NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 : Raja dan Ratu Drackveil

Lonceng besar di menara pengawas masih bergema di seluruh lapangan akademi.

Para murid yang tidak ikut pertandingan mundur ke tepi arena, memenuhi tribun batu yang mengelilingi lapangan luas itu. Suasana menjadi sangat riuh—teriakan, sorakan, dan taruhan kecil antar murid terdengar di mana-mana.

Di tengah lapangan—

Para peserta mulai berkumpul di wilayah rumah masing-masing.

Bendera Drackveil berdiri di tengah markas mereka.

Kain merah gelap itu berkibar pelan tertiup angin pagi.

Di tengah bendera tergambar seekor burung gagak hitam dengan sayap terbentang di atas lingkaran bayangan—lambang besar rumah Drackveil yang selalu menimbulkan rasa hormat dan sedikit ketakutan di kalangan murid akademi.

Kael melihat sekeliling dengan penuh semangat.

“Baiklah... sekarang mulai serius.”

Para murid Drackveil berkumpul di sekitar bendera.

Jumlah mereka sekitar dua puluh orang.

Beberapa wajah tampak percaya diri.

Beberapa lainnya terlihat dingin dan penuh perhitungan.

Sangat khas Drackveil.

Arkan berdiri agak di belakang, memperhatikan mereka dengan tenang.

Saat itulah—

Seseorang berdiri di sampingnya.

Tanpa suara.

Arkan sedikit menoleh.

Seorang gadis.

Rambutnya hitam panjang jatuh lurus sampai punggung.

Matanya juga hitam—gelap dan dalam seperti malam tanpa bulan.

Kulitnya pucat.

Ekspresinya hampir tidak menunjukkan emosi.

Seragam Drackveil yang ia kenakan tampak sangat rapi.

Ia berdiri dengan tangan terlipat, menatap para murid lain tanpa berkata apa pun.

Arkan mengamatinya sebentar.

Gadis itu menyadari tatapannya.

Ia menoleh perlahan.

Mata hitam mereka bertemu.

Untuk beberapa detik—

Tidak ada yang berbicara.

Lalu gadis itu berkata dengan suara pelan.

“Arkan.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Arkan mengangguk sedikit.

“Kau mengenalku?”

Gadis itu menjawab singkat.

“Kael berbicara terlalu keras.”

Arkan melirik Kael yang saat itu sedang berdebat dengan beberapa murid lain.

Masuk akal.

“Namamu?” tanya Arkan.

Gadis itu menatap lapangan sejenak sebelum menjawab.

“Nyra.”

Hanya itu.

Tidak ada nama keluarga.

Tidak ada penjelasan lain.

Arkan menunggu beberapa detik.

Namun Nyra tampaknya tidak berniat menambahkan apa pun.

Sikapnya tenang.

Diam.

Dingin.

Persis seperti gambaran murid Drackveil yang sering dibicarakan orang.

Namun ada sesuatu dalam aura gadis itu.

Sesuatu yang... berat.

Seolah bayangan selalu mengikuti langkahnya.

“Apa kau ikut pertandingan?” tanya Arkan.

Nyra mengangguk pelan.

“Pertahanan.”

Ia menunjuk arah bendera Drackveil.

“Jika perlu.”

Arkan mengerti maksudnya.

Ia tipe orang yang akan tetap diam sampai benar-benar dibutuhkan.

Di depan mereka—

Diskusi mulai semakin ramai.

Salah satu murid Drackveil berkata keras.

“Kita perlu menentukan raja dan ratu.”

Beberapa murid langsung mengangguk.

Dalam Permainan Tiga Bendera—

Setiap rumah harus menunjuk dua orang.

Raja.

Dan ratu.

Mereka adalah penjaga utama bendera.

Jika bendera berhasil dicuri—

Mereka adalah orang yang paling bertanggung jawab.

Namun jika mereka berhasil mempertahankan atau merebut bendera lawan—

Nama mereka akan dicatat sebagai pemenang festival.

