Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Bab 1: Darah di Atas Giok Hitam

​Hujan turun bagai jarum es di Puncak Teratai Luar, menghantam punggung pemuda yang tengah berlutut di lumpur.

​"Kau sungguh mempermalukan nama Sekte Pedang Awan. Sampah sepertimu, dengan Akar Spiritual Terkutuk, bermimpi ingin menembus tahap Kondensasi Qi?"

​Suara tawa mengejek terdengar dari sekelompok murid berseragam putih bersih. Pemimpin mereka, seorang pemuda angkuh bernama Zhao Feng, menendang dada Li Jian hingga ia terpental beberapa meter.

​Li Jian batuk hebat, memuntahkan darah segar yang bercampur dengan air hujan. Tubuhnya mati rasa. Setiap kali ia mencoba menyerap energi spiritual dari alam, energi itu seakan tertelan oleh pusaran tak berdasar di dalam Dantian-nya, menyisakan rasa sakit yang mengoyak kinh-kinh meridiannya. Itulah kutukan Akar Spiritual miliknya; sebuah kondisi langka yang mengubah tubuhnya menjadi keranjang bocor.

​"Berikan jatah batu spiritualmu bulan ini, Li Jian. Setidaknya di tanganku, batu itu tidak akan menjadi debu yang sia-sia," desis Zhao Feng, menginjak tangan Li Jian yang memegangi sebuah kantong kain kecil.

​Dengan sisa tenaga, Li Jian mencengkeram pergelangan kaki Zhao Feng. Matanya, meski terhalang rambut basah yang kusut, memancarkan kobaran api yang menolak untuk padam. "Ini... untuk menebus obat ibuku."

​Bugh!

​Satu tendangan keras mendarat di pelipis Li Jian, membuat pandangannya menggelap.

​"Keras kepala," cibir Zhao Feng sambil merebut kantong itu. "Ayo pergi. Berada di dekatnya terlalu lama bisa merusak aliran Qi kita."

​Langkah kaki mereka perlahan menjauh, menyisakan Li Jian yang terkapar sendirian di bawah guyuran hujan badai. Kesadarannya mulai menipis. Rasa dingin menyusup ke tulang-tulangnya. Tangannya yang bergetar meraba dada, mencari satu-satunya peninggalan sang ibu yang masih tersisa: sebuah liontin giok hitam pekat yang tak bernilai.

​Tanpa Li Jian sadari, darah dari pelipis dan sudut bibirnya mengalir turun, menetes tepat ke atas permukaan giok hitam tersebut. Awalnya, tidak terjadi apa-apa. Namun, saat tetesan darah ketiga menyentuhnya, giok itu bergetar pelan.

​Darah Li Jian tidak luntur oleh air hujan, melainkan terserap ke dalam batu, memunculkan urat-urat merah yang bercahaya redup. Suhu di sekitar tubuhnya tiba-tiba anjlok, membekukan rintik hujan sebelum sempat menyentuh tanah.

​Di dalam kesadarannya yang hampir padam, sebuah suara tiba-tiba menggema. Bukan dari luar, melainkan dari dalam kepalanya. Suara itu begitu dingin, kuno, dan membawa tekanan spiritual yang membuat jiwa Li Jian seakan ingin berlutut.

​"Ribuan tahun... akhirnya ada darah yang mampu menembus Segel Kehampaan ini."

​Ruang pandang Li Jian meledak dalam cahaya putih menyilaukan. Saat ia membuka mata, ia tidak lagi berada di halaman sekte yang berlumpur. Ia berdiri di sebuah ruang hampa yang dipenuhi bintang-bintang redup. Di hadapannya, melayang sesosok wanita dengan gaun putih yang terbuat dari jalinan cahaya bulan.

​Wajah wanita itu tertutup cadar tipis, namun matanya yang sebiru lautan es menatap langsung menembus jiwa Li Jian. Keanggunannya tidak manusiawi, memancarkan aura seorang kaisar yang terbiasa menggenggam takhta langit.

