Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Yang Tertinggal di London.
Perjalanan pulang terasa sedikit lebih tenang dari biasanya.
Alya duduk di kursi penumpang sambil menatap jalanan yang mulai dipenuhi lampu sore. Kota sudah berubah warna menjadi jingga lembut, dan lalu lintas bergerak perlahan seperti aliran sungai yang tidak terburu-buru.
Namun di dalam mobil itu…
Pikiran Alya justru berlari ke satu nama.
Seraphina Claudine.
Ia menahan diri beberapa menit. Berusaha terlihat santai.
Tapi rasa penasarannya terlalu besar.
Akhirnya ia menoleh ke Adrian yang sedang fokus menyetir.
“Direktur.”
Adrian meliriknya sekilas.
“Ya?”
Alya memiringkan kepala sedikit.
“Tadi… wanita itu.”
Adrian sudah tahu siapa yang dimaksud.
“Seraphina?”
Alya langsung mengangguk cepat.
“Iya.”
Ia terlihat sangat penasaran.
“Dia keren sekali.”
Adrian tidak langsung menjawab.
Alya melanjutkan dengan mata berbinar.
“Dia tinggi, cantik, gaya pakaiannya juga kayak supermodel. Cara bicaranya juga beda.”
Ia menatap Adrian dengan ekspresi kagum.
“Dia rekan bisnis kamu ya?”
Adrian menghela napas pelan.
“Tidak.”
Alya mengerjap.
“Bukan?”
Ia berpikir sebentar.
“Kalau begitu… teman kuliah?”
Adrian menatap jalan di depannya sebelum akhirnya menjawab singkat.
“Ya.”
Alya langsung bersandar lebih nyaman di kursi.
“Ooo… pantes.”
Ia mengangguk-angguk sendiri.
“Dia kelihatan seperti orang yang hidupnya keren sekali.”
Beberapa detik Alya hanya menatap jendela sambil mengingat wajah Seraphina.
“Aktivis diluar negeri, penerjemah internasional, sekolah di Eropa…”
Ia menghela napas kecil.
“Kayak tokoh utama novel.”
Adrian tidak menanggapi.
Namun Alya belum selesai.
Ia menoleh lagi.
“Direktur, dulu kalian dekat?”
Adrian memegang setir lebih erat sedikit.
“Lumayan.”
Alya langsung bersandar lagi sambil tersenyum kecil.
“Pasti seru ya kuliah di Eropa.”
Ia membayangkan suasana kampus luar negeri.
“Kalian kuliah di mana?”
“London.”
Alya langsung membulatkan mata.
“London?!”
Ia menatap Adrian dengan ekspresi seperti anak kecil yang baru mendengar cerita petualangan.
“Serius?”
Adrian hanya mengangguk.
Beberapa detik Alya diam.
Lalu tiba-tiba ia tertawa kecil.
“Pantas saja vibe kalian beda.”
Adrian meliriknya.
“Vibe?”
Alya mengangkat bahu.
“Ya… vibe orang luar negeri.”
Ia menatap jalan lagi.
“Romantis, elegan, misterius.”
Adrian tidak tahu harus menanggapi atau tidak.
Namun satu kata dari Alya membuat pikirannya perlahan kembali ke masa lalu.
London.
Udara dingin yang selalu terasa di pagi hari.
Langit kelabu yang sering menggantung di atas kota.
Dan seorang gadis yang berdiri di tepi jembatan dengan rambut tertiup angin musim gugur.
Beberapa tahun lalu.
London.
Daun-daun musim gugur berjatuhan pelan di sepanjang jalan kampus. Trotoar dipenuhi warna merah dan emas yang membuat kota itu terlihat seperti lukisan.
Adrian berjalan keluar dari perpustakaan dengan buku di tangannya.
Hari itu cukup dingin.
Ia menghembuskan napas tipis yang langsung berubah menjadi uap di udara.
Namun langkahnya berhenti ketika ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Seraphina Claudine.
Ia mengenakan coat panjang berwarna krem, dengan syal tipis yang melingkari lehernya. Rambutnya tergerai tertiup angin, dan tangannya memegang sebuah buku kecil.
Seraphina sedang membaca.
Bahkan ketika berdiri di tengah jalan yang dipenuhi orang.
Adrian mendekat.
“Kamu akan ditabrak kalau membaca sambil berdiri di tengah jalan.”
Seraphina menutup bukunya lalu menoleh.
Ketika melihat Adrian, senyum kecil langsung muncul di wajahnya.
“Kamu lama sekali.”
Adrian mengangkat alis.
“Aku tidak tahu kamu menunggu.”
Seraphina mengangkat bukunya sedikit.
