Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usai Resepsi
Teman-teman kantor Ruri pun datang ke acara tersebut. Mereka sangat tidak menyangka jika Riri bisa berjodoh dengan anak pemilik perusahaan. Sebagai dari mereka merasa iri dengan pencapaian Riri kali ini. Padahal jika dalam posisi Riri mereka belum tentu mau menerima Sultan apa adanya saat statusnya masih tersembunyi. Malam ini juga menjadi hari patah hati nasional bagi karyawati yang selama ini mengagumi Sultan di kantor.
Akhirnya sekitar jam 22.30 acara resepsi pun telah usai. Tamu undangan sudah berangsur pulang. Seperti biasa di akhir acara mereka akan mengabadikan foto bersama keluarga dan kerabat yang masih belum pulang. Lukman dan tunangannya juga ikut foto bersama.
Setelah selesai foto bersama, Riri dan Sultan pun makan bersama dengan keluarga yang lain. Untungnya masih ada sisa beberapa menu untuk mereka makan.
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar ya, bi."
"Iya, ummi. Tugas kita tinggal satu lagi, Hafiza."
"Masih lama, bi. Tunggu empat atau lima tahun lagi."
"Ummi yakin? Yang namanya anak perempuan itu cepet nikahnya."
"Ya minimal lulus kuliah dulu seperti mbak nya. Ummi juga belum mendompleng Hafiza. Anak itu masih belum tahu apa-apa. Abi sih selalu manjain dia. Mentang-mentang anak bungsu."
"Abi lagi yang salah."
"Kalian ini meributkan apa?" Tegur Tante Winda.
"Hehe... nggak ada mbak. Biasa, baru saja mantu udah mikirin mau mantu lagi."
Sultan dan Riri baru saja selesai makan. Mereka pamit kepada yang lain untuk pergi kamar terlebih dahulu karena ingin segera berganti baju dan istirahat.
"Gayamu, bang. Bilang mau istirahat, abi nggak yakin." Lirih abi.
"Hus... abi ini, biarin lah. Kayak nggak pernah jadi pengantin baru. " Sahut ummi.
Sultan membantu Riri mengangkat gaunnya karena ia kesulitan berjalan untuk masuk ke dalam lift.
"Mas, kok di lantai paling atas?"
"Iya, kamar kita ada di sana."
"Oh, tapi barang-barangku ada di kamar."
"Gampang, nanti biar nyuruh orang untuk ambil."
"Hem... "
Mereka keluar dari lift dan berjalan menuju kamar. Sultan membuka pintu kamar mereka. Dan mereka masuk ke dalam. Pertama masuk, Riri sudah dapat mencium aroma pengantin. Sultan menghubungi seseorang untuk membereskan barang-barang Riri dan diantarkan ke kamar mereka saat ini. Riri masih memperhatikan ruangan tersebuttersebut dari sudut ke sudut.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Nggak pa-pa, mas. Cuma suka aja lihat dekorasi kamar ini."
"Alhamdulillah kalau kamu suka. Nanti kamar dk rumah bisa kamu dekor seperti ini kalau kamu mau."
Riri hanya mengulum senyum. Lalu ia masuk ke kamar mandi untuk membuka gaunnya. Namun ternyata tangannya tidak sampai.
"Duh gimana ini susah sekali. Masa' iya minta tolong Mas Sultan. Tapi kalau nggak minta tolong memang nggak bisa."
Riri pun terpaksa keluar lagi dari dalam kamar mandi.
"Kenapa, sayang?"
"Eh itu, mau minta tolong. Bukain resletingnya, tanganku nggak sampai."
Sultan langsung beranjak dan berdiri di belakang istrinya. Nampak resleting sudah terbuka sedikit. Sultan pun melanjutkannya membuka dengan pelan. Mata Sultan langsung berbinar saat melihat punggung mulus istrinya. Nampak kemben warna hitam yang melindungi bagian dada sangat kontras dengan kulit Riri. Hanya sampai di situ, nafas Sultan sudah tidak karuan.
"Sudah, mas?"
"Ah iya."
Riri segera mengangkat gaunnya untuk kembali ke kamar mandi. Namun karena kurang hati-hati, kakinya kesandung gaunnya sendiri. Untung saja Sultan sigap menangkapnya.
"Astaghfirullah, hati-hati sayang."