​Wanita itu melayang turun, ujung kakinya menyentuh ruang hampa, menciptakan riak energi yang membuat Li Jian terengah-engah karena tekanannya.

​"Akar Spiritual Terkutuk? Kutukan yang menyerap semua energi murni?" Mata wanita itu sedikit menyipit, mengamati Li Jian seperti menilai sebuah senjata berkarat. Tiba-tiba, tawa pelan yang terdengar seperti dentingan lonceng es keluar dari bibirnya. "Ironis. Dunia fana ini menyebut tubuh ideal untuk melatih 'Seni Bintang Pemakan Langit' sebagai sebuah kutukan."

​Wanita itu mengulurkan tangan rampingnya, ujung jarinya yang dingin menyentuh kening Li Jian.

​"Aku adalah Yueyin. Mulai hari ini, tubuhmu adalah kuilku, dan jalanku, adalah takdirmu. Apakah kau ingin menginjak-injak mereka yang menertawakanmu hari ini, bocah?"

​Li Jian mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan. Di alam fana maupun alam roh, ia tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.

​"Bimbing aku," bisik Li Jian, matanya menyala dalam tekad yang tajam.

​Yueyin tersenyum di balik cadarnya. "Bagus. Bersiaplah untuk menahan rasa sakit yang akan menghancurkan jiwa dan membangunnya kembali."

Terpopuler

Comments

Mbah Haryo

Mbah Haryo

molai pantow...smoga bagoes ceritanyah...hhhh

2026-03-14

0

Rusdi Bintang

Rusdi Bintang

tinggalin jejak sapa tau bagus

2026-04-04

1

Night Watcher

Night Watcher

nyoba ngintib..

