Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Malam itu, penthouse Sterling terasa lebih sunyi dari biasanya, namun ketegangan di dalamnya sanggup membelah udara. Nomella berdiri di tengah ruang tamu, menatap Zeus yang sedang sibuk menata kotak-kotak sepatu bayi yang baru saja ia beli secara online.
Aroma kulit sepatu mungil itu memenuhi ruangan, sebuah bau yang bagi Nomella terasa seperti aroma kebohongan yang mencekik.
"Zeus, hentikan," suara Nomella bergetar, bukan karena takut, tapi karena rasa frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. "Kita perlu bicara. Secara sadar. Tanpa akting, tanpa topeng 'Matahari' kampusmu."
Zeus tidak mendongak. Ia justru membelai permukaan sepatu bayi berwarna biru laut itu. "Aku sedang sangat sadar, Mella. Aku sedang memikirkan apakah dia akan lebih cocok memakai ini atau sepatu bot kecil saat kita ke Swiss nanti."
"TIDAK ADA BAYI DI SANA, ZEUS!" teriak Nomella, suaranya menggema menghantam dinding kaca. "Di rahimku... kosong! Apa kau tidak mengerti? Hasil USG itu, kebahagiaan orang tuamu, drama di kantin tadi... itu semua hanya skenario! Aku ingin kau bangun dari mimpi burukmu ini!"
Zeus akhirnya berdiri. Gerakannya pelan, namun auranya mendadak berubah menjadi predator yang terpojok. Ia mendekati Nomella, langkahnya mantap, mengintimidasi hingga Nomella terpaksa mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.
"Tidak ada bayi?" Zeus tertawa rendah, sebuah tawa yang sarat akan penghinaan. "Kau meragukan kemampuanku, Mella? Setelah semua malam yang kita lalui? Setelah setiap inci tubuhmu aku jelajahi sampai kau kehilangan suara karena mendesah? Kau pikir aku hanya bermain-main?"
"Ini bukan soal tidur, Zeus! Ini soal biologi!" balas Nomella, wajahnya memerah.
"Kau pikir dengan ukuranmu yang kau sombongkan itu yang bahkan menurutku masih biasa saja—kau bisa menciptakan keajaiban hanya dalam semalam? Kau pikir setiap gesekan di selangkangan itu otomatis menjadi nyawa? Jangan konyol!"
"Biasa saja?" Zeus mencengkeram sisi kepala Nomella, menatapnya dengan mata yang berkilat gelap. "Jika itu biasa saja, kenapa kau selalu gemetar di bawahku? Kenapa kau memohon agar aku tidak berhenti? Aku tahu apa yang aku tanam di dalam sana, Mella. Aku merasakannya. Dia ada."
"KAU SAKIT, ZEUS!" Nomella mendorong dada Zeus sekuat tenaga. "Aku menemukan ponselmu. Aku tahu tentang obat delusi itu! Aku tahu kau belum mengambilnya selama sebulan! Kau sedang mengalami delusi, Zeus. Kau menciptakan anak ini karena kau butuh pengampunan atas kematian Zayn. Kau menggunakan rahimku sebagai tempat sampah untuk rasa bersalahmu!"
Mendengar nama Zayn dan sebutan "obat", wajah Zeus sempat memucat, namun sedetik kemudian ia kembali memakai tamengnya.
"Aku sudah sembuh, Mella. Aku tidak butuh obat-obatan kimia itu lagi. Obatku adalah kamu. Obatku adalah anak kita. Kehadiran kalian sudah cukup untuk membuat kepalaku tenang. Aku tidak butuh psikiater yang hanya menginginkan uangku."
"Tapi tidak ada anak, Zeus! Kenapa kau tidak mau mengerti?" Nomella mulai menangis, sebuah tangisan frustrasi yang menyakitkan. "Kita selalu menggunakan pengaman... atau setidaknya aku pikir aku melakukannya... Tidak mungkin aku hamil secepat itu! Itu tidak masuk akal secara medis!"
Nomella menolak mentah-mentah kenyataan yang ia lihat di layar USG pagi tadi. Baginya, mustahil satu bulan pernikahan yang penuh kebencian bisa menghasilkan sebuah nyawa. Ia tetap berpegang teguh pada teori bahwa mertuanya telah menyuap dokter. Ia tidak ingin hamil. Ia belum siap terikat selamanya dengan pria yang jiwanya retak seperti Zeus.
Zeus tidak menghiraukan kata-kata istrinya yang ia anggap sedang histeris. Baginya, Nomella hanyalah sedang mengalami mood swing ekstrem akibat hormon kehamilan—sesuai dengan buku panduan ayah yang ia baca.
Tanpa memedulikan makian Nomella, Zeus berlutut di lantai, tepat di depan perut Nomella. Ia mengabaikan tangan Nomella yang mencoba mendorong kepalanya menjauh.
"Hai, Sayang," bisik Zeus ke arah perut rata itu, suaranya berubah drastis menjadi lembut, seolah ia sedang bicara pada malaikat. "Jangan dengarkan Mommy, ya. Mommy sedang lelah. Dia hanya bingung. Papa tahu kau ada di sana. Papa bisa merasakan detak jantungmu setiap kali Papa memeluk Mommy malam-malam."
"Zeus! Aku bicara padamu!" Nomella memukul bahu Zeus, namun pria itu seolah-olah telah memutus koneksinya dengan dunia nyata.
"Papa sudah membelikanmu sepatu, Nak," lanjut Zeus, jarinya mengusap lembut kain pakaian Nomella di area perut. "Papa tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Tidak juga Mommy yang sedang marah ini. Kita akan selalu bersama, oke?"
Nomella jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa seperti sedang bicara dengan dinding. Kegilaan Zeus begitu tebal, begitu nyata, hingga Nomella merasa kewarasannya sendiri mulai terkikis. Pria di depannya ini bukan lagi Zeus yang ia benci; pria ini adalah seorang asing yang terjebak dalam delusi suci tentang kebapakan.
Padahal, jauh di dalam rahim Nomella, sebuah kebenaran biologis sedang bekerja. Sebuah kehidupan memang benar-benar tertanam di sana, menantang segala penyangkalan Nomella dan memperkuat segala delusi Zeus. Namun bagi Nomella, mengakui kehamilan itu berarti mengakui bahwa ia telah kalah—kalah dari takdir, kalah dari Zeus, dan kalah dari keluarga Sterling yang menginginkannya menjadi pabrik ahli waris.
"Kau benar-benar gila, Zeus," bisik Nomella di sela isakannya.
Zeus mendongak, mencium kening Nomella dengan kasih sayang yang menghancurkan hati. "Aku memang gila, Mella. Gila karena mencintaimu dan anak kita. Sekarang, ayo bangun. Kau harus minum susu sebelum tidur. Daddy tidak mau jagoan kita kelaparan."
Nomella hanya bisa pasrah saat Zeus membimbingnya berdiri. Ia merasa seperti tawanan dalam sebuah dongeng indah yang ditulis oleh seorang psikopat.
"Maafkan aku, Zeus..." batin Nomella, menatap suaminya yang sedang menyiapkan segelas susu hangat. "Maafkan aku karena mungkin aku tidak sanggup mencintai anak delusi ini seperti kau mencintainya."
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