NovelToon NovelToon
Dalam Dekap Bayangmu

Dalam Dekap Bayangmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28

"Dokter zayyan sedang ke rumah sakit putrinya bu, tadi beliau berangkat dengan buru-buru, sepertinya dokter yang merawat putrinya, menelepon beliau" jelas seorang perawat, menjawab pertanyaan buk risma santun sembari mengecek perlengkapan kesehatan dan kemajuan kesehatan ibu risma.

"Melihat gelagat dokter zayyan tadi, sepertinya berita baik bu" sambung suster cantik berlesung pipi itu.

Buk risma mengangguk,

" makasih yah sus.." ujar kanaya tulus, membungkukkan tubuhnya sedikit, ketika perawat cantik itu menganggukan kepalanya ke arahnya dan ijin keluar dari ruangan mereka.

"Mudah-mudahan putri dokter zayyan baik-baik saja" bisik ibunya lirih, bisikan yang sangat lirih, dan nyaris kanaya tak mendengarnya.

Kanaya dan ibunya masih mengobrol santai, ia mendengarkan cerita ibunya, tangannya memijit kaki ibunya lembut. Sesekali kanaya tersenyum, melihat bagaimana antusiasnya ibu ketika bercerita, mereka mengobrol dengan santai dan tenang.

Hingga mereka tak menyadari sosok dokter zayyan berdiri di depan pintu kamar, dengan posisi tubuh bersandar di kusen pintu dan kaki yang menyilang.

Sesekali ia tersenyum menatap kanaya dan ibunya yang masih mengobrol. Kanaya menoleh ke pintu, segera ia menyapa dokter zayyan, yang melangkah masuk dan ikut duduk di sisi kanaya

"Asyik banget ceritanya bu..sampai saya di anggurin" ujar dokter zayyan tertawa kecil, sambil memanyunkan bibirnya.

Bu risma dan kanaya tertawa mendengar ucapannya yang terdengar seperti sebuah rajukan anak kecil.

"Tuhkan..lagi lagi saya diledekin"

Buk risma semakin tertawa lebar, namun tangannya meraih tangan dokter zayyan mengenggamnya hangat.

"Bagaimana kabar si cantik dok?" tanya ibu dengan raut wajah serius.

Dokter zayyan tersenyum manis

 "alhamdulillah ibu, sepertinya operasinya akan dilakukan dalam minggu ini, doakan alita bu.."

Menoleh ke arah kanaya, dan tersenyum lembut

"Doakan anak saya, naya"

"Selalu dok..insya Allah" ujar kanaya mengangguk tulus.

Tatapan dokter zayyan terlihat teduh, kesan slenge'an dan nyentriknya menghilang. Terkadang kanaya merasa, tingkah dan sikapnya seperti itu, hanya untuk menutupi keadaan hati dan pikirannya yang sedang jungkir balik dan kacau balau, kanaya memahaminya.

"Terima kasih..naya" ucapnya tulus dan terdengar sendu.

"Sebenarnya saya ingin sekali mengenalkan alita ke ibu" suaranya terdengar riang kembali, mengalihkan pandangannya dari kanaya ke bu risma.

"Begitu alita sehat nanti, saya pasti akan kenalkan ke ibu"

"Ibu tunggu.." sahut ibu menatap teduh dokter zayyan yang masih duduk di hadapannya. Kanaya menatap dokter zayyan yang mengangguk mantap.

Sesekali ada rasa iba terselip di hati kanaya, dokter zayyan itu memiliki tampilan dan fisik yang cukup membuat dia menjadi bahan cerita dan bisik-bisik para perawat cantik.

Tingginya yang menurut kanaya lebih dari 180 cm, dengan hidung mancung bagaikan pria turkey.

Jambang tipisnya yang jarang di cukur, malah menambah kesan jantannya, tapi ia kelihatan sedikit lelah.

Mata itu sering menatap kanaya dengan sorot kelelahan, kanaya paham dengan apa yang dirasakan dokter zayyan.

Kanaya memiliki pasien jantung 1 dirumahnya, ia saja cukup kelelahan secara mental, rasa takut selalu menghantuinya, takut hal-hal buruk terjadi pada ibunya.

Bagaimana lagi dengan dokter zayyan, 2 pasien dengan riwayat jantung menjadi tanggung jawabnya, dan dengan kematian istrinya yang disebabkan gagal jantung.

Kanaya mampu merasakan ketakutan dan keresahan dari mata dokter zayyan, setiap ia membicarakan putrinya.

Kanaya hendak beranjak dari kamar itu meninggalkan ibunya dan dokter zayyan yang masih mengobrol serius, belum kakinya melangkah dokter rupawan itu mengatakan sesuatu yang membuat kanaya tertegun.

"Alita  memaksa bertemu ibunya..bu!

Saya bingung, gimana caranya menjelaskan ke anak sekecil itu bahwa ibunya telah tiada,

Saya juga salah, setiap alita tanya kemana mamanya, saya selalu jawab, mama lagi sekolah, akhirnya saya bingung sendiri, sebelum operasi ia mau mama katanya"

Dokter zayyan meremasi rambutnya frustasi, wajah lelahnya kelihatan semakin lelah di mata kanaya.

