Eleanor Lichtenzell adalah pewaris takhta bisnis raksasa kedua di Inggris, namun baginya, kemewahan adalah penjara. Setelah merusak sepuluh kencan buta dengan lidahnya yang tajam, ia memilih melepaskan marga dan kekayaannya demi sebuah kebebasan. Namun, dunia luar lebih kejam dari yang ia duga. Di bawah bayang-bayang pengaruh ayahnya yang mencoba memutus jalannya, Eleanor berakhir menjadi pelayan di sebuah kafe eksklusif pinggir laut.
Disana, ia bertemu dengan Edward Zollern, sang penguasa ekonomi Inggris yang dingin, perfeksionis, dan memiliki segalanya. Ketertarikan Edward yang awalnya hanya karena rasa penasaran berubah menjadi obsesi yang gelap saat ia menyadari bahwa Eleanor adalah teka-teki yang tak bisa ia pecahkan. Edward tidak tahu bahwa gadis tanpa asal-usul yang ingin ia tundukkan itu sebenarnya adalah putri dari pebisnis yang setara dengannya. Sebuah permainan kekuasaan dimulai, di mana cinta bukanlah tentang kasih sayang, melainkan tentang siapa yang lebih dulu berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Pagi di Pesisir Sussex
Waktu berdetak dengan lambat dan menyiksa bagi Eleanor. Sesuai ancamannya, Edward benar-benar memesan hampir seluruh menu di papan tulis. Mulai dari croissant almond, lemon tart, hingga tiga jenis pasta yang berbeda. Meja Edward kini lebih mirip pameran makanan daripada meja pelanggan kafe.
Setiap tiga puluh menit, Eleanor harus bolak-balik membawakan pesanan baru atau sekadar menuangkan air mineral. Setiap kali ia datang, Edward hanya menatapnya dengan dagu bertumpu pada tangan, mengamati setiap gerak-geriknya tanpa menyentuh makanan itu sedikit pun.
Pukul 01:45 dini hari. Pelanggan terakhir sudah lama pergi. Suasana kafe kini sunyi, hanya menyisakan suara deru ombak dari kejauhan dan denting jam dinding.
Eleanor keluar dari dapur setelah membersihkan mesin kopi, matanya sudah sedikit merah karena kantuk yang menyerang. Ia tertegun melihat Edward masih di sana, namun kali ini pria itu sendirian.
Eleanor berjalan menghampiri meja Edward, meletakkan kain lapnya dengan helaan napas yang sangat berat. "Kenapa Anda masih di sini, Tuan Zollern? Lihat, bahkan teman Anda yang seperti patung itu sudah tidak ada. Apa Anda memecatnya karena dia punya akal sehat untuk pulang dan tidur?"
Edward perlahan menutup dokumen di tabletnya—ternyata pria itu tetap bekerja di tengah aksinya. Ia mendongak, menatap Eleanor yang kini terlihat lebih rapuh namun tetap keras kepala.
"Rey pulang karena aku yang menyuruhnya. Dan dia bukan patung, dia asisten yang sangat menghargai privasi tuannya," jawab Edward dengan suara yang sedikit serak karena terlalu lama terjaga.
"Privasi?" Eleanor tertawa sinis sambil mulai merapikan piring-piring yang tidak disentuh Edward. "Maksud Anda, privasi untuk terus mengganggu saya? Ini sudah hampir pukul dua pagi. Saya harus mengunci tempat ini dan pulang."
"Tepat sekali. Itu sebabnya aku masih di sini," Edward berdiri, merapikan jasnya yang tetap licin tanpa cela meskipun sudah belasan jam ia kenakan. "Aku akan mengantarmu pulang."
Eleanor langsung berhenti bergerak. Ia menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. "Anda? Mengantar saya? Tuan Zollern, saya lebih baik jalan kaki lima kilometer menembus kabut daripada harus masuk ke dalam mobil Anda yang harganya setara dengan anggaran kesehatan satu kota kecil."
