Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Jakarta yang Berubah Warna
Suara bising mesin rumah sakit mendadak berubah menjadi dengung statis yang menyakitkan telinga. Aruna mencengkeram sprei ranjangnya, matanya terpaku pada layar monitor detak jantung yang kini tidak lagi menampilkan angka, melainkan barisan kode merah yang berkedip cepat. Pesan "Penyusup Terdeteksi" itu seolah menertawakan ketenangan yang baru saja ia rasakan.
Dokter Arvand atau pria yang kini memakai identitas itu, langsung mengubah raut wajahnya. Kelembutan di matanya hilang, digantikan oleh kewaspadaan tajam seorang jenderal yang siap berperang. Ia menarik Arel ke belakang punggungnya, matanya menyapu sekeliling kamar dengan teliti.
"Ratri, jangan lepaskan tanganku," bisik Arvand. Suaranya rendah dan penuh otoritas, sangat kontras dengan jas putih dokter yang ia kenakan.
"Arvand, apa yang terjadi? Katamu kita sudah aman di sini!" Aruna mencoba turun dari ranjang, namun kakinya masih terasa seperti jelly.
"Sistemnya tidak menyerah begitu saja, Aruna. Kita tidak hanya pindah server, kita melakukan migrasi paksa," Arvand membantu Aruna berdiri. "Dan sepertinya, 'Bos' mu itu punya akses lebih besar ke dunia nyata daripada yang kita duga."
Tiba-tiba, lampu di koridor rumah sakit padam. Suasana menjadi gelap gulita selama beberapa detik sebelum lampu darurat berwarna merah menyala, memberikan kesan mencekam yang mengingatkan Aruna pada pilar cahaya ungu di ibu kota.
Brak!
Pintu kamar rumah sakit terbanting terbuka. Dua pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam dan kacamata gelap berdiri di sana. Mereka tidak tampak seperti petugas keamanan rumah sakit. Gerakan mereka kaku, hampir robotik, dan kulit mereka terlihat pucat seperti plastik di bawah sinar lampu merah.
"Subjek Aruna, Arvand, dan Arel. Kalian diminta kembali ke pusat data untuk kalibrasi ulang," salah satu dari mereka berbicara dengan suara yang tidak memiliki emosi.
"Kalibrasi matamu!" Arvand tidak membuang waktu. Ia menyambar sebuah tiang infus dari besi yang ada di samping ranjang.
Meskipun di dunia ini ia tidak memegang pedang pusaka, insting tempur Arvand tidak berkurang sedikit pun. Dengan satu gerakan memutar yang sangat cepat, ia menghantamkan tiang besi itu ke arah pria berbaju hitam pertama. Suara dentuman keras terdengar, tapi pria itu tidak jatuh. Ia hanya terhuyung sedikit, kepalanya miring dengan sudut yang tidak alami, lalu perlahan kembali tegak.
"Mereka bukan manusia, Aruna! Mereka adalah eksekutor sistem yang dikirim ke sini!" teriak Arvand dengan panik.
"Lari ke arah lift darurat!" Aruna menarik tangan Arel. "Aku tahu denah rumah sakit ini!"
Mereka berlari keluar kamar, menyusuri koridor yang kini dipenuhi kepanikan. Pasien dan perawat berlarian tanpa arah, sementara layar-layar televisi di ruang tunggu mulai menampilkan wajah sang "Bos" yang tersenyum dingin.
"Aruna, Aruna..." suara sang Bos menggema melalui pengeras suara rumah sakit. "Kau pikir kau bisa mencuri asetku dan membawanya ke duniamu? Setiap kata dalam hidup mereka adalah milikku. Kembalikan mereka sekarang, atau aku akan menghapus realitas di sekitarmu satu per satu."
Arel menangis, kakinya yang kecil berusaha mengimbangi langkah cepat orang tuanya. "Ibu, kenapa orang jahat itu ada di sini juga? Arel takut..."
"Jangan takut, Sayang. Ibu tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi," Aruna mencoba menenangkan, meski hatinya sendiri berdegup kencang karena takut.
Mereka mencapai pintu lift, namun Aruna segera menarik mereka menuju tangga darurat. "Jangan pakai lift, mereka bisa memutus kabelnya lewat sistem!"
Saat mereka menuruni tangga, Aruna merasakan saku baju rumah sakitnya bergetar. Ia merogohnya dan menemukan sebuah ponsel yang bukan miliknya. Di layarnya, sebuah aplikasi terbuka secara otomatis. Nama aplikasinya: Admin NovelToon.
Di sana, ia melihat profil dirinya sedang diedit secara waktu nyata.
