Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baik-Baik Saja
Suasana di dalam kamar pengantin itu bukannya romantis, justru terasa gerah oleh amarah yang meledak-ledak. Deva menyentak tangannya dengan kasar, membuat Rayna terhuyung ke belakang.
"Lepaskan!" desis Deva tajam. Matanya menatap Rayna seolah gadis itu adalah hama. "Menjijikkan. Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Aku tidak sudi!"
Rayna mengerjapkan mata, menatap Deva dengan raut polos yang justru memancing emosi pria itu lebih dalam. "Kenapa?"
"Masih tanya kenapa?!" Deva mendengus sinis, langkahnya maju mengintimidasi. "Tanganmu itu pasti sudah menggandeng entah berapa banyak cowok di luar sana. Aku tidak mau tertular penyakit darimu!"
Jari Deva menunjuk kasar ke arah Rayna, sempat tertuju pada dadanya sebelum dengan cepat beralih menunjuk wajah cantik Rayna yang masih dipoles riasan pengantin.
Cecilia yang sejak tadi menonton di sudut kamar langsung mencibir. "Dih, apaan sih Bang Deva ini? Kok tiba-tiba jadi fobia bakteri begitu? Memangnya Rayna itu kuman?"
"Halah, bocah polos sepertimu mana tahu kelakuan Rayna di luar sana," sahut Deva malas, melirik adiknya sekilas.
"Tapi Rayna cuma suka padamu, Bang! Dan aku yakin Bang Deva juga masih punya perasaan yang sama!" cecar Cecilia, berusaha membela sahabatnya.
Tawa Deva meledak, namun terdengar hambar dan menyakitkan. "Suka? Tidak lagi! Perasaan itu sudah mati. Isabella jauh lebih baik darinya! Dia selalu ada di sini, sementara gadis ini? Dia pergi bersenang-senang dengan pria lain di Meksiko!"
Rayna menunduk dalam. Dadanya sesak mendapati dirinya dibanding-bandingkan dengan sahabatnya sendiri. Dituduh bersenang-senang dengan pria lain? Padahal ia bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Meksiko.
Saat Deva hendak beranjak, Cecilia menahan lengannya. "Bang! Mau ke mana?"
Deva berhenti, matanya berkilat penuh kebencian saat menatap Rayna. "Mulai sekarang, kamar ini milikmu. Tapi jangan pernah harap aku mau tidur sekamar denganmu!"
Ia menarik napas panjang, memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Dan dengar... tugasmu di sini adalah mengurus Chira, bukan hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa mengaturku. Di sekolah kita orang asing, dan di rumah ini... kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Tanpa menunggu balasan, Deva melangkah lebar menuju jendela. Chira yang sejak tadi menyimak dengan mata bulatnya terlonjak kaget saat melihat Deva justru melompat keluar dari sana.
"Ada pintu telbuka di situ, kenapa teljun dali sana?" gumam Chira bingung, menunjuk pintu kamar yang jelas-jelas tidak terkunci.
"Dia memang begitu, Chira. GGS!" sahut Cecilia sambil bersedekap.
"GGS? Apaan?" tanya Rayna, akhirnya membuka suara dengan nada lirih.
"Ganteng-ganteng seligala ya Onty?" tebak Chira asal ceplos.
Cecilia mendengus remeh. "Bukan, tapi Ganteng-Ganteng Stresss! Tingkahnya memang seperti Tarzan. Cuma dia yang paling sering bikin orang di rumah ini naik darah."
Chira menatap Cecilia dari atas ke bawah, lalu menunjuknya. "Bukannya Onty ya yang paling bikin naik dalah?"
"Kok aku?!" Cecilia menunjuk dirinya sendiri, tak terima.
"Abisnya muka Onty kayak ndak benal juga olangnya. Kayak sustel genit."
"Heeee... kamu bilang apa barusan?!" Cecilia langsung menerjang dan menggelitik perut Chira hingga bocah itu tertawa melengking.
Rayna sempat tertawa kecil melihat tingkah mereka, namun mendadak rautnya kembali redup saat teringat Isabella. Sebuah tepukan lembut mendarat di bahunya, membuat Rayna tersentak.
"Tenang saja, Ray. Isabella baik-baik saja. Jangan merasa bersalah begitu," ucap Cecilia lembut, menyadari kegelisahan sahabatnya yang kini secara teknis telah menjadi kakak iparnya.
Rayna memaksakan senyum saat Cecilia memeluknya hangat. Namun pelukan itu terlepas ketika pintu kamar terbuka. Byan melangkah masuk dengan senyum tipis yang sulit diartikan, bermaksud mengucapkan selamat atas pernikahan yang dadakan ini.
Ruangan itu terasa lebih hangat saat Byan melangkah mendekat. Berbeda dengan Deva yang meledak-ledak, Byan membawa ketenangan yang sangat dibutuhkan Rayna saat ini.
"Selamat, Ray. Sekarang kamu resmi jadi adik iparku," ucap Byan dengan senyum tulus yang menenangkan.
Namun, ekspresinya berubah serius saat ia merendahkan suara. "Soal email itu... aku sudah memeriksanya. Itu bukan dari Deva. Seseorang sengaja menyamar untuk menghancurkan perasaanmu dan mengacaukan hubungan kalian."
Rayna tertunduk lesu. Jemarinya meremas kain gaun pengantin yang belum sempat ia ganti sepenuhnya. Rasa sesak menghimpit dadanya, ia merasa sangat bodoh karena begitu mudah percaya pada rentetan kata di layar ponsel tanpa mengonfirmasi langsung pada pemiliknya. "Aku benar-benar tidak habis pikir... kenapa ada orang sejahat itu? Dan aku... aku terlalu bodoh karena langsung percaya."
Byan menyentuh bahu Rayna sekilas, sebuah gerakan protektif yang lembut. "Jangan menyalahkan dirimu. Pelakunya memang sangat rapi. Tenang saja, aku akan menjelaskan ini pada Deva dan aku bersumpah akan menemukan siapa bajingan di balik email itu."
Rayna mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Byan dengan rasa terima kasih yang mendalam. Ia memaksakan sebuah senyum manis meski getir yang tanpa disadari membuat Byan terpaku sejenak. Kecantikan Rayna di bawah lampu kamar pengantin itu sempat membuat Byan salah tingkah sebelum ia berdeham canggung.
"Ngomong-ngomong... di mana Kak Asha?" tanya Rayna pelan.
"Asha... dia sedang bersama Ayah. Ada urusan bisnis yang mendesak," jawab Byan berbohong. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa kakak tertuanya itu mungkin sedang menghancurkan barang-barang di kamarnya atau menangis meratapi nasib karena tidak rela melihat wanita yang ia puja kini berstatus istri adiknya sendiri.
"Oh ya, Deva kemana?" Tanya Byan.
Cecilia yang sedang memeluk Chira menunjuk ke arah jendela yang terbuka. "Mungkin di rumah pohon. Itu tempat persembunyian favoritnya kalau lagi kumat gilanya."
Byan pun segera beranjak pergi mencari Deva. Namun, usahanya sia-sia. Deva yang keras kepala itu bahkan tidak mau membukakan pintu rumah pohon, apalagi bicara. Begitulah Deva, ia membangun tembok tinggi di sekelilingnya yang sulit ditembus, bahkan oleh saudara kandungnya sendiri.
_____
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