Gaun itu pun ketarik di bagian depan. Dapat Sultan lihat bagian baju samping dan dada istrinya. Sultan berusaha mengalihkan pandangannya, sampai ia lupa untuk melepaskan pegangannya.
"Mas, tolong lepaskan! Aku mau ke kamar mandi."
"Kalau kamu nggak hati-hati lagi aku gendong saja sampai ke kamar mandi."
"Iya, iya, aku hati-hati. "
Riri pun berjalan pelan masuk ke kamar mandi. Ia membuka gaun dan menggantungnya. Setelah itu ia berendam di dalam bathtub. lupa jika baju gantinya belum ada. Untung saja tidak lama kemudian ada yang datang mengantarkan barang-barangnya. Ternyata tadi Sultan meminta tolong kepada adik iparnya.
"Ini, bang. Semuanya sudah ada di dalam situ." Ujar Sisi yang datang diantar suaminya.
"Okey, terima kasih adik ipar."
"Mana kakak?"
"Di kamar mandi. "
"Oh ya sudah, kami pergi dulu."
"Iya."
Sultan menutup pintu kembali.
Sementara itu, Riri baru saja keluar dari bathtub dan membilas badannya di bawah shower.
Tok tok tok
"Sayang... ini bajunya sudah dibawa ke sini. Kamu mau pake baju apa?"
Riri mematikan shower.
"Ada baju piama mas, warna abu. Tolong itu saja."
"Baiklah."
Sultan membongkar isi tas tersebut, namun baju yang Riri minta tidak ditemukan. Yang Sultan temukan mukenah, pakaian dalam, dan setelan baju tidur pendek, bahkan ada juga baju haram.
Tok tok tok
"Sayang, baju yang kamu maksud tidak ada."
Riri membuka pintu kamar mandi dan mengintip ke luar.
"Masa' sih, mas?"
"Iya, yang ada ini!"
Sultan menunjukkannya kepada Riri. Riri menjadi sangat malu melihatnya. Dalam hatinya ia menggerutu. Pasti ada yang mengeluarkan baju-bajunya dan menukarnya dengan yang lain.
"Eh itu sini... aduh itu maksudku yang setelan celana pendek itu mas."
"Pakain dalam juga?"
"Iya."
"Yang mana, merah, hitam, pink?"
"Terserah... "
Sultan hanya bisa mengulum senyum melihat ekspresi istrinya. Ia pun memberikan pakaian dalam yang warna pink dan setelan baju tidur lengan kurung dan celana pendek.
"Ini sayang."
"Iya, makasih."
Riri pun buru-buru menutup pintu. Ia segera memakainya.
"Ya ampun, ini sangat minim. Pasti kelakuan Sisi dan mama. Awas saja mereka ya."
Dengan terpaksa Riri keluar dari kamar mandi membawa gaunnya keluar. Saat pintu terbuka, sontak mata Sultan langsung tertuju ke arah pintu kamar mandi. Riri masih sempat menutupi dirinya dengan gaun yang dibawanya.
"Sudah, sayang?"
"Iya, sudah."
"Kalau mau shalat, tunggu aku ya."
"I-iya."
Sultan pun masuk ke dalam kamar mandi.
Riri cepat-cepat menggantung gaun dan memakai mukenahnya dan menunggu Sultan sambil duduk di tempat tidur.
Tidak lama kemudian, Sultan keluar dengan bersarung handuk dan bertelanjang dada. Riri terpaku melihat tubuh atletis suaminya. Apa lagi tetesan air masih nampak membasahi dadanya.
Melihatnya saja, bulu kuduk Riri merinding. Dengan santainya Sultan berjalan di depan Riri. Riri langsung menundukkan diri.
"Tapi itu halal kok Ri. Ngapain kamu malu?" Batinnya.
Sultan mengambil sarung dan kemeja dari dalam lemari. Kemudian mereka pun shalat isya' berjamaah. Tidak hanya shalat wajib, mereka juga melakukan shalat sunnah. Setelah selesai shalat dan berdo'a bersama, Sultan menghadap istrinya. Ia memberikan tangannya untuk dicium.
Riri yang paham pun langsung mencium punggung tangan suaminya. Sultan pun menggenggam kedua tangan istrinya.
"Peran kita sebagai suami istri akan dimulai dari sekarang. Sayang, jadilah pendamping hidupku untuk selamanya. Kita belajar bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik meski bukan yang sempurna."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kesempatan mumpung ada hadiah dari opa 🤭🤭