Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perceraian
Hari itu akhirnya tiba. Hari yang telah ditandai dengan tinta merah tegas di kalender Sean Fawas Samir. Hari di mana ikatan pernikahannya dengan Silvi harus diputuskan secara hukum. Namun, drama tidak berhenti hanya sampai di sini. Sejak kemarin sore, Silvi sudah berusaha melancarkan rencananya untuk kabur ke luar negeri, berniat mangkir dari persidangan yang sudah ditetapkan. Ia berpikir dengan menghilang, masalah ini akan selesai dengan sendirinya, atau setidaknya ia bisa terus bersembunyi di balik kemewahan dan kekayaan yang selama ini ia nikmati.
Tapi Sean? Sean tahu betul isi kepala Silvi. Ia sudah menduga langkah wanita itu jauh hari sebelumnya. Tanpa banyak bicara, Sean sudah mengatur pasukan orangnya untuk mengawasi setiap gerak-gerik Silvi. Pagi buta, sebelum matahari benar-benar terbit, rumah mewah keluarga Wijaya sudah dikelilingi oleh orang-orang kepercayaan Sean.
Ketika Silvi sedang bersiap-siap dengan koper besar di tangannya, berniat menyelinap keluar lewat pintu belakang, ia terkejut setengah mati saat melihat dua pria berbadan tegap dengan setelan hitam rapi berdiri memblokir jalannya. Wajah mereka datar, tanpa ekspresi, namun tatapan mereka cukup membuat nyali Silvi ciut.
"Nona Silvi, Tuan Sean meminta kami memastikan Anda hadir di persidangan hari ini," ucap salah satu bodyguard itu dengan suara berat dan tegas.
"Kalian... kalian berani menghentikanku? Kalian tahu siapa aku? Aku istri Sean Fawas Samir!" seru Silvi, berusaha menunjukkan wibawa yang sebenarnya sudah rapuh.
"Maaf Nyonya, tapi perintah Tuan Sean mutlak. Silakan ikut kami. Atau kami harus membawa Anda dengan cara lain?" ancam bodyguard itu lagi, tangannya menunjuk ke arah mobil mewah yang sudah menunggu di depan.
Silvi gemetar. Ia tahu, melawan orang-orang Sean sama saja dengan melawan tembok batu. Mau tidak mau, ia harus menuruti keinginan pria itu. Dengan hati yang berdebar kencang dan perasaan campur aduk antara marah dan takut, Silvi akhirnya masuk ke dalam mobil, diantar langsung menuju tempat persidangan yang bersifat tertutup demi menjaga nama besar kedua keluarga.
Ruangan persidangan terasa dingin dan sunyi, meski di dalamnya terdapat beberapa orang penting, hakim, jaksa, pengacara kedua belah pihak, serta Sean dan Silvi. Pintu ruangan tertutup rapat, memisahkan mereka dari keramaian dan mata-mata media yang sudah menunggu di luar.
Suasana menjadi tegang saat hakim memulai sidang. Belum habis kalimat pembukaan hakim, tiba-tiba Silvi yang duduk di sana meledak. Ia berdiri mendadak, wajahnya memerah karena emosi yang meluap-luap.
"Tidak! Saya tidak mau bercerai! Saya menolak!" teriak Silvi histeris, suaranya memantul di dinding ruangan. Ia menatap tajam ke arah Sean yang duduk tenang di kursi lawan. "Sean! Kenapa kau melakukan ini padaku? Kita suami istri! Kau tidak bisa melakukan ini padaku! Aku mencintaimu, Sean! Kau tidak bisa begitu saja membuangku!"
Sean tetap duduk dengan tenang, punggungnya tegak, wajahnya datar tanpa emosi yang berarti. Ia menatap Silvi sekilas, seolah melihat orang asing yang sedang berteriak di depannya. Ketenangan Sean justru membuat Silvi semakin kalap.
"Sean! Jawab aku! Jangan diam saja!" seru Silvi lagi, berusaha berjalan mendekati meja Sean, namun segera dihalau oleh pengacaranya dan bodyguard yang berjaga di sudut ruangan.
"Nyonya Silvi, harap tenang. Ini adalah ruang sidang, bukan tempat untuk berteriak," tegur hakim dengan suara tegas, memukul palu kecilnya sekali. "Tuan Sean, silakan lanjutkan dengan bukti yang Anda sebutkan tadi."
Sean mengangguk pelan, lalu berdiri perlahan. Gerakannya santai, namun setiap langkahnya memancarkan aura wibawa yang tak tertandingi. Ia mengambil setumpuk berkas dari tas kerja yang ada di sampingnya, lalu berjalan menghampiri meja hakim.
"Yang Mulia, izinkan saya memperlihatkan bukti-bukti yang saya miliki," ucap Sean dengan suara tenang namun jelas terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Ia menyerahkan beberapa lembar foto dan dokumen kepada petugas untuk diserahkan kepada hakim dan jaksa.