2026-03-03

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Darah di Atas Giok Hitam
2 Bab 2: Latihan Pertama di Bawah Sinar Bulan
3 Bab 3: Hawa Dingin di Aula Distribusi
4 Bab 4: Tubuh Sebagai Tungku Alkimia
5 Bab 5: Tebasan Es yang Membungkam Kesombongan
6 Bab 6: Harta Rampasan dan Jalan Berdarah
7 Bab 7: Pedang Hitam di Bawah Meja
8 Bab 8: Pertumpahan Darah di Hutan Pinus Hitam
9 Bab 9: Badai yang Berkumpul di Puncak Teratai
10 Bab 10: Menghancurkan Formasi Seribu Gunung
11 Bab 11: Raksasa Tumbang di Bawah Gerhana
12 Bab 12: Menembus Sepuluh Besar
13 Bab 13: Harta Tersembunyi di Paviliun Bintang Jatuh
14 Bab 14: Umpan Darah di Lembah Kabut Beracun
15 Bab 15: Tarian Maut dan Panen Emas
16 Bab 16: Badai di Paviliun Bintang Jatuh
17 Bab 17: Puing-Puing Netherworld dan Wujud Sang Kaisar Es
18 Bab 18: Hujan Darah Beku di Pelataran
19 Bab 19: Lonceng Kematian di Arena Keadilan
20 Bab 20: Darah di Atas Obsidian dan Murka Sang Tetua
21 Bab 21: Membelah Langit Puncak Awan
22 Bab 22: Sisa Napas di Tepi Sungai Iblis
23 Bab 23: Rahasia Lembah Tanpa Nama
24 Bab 24: Kristal Es dan Bisikan Roh Pedang
25 Bab 25: Tiga Tarikan Napas Kematian
26 Bab 26: Rawa Kematian dan Ambang Batas Kegilaan
27 Bab 27: Penjaga Ratusan Ribu Pedang Patah
28 Bab 28: Labirin Kegelapan dan Bisikan Jiwa Pedang
29 Bab 29: Menelan Badai dan Kebangkitan Sang Gerhana
30 Bab 30: Dasar Jurang dan Sang Naga Tulang
31 Bab 31: Menerobos Batas Kematian
32 Bab 32: Turunnya Sang Permaisuri Es
33 Bab 33: Fondasi Teratai Es dan Runtuhnya Makam
34 Bab 34: Terlempar Menembus Batas Dunia
35 Bab 35: Arogansi Benua Tengah
36 Bab 36: Membaca Memori Jiwa dan Kota Angin Jatuh
37 Bab 37: Topeng Es dan Gerbang Baja
38 Bab 38: Taruhan Berdarah di Balik Topeng Es
39 Bab 39: Topeng Es Mencair di Arena Kematian
40 Bab 40: Jubah Gagak dan Sangkar Lelang
41 Bab 41: Logam Pemakan Jiwa dan Hukum Bintang Jatuh
42 Bab 42: Pecahnya Topeng dan Lautan Darah Beku
43 Bab 43: Menempa Bintang di Tengah Badai
44 Bab 44: Perkemahan Darah dan Bangkitnya Teratai Salju
45 Bab 45: Uji Coba Teratai Salju dan Hujan Darah Beku
46 Bab 47: Perburuan Terbalik di Kegelapan
47 Bab 48: Urat Bumi Iblis dan Penjaga Berkaki Seratus
48 Bab 49: Turunnya Dua Penguasa ke Mulut Neraka
49 Bab 50: Panen Darah di Dasar Neraka
50 Bab 51: Lorong Ungu dan Bayangan Makam Kuno
51 Bab 52: Penjara Es di Lautan Kesadaran
52 Bab 53: Melahap Api Surgawi dan Mekarnya Teratai Ungu
53 Bab 54: Menjarah Harta Istana Iblis
54 Bab 55: Pembantaian di Bibir Jurang
55 Bab 56: Runtuhnya Tembok Baja Kota
56 Bab 57: Menguras Urat Nadi Klan Lu
57 Bab 58: Negosiasi di Atas Genangan Darah
58 Bab 59: Penempaan Tulang Bintang Kutub
59 Bab 60: Bayangan Kapal Petir dan Kesombongan Langit
60 Bab 61: Tembakan Panah Ratapan Bulan dan Jatuhnya Sang Tetua
61 Bab 62: Tebasan Gerhana Membelah Kapal Petir
62 Bab 63: Interogasi Darah dan Rahasia Tambang Kuno
63 Bab 64: Ekspedisi ke Tambang Utara dan Segel Petir Kuno
64 Bab 65: Naga Petir Tulang Yin dan Penjaga Makam Kuno
65 Bab 66: Perendaman di Kolam Petir dan Kehendak Langit
66 Bab 67: Aula Kaisar Kematian dan Peti Pengunci Langit