"Jangan konyol, Eleanor. Ini pukul dua pagi di pinggiran Sussex yang sepi. Tidak ada bus, tidak ada taksi, dan kau... kau terlalu berharga untuk dibiarkan diculik oleh penjahat amatir di pinggir jalan," ucap Edward dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat protektif, meskipun tetap terdengar mendikte.
"Oh, jadi sekarang Anda peduli pada keselamatan saya? Bukankah Anda sendiri yang bilang waktu Anda mahal? Kenapa tidak pulang saja dan tidur di kasur emas Anda?"
"Waktuku sudah terlanjur rugi sepuluh jam karena menunggumu tadi pagi. Jadi, sepuluh menit tambahan untuk memastikan kau sampai di rumah dengan selamat adalah investasi yang masuk akal bagiku," Edward melangkah mendekat, mengambil tas kecil Eleanor yang tergeletak di konter sebelum Eleanor sempat meraihnya.
"Hei! Kembalikan tas saya!" Seru Eleanor, mencoba meraih tasnya namun Edward mengangkatnya lebih tinggi.
"Masuk ke mobil, atau aku akan terus berdiri di depan kafe ini sampai pemiliknya datang pagi nanti dan bertanya kenapa CEO Zollern Group tidur di emperan kafenya," ancam Edward dengan senyum miring yang menyebalkan.
Eleanor menggeram frustrasi. Ia ingin sekali menendang tulang kering pria ini, tapi ia tahu Edward tidak sedang bercanda. Dengan langkah yang dihentak-hentakkan, Eleanor berjalan keluar kafe dan mengunci pintunya.
"Hanya sampai apartemen saya. Jangan berani-berani bertanya alamat, saya yang akan arahkan jalan!" ucap Eleanor tajam saat ia terpaksa masuk ke dalam jok kulit Rolls-Royce yang sangat wangi dan mewah itu.
Edward masuk ke kursi kemudi—pemandangan langka melihat seorang kaisar bisnis menyetir sendiri. Ia menyalakan mesin yang suaranya nyaris tak terdengar.
"Kenapa Anda menyetir sendiri?" tanya Eleanor tiba-tiba, berusaha memecah kecanggungan saat mobil mulai meluncur membelah jalanan pesisir yang gelap.
"Karena aku ingin memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar bagaimana kau akan memaki-makiku sepanjang jalan pulang," sahut Edward santai.
Eleanor terdiam, menyandarkan kepalanya pada jendela kaca. Ia menatap lampu-lampu jalan yang berlalu dengan cepat. Ia merasa aneh. Pria di sampingnya ini adalah Edward Zollern—pria yang paling ditakuti dan disegani di seluruh Inggris. Pria yang seharusnya menjadi lawan bisnis ayahnya. Tapi malam ini, pria itu justru menjadi sopir pribadinya hanya karena sebuah obsesi konyol tentang "kompensasi waktu".
"Kenapa Anda melakukan ini, Tuan Zollern? Maksud saya, benar-benar melakukannya? Anda bisa mendapatkan wanita mana pun di London hanya dengan menjentikkan jari," suara Eleanor melembut tanpa ia sadari.
Edward melirik Eleanor sekilas melalui cermin tengah. "Karena wanita-wanita itu tidak memiliki mata yang menatapku seolah-olah aku ini bukan siapa-siapa, Eleanor. Dan mereka tidak memiliki keberanian untuk menyebutku psikopat tepat di depan wajahku."
Eleanor mendengus, namun sudut bibirnya hampir membentuk senyuman. "Berarti Anda memang masokis."
"Mungkin," jawab Edward rendah. "Atau mungkin, aku hanya baru saja menemukan sesuatu yang lebih berharga daripada semua saham yang kumiliki di London."
Mobil itu terus melaju di bawah naungan bintang, membawa dua insan dari kasta yang sama namun dalam penyamaran yang berbeda, menuju sebuah apartemen kecil yang akan menjadi awal dari babak baru obsesi Edward Zollern.