Status: Dalam Pelarian.
Rintangan: 10 Unit Eksekutor.
"Dia menulis hidup kita sekarang juga!" seru Aruna sambil memperlihatkan layar itu pada Arvand.
Arvand melirik layar ponsel itu sambil terus menjaga posisi di depan. "Bisa kau ubah naskahnya?"
Aruna mencoba mengetik di layar, tapi sebuah pesan muncul: Akses Ditolak. Level Otoritas Tidak Mencukupi.
"Aku tidak bisa! Dia mengunci aksesku!" Aruna nyaris putus asa.
Mereka sampai di lantai dasar dan segera keluar menuju parkiran. Jakarta di luar sana tampak normal, namun ada sesuatu yang salah. Langit malam tidak berwarna hitam atau biru tua, melainkan abu-abu statis yang terlihat seperti layar televisi yang tidak mendapat sinyal. Mobil-mobil yang melintas bergerak dalam pola yang terlalu rapi, seolah-olah mereka adalah bagian dari latar belakang yang diputar ulang.
"Mobil itu!" Arvand menunjuk sebuah SUV hitam yang terparkir. Ia menghancurkan kaca jendela dengan tiang infusnya, membuka pintu, dan menyalakan mesin dengan cara menyambungkan kabel di bawah kemudi; sebuah keahlian yang entah dari mana ia dapatkan.
"Sejak kapan dokter belajar mencuri mobil?" tanya Aruna sambil masuk ke kursi penumpang dengan Arel.
"Aku punya banyak waktu untuk 'mengunduh' pengetahuan selama perjalanan antar dimensi tadi," Arvand menginjak gas, membuat ban mobil berdecit di aspal.
Mereka melaju membelah jalanan Jakarta yang terasa asing. Gedung-gedung tinggi tampak bergetar, terkadang menghilang dan digantikan oleh barisan kode hijau sebelum kembali utuh. Realitas di sekitar mereka mulai retak karena kehadiran dua entitas besar yang seharusnya tidak ada di sini.
Tiba-tiba, jalanan di depan mereka terputus. Aspal itu berubah menjadi jurang hitam yang dalam, memperlihatkan kehampaan digital di bawahnya. Arvand membanting setir ke kiri, masuk ke dalam sebuah gang sempit di daerah pemukiman padat.
"Kita terjepit! Dia sedang menghapus jalanan di depan kita!" teriak Aruna.
"Kita butuh tempat di mana sinyalnya lemah," Arvand menghentikan mobil di depan sebuah bangunan tua yang tampak seperti warnet yang sudah tutup. "Tempat yang tidak terhubung dengan jaringan utama."
Mereka masuk ke dalam bangunan itu. Di dalamnya berdebu, penuh dengan komputer-komputer lama yang sudah tidak terpakai. Di pojok ruangan, duduk seorang wanita yang sedang merokok pelan, menatap mereka dengan tatapan bosan.
Itu adalah Seraphina. Kali ini ia mengenakan jaket kulit dan celana jin sobek-sobek.
"Kalian terlambat lima menit," ujar Seraphina sambil mematikan rokoknya di atas meja kayu.
"Sera? Bagaimana kau bisa sampai di sini lebih dulu?" Aruna terengah-engah.
"Aku adalah bug tertua di sistem ini, Aruna. Aku tahu semua jalan tikus dimensi," Seraphina berdiri dan mendekati sebuah komputer tua yang masih menyala. "Dengar, Bos sedang melakukan pemindaian besar-besaran. Dia ingin menarik Arel kembali karena Arel adalah sumber energi murni. Jika dia berhasil, Jakarta ini akan benar-benar terhapus dan menjadi bagian dari servernya."
"Apa yang harus kami lakukan?" tanya Arvand, tangannya masih mencengkeram tiang besi yang kini sudah bengkok.
Seraphina menunjuk ke arah Aruna. "Kau adalah penulisnya. Kau punya satu kekuatan yang tidak dimiliki Bos. Kau punya empati. Bos hanya melihat mereka sebagai angka, kau melihat mereka sebagai keluarga. Kau harus masuk ke dalam server pusatnya dan melakukan hard reset dari dalam."
"Caranya?"
"Kau harus tidur, Aruna. Masuk kembali ke alam bawah sadarmu tempat naskah itu pertama kali lahir," Seraphina menyiapkan sebuah kabel elektroda kuno. "Arvand dan Arel akan menjagamu di sini. Tapi ingat, jika kau mati di dalam sana, kau tidak akan pernah bangun lagi."