67 Bab 68: Pertarungan Melawan Bayangan Kematian
68 Bab 69: Runtuhnya Makam Purba dan Mata Dewa
69 Bab 70: Menantang Inti Emas dan Jari Pemusnah Dewa
70 Tarian Iblis di Kawah Tambang
71 Formasi Penjara Petir Ratusan Pedang
72 Menelan Inti Emas dan Runtuhnya Langit Utara
73 Pembantaian Armada Emas dan Hujan Darah Utara
74 Ekstraksi Inti Emas dan Terobosan Tiranik
75 Peringatan Paviliun Bintang dan Kesepakatan Bayangan
76 Membedah Cincin Tetua Agung dan Rahasia Langit Terbelah
77 Cahaya Susunan Teleportasi dan Amarah Jiwa Sempurna
78 Ibukota Bintang Jatuh dan Pasar Pusaka
79 Konflik di Gerbang Akademi Langit
80 Menahan Tebasan Setengah Langkah
81 Paviliun Koleksi Buku dan Kepingan Sejarah Purba
82 Menghancurkan Kesombongan Pedang Darah
83 Negosiasi Sang Tiran dan Bayangan Dekan
84 Tiga Hari Persiapan dan Evolusi Gerhana
85 Menembus Badai Spasial dan Celah Kematian
86 Istana Senjata Purba dan Makam Ribuan Pedang
87 Menelan Tombak Darah Jenderal Purba dan Tirani Bintang Kutub
88 Perebutan Danau Esensi Bintang dan Evolusi Kosmik
89 Kekuatan Fisik Bintang Emas dan Hancurnya Formasi Langit
90 Membakar Ilusi Masa Lalu dan Runtuhnya Kabut Takdir
91 Menebas Kehendak Langit dan Runtuhnya Istana Takdir
92 Mahkota Tiran dan Pelarian Spasial
93 Membelah Langit Fana dan Otoritas Sang Iblis
94 Pegunungan Tulang Hitam dan Lahirnya Istana Iblis
95 Pembersihan Pegunungan Tulang Hitam dan Aliansi Darah
96 Arsitektur Tiran dan Warisan Es Hantu
97 Lorong Kematian dan Peringatan Aliansi Suci
98 Danau Darah Obsidian dan Hancurnya Pasukan Pelopor
99 Menghancurkan Cermin Suci dan Teror di Ruang Tertutup
100 Kedatangan Lima Dewa Fana dan Tarian Pembantai Hantu
101 Tiga Serangan Tiran dan Sangkar Dimensi Kosmik
102 Tumbangnya Dewa Fana dan Gema dari Pusara Langit
103 Benturan Batas Fana dan Setetes Darah Tiran
104 Mengurai Benang Keabadian dan Harga Sebuah Kesombongan
105 Kematian Sang Dewa Palsu dan Penangkal Kehancuran
106 Panen Darah dan Sumpah Sang Komandan Iblis
107 Takhta Berdarah dan Singularitas Sang Tiran
108 Eksekusi Singularitas dan Panggilan dari Alam Atas
109 Ekstraksi Darah Surgawi dan Pengakuan Sang Dewa Palsu
110 Bab 110
111 Kalkulasi Sang Tiran dan Rantai Awan Abadi
112 Aturan Tambang Darah dan Ekstraksi Singularitas
113 Evolusi Bintang Emas dan Runtuhnya Vena Abadi
114 Beliung Pembelah Dewa dan Lahirnya Pasukan Pemberontak
115 Bidak Berdarah dan Detak Jantung Bumi
116 Peretasan Hukum Kosmik dan Parasit Abadi
117 Bab 117
118 Bab-118 Panen Pertama
119 Gema di Aula Giok Putih
120 Resonansi di Bawah Jembatan Maple
121 Perburuan Sang Bayangan
122 Auman Elang di Langit Selatan
123 Tarian di Atas Gurun
124 Sebuah Pesan Bernama Kehancuran
125 Badai yang Berkumpul
126 Gema dari Makam
127 Bisikan Darah Naga
128 Bab 14: Konser Kekacauan
129 Api di Lumbung Padi
130 Panggung di Ngarai Guntur
131 Simfoni Kehancuran
132 Gema di Aula Giok Putih
133 Paviliun Senja
134 Gelombang Balik Berdarah
135 Naga Tua di Makam Pedang
136 Bab 22: Tungku Penempaan di Tanah Terbuang
137 Bab 23: Api Penempaan dan Palu Naga
