NovelToon NovelToon
Will You Marry Me

Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 15

Malam semakin larut di dermaga kayu itu, namun Siska dan Andi masih enggan beranjak. Suara riak air sungai yang tenang di bawah mereka seolah sedang membisikkan doa-doa lama. Arlan dan Mahesa sudah kembali ke pusat kendali, menyisakan ruang bagi kedua orang itu untuk sekadar bernapas dalam harmoni yang sunyi.

"Tadi di pembibitan, Arlan sempat berhenti cukup lama di depan pohon Jaka," Siska memulai, suaranya hampir menyerupai bisikan. "Dia tidak bicara apa-apa, hanya menyentuh batangnya. Aku baru sadar, Ndi, pohon itu sekarang bukan lagi milik Arlan kecil. Pohon itu sudah menjadi saksi bisu transisi dunia kita."

Andi mengangguk, menatap pantulan bintang di permukaan sungai yang hitam pekat. "Sama seperti kita, Sis. Kita memulai ini sebagai sebuah perlawanan terhadap sistem yang kaku. Sekarang, sistem itu sendiri yang belajar dari apa yang kita tanam. Tapi yang paling penting bukan pohonnya, melainkan bagaimana Arlan melihat pohon itu."

"Maksudmu?"

"Dia tidak melihatnya sebagai properti atau aset perusahaan," Andi menoleh, menatap Siska dengan binar mata yang tetap hangat meski wajahnya telah menua. "Dia melihatnya sebagai nyawa. Itu yang membuatku tenang. Selama dia melihat nyawa di balik setiap inci beton yang kita bangun, jembatan ini tidak akan pernah runtuh."

Siska tersenyum, lalu menyentuhkan jemarinya ke permukaan meja kayu yang kasar—meja yang dulu mereka bawa dari Jakarta saat kamp ini masih berupa tenda-tenda darurat. "Aku teringat saat Ayah pertama kali datang ke sini sepuluh tahun lalu. Dia berdiri tepat di tempat kita duduk sekarang, memakai sepatu kulit mahalnya yang langsung kotor terkena lumpur. Ingat apa yang dia katakan?"

Andi tertawa kecil. "Dia bilang, 'Andi, jika kamu gagal mengembalikan modal dari hutan ini, aku akan menjadikanmu mandor di gudang semen'."

"Dan lihat sekarang," Siska menimpali sambil terkekeh. "Setiap kali dia menelepon dari Jakarta, yang ditanyakan bukan laporan keuangan, tapi apakah bibit anggrek yang dia kirim dari Bogor sudah berbunga atau belum. Dia menemukan kedamaiannya sendiri di sisa umurnya lewat apa yang kamu rintis."

Andi merangkul bahu Siska, menariknya lebih dekat untuk menghalau dinginnya angin malam Borneo. "Bukan aku yang merintisnya, Sis. Kita yang melakukannya. Aku hanya menggambar garisnya, tapi kamulah yang memastikan garis itu tidak terputus oleh birokrasi dan ketakutan."

Mereka terdiam cukup lama, membiarkan orkestra serangga hutan mengisi kekosongan. Di kejauhan, lampu-lampu sensor AI milik Mahesa berkedip lembut di antara dahan-dahan pohon, memberikan kesan seolah hutan itu memiliki sistem syaraf cahayanya sendiri.

"Ndi, besok pagi kita harus kembali ke Jakarta sebentar untuk peresmian Yayasan Jaka, kan?"

"Iya. Tapi kali ini kita pergi sebagai tamu, bukan sebagai eksekutif yang diburu waktu," jawab Andi tenang. "Kita akan duduk di barisan belakang, melihat Arlan memimpin dunia, lalu kita akan segera pulang ke sini lagi. Ke rumah kita yang sebenarnya."

Siska mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Andi, mendengarkan detak jantung pria yang telah menemaninya melewati badai korporat hingga keheningan belantara. Di bawah langit yang tak lagi berbatas, mereka menyadari bahwa kesuksesan terbesar mereka bukanlah membangun kota di tengah hutan, melainkan tetap menjaga cinta mereka tumbuh seiring dengan akar-akar yang menghujam ke dalam bumi.

Malam itu berakhir dengan janji yang tak perlu diucapkan lagi. Bahwa selama mereka bernapas, mereka akan terus menjadi pelindung bagi apa pun yang tumbuh dari kejujuran.