Aruna menatap Arvand. Pria itu mengangguk, memberikan keyakinan melalui sorot matanya yang tajam. "Lakukan, Ratri. Aku akan memastikan tidak ada satu pun eksekutor yang menyentuh pintu ini."
Aruna berbaring di atas meja panjang. Seraphina memasangkan alat-alat itu ke kepalanya. Saat Aruna mulai memejamkan mata, ia mendengar suara gedoran keras di pintu depan warnet. Pasukan eksekutor sudah sampai.
"Aruna... ingat satu hal," bisik Seraphina sebelum Aruna kehilangan kesadarannya. "Jangan percaya pada apa yang kau lihat di dalam sana. Bos akan menggunakan kenanganmu yang paling menyakitkan untuk menghentikanmu."
Zzzztt!
Kesadaran Aruna tersedot ke dalam ruang putih hampa yang familiar. Namun kali ini, ia tidak sendirian. Di tengah ruangan itu, berdiri sebuah meja kantor yang sangat mirip dengan mejanya dulu. Dan di atas meja itu, ada sebuah naskah yang berjudul: Kisah Akhir Aruna: Sebuah Kegagalan.
Aruna mendekati meja itu. Saat ia hendak menyentuh naskah itu, sebuah tangan menahannya.
Seorang wanita cantik dengan pakaian elegan dan mahkota perak muncul dari balik bayangan. Itu adalah Lady Ratri yang asli. Namun, wajahnya tidak lagi licik. Ia tampak sedih dan penuh luka.
"Jangan lakukan itu, Aruna," bisik Ratri asli. "Jika kau melakukan reset, kau tidak hanya menghapus Bos. Kau juga akan menghapus ingatan Arvand dan Arel tentangmu. Mereka akan tetap hidup di dunia ini, tapi bagimu, mereka akan menjadi orang asing selamanya."
Aruna membeku. "Apa? Tapi Sera tidak bilang begitu!"
"Sera hanya ingin sistem ini stabil. Dia tidak peduli pada perasaanmu," Ratri asli membelai pipi Aruna. "Pilihlah. Biarkan mereka diambil oleh Bos dan tetap mengingatmu, atau selamatkan mereka tapi kau akan kehilangan cinta mereka untuk selamanya."
Di luar sana, di dunia nyata, Arvand sedang bertarung mati-matian menahan pintu dari serbuan sepuluh eksekutor yang mulai menghancurkan dinding bangunan. Arel bersembunyi di bawah meja, memegang tangan Aruna yang tidak bergerak, air matanya membasahi telapak tangan ibunya.
"Ibu... bangun... Arel takut..."
Aruna mendengar tangisan Arel di dalam jiwanya. Ia menatap Ratri asli, lalu menatap naskah di depannya. Pilihan yang mustahil. Menyelamatkan mereka namun dilupakan, atau membiarkan mereka tersiksa namun tetap dicintai.
Tiba-tiba, naskah di meja itu terbuka sendiri. Lembaran-lembarannya terbang tertiup angin dimensi yang kencang. Aruna melihat satu baris kalimat yang muncul dengan sendirinya, ditulis dengan tinta emas:
"Cinta sejati tidak butuh ingatan untuk mengenali pemiliknya."
Aruna membulatkan tekad. Ia meraih pena bulu yang ada di meja dan bersiap mencoret seluruh isi naskah itu. Namun, tepat sebelum ujung pena menyentuh kertas, suara sang Bos terdengar menggelegar dari segala arah.
"Kau pikir kau bisa menang? Lihat ke belakangmu, Aruna!"
Aruna menoleh, dan jantungnya seolah berhenti berdetak. Di belakangnya, berdiri Arvand dalam wujud dokternya, namun dadanya tertusuk oleh sebuah pedang cahaya ungu. Di sampingnya, Arel mulai berubah menjadi barisan angka yang beterbangan.
"Arvand! Arel!" Aruna menjerit, namun tubuhnya kaku, tidak bisa bergerak mendekat.
"Hapus naskah itu, dan mereka akan mati sekarang juga," ujar sang Bos yang muncul dari balik meja. "Ikuti aku, dan aku akan membiarkan mereka hidup dalam ilusiku selamanya."
Apakah Arvand dan Arel yang dilihat Aruna di dalam server itu nyata atau hanya manipulasi sang Bos? Manakah yang akan dipilih Aruna: Menghapus naskah dan mengambil risiko dilupakan, atau menyerah pada sang Bos demi keselamatan keluarganya dalam ilusi? Dan apa sebenarnya rahasia di balik jati diri Seraphina yang tampaknya menyembunyikan rencana lain?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.