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Bab 1: Darah di Atas Giok Hitam
2
Bab 2: Latihan Pertama di Bawah Sinar Bulan
3
Bab 3: Hawa Dingin di Aula Distribusi
4
Bab 4: Tubuh Sebagai Tungku Alkimia
5
Bab 5: Tebasan Es yang Membungkam Kesombongan
6
Bab 6: Harta Rampasan dan Jalan Berdarah
7
Bab 7: Pedang Hitam di Bawah Meja
8
Bab 8: Pertumpahan Darah di Hutan Pinus Hitam
9
Bab 9: Badai yang Berkumpul di Puncak Teratai
10
Bab 10: Menghancurkan Formasi Seribu Gunung
11
Bab 11: Raksasa Tumbang di Bawah Gerhana
12
Bab 12: Menembus Sepuluh Besar
13
Bab 13: Harta Tersembunyi di Paviliun Bintang Jatuh
14
Bab 14: Umpan Darah di Lembah Kabut Beracun
15
Bab 15: Tarian Maut dan Panen Emas
16
Bab 16: Badai di Paviliun Bintang Jatuh
17
Bab 17: Puing-Puing Netherworld dan Wujud Sang Kaisar Es
18
Bab 18: Hujan Darah Beku di Pelataran
19
Bab 19: Lonceng Kematian di Arena Keadilan
20
Bab 20: Darah di Atas Obsidian dan Murka Sang Tetua
21
Bab 21: Membelah Langit Puncak Awan
22
Bab 22: Sisa Napas di Tepi Sungai Iblis
23
Bab 23: Rahasia Lembah Tanpa Nama
24
Bab 24: Kristal Es dan Bisikan Roh Pedang
25
Bab 25: Tiga Tarikan Napas Kematian
26
Bab 26: Rawa Kematian dan Ambang Batas Kegilaan
27
Bab 27: Penjaga Ratusan Ribu Pedang Patah
28
Bab 28: Labirin Kegelapan dan Bisikan Jiwa Pedang
29
Bab 29: Menelan Badai dan Kebangkitan Sang Gerhana
30
Bab 30: Dasar Jurang dan Sang Naga Tulang
31
Bab 31: Menerobos Batas Kematian
32
Bab 32: Turunnya Sang Permaisuri Es
33
Bab 33: Fondasi Teratai Es dan Runtuhnya Makam
34
Bab 34: Terlempar Menembus Batas Dunia
35
Bab 35: Arogansi Benua Tengah
36
Bab 36: Membaca Memori Jiwa dan Kota Angin Jatuh
37
Bab 37: Topeng Es dan Gerbang Baja
38
Bab 38: Taruhan Berdarah di Balik Topeng Es
39
Bab 39: Topeng Es Mencair di Arena Kematian
40
Bab 40: Jubah Gagak dan Sangkar Lelang
41
Bab 41: Logam Pemakan Jiwa dan Hukum Bintang Jatuh
42
Bab 42: Pecahnya Topeng dan Lautan Darah Beku
43
Bab 43: Menempa Bintang di Tengah Badai
44
Bab 44: Perkemahan Darah dan Bangkitnya Teratai Salju
45
Bab 45: Uji Coba Teratai Salju dan Hujan Darah Beku
46
Bab 47: Perburuan Terbalik di Kegelapan
47
Bab 48: Urat Bumi Iblis dan Penjaga Berkaki Seratus
48
Bab 49: Turunnya Dua Penguasa ke Mulut Neraka
49
Bab 50: Panen Darah di Dasar Neraka
50
Bab 51: Lorong Ungu dan Bayangan Makam Kuno
51
Bab 52: Penjara Es di Lautan Kesadaran
52
Bab 53: Melahap Api Surgawi dan Mekarnya Teratai Ungu
53
Bab 54: Menjarah Harta Istana Iblis
54
Bab 55: Pembantaian di Bibir Jurang
55
Bab 56: Runtuhnya Tembok Baja Kota
56
Bab 57: Menguras Urat Nadi Klan Lu
57
Bab 58: Negosiasi di Atas Genangan Darah
58
Bab 59: Penempaan Tulang Bintang Kutub
59
Bab 60: Bayangan Kapal Petir dan Kesombongan Langit
60
Bab 61: Tembakan Panah Ratapan Bulan dan Jatuhnya Sang Tetua
61
Bab 62: Tebasan Gerhana Membelah Kapal Petir
62
Bab 63: Interogasi Darah dan Rahasia Tambang Kuno
63
Bab 64: Ekspedisi ke Tambang Utara dan Segel Petir Kuno
64
Bab 65: Naga Petir Tulang Yin dan Penjaga Makam Kuno
65
Bab 66: Perendaman di Kolam Petir dan Kehendak Langit
66
Bab 67: Aula Kaisar Kematian dan Peti Pengunci Langit
67