Seorang murid berkata,

“Aku bisa jadi raja.”

Yang lain langsung menimpali.

“Kau terlalu ceroboh.”

Murid lain berkata lagi,

“Aku lebih cocok jadi penjaga bendera.”

Perdebatan mulai terjadi.

Beberapa murid bahkan mulai menunjukkan kemampuan sihir mereka sedikit—sekadar pamer kekuatan.

Drackveil memang seperti itu.

Tidak ada yang benar-benar ingin mengalah.

Kael berdiri di tengah mereka dengan ekspresi kesal.

“Diam dulu!”

Beberapa orang menoleh padanya.

“Kalau kita terus berdebat seperti ini, Lightveil sudah mencuri bendera kita duluan.”

Salah satu murid menyilangkan tangan.

“Lalu menurutmu siapa?”

Kael menunjuk seseorang.

“Dia.”

Semua orang menoleh.

Ke arah Arkan.

Beberapa murid langsung mengernyit.

“Dia?”

“Dia murid baru.”

“Apa dia cukup kuat?”

Bisikan mulai terdengar.

Arkan sendiri hanya berdiri santai.

Sejujurnya—

Ia tidak terlalu tertarik.

Menjadi raja berarti harus terus menjaga bendera.

Terlalu membatasi pergerakan.

Ia lebih suka bergerak bebas di lapangan.

Namun Kael tidak menyerah.

Ia menunjuk Arkan lagi.

“Dia mengalahkan monster di ujian hutan.”

Beberapa murid terlihat sedikit terkejut.

Namun masih ada yang ragu.

“Itu hanya rumor.”

Yang lain berkata,

“Raja harus seseorang yang benar-benar kuat.”

Arkan mengangkat bahu sedikit.

“Aku tidak keberatan jika orang lain saja.”

Ia berkata dengan nada tenang.

Kael langsung menatapnya.

“Serius?”

Arkan mengangguk.

Namun Kael kemudian tersenyum.

Senyum yang sangat mencurigakan.

“Aku lupa memberitahumu sesuatu.”

Arkan menatapnya.

“Apa?”

Kael mendekat sedikit dan berkata pelan.

“Hadiah festival.”

Arkan mengangkat alis.

Kael melanjutkan,

“Raja dan ratu dari rumah pemenang mendapatkan dua permintaan.”

Beberapa murid yang berdiri dekat mereka ikut mendengarkan.

Kael mengangkat dua jari.

“Satu permintaan untuk kelompok.”

“Dan satu lagi untuk diri sendiri.”

Arkan sedikit terdiam.

“Permintaan?”

Kael mengangguk.

“Selama tidak melanggar aturan akademi.”

Ia menyeringai.

“Biasanya murid meminta akses ke perpustakaan rahasia.”

“Artefak langka.”

“Atau pelatihan khusus dari guru.”

Arkan menatap bendera Drackveil.

Angin membuat kain merah gelap itu berkibar.

Simbol gagak hitam dengan sayap terbentang di atas lingkaran bayangan tampak seperti memanggilnya.

Perpustakaan rahasia.

Artefak kuno.

Informasi tentang sihir bayangan.

Atau...

tentang Nyanyian Malam.

Minat Arkan tiba-tiba muncul.

Ia menatap Kael.

“Raja bisa mengajukan permintaan itu?”

Kael tersenyum lebar.

“Ya.”

Arkan langsung berkata tenang.

“Kalau begitu.”

“Aku jadi raja.”

Kael tertawa.

“Akhirnya!”

Namun tepat saat itu—

Sebuah suara berat terdengar dari belakang kerumunan.

“Tidak semudah itu.”

Semua murid Drackveil menoleh.

Seseorang berjalan mendekat.

Langkahnya berat.

Tubuhnya besar—hampir dua kali ukuran Arkan.

Bahunya lebar.

Lengannya penuh otot.

Seragam Drackveil di tubuhnya tampak seperti hampir tidak cukup menampung tubuh besarnya.

Rambutnya pendek dan kasar.

Matanya tajam.