"Ini adalah bukti perselingkuhan istri saya, Silvi Wijaya. Foto-foto ini diambil dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir, menunjukkan kedekatan beliau dengan pria lain di berbagai tempat, bahkan di saat beliau seharusnya berada di rumah atau menemani saya," jelas Sean dengan lugas.
Silvi memucat melihat foto-foto itu. "Itu... itu palsu! Sean, kau mengada-ada! Kau menyewa orang untuk memfitnahku!" teriaknya lagi, air matanya mulai mengalir deras.
Sean tidak menggubris teriakan Silvi. Ia kembali mengambil dokumen lain, kali ini berupa laporan medis yang tebal.
"Dan ini, Yang Mulia. Ini adalah hasil laporan medis lengkap dari beberapa rumah sakit ternama, baik di dalam maupun luar negeri. Dokumen ini menyatakan bahwa saya mengalami gangguan kesehatan serius akibat kecelakaan yang menimpa saya sekitar setahun yang lalu. Gangguan ini membuat saya tidak mampu melakukan nafkah batin sebagai seorang suami terhadap istri saya. Dokter-dokter yang memeriksa saya pun bersaksi bahwa hal ini adalah fakta medis yang tidak bisa dipungkiri."
Suasana di ruangan sidang menjadi hening seketika. Hakim dan jaksa saling bertukar pandang, lalu dengan cermat memeriksa dokumen-dokumen yang diserahkan Sean. Tanda tangan dan cap resmi dari rumah sakit serta para ahli medis terlihat jelas di sana, tidak ada celah untuk dipersangkakan.
"Selain itu," lanjut Sean lagi, kali ini menyerahkan hasil USG dan laporan kehamilan Silvi. "Ini adalah hasil laporan kehamilan istri saya. Berdasarkan perhitungan usia kandungan dan fakta medis yang saya sampaikan tadi, sangat mustahil anak yang dikandung oleh Nyonya Silvi adalah anak saya. Karena secara fisik, saya tidak mungkin melakukan hubungan suami istri untuk menghasilkan keturunan pada waktu tersebut."
Hakim mengangguk-angguk, tampak yakin dengan bukti-bukti yang disajikan Sean. Jaksa pun tampak setuju, mencatat beberapa poin penting dalam berkas mereka.
Silvi kini sudah tidak bisa berkata-kata. Kakinya lemas, membuatnya hampir jatuh jika tidak ditopang oleh kursi. Wajahnya pucat pasi, matanya terbelalak tak percaya. Semua rencananya, semua kebohongannya, runtuh seketika di hadapan bukti-bukti nyata yang diserahkan Sean.
"Sean... Sean, tolong aku..." lirih Silvi, suaranya sudah tidak sekuar tadi. Ia berusaha mendekati Sean lagi, kali ini dengan langkah gemetar. "Aku salah, Sean. Aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong jangan cerai aku, Sean. Aku mohon... kasihanilah aku, kasihanilah anak yang ada di perutku ini..."
Air matanya mengalir deras, bercampur dengan rasa takut dan penyesalan yang mendalam. Ia meraih kaki Sean, memohon dengan putus asa.
"Tolong, Sean... Jangan lakukan ini padaku. Aku tidak punya apa-apa jika bukan istrimu. Tolong..."
Sean menatap ke bawah, menatap Silvi yang sedang bersimpuh di kakinya. Tatapannya tetap dingin, tanpa sedikit pun rasa iba. Baginya, apa yang dilakukan Silvi sudah melampaui batas. Ia sudah memberi kepercayaan, tapi Silvi mengkhianatinya dengan cara yang paling menyakitkan.
"Sudah terlambat, Silvi," ucap Sean pelan, namun setiap katanya menusuk hati Silvi seperti pisau tajam. "Kau sudah memilih jalanmu sendiri. Sekarang, terimalah akibatnya."
Sean kemudian mundur selangkah, melepaskan genggaman Silvi dari kakinya dengan halus namun tegas. Para bodyguard Sean yang melihat itu segera maju, dengan tegas membantu Silvi berdiri dan menariknya menjauh dari Sean.
"Lepaskan aku! Aku mau bicara dengan Sean! Lepaskan!" teriak Silvi lagi, memberontak sekuat tenaga, namun tubuhnya yang lemah tidak berdaya melawan kekuatan para bodyguard yang tangguh.
"Bawa dia keluar," perintah Sean singkat, tanpa menoleh lagi ke arah Silvi.
Dengan tegas, para bodyguard mengantar Silvi keluar dari ruangan persidangan. Teriakan dan tangisan Silvi perlahan menghilang, tertutup oleh pintu ruangan yang kembali tertutup rapat, meninggalkan Sean yang kini merasa sedikit lebih lega, meski di hatinya masih tersisa rasa perih atas apa yang telah terjadi.