Bab 68: Pertarungan Melawan Bayangan Kematian
68
Bab 69: Runtuhnya Makam Purba dan Mata Dewa
69
Bab 70: Menantang Inti Emas dan Jari Pemusnah Dewa
70
Tarian Iblis di Kawah Tambang
71
Formasi Penjara Petir Ratusan Pedang
72
Menelan Inti Emas dan Runtuhnya Langit Utara
73
Pembantaian Armada Emas dan Hujan Darah Utara
74
Ekstraksi Inti Emas dan Terobosan Tiranik
75
Peringatan Paviliun Bintang dan Kesepakatan Bayangan
76
Membedah Cincin Tetua Agung dan Rahasia Langit Terbelah
77
Cahaya Susunan Teleportasi dan Amarah Jiwa Sempurna
78
Ibukota Bintang Jatuh dan Pasar Pusaka
79
Konflik di Gerbang Akademi Langit
80
Menahan Tebasan Setengah Langkah
81
Paviliun Koleksi Buku dan Kepingan Sejarah Purba
82
Menghancurkan Kesombongan Pedang Darah
83
Negosiasi Sang Tiran dan Bayangan Dekan
84
Tiga Hari Persiapan dan Evolusi Gerhana
85
Menembus Badai Spasial dan Celah Kematian
86
Istana Senjata Purba dan Makam Ribuan Pedang
87
Menelan Tombak Darah Jenderal Purba dan Tirani Bintang Kutub
88
Perebutan Danau Esensi Bintang dan Evolusi Kosmik
89
Kekuatan Fisik Bintang Emas dan Hancurnya Formasi Langit
90
Membakar Ilusi Masa Lalu dan Runtuhnya Kabut Takdir
91
Menebas Kehendak Langit dan Runtuhnya Istana Takdir
92
Mahkota Tiran dan Pelarian Spasial
93
Membelah Langit Fana dan Otoritas Sang Iblis
94
Pegunungan Tulang Hitam dan Lahirnya Istana Iblis
95
Pembersihan Pegunungan Tulang Hitam dan Aliansi Darah
96
Arsitektur Tiran dan Warisan Es Hantu
97
Lorong Kematian dan Peringatan Aliansi Suci
98
Danau Darah Obsidian dan Hancurnya Pasukan Pelopor
99
Menghancurkan Cermin Suci dan Teror di Ruang Tertutup
100
Kedatangan Lima Dewa Fana dan Tarian Pembantai Hantu
101
Tiga Serangan Tiran dan Sangkar Dimensi Kosmik
102
Tumbangnya Dewa Fana dan Gema dari Pusara Langit
103
Benturan Batas Fana dan Setetes Darah Tiran
104
Mengurai Benang Keabadian dan Harga Sebuah Kesombongan
105
Kematian Sang Dewa Palsu dan Penangkal Kehancuran
106
Panen Darah dan Sumpah Sang Komandan Iblis
107
Takhta Berdarah dan Singularitas Sang Tiran
108
Eksekusi Singularitas dan Panggilan dari Alam Atas
109
Ekstraksi Darah Surgawi dan Pengakuan Sang Dewa Palsu
110
Bab 110
111
Kalkulasi Sang Tiran dan Rantai Awan Abadi
112
Aturan Tambang Darah dan Ekstraksi Singularitas
113
Evolusi Bintang Emas dan Runtuhnya Vena Abadi
114
Beliung Pembelah Dewa dan Lahirnya Pasukan Pemberontak
115
Bidak Berdarah dan Detak Jantung Bumi
116
Peretasan Hukum Kosmik dan Parasit Abadi
117
Bab 117
118
Bab-118 Panen Pertama
119
Gema di Aula Giok Putih
120
Resonansi di Bawah Jembatan Maple
121
Perburuan Sang Bayangan
122
Auman Elang di Langit Selatan
123
Tarian di Atas Gurun
124
Sebuah Pesan Bernama Kehancuran
125
Badai yang Berkumpul
126
Gema dari Makam
127
Bisikan Darah Naga
128
Bab 14: Konser Kekacauan
129
Api di Lumbung Padi
130
Panggung di Ngarai Guntur
131
Simfoni Kehancuran
132
Gema di Aula Giok Putih
133
Paviliun Senja
134
Gelombang Balik Berdarah
135
Naga Tua di Makam Pedang
136
Bab 22: Tungku Penempaan di Tanah Terbuang
137
Bab 23: Api Penempaan dan Palu Naga

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!