Beberapa murid langsung berbisik.

“Vasko…”

“Dia datang.”

Kael mendecak pelan.

“Tentu saja.”

Vasko berhenti beberapa langkah dari bendera.

Ia menatap Arkan dari atas ke bawah.

Seolah menilai sesuatu.

“Jadi kau yang ingin jadi raja.”

Arkan menatapnya dengan tenang.

“Jika yang lain setuju.”

Vasko tertawa pendek.

“Lucu.”

Ia mengangkat tangannya sedikit.

Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa lebih dingin.

Beberapa murid mundur sedikit.

Bayangan di bawah kaki Vasko bergerak.

Seperti cairan hitam.

Lalu—

Sebuah tangan tulang muncul dari tanah.

Kemudian tangan lain.

Dan satu lagi.

Dalam beberapa detik—

Lima sosok mayat berdiri di belakangnya.

Tubuh mereka pucat.

Mata kosong.

Aura sihir hitam mengelilingi mereka.

Beberapa murid Drackveil tersenyum.

Sihir pemanggilan mayat.

Keahlian khas Vasko.

Ia berkata dengan bangga,

“Aku murid tahun ketiga.”

“Aku menguasai sihir pemanggilan.”

Ia menunjuk para mayat itu.

“Jika aku mau, aku bisa memanggil ratusan.”

Ia menatap Arkan lagi.

“Dan kau pikir murid baru seperti dirimu bisa jadi raja?”

Suasana menjadi tegang.

Kael langsung berdiri di depan Arkan.

“Vasko, jangan mulai.”

Namun Vasko mengabaikannya.

Matanya tidak lepas dari Arkan.

“Drackveil tidak dipimpin oleh orang lemah.”

Ia melangkah maju.

Tanah di bawah kakinya sedikit retak karena tekanan sihirnya.

“Jika kau ingin jadi raja…”

Ia menyeringai.

“…buktikan.”

Beberapa murid langsung bersorak kecil.

Duel.

Itu selalu cara tercepat menyelesaikan masalah di Drackveil.

Kael menoleh ke Arkan dengan wajah khawatir.

“Arkan…”

Namun Arkan justru terlihat tenang.

Ia melirik para mayat di belakang Vasko.

Lalu menatap Vasko lagi.

“Jika aku menang?”

Vasko tertawa keras.

“Kalau kau menang, aku akan berlutut di depanmu dan memanggilmu raja.”

Ia menyilangkan tangan.

“Tapi kalau kau kalah…”

Ia menunjuk keluar markas.

“Kau keluar dari pertandingan.”

Beberapa murid langsung bergumam.

Taruhan yang besar.

Kael berbisik cepat,

“Kita tidak perlu melakukan ini.”

Namun Arkan tidak terlihat ragu.

Ia melangkah maju satu langkah.

Nyra yang sejak tadi diam akhirnya berbicara pelan.

“Menarik.”

Matanya yang hitam mengamati Arkan dengan perhatian baru.

Arkan menatap Vasko.

“Baik.”

Satu kata.

Kerumunan murid Drackveil langsung mundur sedikit, membuat lingkaran kecil di sekitar mereka.

Udara menjadi tegang.

Di kejauhan—

Lonceng pertandingan kedua hampir berbunyi.

Namun di markas Drackveil—

Sebuah duel kecil akan menentukan siapa yang menjadi raja mereka.

Vasko mengangkat tangannya.

Bayangan di tanah mulai bergerak lagi.

Mayat-mayat di belakangnya mengeluarkan suara retakan tulang.

Ia menyeringai lebar.

“Semoga kau tidak menyesal, anak baru.”

Sementara itu—

Arkan berdiri diam.

Angin pelan meniup rambutnya.

Matanya tenang.

Namun jauh di dalam bayangannya—

Sesuatu bergerak.

Dan untuk pertama kalinya sejak festival dimulai—

Aura sihir Arkan mulai bangkit perlahan.

Duel untuk tahta Drackveil—

Akan segera dimulai.

...----------------...

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!