“Aku tidak menunggu.”
Namun senyumnya mengatakan hal yang berbeda.
Mereka berjalan bersama menyusuri jalan kampus.
Angin musim gugur bertiup lembut di antara pepohonan.
“Besok aku ada konferensi penerjemah di Oxford,” kata Seraphina sambil menatap langit.
Adrian meliriknya.
“Kamu sibuk sekali.”
Seraphina mengangkat bahu.
“Aku suka.”
Ia menoleh ke Adrian dengan senyum ringan.
“Kamu sendiri?”
Adrian menjawab tenang, “Magang di perusahaan investasi minggu depan.”
Seraphina tertawa kecil.
“Kamu selalu serius.”
Adrian menatapnya beberapa detik.
“Kamu juga.”
Seraphina berhenti berjalan.
Ia berdiri di bawah pohon besar yang daunnya berwarna merah.
“Aku serius?”
Adrian mengangguk pelan.
“Kamu selalu terlihat seperti orang yang tahu persis apa yang ingin kamu lakukan.”
Seraphina menatapnya lama.
Angin menggerakkan rambutnya sedikit.
“Aku memang tahu.”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi ada satu hal yang belum pernah aku putuskan.”
Adrian menunggu.
Seraphina menatap matanya.
“Kamu.”
Adrian terdiam.
Suasana di antara mereka terasa seperti adegan film yang bergerak lambat.
Namun beberapa detik kemudian Seraphina tertawa kecil.
“Aku bercanda.”
Adrian tahu itu bukan sepenuhnya bercanda.
Mereka duduk di bangku taman kampus.
Langit London mulai berubah jingga.
Seraphina memandang langit sambil berkata pelan,
“Adrian.”
“Ya?”
Ia memiringkan kepala sedikit.
“Aku sayang kamu.”
Kalimat itu keluar dengan sangat ringan.
Seolah seperti fakta sederhana.
Adrian menoleh.
Seraphina tidak menatapnya.
Ia hanya melihat langit.
Adrian menjawab dengan nada yang sama tenangnya.
“Aku juga.”
Namun tidak ada kata pacar.
Tidak ada kata hubungan.
Tidak ada janji.
Mereka hanya dua orang yang berjalan berdampingan di kota asing.
Saling menyukai.
Namun tidak pernah benar-benar saling memiliki.
Mobil Adrian berhenti di lampu merah.
Adrian kembali ke masa sekarang.
Alya masih duduk di sebelahnya sambil memikirkan sesuatu.
“Direktur.”
“Ya?”
Alya menoleh.
“Tadi kamu kelihatan aneh waktu ketemu dia.”
Adrian mengangkat alis sedikit.
“Aneh?”
Alya mengangguk.
“Kayak… film mantan. Yaaa, Maksudnya tuh kayak seorang yang lagi bertemu mantan kesayangan gitu, kaya apa yaaa? Kayak ada ikatan emosi? Ikatan batin? Ikatan tali saudara? Ahhhh...”
Adrian hampir tertawa.
Namun ia menahannya.
Alya mengangkat bahu.
“Bukan maksudku apa-apa sih. Alya hanya kepo, Pak Direktur tau arti kepo? pokoknya Alya tuh pengen tahu banyak hal yang Alya belum pernah cobain. Nonton konser di Korea atau jepang langsung misalnya...”
Ia menatap jalan lagi.
“Tapi dia memang luar biasa. Cantik, kulit seputih susu, garis wajah yang dipahat sempurna, tinggi semampai..., sedangkan Alya kan hanya semeter kotor 65 aja.”
Alya tersenyum kecil.
“Kalau aku jadi dia, mungkin hidupku sudah seperti drama internasional. Sangat sempurna yaaa.”
Adrian tidak menjawab.
Lampu lalu lintas berubah hijau.
Mobil kembali berjalan.
Namun di dalam pikirannya, satu adegan lama masih tertinggal. Dimana memang ada kenangan manis dan pahit saat mereka masih sama-sama bersama diwaktu yang sama sebelumnya. Hati dimana Adrian belum paham harusnya bersikap dan menyikapi perasaan emosional yang harusnya sudah bergejolak sejak lama. Dulu waktu dimana dirinya dan Seraphina sempat menjalani hubungan layaknya pasangan romantis di anime, animasi jepang.
Bangku taman di London yang teduh dan membawa angin kehidupan.
Langit jingga musim gugur berwarna-warni oleh gugurnya dedaunan dan bunga yang sudah sempat mekar.
Dan seorang gadis yang berkata dengan santai dengan senyum simpul dan tatapan teduh—
Aku sayang kamu.