Kanaya merasa iba melihatnya, namun ia hanya diam. Kanaya tak tahu apa yang bisa ia sampaikan, kanaya juga mengurungkan niatnya untuk ikut nimbrung dalam obrolan ibunya dan pria itu, ia hanya duduk diam mendengarkan.

"Seandainya saja bu..ada yang bisa saya bayar untuk jadi mama bohongan untuk alita, sampai operasi berjalan lancar, saya akan bayar berapapun bu" ucapnya masih dengan raut wajah frustasi.

"Alita tidak mau dioperasi, kalau mamanya belum menjenguk"

Mata buk risma, terlihat sedih, tangannya mengelus tangan dokter zayyan yang masih tertunduk lesu, tiba-tiba ibunya menatap kanaya lekat dan lama, menatap penuh arti dan harapan.

Kanaya dengan cepat menggeleng, ia tahu arti tatapan ibunya, dokter zayyan menatap heran kearah kanaya yang menggeleng.

"Tidak ibu, jangan berpikiran yang aneh-aneh.." ucap kanaya masih menggeleng,

"Itu ide gila"

"Nduk..."

"Tidak bu.." geleng kanaya lebih keras, "naya gak mau membohongi anak kecil"

"Tunggu...ada apa nih?"

Dokter zayyan bertanya penasaran, melihat buk risma dan kanaya yang sedang berargumen, sebenarnya pria itu sudah paham kearah mana pembicaraan kanaya dan ibunya.

Kanaya diam, ia hanya menatap ibunya, berharap ibunya yang menceritakan ide gilanya itu sendiri, ibunya menghela nafas cukup keras, menatap dokter zayyan.

"Maaf, nak dokter..ibu tadi terpikir ide gila, sudah lupakan saja"

"Apakah ide ibu itu, meminta kanaya menjadi mama bohongan alita?" tanya dokter zayyan to the point.

Ibu mengangguk pelan," iya..maaf yah"

"Tapi..saya juga terpikir ide itu tadi bu.." ucap pria itu tanpa basa basi.

"Jujur, saya ingin minta tolong untuk itu kepada naya"

Mulut kanaya dan ibunya menganga berbarengan, membola mata mereka menatap pria itu takjub.

Ibunya tersenyum, sementara kanaya masih terperanjat dengan ide gila dari pria itu dan ibunya.

 Pria itu malah tersenyum kearah ibu dan dirinya, ia tersenyum cengegesan menatap kanaya yang masih terdiam syok, tidak bisa, kanaya menggeleng.

"Bagaimana bisa dokter punya ide seperti itu?" tanya kanaya heran.

"Bagaimana bisa anda berniat membohongi anak sekecil alita"

"Tunggu.." potong pria itu cepat, seraya menatap kanaya serius.

"Saya tidak ingin membohongi putri saya, ini hanya sementara sampai ia mau di operasi, nanti ketika waktunya dia harus tahu, saya juga akan menjelaskan kepadanya"

" tapi..tetap saja namanya bohong dok" sela kanaya masih tidak terima, hati nuraninya tidak mengijinkan ide gila itu dilakukan.

"Kalau gak mau bohong yah buat aja jadi beneran" celetuk bu risma pelan.

 Celetukkan ibunya itu membuat kanaya dan pria itu terdiam, terkejut. Mereka saling memandang, zayyan menatap kanaya dengan ekspresi yang sulit dania artikan.

Beberapa saat manik mata mereka saling memandang, dokter zayyan berpaling, tiba-tiba jantungnya berdetak lebih kencang, mata indah kanaya membuat dirinya salah tingkah, wajah cantik kanaya selalu mampu memukaunya.

"Ibu..." teriakan kecil kanaya menyadarkan dokter zayyan dari keterpesonaannya.

"Tapi naya, saya benar-benar butuh pertolongan kamu"

Kanaya menatap tak percaya ke arah pria itu,

"Tolonglah saya naya...,anggap saja kamu sedang memberi pertolongan kepada orang yang sedang kesusahan,

Hmmm...hmmm", tatap dokter zayyan, menautkan kedua tangan, mengerjapkan matanya lucu.

Kanaya tertawa terkekeh, ekspresi dokter zayyan seperti seorang bocil yang minta dibelikan es krim.

"Atau anggap saja, ini ajakan kencan dari saya, untuk memulai perkenalan kita ke depannya,

Siapa tahu naya.. ada takdir yang dituliskan maha kuasa untuk kita", tuturnya serius.

Kanaya tercekat, tawa itu hilang dari wajahnya, ia menemukan keseriusan dari wajah tampan itu, ucapan dokter zayyan membuatnya tertegun.

Kanaya terdiam, tatapan 4 mata yang menatapnya penuh harap, helaan nafas terdengar kasar dari mulut kanaya.

"Hhhhhhh...baiklah, saya akan menolong dokter"

Wajah ibunya dan pria itu terlihat sumringah, senyum lebar dari wajah mereka, tak mampu membuat kanaya tersenyum.

"Tapi beneran cuman sampai operasi yah dok"

Tanya kanaya memastikan jawaban dari pria yang mengangguk mantap seraya tersenyum manis kearahnya.

Bersambung...

1
Bungatiem
boleh kala boleeeh
Bungatiem
boleh dooong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!