Pagi keberangkatan itu tiba dengan suasana yang lebih tenang dari biasanya. Tidak ada hiruk-pikuk asisten yang menyiapkan koper-koper mahal; Siska hanya membawa tas kain sederhana yang berisi beberapa dokumen yayasan dan oleh-oleh berupa madu hutan untuk ayahnya.

Arlan mengantar mereka sampai ke landasan helikopter. Ia berdiri di sana, bukan sebagai anak kecil yang menangis karena ditinggal, melainkan sebagai seorang pria yang telah mewarisi ketangguhan ayahnya dan visi ibunya.

"Jangan terlalu lama di Jakarta, Ayah, Bunda," ujar Arlan sambil memeluk mereka bergantian. "Jaka dan sepupu-sepupunya di sini akan merindukan kalian."

Andi tertawa, menepuk lengan putranya. "Jaga tempat ini baik-baik, Lan. Kalau ada sensor yang dipatuk burung lagi, jangan langsung panggil Mahesa. Coba perbaiki sendiri dulu."

Helikopter perlahan terangkat, meninggalkan hamparan hijau yang kini telah menjadi bagian dari identitas mereka. Dari ketinggian, Siska melihat Kota Hutan yang tampak seperti permadani yang dijahit dengan benang perak sungai-sungai kecil. Ia teringat kembali pada hari pertama ia menginjakkan kaki di tanah ini, penuh dengan keraguan dan tekanan nama besar Gunawan. Kini, semua itu telah meluruh, berganti dengan rasa bangga yang murni.

Tiba di Jakarta, suasana kota yang bising dan berpolusi terasa begitu asing bagi mereka. Namun, saat mereka melangkah masuk ke ruang peresmian Yayasan Jaka, suasana berubah. Ruangan itu penuh dengan aktivis lingkungan, ilmuwan muda, dan pengusaha yang kini mulai beralih ke jalur hijau.

Di barisan paling depan, Pak Gunawan duduk dengan kursi rodanya. Begitu melihat Siska dan Andi masuk, wajahnya yang keriput langsung mencerah.

"Kalian terlihat seperti orang yang baru saja turun dari gunung suci," bisik Pak Gunawan saat Siska mencium tangannya.

"Kami hanya pulang sebentar, Ayah," jawab Siska lembut.

Acara peresmian itu berlangsung tanpa kemewahan yang berlebihan. Saat nama Arlan disebut sebagai pendiri utama yayasan—meski ia tidak hadir secara fisik dan hanya memberikan sambutan lewat hologram dari Kalimantan—seluruh ruangan terdiam. Mereka melihat sebuah visi yang tidak lagi bicara soal profit, tapi soal kelangsungan hidup.

Selesai acara, saat para tamu mulai berbaur, Andi dan Siska memilih untuk menyendiri di balkon gedung yang menghadap ke arah jalanan protokol Jakarta yang padat.

"Lihat itu, Sis," Andi menunjuk ke bawah. "Dulu kita adalah bagian dari kemacetan dan kepenatan itu. Sekarang, kita melihatnya dari sisi yang berbeda."

Siska menggandeng lengan Andi. "Karena kita sudah menemukan jalan keluar kita sendiri, Ndi. Kita tidak hanya melarikan diri dari sistem, tapi kita membangun sistem baru di tempat lain."

Seorang asisten mendekat, membisikkan bahwa kendaraan menuju bandara sudah siap. Mereka tidak ingin menginap di Jakarta; mereka ingin segera kembali ke tempat di mana udara tidak perlu dibeli dan ketenangan adalah hak istimewa setiap harinya.

Saat mobil membawa mereka menjauh dari gedung pencakar langit itu, Siska menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Ia melihat papan nama yayasan yang baru saja diresmikan. Di sana, tertulis moto kecil yang pernah Andi ucapkan saat mereka masih berjuang di awal proyek: Membangun dengan Hati, Menanam untuk Masa Depan.

"Siap untuk pulang, Ndi?" tanya Siska.

Andi menarik napas panjang, tersenyum lebar. "Sangat siap, Sis. Rumah kita sedang menunggu."

Perjalanan mereka adalah bukti bahwa akhir dari sebuah cerita hanyalah awal dari cerita lainnya. Dan bagi Siska dan Andi, cerita mereka kini tertulis abadi di setiap helai daun dan setiap jengkal tanah yang mereka selamatkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!