepat kita ke rumah sakit!!"
Vera tidak menyangka perutnya bisa begitu sakit, seperti ditusuk jarum, membuat seluruh tubuhnya merasakan sakit yang mengigit.
Melihat Vera yang kesakitan, Esther teringat waktu ia mengalami kesakitan, diwaktu hamil tujuh bulannya.
"Kamu! kamu!!" Vera menunjuk Esther diantara rasa sakitnya.
Esther diam saja melihat Vera yang kesakitan.
"Kamu pembawa sial! ini semua gara-gara kamu!!" Vera berteriak pada Esther.
"Apa maksudmu?! Williams, apa istrimu memiliki penyakit? sampai menuding istriku pembawa sial! sedari tadi istriku tidak mendekat padanya!!"
"Vera! kamu jangan asal menuduh! Ayo, sebaiknya kita ke rumah sakit!!"
Dengan memapah Vera yang semakin kesakitan, Williams membantu Vera melangkah keluar dari dalam vila.
Keadaan keluarga Edison seketika menjadi panik dengan keadaan Vera, yang tiba-tiba kesakitan.
Vera merasa heran dengan hamilnya yang tiba-tiba begitu sakit, seperti ada beberapa jarum menusuk perutnya.
Kenapa bisa begini? aku tadi hanya berpura-pura saja! pikir Vera tidak mengerti.
"Aaa.. sakit!!!" Vera merintih terus, bahkan sudah sampai dirumah sakit.
Ia telah berbaring di atas brankar, dan di dorong dua perawat menuju ruang bersalin.
"Sialan kamu Esther! apa yang telah kamu lakukan padaku! aku membencimu!!!" jeritnya sembari terus merintih kesakitan.
"Aku tidak melakukan apa pun!" jawab Esther merangkul lengan Jack erat.
Mereka bertiga, Jack dan juga Nick, ikut melihat ke rumah sakit, memastikan Vera sebenarnya kenapa tiba-tiba merasakan kesakitan.
Bersambung.......
cari penyakit aja kamu.....😡
makanya cepetan nyatain perasaan kamu, biar gk salaha paham terus.
🤭🤭